Top 5: Iga Massardi

Alunan Nusantara kembali menghadirkan konten TOP 5, yaitu konten yang berisi 5 lagu Indonesia terbaik dari musisi yang kami pilih. Kali ini, kami akan menghadirkan 5 lagu Indonesia terbaik versi Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris dari grup musik Barasuara. Penasaran apa saja lagu terbaik pilihan Bang Iga? Simak selengkapnya di bawah ini ya!

  1. AKA – Do What You Like

Indonesia seolah tak pernah kehabisan talenta terbaiknya dalam musik keras. Salah satu yang terbaik adalah grup musik Apotek Kali Asin alias AKA. Salah satu lagunya yang berjudul Do What You Like langsung menjadi lagu andalan pada masanya. Riff-riff gitar berat khas hard rock ditambah vokal keras ala Ucok merupakan paduan yang sangat gila bagi musik Indonesia di masa itu. Lagu ini pantas dinobatkan sebagai lagu terbaik dari AKA. Terbukti, lagu ini kelak ditempatkan pada peringkat ke-125 pada “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” yang dikurasi oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia. Walaupun lagu ini dirilis di awal tahun 70-an, tapi lagu ini boleh dibandingkan dengan lagu-lagu rock masa kini. Kerasnya boleh diadu!

2. God Bless – Kehidupan

Lagu ini terdapat di album Semut Hitam. Sebuah album yang menandai kembalinya God Bless ke dunia rekaman setelah sewindu tidak merilis album, waktu yang sangat lama bagi musisi atau grup musik pada saat itu untuk tidak merilis sebuah album. Kembalinya God Bless di tahun 1988 digebrak dengan lagu berjudul Kehidupan ciptaan Yockie Suryo Prayogo. Lagu ini secara garis besar menceritakan tentang arus kehidupan yang begitu ambisius dengan tensi yang sangat tinggi. Dengan kata lain, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang “sikut-sikutan” dan melibas segala cara untuk mencapai tujuannya tanpa memikirkan sesuatu yang ada di sekitarnya. Apakah sindiran terhadap orde pemerintahan saat itu

3. Koes Plus – Kelelawar

Lagu yang secara sederhana menceritakan tentang hewan kelelawar ini terdapat di album perdana Koes Plus yang berjudul Dheg Dheg Plas. Lagu yang diciptakan oleh Tonny Koeswoyo ini memiliki makna yang sangat sederhana sekali. Tak perlu muluk-muluk, lagu ini hanya menceritakan seekor kelelawar yang sayapnya hitam, hidup di malam hari, dan bergantungan (tidur) ketika pagi hari. Sederhana sekali, ya? Namun walaupun begitu, musik yang diusung cukup “berat”, karena mereka berusaha mengikuti trend yang sedang naik daun saat itu, yaitu aliran musik rock n roll. Pada tahun 2009, lagu ini menempati peringkat ke-83 pada 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

4. Flowers – (Tolong) Bu Dokter

Mungkin nama grup musik ini agak asing di telinga anak muda zaman sekarang. Namun bila dilihat pengaruhnya, grup musik ini adalah salah satu penggerak musik rock n roll di era 90-an bersama Slank dan geng Potlot lainnya. Album perdananya yang mengandalkan single berjudul (Tolong) Bu Dokter langsung menggebrak telinga anak muda saat itu. Lagu ini menceritakan tentang pergaulan anak-anak muda di Gang Potlot yang dekat dengan obat-obatan terlarang namun digambarkan dengan kata-kata kiasan. Contohnya adalah “Bu Dokter” sendiri yang maksudnya merupakan “BD” alias bandar. Jangan lupakan juga ada satu part unik yang terdapat di lagu ini, yaitu ada selingan psychedelic yang mengawang-awang di pertengahan lagu.

5. Netral – Pucat Pedih Serang

Pucat Pedih Serang merupakan single andalan dari grup musik Netral untuk album ketiganya yang bertajuk Album Minggu Ini. Semua pendengar Netral tentu setuju bahwa album ini merupakan album terbaik dari grup musik Netral. Khususnya untuk lagu Pucat Pedih Serang yang sering menjadi perbincangan karena liriknya yang ambigu. Banyak yang mengartikan kalau lagu ini menceritakan tentang proses seseorang menuju bunuh diri. Namun dilansir lewat video yang diunggah di channel YouTube NTRL Official TV, sang vokalis, Bagus, membantah lagu ini menceritakan tentang proses bunuh diri. Ia mengatakan bahwa lagu ini justru menceritakan sebaliknya, yaitu sebuah motivasi untuk seseorang agar tidak melakukan proses bunuh diri. Secara garis besar maksudnya adalah rasa pucat dan rasa sedih harus kita serang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Top 5: Merdi Simanjuntak (Diskoria Selekta)

Merdi Simanjuntak bermain drum di videoklip lagu terbaru Diskoria Selekta berjudul Serenata Jiwa Lara

Merdi Simanjuntak adalah seorang disc jockey (DJ) asal Jakarta yang dikenal luas melalui duo Diskoria Selekta bersama partner-nya, Fadli Aat. Dalam dunia per-discjokey-an ibukota, nama Merdi telah lama dikenal dengan berbagai proyek DJ-nya. Selain Diskoria Selekta, Merdi juga merupakan seorang DJ yang memainkan lagu-lagu R&B slowjams dibawah moniker Asiap Rocky dan tergabung dalam kolektif This Happy Feeling memainkan lagu-lagu Britpop. Kali ini, tim Alunan Nusantara telah merangkum lima lagu Indonesia pilihan Merdi Simanjuntak. Penasaran? Mari kita simak list di bawah ini.

  1. Margie Segers – Naluri (Jazz Samba, Musica Studios 1983)

Pertengahan era 1970’an, perkembangan jazz di Indonesia mulai memasuki ranah komersil dengan hadirnya Hidayat Records, sebuah label jazz asal Bandung milik Bill Firmansjah. Salah satu penyanyi yang diorbitkan di masa awal berdirinya Hidayat Records adalah Margie Segers dengan lagu all-time hit nya berjudul Semua Bisa Bilang. Nama Margie Segers semakin berkabar ketika ia mulai rekaman bersama Ireng Maulana di bawah label Musica Studios. Bersama Ireng Maulana, Margie Segers banyak memainkan lagu-lagu pop jazz yang memadukan unsur musik pop dengan irama smooth jazz, samba, dan bossanova. Salah satu lagu hasil kolaborasi antara Margie Segers dengan Ireng Maulana berjudul Naluri yang terdapat dalam album berjudul Jazz Samba (1983)

2. Rien Djamain – Improvisasi (Volume 2, Musica Studios 1978)

Senada dengan Margie Segers, Rien Djamain juga merupakan penyanyi wanita Indonesia yang turut membentuk musik jazz berada di ranah komersil. Rien Djamain juga memulai karir bernyanyinya di bawah naungan Hidayat Records pada pertengahan era 1970’an. Bahkan, rilisan pertama Hidayat Records adalah album dari Rien Djamain berjudul Api Asmara yang digarap bersama Jack Lesmana dkk. Setelah kontraknya Hidayat Records selesai, Rien Djamain melanjutkan karir bernyanyinya di bawah label Musica Studios. Otomatis, lagu-lagu yang sebelumnya penuh dengan unsur jazz mendadak berubah dengan kehadiran musik pop di dalamnya. Album kedua sekaligus pertama Rien Djamain di Musica Studios berjudul Volume 2 (1978) yang memuat salah satu lagu berjudul Improvisasi.

3. Hutauruk Sisters – Dimanakah Kini (Pop Indonesia Vol. 1, Musica Studios 1979)

Era 1970’an bisa dibilang era di mana format bajakan banyak beredar di industri musik Indonesia. Tidak hanya kaset barat yang dirilis dalam format tidak resmi oleh label Yess atau Monalisa, melainkan tidak sedikit pula musisi Indonesia yang “membajak” lagu barat dengan melodi yang sama persis. Hanya saja, dilakukan pengubahan dengan menggunakan lirik berbahasa Indonesia tentunya. Maklum, di era itu Indonesia belum menerapkan Undang-Undang mengenai Hak Cipta. Salah satu kasusnya bisa kita temukan dalam lagu Dimanakah Kini milik Hutauruk Sisters yang merupakan “adaptasi” dari salah satu hit Bee Gees berjudul Emotions.

4. Lydia Kandou – Denny (Sayang Dibuang Jangan, Musica Studios 1987)

Era 1980’an merupakan tonggak di mana term musik pop kreatif lahir dan mencapai kejayaannya. Pop kreatif ini lahir sebagai bentuk penggabungan musik pop dengan musik jazz, R&B, soul, funk, dan tentu saja disko. Salah satu lagu pop kreatif Indonesia underrated adalah lagu berjudul Denny milik Lydia Kandou. Di awal-awal karirnya, Lydia Kandou cukup banyak menyanyikan lagu-lagu berirama pop dan R&B.

5. Guruh Gipsy – Indonesia Maharddika (S/t, 1977)

Geliat musik progressive rock di Indonesia menemukan klimaksnya ketika Guruh Gipsy hadir di tahun 1977. Perpaduan musik progressive rock dengan musik tradisional Bali merupakan ciri khas Guruh Gipsy. Salah satu lagu monumental Guruh Gipsy adalah Indonesia Maharddika yang berdurasi sekitar 15 menit 40 detik. Lagu ini bisa dibilang unik karena menggabungkan inisial nama personil Guruh Gipsy yang terdiri atas Guruh Soekarno Putra, Chrisye (bass, vokal), Keenan Nasution (drum), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (synthesizer), dan Odink Nasution (gitar) dalam setiap bait liriknya. Hingga saat ini, belum ada lagi band Indonesia yang bisa menyaingi Guruh Gipsy.

Top 5: John Paul Patton

Alunan Nusantara kembali menghadirkan TOP 5 dari musisi-musisi pilihan kami. Dalam TOP 5 edisi kali ini, kami menghadirkan 5 lagu Indonesia terbaik dari John Paul Patton alias Coki, pembetot gitar bas dan penyanyi dari grup musik keras Kelompok Penerbang Roket. Sebelumnya, Coki juga pernah  terlibat sebagai pemain gitar bas bagi grup musik asal Jakarta, yaitu Elephant Kind. Bersama KPR, Coki membawakan lagu-lagu bernuansa rock 70-an ala AKA, atau Duo Kribo. Bahkan, salah satu rilisan KPR yang berjudul HAAI (2015) berisi lagu-lagu rock dari Panbers yang mereka kemas ulang. Ini adalah upaya dari KPR untuk mengenalkan kembali musik rock Indonesia lawas.

Tim Alunan Nusantara meminta Coki untuk menyebutkan 5 lagu Indonesia terbaik versinya. Kira-kira, apa saja ya 5 lagu Indonesia pilihan dari Coki? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

  1. Duo Kribo – Penari Jalang

Lagu keras dari salah satu duo terbaik di Indonesia ini berjudul Penari Jalang. Hmm.. dari judulnya saja sudah terlintas betapa “liar”-nya lagu ini. Lagu yang diciptakan oleh Achmad Albar dan Ian Antono ini terdapat di album ke-2 Duo Kribo yang rilis pada tahun 1978. Sesuai dengan judulnya, lagu ini menceritakan tentang penampilan seorang penari jalang yang tampil di depan banyak orang. Tidak hanya tentang si penari, lagunya juga menggambarkan bagaimana penonton menikmati penampilan si penari jalang tersebut. Terlihat dari salah satu liriknya yang berbunyi “Urat syaraf semakin menegang, napsu datang pikiran melayang”. Sudah paham kan apa maksudnya? Hehe…

2. AKA – Do What You Like

Indonesia seolah tak pernah kehabisan talenta terbaiknya dalam musik keras. Salah satu yang terbaik adalah AKA. Salah satu lagunya yang berjudul Do What You Like langsung menjadi lagu andalan pada masanya. Riff-riff gitar berat khas hard rock ditambah vokal keras ala Ucok merupakan paduan yang sangat gila bagi musik Indonesia di masa itu. Lagu ini pantas dinobatkan sebagai lagu terbaik dari AKA. Terbukti, lagu ini kelak ditempatkan pada peringkat ke-125 pada “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” yang dikurasi oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia. Lagu ini boleh dibandingkan dengan lagu-lagu rock masa kini. Kerasnya boleh diadu!

3. Rhoma Irama & Soneta – Santai

Apa jadinya bila orkes Melayu dipadukan dengan melodi-melodi gitar dan kibor bernuansa funky? Inilah yang dapat pembaca temukan pada lagu Santai dari Rhoma Irama bersama grup musiknya, Soneta. Lagu ini terdapat di album O.M. Soneta vol. 7, yang dirilis pada tahun 1977 di bawah label kenamaan Yukawi Indo Music. Rhoma sendiri menyebut bahwa Santai merupakan lagu bernuansa “dangdut funky”. Perhatikan saja pada irama perkusinya yang bernuansa dangdut, namun suara organ dan gitarnya malah bernuansa funky! Ketika mendengar lagu ini, tentu saja pembaca akan dilema. Apakah akan santai sesuai dengan judul lagunya? Atau bergoyang mengikuti irama musiknya?

4. Benyamin S. – Badminton

Lagu yang satu ini pasti sudah tidak asing di telinga para pembaca. Ya, lagu berjudul Badminton ini selalu menjadi lagu langganan ketika sedang digelar event-event badminton. Lagu ini dipopulerkan oleh seniman asal Jakarta, Benyamin Sueb yang dirilis di album berjudul Cowboy. Ada satu fakta menarik tentang lagu ini, yaitu kesimpangsiuran akan pencipta lagu ini. Di tulisan yang tercantum pada sampul albumnya, pencipta lagu ini adalah Benyamin itu sendiri. Namun, di sisi lain ada yang menyebut bahwa lagu ini merupakan ciptaan seniman asal Jawa Barat, yaitu Koko Koswara atau yang lebih dikenal dengan Mang Koko. Terlepas dari kesimpangsiurannya, lagu ini menggambarkan kerja sama hebat antara dua seniman lintas etnis. Toh, walaupun berbahasa Sunda dan dinyanyikan oleh seniman Betawi, lagu ini bisa dinikmati oleh semua kalangan.

5. Koes Plus – Mobil Tua

Koes Plus yang dikenal dengan lagu-lagu sendunya seolah ingin lepas dari zona nyaman. Hasilnya, album bertajuk In Hard Beat berhasil mereka ciptakan. Terdiri dari 2 volume, album ini berisi lagu-lagu keras ala Koes Plus. Salah satu yang terbaik adalah lagu  berjudul Mobil Tua yang terdapat pada album In Hard Beat vol. 2. Lagu ini tentu sangat berbeda dari lagu-lagu Koes Plus pada umumnya. Permainan drum dari Murry pada lagu ini patut diacungi jempol. Jangan lupakan juga teriakan dari Yok Koeswoyo yang begitu legendaris di lagu ini! Di tahun 2011, lagu ini masuk ke dalam kompilasi Those Shocking Shaking Days yang dirilis oleh Now-Again Records, sebuah label rekaman asal Los Angeles, Amerika Serikat.

Top 5: Rekti Yoewono

Rekti Yoewowo

Rekti Yoewono adalah musisi asal Bandung yang sudah malang melintang di belantika musik Indonesia dan terhitung sangat produktif. Saat ini, Rekti aktif di dua grup musik yang keduanya memiliki jadwal manggung yang cukup padat. Grup musik pertama adalah The S.I.G.I.T yang ia bentuk sejak tahun 2002. Grup musik yang telah memiliki nama yang sangat besar ini sudah menelurkan 5 rilisan. Satu lagi adalah grup musik yang bisa disebut supergrup yaitu Mooner yang personilnya terdiri dari berbagai grup musik kenamaan. Sejauh ini, Mooner telah menelurkan 2 album sejak grup musik ini berdiri di tahun 2015.

Kali ini, tim Alunan Nusantara meminta Rekti untuk memilih 5 lagu Indonesia lawas terbaik versi Rekti. Apa saja ya lagunya? Simak artikel berikut ini.

1. CHRISYE – CITRA HITAM

Lagu ini terdapat di album perdana Chrisye yang berjudul Sabda Alam yang rilis pada tahun 1978. Lagu yang diciptakan serta diaransemen oleh Yockie Suryo Prayogo bersama Chrisye ini menyajikan nuansa yang unik. Nuansa sendu namun dibalut dengan musik progresif yang kuat. Tentu saja nuansa progresif ini disajikan oleh Yockie Suryo Prayogo dan Chrisye sebagai penata musik yang saat itu sedang bereksplorasi dengan musik progresif ala Genesis. Tak lupa juga permainan synthesizer dari Ronnie Harahap dan drum dari Keenan Nasution yang semakin menambah megah lagu ini. Konon katanya, lagu yang syairnya ditulis oleh Junaedi Salat ini menceritakan tentang runtuhnya kedigdayaan Presiden Soekarno di masa akhir jabatannya.

2. LILIS SURYANI – HANTU

Lilis Suryani adalah salah satu penyanyi kenamaan di era 60-an. Penyanyi wanita asal Bandung ini terkenal dengan lagu Gang Kelinci dan lagu legendaris Genjer-Genjer yang dianggap menjadi simbol salah satu partai politik yang telah dilarang di Indonesia. Namun selain 2 lagunya yang fenomenal itu, ada satu lagu bagus yang bisa dijadikan referensi. Lagu ini  berjudul Hantu yang dirilis di tahun 1967. Diiringi oleh Band 4 Nada, lagu ini memiliki nuansa timur tengah yang kental namun dibawakan dengan gaya rock ‘n roll. Hal ini disebabkan karena dunia musik Indonesia saat itu yang masih belum jauh dari era kepopuleran orkes, ditambah dengan masuknya pengaruh-pengaruh dari barat yang pada saat itu masuk bagai tak terbendung.

3. ABBHAMA – ASMARA

Abbhama merupakan grup musik asal kampus seni di Jakarta. Grup musik ini mengusung aliran progresif rock. Ada juga yang menyebut bahwa grup musik ini mengusung aliran Italian Progressive Rock. Idealisme bermusik para mahasiswa ini tertuang dengan jelas lewat lagu-lagunya yang terdapat di album Alam Raya (1978) yang memiliki progresi kord yang rumit. Begitu pula dengan lagu Asmara. Walaupun lagu ini merupakan lagu cinta, tetapi musik yang diusung tetaplah musik progresif, disertai dengan bebunyian synthesizer yang rumit sejak awal lagu. Lirik lagunya pun seolah menggambarkan kisah cinta yang begitu indah lewat pemilihan kata yang puitis dan tepat.

4. PURE SATURDAY – KOSONG

Petikan intro gitarnya membuat pendengar atau penontonnya histeris. Dibalut dengan vokal yang khas dari Kang Suar. Serta tak lupa lantunan syair “pergilah pulang…” yang selalu menjadi lantunan massal para penonton. Inilah, Pure Saturday dengan lagu legendarisnya yang berjudul Kosong. Lagu ini terdapat di album self titled­-nya Pure Saturday yang rilis pada tahun 1996. Grup musik ini dianggap sebagai pelopor band indie di belantika musik Indonesia. Terbukti setelah rilisnya album self titled ini, banyak grup musik independen yang mulai merintis karirnya, terutama di Kota Bandung. Selain itu, lagu ini juga dianggap sebagai pembaharuan bagi musik Indonesia pada saat itu, karena jarang sekali ada band yang membawakan aliran musik brit-pop.

5. SHARK MOVE – HARGA

“Tina….” begitulah lagu ini dibuka. Lagu ini menceritakan tentang wanita bernama Tina yang menarik perhatian banyak lelaki. Dari yang penulis tangkap, lagu ini menceritakan tentang Tina yang terus menerus cari perhatian dan “cari muka” dengan si lelaki yang ada di lagu ini. Tina mengharapkan mendapat perhatian lebih dari lelaki ini. Namun, lelaki ini memberi reaksi dengan tidak membalas apa yang dilakukan Tina. Di akhir lagu, sang penulis lagu menuturkan bahwa Tina hanyalah mencuri waktu-waktu berharga si lelaki ini. Lagu ini dibawakan oleh grup musik Shark Move, grup musik independen pertama di Indonesia. Lagu ini ditulis dan dinyanyikan oleh Yanto Diablo, dan dirilis di album satu-satunya Shark Move yang rilis di tahun 1970.

Top 5: Saleh Husein

Saleh Husein alias Ale adalah gitaris asal Jakarta yang tergabung dalam dua band independen sekaligus: The Adams serta White Shoes & The Couples Company. Meskipun sama-sama tumbuh besar dan berkembang di Institut Kesenian Jakarta dan menjadi pioneer dari skena musik independen di Indonesia, kedua band Ale ini berbanding terbalik dari segi musik. The Adams lebih condong ke britpop dan rock, sedangkan White Shoes & The Couples Company berkiblat ke retro pop yang mengusung tema musik 60 dan 70’an. Karena kehidupan bermusiknya yang amat lekat dengan musik era nostalgia, berikut Alunan Nusantara telah merangkum top 5 lagu Indonesia pilihan Saleh Husein:

  • Orkes Kelana Ria – Ratapan Anak Tiri (Ya Mahmud/Irama Records, 1963)

Memasuki era 1960’an, sebagai akibat dari pelarangan akan konsumsi musik barat, “kecintaan” akan “musik produk lokal” ditandai dengan masuknya musik pop melayu lewat sekumpulan kelompok musik berbentuk orkes. Salah satu orkes yang cukup populer dan menarik perhatian di era itu adalah Orkes Kelana Ria. Salah satu lagu Orkes Kelana Ria berjudul “Ratapan Anak Tiri” menceritakan tentang seorang anak yang ditinggal Ibu kandungnya untuk selamanya, lalu sang ayah menikah lagi dan sang anak diasuh oleh Ibu tirinya yang punya kelakuan jahat (hey! ini terdengar familiar di sinetron televisi era masa kini!). Namun, alih-alih membawa aransemen musik sendu, lagu “Ratapan Anak Tiri” ini malah punya groove yang cukup asik dan membuat badan kita seolah-olah ingin bergerak mengikuti irama musik.

  • Orkes Sinar Kemala & A. Kadir – Penganten Baru (Self Titled/Lokananta, 1950’s)

Sebuah lagu tentang harapan yang dipanjatkan terhadap sepasang pria dan wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan. Dibalut dengan musik melayu yang sederhana namun tetap tidak terdengar ‘basi’ sampai sekarang. Jenius!

  • Orkes Sinar Kemala & A. Kadir – Suara Jiwaku (Kisah Dunia/Lokananta, 1950’s)

Mungkin sekilas ketika mendengarkannya, Anda mungkin akan mengira ini adalah Rhoma Irama. Dari segi cengkok, melodi, sampai irama lagu memang identik dengan Soneta Group, tapi ini adalah sebuah lagu dari Orkes Sinar Kemala bersama A. Kadir yang rilis jauh sebelum Rhoma Irama memulai karir panjangnya. Tapi mungkin kita boleh beranggapan bahwa akar musik Rhoma Irama berawal dari sini, atau bisa jadi terinspirasi dari lagu ini.

  • Elly Kasim – Bunga Serodja (Elly Kasim dengan Gajanja Jang Tersendiri/Irama, 1966)

Mungkin ini adalah salah satu lagu pop melayu era 60’an yang sampai saat ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang. Bahkan sebagian generasi muda masih ada yang mengetahui lagu ini. Salut bagi orang-orang yang masih peduli lagu seperti ini!

  • Munif dan Orkesnja – Naghm El Uns (Nada dan Do’a/Diamond, 1960’s)

Siapa yang punya ekspektasi kalau musik Arab dengan lirik bahasa Arab dipadukan dengan musik disko dan funk? Mungkin tidak pernah. Tapi lagu “Naghm El Uns” dari Munif dan Orkesnja berkata demikian. Lagu ini memang out of the box. Lagu ini seolah menggabungkan unsur “dunia” lewat balutan aransemen musik disko dan funk dan “akhirat” lewat melodi serta liriknya. Bayangkan seandainya ada musisi zaman sekarang yang menggunakan trik seperti ini di lagunya, akan bagaimana jadinya, ya?

Top 5: Bilal Indrajaya

Bilal Indrajaya adalah solois asal Jakarta yang banyak menarik perhatian anak-anak muda. Kehadirannya dianggap membawa angin segar dunia musik Indonesia, khususnya di skena independen. Bilal pertama kali debut dengan single “Biar” yang langsung mencuri perhatian para pengamat musik. Di akhir tahun 2019, tepatnya pada bulan November 2019, Bilal merilis EP perdananya yang berjudul “Purnama”.  Album ini langsung mencuri perhatian dan membuat nama Bilal semakin melambung.

Tim Alunan Nusantara meminta Bilal untuk memilih 5 album Indonesia lawas terbaik versi Bilal. Apa saja albumnya? Simak artikel berikut ini.

  1. To The So Called The Guilties – Koes Bersaudara (1967)
Sampul album To The So Called The Guilties – Koes Bersaudara

Salah satu album terbaik yang pernah dirilis Koes Bersaudara. Jika diamati lebih dalam, album ini tidak hanya sekadar sebuah album musik. Tetapi, di dalamnya terdapat sebuah perlawanan dan sindiran-sindiran atas apa yang terjadi pada saat itu. Beberapa lagu seperti “Di Dalam Bui”, dan “To The So Called The Guilties” yang menggambarkan proses hukum yang mereka alami, serta “Poor Clown” yang menyindir pimpinan negara saat itu. Album ini dirilis di tahun 1967, tahun-tahun dimana Koes Bersaudara masih meledak-ledak dengan idealisme yang mereka miliki.

2. Terbaik Terbaik – Dewa 19 (1995)

Sampul album Terbaik Terbaik – Dewa 19

Sesuai judulnya, album ini memang yang terbaik! Bagi penggemar berat Dewa 19, album ini adalah santapan wajib. Isi dari album ini memang ciamik! Mulai dari aliran musik yang beragam (pop, rock, new wave), hingga pemilihan diksi kata yang cukup jarang dijadikan lirik lagu pada saat itu. Album ini menandai keidealismean dari Dewa 19, karena industri musik Indonesia saat itu sedang marak dengan aliran pop boyband dan slow rock yang memang sedang jaya-jayanya.

3. Badai Pasti Berlalu – Erros Djarot, Chrisye, Yockie, dkk. (1977)

Sampul album Badai Pasti Berlalu

Tak bisa berkata banyak dengan album ini. Jika penulis boleh memberi satu kata album ini, penulis akan berkata “Gila!”. “Badai Pasti Berlalu” dirilis di tahun 1977 yang pada saat itu aliran musik Pop Melayu sedang kencang-kencangnya. Pada album ini, Erros dkk. ingin mencoba berbeda dari album musik kebanyakan. Hasilnya, unsur progresif rock serta musik pop ala Indonesia dipadukan di dalam album ini. Sempat dipandang sebelah mata, album ini kelak menjadi angin segar di dunia musik Indonesia. Erros dkk. memberi warna baru bagi musik Indonesia lewat album ini. Aransemen megah hingga pemilihan kosakata untuk lirik yang jarang dipakai pada saat itu menjadi sesuatu yang memukul grup-grup musik beraliran “pop memble”. Kelak, album ini dianggap sebagai “Pop Indonesia” yang sebenarnya. Setelah dirilisnya album tersebut, pengaruhnya sangat luar biasa. Banyak musisi, grup musik pop sampai rock membawakan lagu-lagunya dengan aransemen a la “Badai”. Perlu diakui bahwa album ini membawa musik Indonesia ke derajat yang lebih tinggi.

4. Dheg Dheg Plas – Koes Plus (1969)

Sampul Album Dheg Dheg Plas – Koes Plus

Keluarnya salah satu personil Koes Bersaudara tidak membuat nama Koes menjadi pudar. Setelah masuknya personil pengganti baru, nama Koes berubah menjadi Koes Plus (baca:tambahan). Bergabungnya Kasmuri (Murry) justru semakin membuat nama Koes Plus melambung! Di tahun pertamanya grup ini bernama Koes Plus, grup ini merilis album berjudul “Dheg Dheg Plas”. Sebuah album komplit dengan berbagai macam aliran musik di dalamnya. Ada pop, ada pula rock, sampai yang mendayu-dayu. Album perdana sebagai nama Koes Plus ini kelak sebagai penanda akan dibawa kemana arahnya grup musik ini, serta menjadi percontohan bagi grup musik baru yang ingin membuat album. Di tahun-tahun itu sampai tahun-tahun berikutnya, semua grup musik baru berpatok kepada Koes Plus.

5. Pancaran Sinar Petromak – OM PSP (1979)

Sampul Album OM PSP

Pencetus aliran dangdut humor di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks atau OM PSP. Album perdananya yang bertajuk “Pancaran Sinar Petromaks” dengan sampul legendarisnya yang berwarna hijau dan menampilkan gambar petromaks menjadi sesuatu yang legendaris dan berkesan hingga saat ini. Album ini berisi lagi-lagu guyon dengan iringan musik orkes ala Melayu. Sebut saja hits “Kidung” dan “Fatimah” yang legendaris itu sukses membuat pendengarnya tertawa! Lewat album perdananya ini, OM PSP memperkenalkan aliran musik baru di Indonesia yaitu dangdut humor. Aliran ini juga menjadi sebuah sesuatu yang segar bagi pendengar musik di Indonesia khususnya anak muda dan mahasiswa. Di tahun 2007, album ini dinobatkan sebagai album terbaik ke-129 dalam “150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa” yang dikurasi oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

Selamat menikmati!

Top 5: Oom Leo (Goodnight Electric)

Oom Leo

Narpati Awangga atau lebih dikenal dengan panggilan Oom Leo adalah personil dari trio electronica/dance Goodnight Electric. Trio ini pernah mengalami masa kejayaannya dengan merajai pensi-pensi di Jakarta pada era 2000-an lalu. Belasan tahun berlalu, nama Oom Leo belakangan tiba-tiba naik berkat program karaoke yang menghadirkan lagu-lagu pop Indonesia mainstream yang kerap menjadi soundtrack anak-anak muda dibawah moniker Oomleo Berkaraoke. Program karaoke yang digagas pria asal Yogyakarta ini sukses mendapat antusias anak-anak muda di skena indie terutama di Jakarta. Berikut Alunan Nusantara telah merangkum Top 5 Lagu Indonesia Pilihan Oom Leo:

  • Hanya Semalam Nina Kirana
Piringan Hitam Hanja Semalam
Sumber: Iramanusantara.org

Era Presiden Soekarno alias era Orde Lama adalah masa-masa di mana musik-musik laidback seperti jazz ballad mulai diperkenalkan ke publik melalui format piringan hitam yang kini mulai ngetren lagi. Sebut saja Bubi Chen ataupun Jack Lesmana – godfather musik jazz Indonesia yang sukses memperkenalkan berbagai macam jenis musik jazz kepada masyarakat Indonesia. Dan jangan pula lupakan pelarangan keras terhadap adaptasi budaya barat sehingga membuat lagu-lagu era itu dibuat dengan lirik penuh berbahasa Indonesia. Bahkan, lengkap dengan EYD! Lagu “Hanya Semalam” ciptaan Ismail Marzuki adalah contoh dari lagu jazz ballad yang sukses dibawakan dengan lirik berbahasa Indonesia yang bahkan tak lazim dipergunakan di era-era selanjutnya. Tidak percaya? Silakan simak potongan lirik seperti “Aduhai kemala puspa sari / Tega nian aku begini / Dilamun gelombang rona mimpi / Merana mengayun menyepi”.

  • Persembahanku – Rafika Duri (Bossanova Indonesia / Musica Studios 1982)
Sampul Album Rafika Duri – Bossanova Indonesia

Memasuki era 1980’an, ranah musik pop Indonesia mulai diberi variasi berupa penggabungan sejumlah jenis musik oleh beberapa musisi era itu. Salah satu yang paling berhasil dan cukup laku adalah variasi yang menggabungkan musik pop dengan jazz di mana penyanyi seperti Rien Djamain, Ermy Kullit, ataupun Candra Darusman berperan andil dalam pembentukan jenis musik ini. Salah satu lagu bercorak pop jazz di awal era 80’an adalah “Persembahanku” yang dinyanyikan Rafika Duri. Lagu yang terdapat dalam album solo Rafika Duri berjudul “Bossanova Indonesia” (1982) ini menghadirkan rhythm berupa slow bossanova yang ditambah empuk dengan kehalusan suara Rafika Duri. Ireng Maulana adalah otak dibalik musik bossanova yang ditembangkan Rafika Duri di album solonya tersebut.

  • Pet Pot Ling Tung – OM Pengantar Minum Racun (Bibir Kuda / MSC Records)
Sampul Album OM PMR – Bibir Kuda

Era musik populer Indonesia 1970’an sebelum Yockie Suryoprayogo cs. datang membawa perubahan besar pada sentuhan musik pop Indonesia, musik populer Indonesia didominasi oleh musik-musik yang dianggap “sampah” dan “kampungan” di era itu. Dan konsumennya pula adalah orang-orang kelas bawah seperti pembantu rumah tangga. Sedang anak muda saat itu masih mengagung-angungkan musik-musik barat. Musik yang dianggap “kampungan” era itu adalah musik pop melayu alias dangdut. Orkes Moral Pengantar Mincum Racun (OM PMR) pimpinan Jhonny Iskandar adalah grup yang sukses mempelopori musik orkes melayu paruh era 70’an. Salah satu tembang mereka berjudul “Pet Pot Ling Tung” memiliki muatan lirik yang masih sangat relevan di era kehidupan sekarang. Siapa yang menyangka kalau musik orkes yang dianggap kampungan di era 70’an dulu malah menuai antusias dari banyak anak muda di era sekarang? Terbukti ketika OM PMR manggung di sejumlah hajatan beberapa waktu kemarin sukses mengundang antusias anak muda lengkap dengan minuman beralkohol sebagai starter-pack.

  • Semurni Kasih – Dian Pramana Poetra (Indonesian Jazz Vocal / Jackson Records 1983)
Sampul Album Dian Pramana Poetra – Indonesia Jazz Vocal

Kemampuan Dian Pramana Poetra dalam menyanyikan lagu-lagu jazz memang sudah tak perlu diragukan lagi. Suara Dian yang sangat empuk dan halus memang cocok membawakan lagu-lagu vocal jazz, terutama jazz ballad. Lagu “Semurni Kasih” merupakan bukti otentik bahwa suara Dian Pramana Poetra memang sudah sepantasnya berjodoh dengan jazz ballad. Nampaknya memang berkata demikian. Lagu-lagu bernuansa jazz ballad seolah menjadi trademark dari seorang Dian Pramana Poetra. Terbukti ketika Dian mengulang format musik seperti ini di lagu “Paseban Cafe” beberapa tahun setelahnya, lagu tersebut banyak disukai orang sampai sekarang.

  • Kamu – Tito Soemarsono (Kamu / Union Artis 1985)
Sampul Album Tito Soemarsono – Kamu

Sebagian orang mengatakan bahwa lagu di era 1980’an adalah yang paling sukses memanggil kembali memori masa lalu mereka. Aransemen musik yang khas era itu serta suara penyanyi yang unik (bahkan sekarang dianggapnya kuno) berhasil membuat banyak orang bernostalgia sembari mengenang masa lalu mereka. Lagu “Kamu” dari Tito Soemarsono adalah contoh lagu era 80’an yang berhasil membangkitkan memori banyak orang yang mengalami masa muda yang indah di era 80’an.

Top 5 dari Oom Leo

Top 5 Fadli Aat (Diskoria)

Fadli Aat adalah seorang disc jockey asal Jakarta yang dikenal lewat Diskoria Selekta bersama partnernya, Merdi Simanjuntak. Tergabung dalam kolektif Suara Disko, Aat bersama kawan-kawannya membawa misi mulia untuk memperkenalkan lagu-lagu disko Indonesia kepada anak muda lewat lantai dansa. Disamping kegiatannya bersama Suara Disko, Aat juga sibuk menjadi owner serta mengelola sebuah lab fotografi hype di Kemang, Jakarta Selatan bernama Labrana.

  • Harry Roesli – LTO

Tidak bisa dipungkiri bahwa di awal karirnya paruh era 70’an, Harry Roesli datang membawa pengaruh musik avant-garde yang bermaksud “menentang” musik pop melayu yang cukup tren saat itu. Dua album pertamanya, “Philosophy Gang” dan “Titik Api” adalah masterpiece seniman asal Bandung yang sampai saat ini sulit dicari tandingannya. Album kelimanya berjudul “LTO” (1978) adalah album pertama Harry Roesli yang dirilis oleh major label Musica Studios setelah sebelumnya menempuh jalur indie. Dalam “LTO”, Harry Roesli menampilkan lagu yang tidak segila lagu-lagu di empat album terdahulunya. Entah karena pertimbangan major label atau apapun itu, album ini seolah mencoba untuk bermain aman dengan pasar meskipun masih ada sepercik pengaruh funk & soul seperti album terdahulunya. Salah satu yang paling menarik adalah aransemen lagu hits Harry Roesli berjudul “Malaria” yang dikemas dengan warna jazz dan sentuhan avant-garde yang cukup berat kala itu.

  • Ost. Badai Pasti Berlalu

Rasanya, kita semua para pecinta musik sangat setuju bahwa Original Soundtrack “Badai Pasti Berlalu” (1977) adalah masterpiece yang pernah ada dan dimiliki musik Indonesia. Tidak perlu komentar banyak tentang album ini selain aransemen hasil garapan Eros Djarot dibantu Yockie Suryoprayogo dan Chrisye yang sangat megah dan kemudian menjadi tonggak revolusi musik pop Indonesia untuk era selanjutnya. Tentu sampai hari ini, kaset dan piringan hitamnya masih menjadi buruan banyak kolektor dengan harga selangit.

  • Harie Dea – Santun Petaka

Akhir tahun 70’an, musik Indonesia kedatangan satu bintang baru yang membawa tren musik disko di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Fariz RM. Disamping merilis album “Sakura” yang fenomenal karena semua alat musiknya dimainkan Fariz sendirian, Fariz RM juga bertindak sebagai music director untuk beberapa penyanyi. Salah satunya adalah Harie Dea. Mungkin tidak banyak orang mengenal nama ini karena Harie Dea hanya merilis satu album berjudul “Santun Petaka” (1979). Dengan bantuan Fariz RM sebagai music director, tentu musik yang tersaji dalam album ini terkesan “sangat Fariz” dengan balutan soul, funk, dan disco serta diwarnai permainan synthesizer Fariz RM yang sangat khas nyerempet Chick Corea. Hasilnya, tentu menjadi sebuah album dengan idealisme tinggi sehingga membuat album satu-satunya Harie Dea ini tidak laku dan nama Harie Dea pun tidak banyak yang mengenal. Siapa sangka, 40 tahun kemudian banyak kolektor musik yang mencari kaset dan vinylnya yang lagi-lagi diberi harga selangit. Sekedar info, kaset Harie Dea “Santun Petaka” lebih langka dibanding piringan hitamnya.

  • Guruh Soekarno Putra – Untukmu Indonesiaku

Akhir era 70’an – awal 80’an, Guruh Soekarno Putra mengadakan sebuah pagelaran kesenian bertajuk “Untukmu Indonesiaku”. Tentu pagelaran ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia terhadap negaranya. Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam pagelaran ini kemudian dituangkan dalam bentuk album berjudul “Untukmu Indonesiaku” (1980) yang dirilis oleh Musica Studios. Banyak lagu dengan tema unik tentang Indonesia yang tersaji dalam album ini. Diantaranya seperti “Keranjingan Disko” yang menggambarkan gairah anak muda di Indonesia ketika memasuki lantai dansa, “Hello Jakarta” yang menggambarkan situasi sebagian orang Indonesia dari berbagai penjuru daerah yang ingin meraih mimpinya di Ibukota, sampai “Hai Pemuda” yang memotivasi anak muda Indonesia untuk terus semangat berkarya. Namun yang paling sentimental adalah tembang ballad “Melati Suci” yang dinyanyikan Tika Bisono sebagai tribute untuk ibunda Guruh, Fatmawati Soekarnoputri yang baru saja meninggal dunia saat lagu ini beredar.  

  • Swami – S/t

Semua orang setuju bahwa era orde baru adalah era terbaik bagi seorang Iwan Fals. Iwan Fals adalah seorang opinion leader yang mewakili masyarakat dalam menyuarakan hak-hak perlawanan terhadap rezim orde baru melalui lagu. Era keemasan Iwan Fals semakin mencapai puncaknya ketika di akhir era 80’an bergabung dengan grup Swami bersama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri. Lewat album pertamanya “Swami I” yang rilis pada 1989, grup ini menghasilkan all time hits seperti “Bento” dan “Bongkar”. Dan, ya, kedua lagu ini tentu masih kita dengar sampai sekarang terutama pada saat demo berlangsung.

Oiya buat kalian yang mau denger top 5 dari Aat (Diskoria), bisa mampir di mixtape kita ya!

Top5 Pemuda Sinarmas

Pemuda Sinarmas (foto dok. law-justice.co)

Pemuda Sinarmas adalah Ajis, pelopor cassette jockey (CJ) yang berasal dari Jakarta. CJ berbeda dengan DJ. Seorang CJ biasanya memiliki dan memainkan playlist dari sebuah kaset pita yang berisi lagu-lagu lawas. Berawal dari kesukaannya pada kaset pita dan rajin mengumpulkannya, akhirnya tercetus ide untuk menjadi seorang CJ. Alasan pertama adalah agar lagu-lagu lawas ini tetap diingat oleh orang banyak dan alasan kedua adalah agar kaset pita koleksinya tidak habis dimakan waktu (rusak). Berawal dari keisengannya memotong-motong lagu di kaset pita untuk menggabungkan dengan yang lain, hal itu yang lalu mengasah kemampuannya lama-kelamaan dalam membuat mixtape dari sebuah kaset.

Sejauh ini Ajis dikenal piawai dalam meramu lagu-lagu dari berbagai jenis genre menjadi satu mixtape. Berbekal hanya dengan sebuah tape deck, mixer, dan alat mixing sederhana terciptalah ramuan lagu Indonesia lawas menjadi suatu yang mengasyikkan untuk era sekarang. Beberapa waktu lalu kami menyempatkan untuk mengobrol, membahas seluk beluknya menjadi seorang CJ dan banyak lainnya. Beberapa waktu lalu, Alunannusantara meminta Ajis untuk memberikan top5 lagu Indonesia versinya sendiri. Berikut adalah rangkumannya:

  • Remy Sylado – Orexas

<a href=”http://<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/ZKiqEZx4TUc&#8221; frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen>http://

Selain dikenal sebagai novelis sekaligus pelopor sastra mbeling, Remy Sylado juga dikenal sebagai musisi folk rock. Disamping “Bromocorah dan Putrinya”, “Orexas” adalah masterpiece dari mantan pemimpin redaksi majalah Aktuil ini. Lewat “Orexas”, Remy Sylado menyuarakan sebuah protes dari seorang anak terhadap orangtua yang tidak diberi kebebasan. Petikan lirik “Hee mari kita panjatkan doa kita, semoga orang-orang tua kita cepat dilanda malapetaka biar mampus dengan segala kemunafikan mereka” seolah ditujukan kepada anak-anak yang ingin mempunyai kehidupan progresif ditengah orangtua yang konservatif. Ah, nampaknya Japi Tambayong sudah “memprediksi” masa depan anak-anak muda yang open minded karena media sosial.

  • JavaJazz – Bulan di Asia

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/I4502g03xHM&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Salah satu lagu instrumental paling asik dari Indra Lesmana (bersama kawan-kawannya di JavaJazz). Perpaduan jazz dengan musik etnik dan sedikit unsur Jepang adalah senjata utama dari lagu berdurasi 10 menit 34 detik ini. Apalagi, ditambah suara latar Sophia Latjuba (yang masih menjadi istri Indra Lesmana saat itu) menambah kesyahduan ditengah improvisasi jazz yang cukup rumit. Konon, lagu ini dibuat Indra Lesmana saat ayahnya Jack Lesmana baru saja berpulang. Sekedar info, lagu ini ada dua versi. Versi pertama rilis di debut album JavaJazz tahun 1994 dengan judul “Bulan di Asia”, dan versi kedua rilis di album kedua JavaJazz “Sabda Prana” dengan menambah satu kata menjadi “Bulan di Atas Asia”. Versi keduanya ini lebih smooth dan pendek dan masih bisa dimengerti awam yang tak begitu menaruh minat terhadap jazz.

  • Deddy Stanzah – Jari dan Jempol

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/PxPyms1W-k8&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Mungkin kalau ditanya lagu funk apa yang orang nggak banyak ngeh siapa penyanyi aslinya tapi banyak diputar dimana-mana dan (mungkin) juga banyak dinyanyikan, “Jari dan Jempol” dari Deddy Stanzah adalah salah satunya. Pernah suatu hari salah satu program hiburan televisi swasta menghadirkan lagu ini secara live sebagai gimmick untuk memulai acara dan selektor musik yang biasa main di nightclub pun kerap memainkan lagu ini untuk sekedar memanaskan suasana. Dari permainan gitar di bagian awal lagu saja kita sudah tahu kalau ini adalah bukan lagu main-main. Meskipun lagunya sangat funk dan terkesan “berkelas”, akan tetapi salut liriknya menggunakan bahasa yang “sangat Indonesia” dengan kosakata seperti “enyak, babeh” dan semacamnya.

  • Gombloh – Kugadaikan Cintaku

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/z4Ch8i7BGKM&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Salah satu all time hit yang diwariskan Gombloh sebelum ia berpulang adalah “Kugadaikan Cintaku” dengan part lirik paling familiar “Di radio / aku dengar / lagu kesayanganmu / kutelepon dirumahmu / sedang apa dirimu”. Kisah terciptanya lagu ini berawal dari salah satu karya milik Jimmy Clift berjudul “Wonderful World Beautiful People”, tokoh musik reggae yang populer di pertengahan 1960-an. Gombloh diperkenalkan lagu ini oleh Bob Djumara, sound manager Nirwana Records. Tak sampai satu jam, Gombloh sudah berhasil menciptakan lagu yang berangkat dari karya milik Jimmy Clift. Awalnya, Gombloh membuat lirik untuk lagunya dengan tema sosial. Namun Bob meminta Gombloh untuk mengubah liriknya dengan mengangkat tema cinta. Dalam hitungan menit, Gombloh sudah merampungkan lirik yang diinginkan Bob. Tak diduga, lagu yang diciptakan dengan tidak serius itu malah meledak di pasaran. Lagu “Kugadaikan Cintaku” sukses mengangkat nama Gombloh ke puncak kariernya. Pada 1986, album ini menjadi album terlaris. Sayangnya, tak lama setelah masterpiece-nya ini rilis, Gombloh meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru.

  • Adi Bing Slamet – Darah Muda

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/UKDy6S_3V6c&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Adi Bing Slamet semasa remaja pernah merilis lagu funk berjudul “Darah Muda”. Sebenarnya ini bukan lagu asli, melainkan cover version dari lagu Lipps Inc. berjudul “Funkytown” (1979). Karena saat itu belum ada aturan atau undang-undang mengenai hak cipta, maka Adi Bing Slamet pun “menyulap” lagu ini menjadi lagu berbahasa Indonesia dengan judul “Darah Muda”. Lagu ini seolah mempunyai spirit yang serupa dengan “Orexas”, yaitu tentang kehidupan anak muda yang baru saja akil balig dan menginginkan kebebasan sekaligus kehidupan progresif terlepas dari bayang-bayang kehidupan orang tua mereka yang terkesan konservatif. Terlebih, lagu ini rilis pada saat Adi Bing Slamet memasuki masa peralihan dari penyanyi anak-anak menjadi penyanyi remaja yang akan beranjak dewasa.

Teks oleh: Abie Ramadhan

Top 5 – Oi (Swara Gembira)

Top 5 merupakan rangkuman 5 lagu pilihan/ favorit dari ribuan bahkan jutaan lagu yang pernah didengar oleh seseorang yang telah kami pilih. 5 lagu yang kami sajikan hanya berisikan lagu-lagu Indonesia dari lintas genre bahkan lintas zaman! Penasaran kan lagu Indonesia favorit dari orang-orang yang telah kita pilih?

Oi Swara Gembira

Untuk episode kali ini kita bakal disajikan top 5 dari Oi. Oi merupakan penggagas dari Swara Gembira, sebuah paguyuban muda-mudi yang berdiri sejak Maret 2017. Tujuan dari paguyuban ini sendiri demi kejayaan dan kelestarian seni budaya Indonesia agar menjadi mercusuar dunia hiburan mancanegara.
Nah, penasarankan 5 lagu Indonesia pilihan Oi kaya gimana? Berikut lagu 5 Indonesia pilihan Oi :

Sebenarnya ketika saya diminta untuk menceritakan lagu Indonesia kegemaran saya apa saja, sungguh sulit sekali. Apalagi khususnya hanya 5 nomor. Sungguh banyak lagu Indonesia yang jadi kegemaran saya. Dari mulai lagu tradisional, Pop Batak, Pop Minang, Pop Sunda, Pop Jawa, belum lagi lagu-lagu era 50-an hingga kini (2019). Tapi saya disini lebih tertarik menceritakan 5 lagu kegemaran saya yang mungkin patut didengar oleh para pengikut Alunan Nusantara untuk dipahami dan dihayati sebagai rujukan dalam berkesenian, terutama musik yang dapat menjadi kemaslahatan untuk bangsa ini.

1 – Guruh Gipsy- Geger Gelgel

Sampul Guruh Gipsy

Geger Gelgel merupakan lagu kedua yang ditulis Guruh Soekarno Putra ketika berkolaborasi bersama grup Gipsy. Lagu yang berdurasi 12 menit ini berada di album satu-satunya mereka yang bertajuk “Kesepakatan Dalam Kepekatan”. Album ini direkam pada bulan Juli tahun 1975 sampai Februari tahun 1976. Selesai di-mixing pada bulan November 1976, dan dirilis pada tahun 1977. Musik dalam lagu ini begitu dinamis dengan peleburan musik etnis Bali yang pentatonis dengan musik barat yang diatonis. Konon, untuk lagu Geger Gelgel sendiri pada proses rekamannya melibatkan hingga 20-25 additional player!

MenurutAlex Kumara (penata rekaman Guruh Gipsy), dalam proses perekaman “Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel”, lagu ini termasuk yang proses penggarapannya paling sulit secara teknis. Hal tersebut disebabkan karena begitu banyaknya bunyi-bunyian yang harus direkam serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang membuat studio berukuran 50 meter persegi pun terasa begitu sesak dan pengap.

2 – Guruh Gipsy – Janger 1897 Saka

Sampul Guruh Gipsy

Janger 1897 Saka juga merupakan lagu Guruh Soekarno Putra ketika berkolaborasi bersama grup Gipsy. Vokal dalam lagu ini dinyanyikan secara bergantian oleh Keenan Nasution dan Chrisye. Lagu ini bercerita tentang terkontaminasinya budaya Indonesia oleh budaya barat, sehingga menyebabkan lunturnya budaya asli Indonesia. Guruh menyampaikan sebuah pesan dalam lagu ini bahwa walaupun kita bangsa yang terkenal ramah, namun jangan sampai budaya asli kita luntur. Seperti potongan lirik dalam lagu Janger 1897 Saka:

“Boleh saja bersikap selalu ramah

Bukanlah berarti bangsa kita murah

Kalau kawan tak hati-hati, bisa  punah budaya asli

Kalau punah budaya asli, harga diri tak ada lagi

(harga diri tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati)”

3 – Chrisye – Lakon Manusia

Sampul Album Puspa Indah

Lagu ini berada di album Chrisye yang bertajuk “Puspa Indah” yang dirilis pada tahun 1980 oleh Musica Studio’s. Album ini merupakan album musik filmuntuk film “Gita Cinta dari SMA” dan “Puspa Indah Taman Hati” yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman”. Musik film dalam film ini ditangani oleh Guruh Soekarno Putra, Chrisye dan Yockie Suryo Prayogo serta Jimmie Manopo sebagai pemain drum. Lagu-lagu dari kedua film ini selanjutnya dirilis dalam bentuk album dengan judul “Puspa Indah”. Seluruh lagu dalam album ini diciptakan oleh Guruh dan semuanya berhasil menjadi hits, sebut saja seperti “Galih dan Ratna”, “Lagu Putih”, “Gita Cinta” dan “Puspa Indah”. Lagu “Lakon Manusia” sendiri diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra pada tahun 1972. Isinya menceritakan tentang lika-liku manusia dalam kehidupannya.

4 – Vina Panduwinata – Aji Mumpung

Sampul Album Pagelaran Karya – Cipta GSP III

Lagu ini berada di album Guruh Soekarno Putra yang bertajuk “Pergelaran Karya Cipta III/ Cinta Indonesia Vol.1” yang dirilis pada tahun 1984 oleh Musica Studio’s. Pergelaran kali ini merupakan pergelaran ketiga Guruh bersama Swara Maharddhika. Selain itu, Guruh juga turut menggandeng Vina Panduwinata, Chrisye, dan Irawardi untuk mengisi vokal pada album ini. Lirik dalam lagu ini bercerita tentang sindiran terhadap penguasa yang melakukan korupsi, menimbun kekayaan dengan cara yang licik, berlomba-lomba merebut kekuasaan, sampai mementingkan kepentingannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dengan berkedok kesederhanaan.

5 – Ferina & Lita – Rumpi Pasar

Sampul Album Jak-Jak-Jak-Jakarta

Posisi kelima di tempati (lagi-lagi) oleh lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra yang vokalnya diisi oleh Ferina dan Lita berjudul “Rumpi Pasar”. Lagu ini diambil dari album pergelaran Guruh Soekarno Putra bersama Swara Maharddhika yang bertajuk “Jak Jak Jak Jak Jakarta” yang diselenggarakan bertepatan dengan ulang tahun Kota Jakarta yang ke-462. Pergelaran ini diselenggarakan di Balai Sidang Senayan, Jakarta, pada tanggal 20 – 22 Juni 1989 dan berlangsung sukses seperti pergelaran-pergelaran sebelumnya. Album ini pun laris di pasaran pada saat itu, terutama berkat lagu “Jalan Sore” yang dinyanyikan oleh Denny Malik, juga lagu “Misteri Mimpi” yang meraih penghargaan BASF Award sebagai “Aransemen Musik Terbaik”. Album ini dirilis pada tahun 1989 oleh label Musica Studio’s.

Soal alasan dan ulasan; jujur, begitu banyak buah pikir yang ingin saya limpahkan disini. Dari mulai syair, irama, melodi, harmoni, sampai dinamika. Tapi akan lebih baik kalau ada kesempatan kita dapat bertemu langsung dan bertukar pikiran yang nantinya mungkin dapat ditulis oleh tim Alunan Nusantara. Terima kasih ya AN! Sukses, ya! Semoga kelak nanti kalian dapat me-”Nusantara”-kan musik di negeri ini seperti nama kalian, Alunan Nusantara.

Itu dia top 5 episode kali ini dari Alunan Nusantara, penasaran top 5 siapa lagi yang bakal kita ulas dan bagikan? Tunggu di Top 5 Selanjutnya! Sampai bersua kembali yaa.

Oiya buat kalian yang mau denger top 5 dari Oi (Swara Gembira), bisa mampir di mixtape kita ya!