6 Lagu Bertemakan Alam Pilihan Alunan Nusantara & Duang Dasa Studio.

Masyarakat Indonesia begitu erat hubungannya dengan alam. Mayoritas penduduknya hidup dari bercocok tanam -baik dengan cara yang agak canggih dan sederhana- dan/atau mencari nafkah dari hasil bumi Gambaran tersebut bisa dikatakan benar, setidaknya hingga satu dekade terakhir sebelum memasuki era milenium.

Lalu, bagaimana seniman menangkap dan menginterpretasikan gambaran kehidupan tersebut ke dalam sebuah karya yang merekam zaman? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis memilih beberapa lagu populer Indonesia dari tahun 1950-an hingga 1980-an dengan puisi yang berisi potongan-potongannya.

3 Lagu pilihan Alunan Nusantara:

  • Rien Djamain – Mentari (1983)

Penyanyi jazz kawakan, Rien Djamain, memang tak henti-hentinya membuai pendengar lewat alunan suaranya yang indah. Pada tahun 1983, Rien Djamain merilis album bertajuk Kapankah Berakhir yang disertai iringan musik dari Ireng Maulana (penata musik, gitar akustik), Jopie Item (gitar elektrik), Ronny Isani (gitar bas), Arman Marah (kibor/synthesizer), Udin Zach (saksofon sopran, flute), Dullah (perkusi), dan Karim Suweileh (drum).

Salah satu lagu di dalam album tersebut adalah lagu berjudul Mentari yang diciptakan oleh Brin’s. Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang kagum akan keindahan mentari. Diiringi dengan irama lagu yang bernuansa bossanova, lagu ini cocok banget buat nemenin waktu santai kalian di bawah sinar matahari!

  • Delly Rollies – Selamatkanlah Dia (1980-an)

Kibordis dari grup musik The Rollies, Delly Rollies, ternyata sukses juga dalam merintis karir sebagai solois. Salah satu karyanya yang juga bercerita tentang alam yaitu sebuah lagu berjudul Selamatkan Dia yang diciptakan oleh Anto SG. Lagu ini terdapat di dalam album “Volume 2/Adakah Kau Rasa Rindu” yang dirilis pada awal ’80-an di bawah label Flower Sounds.

Sesuai judulnya, lagu ini menyampaikan misi tentang menyelamatkan kehidupan liar, khususnya bagi hewan liar yang hidup di alam terbuka. Pendengar diajak untuk memberi kebebasan serta membiarkan hewan liar yang hidup di alam bebas agar mereka hidup layak dan sebagaimana mestinya. Semoga dengan adanya lagu ini, kita jadi lebih peka, ya, sama makhluk hidup yang berkeliaran di alam bebas!

  • Harie Dea – Pesona Lestari (1979)

Pada akhir era ’70-an, kancah musik Indonesia mulai diramaikan dengan musik-musik anti-mainstream, seperti musik progressive rock atau musik fusion jazz yang mulai menjamur di industri musik Indonesia. Salah satu karya fusion jazz yang underrated juga banyak dijumpai, salah satunya adalah lagu berjudul Pesona Lestari yang dibawakan oleh Harie Dea dalam album Santun Petaka yang dirilis pada tahun 1979. Lagu ini diciptakan sekaligus diaransemen oleh Herman Gelly yang sekaligus memainkan kibor untuk lagu ini. Selain Gelly, lagu ini diramaikan pula oleh The Bamboo’s Girl sebagai vokal latar dan Harry Soebardja pada drum, gitar elektrik, dan gitar bas.

Lagu Pesona Lestari menceritakan tentang rasa kagum seseorang akan keindahan alam yang ia jumpai di setiap harinya setiap membuka mata. Ia berharap keindahan alam ini yang akan membimbing serta menemani hidupnya hingga meraih cita-citanya. Lagu ini memasukkan unsur pentatonik dalam aransemen musiknya. Selain itu, tata bahasa dalam penulisan liriknya banyak mengambil istilah-istilah sansekerta dan bahasa Indonesia yang jarang dipakai pada waktu itu.

3 Lagu Pilihan Duangdasa Studio:

  • Oslan Husein – Potong Padi

Potong Padi yang dibawakan oleh Orkes Teruna Ria bersama Oslan Husein. “Waktu potong padidi tengah sawah / sambil bernyanyi riuh rendah / memotong padi sambil bersuka / tolonglah kami bersama-sama / waktu potong padi beramai-ramai / tua dan muda ikut menuai”.

Kita tergiur membayangkan suasana damai pedesaan Indonesia, bahwa penggambaran ini memiliki jiwa yang sama dengan guratan-guratan cat lukisan gaya mooi-indie alias Hindia yang tak lain adalah bentuk orientalisme. Lagu ini terdapat di album Orkes Teruna Ria (pimpinan Oslan Husein) berjudul Gading Lambah.

Orkes Teruna Ria berdiri sekitar tahun1956. Awalnya orkes ini bernama Irama Cubana Teruna Ria, namun kemudian diubah menjadi Teruna Ria saja, karena namanya lebih cocok dan sesuai dengan kepribadian Negara Indonesia. Orkes Teruna Ria terdiri dari Zainal Arifin, Rozaman, Rachmat, Indroto, Hans Runtukahu, Icksan, dan Sofjan. Oslan Husein dan Mus DS.

  • Benyamin Sueb – Keroncon Kompeni (1970an)
sumber: iramanusantara.org

Mendiang Benyamin Sueb tak pernah lepas dari pembicaraan seputar refleksi kritis melalui musik. Syair yang dibawakan oleh seniman dan musisi legendaris asal Betawi ini selalu mengadaptasikan peristiwa yang beliau alami dari masa ke masa, termasuk isu politik pada masa kolonialisme. Lagu Kroncong Kompeni ingin mengangkat isu dimana para penjajah Belanda mengeruk kekayaan alam Indonesia yang dibalut dengan kiasan dan pantun betawi khas Benyamin. Tanpa kita sadari, syair beliau masih dapat menjadi pengingat dan bentuk “sarkasme” yang berlaku hingga saat ini.

  • Tika Bisono – Pagi (1987)
sumber: indolawas

“Burung-burungpun memberikan salam
Dalam kesejukkan dan indahnya pagi
Seandainya susana pagi ini
Kan sepanjang hari, betapa bahagia”

Lirik indah karangan mendiang Chrisye dan Adjie Soetama yang dibawakan oleh penyanyi pop falsetto Tika Bisono dalam lantunan “Pagi” berhasil membawa kita merasakan sejuknya suasana pagi yang sederhana di tahun 1987. Di tengah riuhnya krisis pandemi yang memaksa kita berlindung, lagu ini masih dapat membuka mata seluruh insan manusia akan anugerah keindahan alam Sang Pencipta meski hanya dapat dipandang melalui jendela rumah masing – masing. Sebuah keindahan dalam kesederhanaan.

Lagu ini terdapat di album ‘Pagi’ yang dirilis tahun 1987 oleh label Prosound & Aquarius Musikindo. Di album ini Tika Bisono didukung oleh beberapa musisi dan komposer ternama diantaranya James F. Sundah, Erwin Gutawa, Chrisye, Adjie Soetama, Deddy Dhuku, Dian PP & Dodo Zakaria.

selamat mendengarkan

TOP 5 : Bisma Karisma

Alunan Nusantara Top 5 kembali hadir! Pada kesempatan kali ini, kami memilih salah satu personel dari salah satu boyband top di Indonesia, yaitu Bisma Karisma dari grup SM*SH!

Bisma Karisma merupakan personel dari boyband SM*SH yang pada tahun 2010-an sangat merajai industri musik Indonesia. Lagu-lagunya seperti I Heart You, Senyum Semangat, atau Inikah Cinta (Cover dari M.E) menjadi favorit pendengar pada masa-masa tersebut. Pada tahun 2020 lalu, Bisma merilis album baru dari proyek solonya yang bertajuk Yang Suri.

Kali ini, Alunan Nusantara akan menghadirkan apa saja 5 lagu Indonesia favorit dari Aa Bisma. Penasaran? Cusss langsung kita bahas!

  • Guruh Sukarno Putra – Aku Bermimpi

Pada tanggal 12, 13, 14, dan 16 September 1980, Guruh Sukarno Putra menghelat sebuah pergelaran yang diberi judul Untukmu Indonesiaku. Pergelaran ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya Guruh pernah menggelar pergelaran pada tahun 1979.

Pergelaran ini menghadirkan berbagai macam drama, tari, dan tentunya musik. Musik dalam pergelaran ini pun bermacam-macam, mulai dari lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi papan atas, hingga nyanyian-nyanyian pengiring babak-babak dalam drama. Salah satunya adalah lagu yang berjudul Aku Bermimpi.

Aku Bermimpi merupakan sebuah lagu yang menceritakan tentang keindahan serta kejayaan Indonesia. Namun sayang, semua itu hanya ada di dalam mimpi si penyanyi. Maka, si penyanyi lantas bertekad untuk menciptakan Indonesia sesuai dengan apa yang ia rasakan di dalam mimpinya.

Untuk urusan musikal, lagu ini diciptakan oleh Guruh Sukarno Putra, dinyanyikan oleh Fahmi Latukonsina, diaransemen oleh Franky Raden, serta dibantu dengan pemain musik dari Orkestra Filharmonika Tokyo dan paduan suara dari Serdam Rohani pimpinan Ronald Pohan.

  • Slank – Jinna (dalam Pelarian)

Pada tahun ’90-an, ada sebuah gang yang kelak melahirkan serta mempopulerkan musik rok pada periode tersebut. Gang tersebut dikenal dengan nama Potlot, yang kelak melahirkan orang-orang penting seperti Kaka, Bimbim, serta kawan-kawannya di Slank, Flowers Band, Oppie Andaresta, Anang Hermansyah, dan masih banyak lagi.

Salah satu karya terbaik yang lahir dari gang tersebut adalah album “Minoritas”dari Slank yang memuat lagu Jinna (dalam Pelarian) di dalamnya. Pada album tersebut, Slank masih diperkuat dengan musisi-musisi pada periode awal Slank berdiri, seperti Bongky, Pay, dan Indra, sebelum akhirnya mereka dipecat dari Slank untuk membentuk grup sendiri.

Lagu ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Jinna yang menjadi korban ketidakharmonisan keluarganya. Dalam lagu tersebut, diceritakan bahwa Jinna pada akhirnya akrab dengan kehidupan serta carut marutnya pergaulan bebas di jalanan.

  • Tetty Kadi – Keheningan

Tetty Kadi merupakan penyanyi wanita yang namanya cukup harum pada era ’70-an. Selain dikenal sebagai penyanyi, ia juga dikenal masih memiliki hubungan saudara dengan pencipta lagu ternama, Aloysius Riyanto, alias A. Riyanto.

Memasuki akhir ’70-an, Tetty Kadi bergabung ke Musica Studio’s. Salah satu albumnya yang ia rilis bersama label tersebut adalah album “Vol. 2”yang memuat lagu ciptaan A. Riyanto berjudul Keheningan.

Lagu ini sangat kental dengan nuansa A. Riyanto. Syair lagunya yang romantis serta aransemen musik yang manis menjadi ciri khas dari karya-karya ciptaannya. Termasuk lagu ini.

  • Keenan Nasution – Cakrawala Senja

Keenan Nasution merupakan musisi dari skena Pegangsaan yang tenar berkat lagu Nuansa Bening dari album Di Batas Angan-Angan yang dirilis pada tahun 1978 oleh Duba Records. Selain lagu tersebut, ada satu lagu yang cukup menarik telinga pendengar, yaitu sebuah lagu yang berjudul Cakrawala Senja.

Lagu Cakrawala Senja diciptakan oleh Fariz RM dan Iman RN dan diaransemen secara apik dan manis oleh Addie MS yang sekaligus memainkan alat musik piano, synthyesizer Roland-2000 serta synthorchestra, yaitu sebuah synthesizer dengan modifikasi suara orkestra. Selain itu, Keenan Nasution juga ikut mengisi sebagai pemain synthesizer Roland-2000, vibraphone, dan strings MLD.

  • Harry Roesli – Opera Ken Arok Babak II Bagian, Pt. 5

Pada tahun 1977, Harry Roesli, seniman asal kota Bandung membuat sebuah gebrakan dengan membuat acara sebuah opera yang diberi judul Rock Opera Ken Arok. Diberi judul demikian karena opera yang berdurasi kurang lebih 45 menit ini menggabungkan teater dengan musik rock.

Di dalam versi kaset dan CD (reissue oleh Lamunai Records), opera ini dibagi menjadi 2 bagian, yang diberi judul Babak I dan Babak II. Namun dalam versi digital, album ini dibagi menjadi 8 bagian, yang terdiri dari 3 bagian dari babak pertama dan 5 bagian dari babak kedua.

Pada bagian terakhir babak kedua, opera memasuki sesi instrumental. Bagian ini dibuka oleh petikan gitar bas yang disusul dengan suara dari bermacam-macam alat perkusi. Bila kalian mendengar album ini lewat kaset atau CD, bagian ini dimulai pada menit 13.19.

Noor Bersaudara

Tidak banyak yang tahu tentang karir musik seorang Yanti Noor. Khalayak umum lebih mengenal beliau sebagai istri dari Alm. Chrisye, yang lebih dahulu meninggalkan kita pada tahun 2007. Di balik perannya sebagai seorang ibu dan istri bagi keluarganya, Yanti Noor nyatanya memiliki karir musik yang cukup cemerlang

Yanti memulai karir musiknya pada awal tahun 1960-an dengan membentuk band anak-anak bersama saudara-saudaranya. Dari sinilah nama Noor Bersaudara didapat, yaitu dari personilnya yang semuanya masih bersaudara. Noor Bersaudara kerap tampil di acara-acara musik yang diadakan oleh TVRI. Di luar penampilan di TVRI, Noor Bersaudara juga aktif mentas di berbagai ajang lomba. Selain itu, toko swalayan dan tempat hiburan selalu menjadi incaran Noor Bersaudara untuk unjuk gigi. Berkat penampilannya yang menarik perhatian, namanya mulai dikenal oleh publik.

Ketenarannya membuat Noor Bersaudara akhirnya dilirik oleh salah satu label kenamaan di ibu kota, yaitu Pramaqua. Tahun 1975 menjadi tahun perdana bagi Noor Bersaudara untuk merilis album. Mereka berada satu album dengan Prambors Group yang berada di sisi B album ini. Berkat ketenaran yang telah dicapai sebelumnya, penjualan album ini pun cukup laris di pasaran.  Album perdananya ini membuat Noor Bersaudara mendapat julukan sebagai “grup pertama di Indonesia dengan aransemen vokal progresif”. Julukan tersebut didapat dari ciri khas mereka saat melantunkan repertoar-repertoarnya.

Keunikannya ini rupanya menarik perhatian pelaku musik saat itu. Alhasil, Noor Bersaudara kembali merilis album pada tahun 1977 di bawah arahan penata musik jazz handal, Jack Lesmana. Jack dengan combo-nya, yaitu Karim Suweileh, Benny Likumahuwa, Perry Pattiselanno, dan sang anak, Indra Lesmana yang sangat kental dengan unsur jazz-nya berhasil memadukan musik jazz dengan aransemen vokal khas Noor Bersaudara yang harmonis dan rapih. Hasilnya menjadi sesuatu yang unik dan luar biasa. Kelak pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan album ini di urutan ke-88 dalam 150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa.

Pada tahun yang sama, Noor Bersaudara juga terlibat di Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 yang kelak album ini berperan dalam mengubah arus musik pop di Indonesia. Di album tersebut, Noor Bersaudara terlibat di 4 karya peserta LCLR, yaitu Tuhan (bersama Ferdy Fardian) karya Masri, serta 3 lagu karya Vocal Group SMA III, yaitu Angin (bersama Dhenok Wahyudi dan Chrisye), Di Malam Sang Sukma Datang (bersama Chrisye), dan Akhir Dari Sebuah Opera. Seluruh lagu tersebut di aransemen oleh Yockie Suryo Prayogo, Keenan Nasution, dan Donny Fattah.

Di samping karirnya bersama Noor Bersaudara, suara Yanti juga bisa kita dengar di album musisi lain. Keterlibatan suara Yanti bisa kita dengar pada album Selangkah Ke Seberang (1979) dari Fariz RM pada lagu “Mega Bhuana” (pemain gitar bas pada lagu ini adalah Chrisye, saat itu belum menikah), “Bisik Perindu”, dan “Fajar Yang Terpaksa”; album Lentera (1979) dari Harry Sabar pada lagu “Resah”; dan menjadi vokal pendukung pada album “Sapa Semesta” (1982) dari Raidy Noor yang juga merupakan saudara kandungnya.

Karir musik Yanti berhenti saat ia menikah dan memutuskan untuk lebih ingin mengurus rumah tangganya bersama sang suami, Chrisye, pada tahun 1982. Walaupun sebelumnya mereka pernah berada dalam sebuah lagu bersama-sama, namun Yanti memutuskan untuk tidak melanjutkan karir bermusiknya dan lebih ingin fokus kepada rumah tangganya.

Kehadiran Yanti sebagai istri cukup mempengaruhi Chrisye dalam gaya bermusiknya. Pasca menikah dengan Yanti, Chrisye cenderung merilis album dengan gaya musik yang lebih “nge-pop” dibanding album-album sebelumnya yang cenderung beraliran progresif. Beberapa lagu seperti “Malam Pertama”, “Hening”, dan “Anak Manusia” dari album Resesi yang dirilis di tahun 1983 adalah beberapa contohnya. Memasuki pertengahan 80-an, Chrisye muncul ke publik dengan gaya barunya yang lebih riang dan cerah dengan dirilisnya beberapa lagu bertempo riang seperti “Aku Cinta Dia”, “Hip-Hip Hura”, dan “Anak Sekolah”. Lagu-lagu tersebut dijajal oleh Chrisye karena sangat menjual di pasaran. Alasannya karena Chrisye saat itu butuh lagu yang menjual agar dapat memenuhi nafkah bagi keluarganya. Karena lagu-lagunya banyak sekali yang menjadi hits, nama Chrisye semakin melambung tinggi menjadi penyanyi papan atas tanah air.

Momen paling menarik Yanti dalam karir bermusik Chrisye adalah di tahun 1997 ketika Chrisye melakukan proses rekaman untuk album Kala Cinta Menggoda. Di dalam album tersebut ada sebuah lagu berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” karya Taufik Ismail. Ketika proses rekaman lagu tersebut, Chrisye beberapa kali tidak bisa menyanyikan syair yang ternyata syair tersebut merupakan interpretasi dari QS: Yaasin ayat 65. Chrisye kerapkali menangis ketika hendak take vocal lagu tersebut. Sampai satu waktu, Chrisye mengajak Yanti untuk pertama kali seumur hidupnya untuk menemaninya di studio ketika rekaman lagu ini sedang berlangsung. Yanti yang menyetujui permintaan sang suami akhirnya hadir diluar ruangan rekaman sembari menunggui sang suami yang sedang take vocal. Tak butuh waktu lama, Chrisye berhasil menyanyikan lagu ini dalam satu kali take vocal dengan mudah kala sang istri menemaninya di studio rekaman. Di dalam album ini juga Yanti menyumbang satu buah syair untuk lagu berjudul “Negeriku” yang ia tulis bersama Rina RD.

Saat ini, Yanti sudah tiada di dunia ini. Beliau sudah pergi ke dunia yang lain, bersama sang kekasih yang sudah mendahuluinya, Chrisye. Mari sejenak lantunkan doa bagi mereka agar senantiasa berada di tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Top 5: RIAN EKKY PRADIPTA

Alunan Nusantara kembali menghadirkan 5 lagu pilihan dari musisi yang kami pilih. Kali ini, pilihan kami jatuh kepada vokalis dari salah satu grup musik kenamaan di Indonesia, yaitu Rian Ekky Pradipta dari grup musik d’Masiv.

Rian dikenal lewat koleksi piringan hitamnya yang sangat banyak, di antaranya album-album dari musisi Indonesia. Nah, dari sekian banyak lagu-lagu Indonesia yang sudah Rian koleksi dan dengarkan, kira-kira apa, ya, 5 lagu favoritnya? Langsung aja meluncur ke bawah!

  • Utha Likumahuwa – Esok ‘kan Masih Ada
Album Utha Likumahuwa – Bersatu Dalam Damai

Esok ‘kan Masih Ada merupakan lagu dari Utha Likumahuwa yang dirilis di awal-awal dirinya berkarir sebagai penyanyi solo. Lagu ini dimuat di dalam album Bersatu Dalam Damai yang dirilis pada tahun 1983 di bawah label Jackson Records. Lagu ini diciptakan oleh Dodo Zakaria dengan iringan musik dari beberapa musisi top saat itu, yaitu Yopie Item (penata musik, gitar, gitar bas), Rully Johan (kibor), Hengky M. (drum), Benny Likumahuwa (terompet) dan Addie MS cs. di bagian string. Lagu beraliran jazz ini sangat cocok dibawakan dengan karakter vokal dari Utha yang sangat khas. Bila ada daftar lagu jazz terbaik di Indonesia, lagu ini sangat pantas untuk masuk di dalam daftar tersebut.

  • Keenan Nasution – Jamrud Khatulistiwa
Sampul Album Keenan Nasution – Dibatas Angan-Angan

“Aku bahagia…” merupakan kalimat khas pembuka dari lagu yang bernuansa riang ini. Jamrud Khatulistiwa merupakan karya cipta dari Guruh Sukarno Putra untuk Keenan Nasution yang dimuat di album perdananya Keenan yang berjudul Di Batas Angan-Angan. Album ini dirilis pada Januari tahun 1978 di bawah label Duba Records. Untuk sesi musik, lagu ini melibatkan Keenan sebagai vokalis, pemain kibor, dan drum. Dibantu oleh Roni Harahap dan Mauly pada kibor, Junaedi Salat pada gitar bas, dan Narry pada perkusi.

  • Chrisye – Sabda Alam
Sampul Album Chrisye – Sabda Alam

Lagu ini berasal dari album solo pertama Chrisye yang berjudul sama. Album ini dirilis pada Januari 1978 di bawah label Musica Studio’s, beberapa minggu setelah album Di Batas Angan-Angan dari Keenan Nasution dirilis. Lagu yang diciptakan oleh Chrisye ini syairnya ditulis Junaedi Salat serta melibatkan Chrisye pada gitar akustik dan gitar bas, Yockie Suryo Prayogo dan Roni Harahap pada kibor, dan Keenan Nasution pada drum. Bagi anda yang tidak sadar, lagu ini sebenarnya memiliki nuansa yang gelap dan gloomy. Hal tersebut bisa didengar dari permainan synthesizer yang dimainkan oleh Roni Harahap di intro dan bridge lagu yang bernuansa sangat dark. Keenan Nasution dalam sebuah wawancara pernah mengakui bahwa pada saat pertama kali mendengar lagu ini, ia tiba-tiba merinding begitu saja.

  • Dewa 19 – Aku Di Sini Untukmu

Aku Di Sini Untukmu merupakan lagu dari album Pandawa Lima yang dirilis pada tahun 1997 di bawah label Aquarius Musikindo. Lagu inimerupakan single hits dari album Pandawa Lima di samping lagu Kirana, dan Kamulah Satu-Satunya. Lagu ini diciptakan oleh Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, dan Aksan Sjuman. Formasi Dewa 19 di album ini bisa dibilang merupakan formasi terbaik dari mereka. Ada Ahmad Dhani (kibor), Ari Lasso (vokal), Andra Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (gitar bas), dan Aksan Sjuman (drum). Buktinya, dengar saja secara teliti lagu Aku Di Sini Untukmu. Ketukan drum yang pas dari Aksan, betotan gitar bas Erwin yang memanjakan telinga, alunan gitar dari Andra, serta sayatan kibor dari Ahmad Dhani, ditambah tiupan terompet dari Petter Holl menambah padu lagu yang dinyanyikan oleh Ari Lasso ini.

  • Vina Panduwinata – Citra Biru

Vina Panduwinata merilis album pertamanya di tangan label rekaman (Jackson Records) dan penata musik yang tepat! Pada tahun 1980, ketika musik mendayu-dayu kembali marak, Vina yang saat itu tergolong penyanyi pendatang baru mengejutkan publik lewat karyanya yang berjudul Citra Biru. Lewat lagu ini, Vina memberi citra lain bagi penyanyi wanita. Vina berhasil membawakan musik elite nan berkelas, tidak seperti penyanyi wanita pada umumnya saat itu yang cenderung membawakan lagu-lagu “ringan” alias easy listening. Dari lagu dan album ini lah, Vina menjadi pembeda dari penyanyi-penyanyi wanita yang lain. Citra Biru diciptakan oleh James F. Sundah, diiringi oleh musik yang ditata oleh Billy J. Budiarjo, Dodo Zakaria, Rudy Gagola, Chris Manusama, James F. Sundah,  Darwin, dan Jose.

Berikut preview 5 lagu Indonesia pilihan Rian Ekky Pradipta, selamat mendengarkan!

YOCKIE SURYO PRAYOGO DAN ALBUM SOLONYA

Yockie Suryo Prayogo

Yockie Suryo Prayogo adalah musisi yang dikenal berkat perannya yang berhasil membuat cetak biru bagi musik “Pop Indonesia” bersama kawan-kawannya di bilangan Pegangsaan. Beberapa album yang dianggap menjadi pelopor musik “Pop Indonesia” antara lain Lomba Cipta Lagu Remaja 1977, Lomba Cipta Lagu Remaja 1978, Sabda Alam (Chrisye), dan Badai Pasti Berlalu (Erros Djarot) yang semua album tersebut mengikutsertakan sosok Yockie sebagai pemain kibor dan penata musik.

Selain dianggap sebagai pelopor bagi musik “Pop Indonesia”, Yockie juga dianggap sebagai pencetus “Rock Indonesia”. Anggapan tersebut lahir setelah Yockie bersama God Bless merilis album ketiganya yang berjudul Semut Hitam. Album Semut Hitam yang dirilis pada tahun 1988 berhasil membius seluruh lapisan masyarakat lewat lagu-lagunya yang dekat dan relate dengan keadaan masyarakat di Indonesia. Sebut saja lagu-lagu seperti Kehidupan, Semut Hitam, atau Badut-Badut Jakarta yang topiknya sangat mudah diterima oleh pendengar musik di Indonesia. Hal tersebutlah yang membuat album ini layak dinobatkan sebagai album pelopor musik “Rock Indonesia”.

Di samping kerjasamanya bersama Chrisye atau God Bless, Yockie juga rajin menelurkan album-album solo. Musiknya lebih anti-mainstream dibanding karya-karyanya bersama Chrisye atau God Bless. Lagu-lagunya tak begitu dikenal di khalayak luas. Namun musikalitasnya tidak perlu diragukan lagi karena album solo ini merupakan bentuk idealismenya yang tidak tertuang di album-album kolaborasinya bersama musisi yang ia tangani.

Berikut merupakan ulasan tentang album solo yang pernah dirilis oleh Yockie selama berkarir di dunia musik Indonesia.

  1. MUSIK SANTAI vol. I (PRAMAQUA, 1976)

Pasca era God Bless, Yockie mulai menjajal ranah musik pop lewat album Musik Santai yang terdiri dari tiga edisi. Album ini berisi lagu-lagu versi instrumental dari lagu-lagu yang sedang naik daun saat itu.

Album Musik Santai edisi pertama berisi nomor-nomor instrumental yang sedang naik daun pada awal tahun 70-an. Album ini mempersembahkan versi instrumental dari lagu-lagu lokal seperti Widuri (ciptaan Adriyadie), Doa (Yohannes Purba), Lembah Biru (A. Riyanto), Mungkinkah (M. Sani), Terbuka (Yahya), Jodohku, dan Selamat Berpisah. Sedangkan lagu-lagu luar negeri yang diinstrumentalkan di album ini adalah Don’t Tell Me Stories, Crying In The Chapel, When I Need You, Wind Flowers, dan Yes You Do.

  • MUSIK SANTAI vol. II (PRAMAQUA, 1977)

Memasuki tahun 1977, Yockie yang saat itu telah merekam album Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 kembali ke studio untuk merekam album Musik Santai II. Kali ini, ia mengajak Chrisye sebagai vokal latar di beberapa lagu instrumentalnya.

Musik Santai edisi kali ini menempatkan lagu-lagu lokal pada porsi yang lebih banyak. Dari 12 lagu, 8 di antaranya adalah lagu-lagu Indonesia. Lagu-lagu tersebut antara lain Melati (Minggus Tahitoe), Tante Sun (Bimbo), Dalam Kelembutan Pagi (Baskoro LCLR), Sendiri (Titiek Puspa), Tertipu Lagi (Ian Antono), John (Adriyadie), Cinta Putih (Titiek Puspa), dan Kupu-Kupu Malam (Titiek Puspa). Sedangkan lagu-lagu luar negeri yang ia rekam kali ini yaitu Leonny, There’s Nothing Less For Me To Say, When You’re Beautiful, dan Women Song.

  • MUSIK SANTAI vol. III (PRAMAQUA, 1978)

Musik Santai III adalah album Musik Santai edisi terakhir dan bisa dibilang yang terbaik di antara album Musik Santai sebelumnya. Album yang dirilis pada tahun 1978 ini berisi lagu-lagu instrumental dari era Badai Pasti Berlalu dan Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 yang saat itu sedang naik daun.

Seperti album Musik Santai edisi sebelumnya, porsi lagu lokal lebih banyak daripada lagu luar negeri. Lagu-lagu lokal yang dibawakan oleh Yockie pada album ini antara lain Kidung (Chris Manusama), Hanya Untukmu (A. Riyanto), Serasa (Erros Djarot, Chrisye), Yang Esa dan Kuasa (Baskoro LCLR), Angin Malam (Erros Djarot, Debby Nasution), Semusim (Erros Djarot, Debby Nasution), Merepih Alam (Erros Djarot, Chrisye), dan Merpati Putih (Erros Djarot).

Sedangkan lagu luar negeri yang Yockie bawakan di album ini hanya 2 lagu saja, yaitu You Are My Everything dan When I’ll Find You. Lalu ada pula satu nomor instrumental yang diberi judul Interlude.

  • MUSIK SAYA ADALAH SAYA (MUSICA STUDIO’S, 1979)

Inilah magnum opus dari  seorang Yockie Suryo Prayogo. Album ini memiliki konsep musik rok yang dipadukan dengan opera dan orkestra yang dipimpin oleh Idris Sardi. Pertunjukan yang diberi judul Musik Saya Adalah Saya ini digelar pada tahun 1979. Hasil dari pertunjukan tersebut selanjutnya direkam untuk dirilis ke dalam format kaset pita dan piringan hitam promo radio.

Album ini didukung oleh banyak sekali musisi kenamaan, di antaranya Chrisye, Fariz RM, Addie MS, Harvey Malaiholo, Rafika Duri, Achmad Albar, bahkan sampai Kasino Warkop DKI pun turut berperan di dalam pertunjukan ini.

Sisi A album ini berisi babak-babak dalam opera Musik Saya Adalah Saya. Diawali dari lagu Balada Lagu Tercinta yang dinyanyikan oleh Bram Manusama, Harvey Malaihollo, Rafika Duri dan Andi Meriem Mattalatta.

Selanjutnya adalah bagian inti dari album ini, yaitu sebuah lagu berjudul Musikku Adalah Aku yang berdurasi 15 menit. Lagu ini menyajikan musik rok-opera diiringi orkestra di bawah pimpinan Idris Sardi. Tak lupa juga pembacaan narasi oleh Sys Ns yang dibawakan sangat baik sekali di setiap perpindahan babaknya. Sesuai dengan judul lagunya, lagu ini menunjukkan bagaimana keresahan seorang Yockie terhadap lingkungan industri musik di Indonesia. Ada yang murah, murahan, dan diperas oleh korporat musik. Pada intinya, Yockie tetap teguh pada musik-musik yang ia ciptakan dan tidak mau tunduk pada keinginan korporat musik.

Sisi A ditutup dengan lagu berjudul Cinderella yang dibawakan sangat apik oleh Kasino Warkop DKI. Secara lirik, lagu ini sangat jelas sekali berisi satir terhadap fenomena sosial yang sedang marak pada saat itu.

Sisi B album ini berisi lagu-lagu yang dibawakan pada pertunjukan ini. Dibuka oleh tembang Angin Malam yang diaransemen ulang menjadi 7 menit!

Dilanjut dengan lagu-lagu Mesin Kota yang dibawakan oleh Achmad Albar, Cakrawala Senja yang dibawakan oleh Keenan Nasution disertai iringan piano dari Addie MS, dilanjut dengan Duka Sang Bahaduri, serta ditutup dengan lagu berjudul Akhir Sebuah Opera.

Seluruh lagu pada sisi B ini dibawakan oleh Badai Band yang terdiri dari Chrisye (gitar bas, vokal), Yockie, Roni Harahap, dan Addie MS (kibor), Odink Nasution (gitar), Keenan Nasution (drum, vokal), dan Fariz RM (drum). Serta iringan orkestra yang dipimpin oleh Idris Sardi.

Bagi ekosistem musik Indonesia, album ini merupakan hal yang baru. Mungkin konsep seperti ini terinspirasi dari Journey To The Centre Of The Earth-nya Rick Wakeman yang dirilis pada tahun 1974. Bagi penulis, Yockie berhasil mengadopsi konsep tersebut sehingga menjadi sesuatu yang dapat diterima di ekosistem musik Indonesia.

  • SABDA ALAM INSTRUMENTALIA (MUSICA STUDIO’S, 1980)

Setelah sukses beratnya album Sabda Alam yang melejitkan nama Chrisye dan Gank Pegangsaan pada tahun 1978, album ini dirilis ulang dalam format album instrumental. Yockie yang didapuk sebagai penata musik untuk album tersebut merilis album instrumental ini di bawah namanya.

Album Sabda Alam versi instrumental tidak memiliki perbedaan yang begitu signifikan dalam segi aransemen musiknya. Bedanya hanya terletak pada vokal Chrisye yang digantikan dengan bebunyian synthesizer yang dimainkan oleh Yockie.

  • TERBANGLAH LEPAS (MUSICA STUDIO’S, 1981)

Terbaik! Satu kata yang dapat menggambarkan album ini! Album ke-2 Yockie yang berjudul Terbanglah Lepas mungkin merupakan tumpahan ide dari sang maestro yang tidak tersalurkan sebelumnya.

Suara synthesizer yang sangat penuh, komposisi aransemen musiknya yang rapih, serta lirik lagu yang ditulis oleh Harry Sabar seolah menjadi trisula utama album ini.

Lagu-lagu seperti Sekitar Kota, Terbanglah Lepas, Kharisma, Oh… Apa Dikata, Tiada Kini Ada Esok, dan Petaka Nostradamus adalah nomor-nomor jagoan yang layak kalian dengar! Untuk ukuran tahun 1981, lagu-lagu yang telah disebutkan di atas mungkin kurang mendapatkan tempat karena aliran musiknya yang anti-mainstream. Antara fusion jazz, musik rok progresif, serta musik pop manis dileburkan menjadi satu seolah menghadirkan warna musik yang baru di Indonesia.

Selain lagu-lagu di atas, Yockie juga menyuguhkan nomor-nomor manis yang syahdu seperti Impian Semusim, Raga, dan Gemuruh yang dinyanyikan duet bersama Indah Soekotjo.

  • BILA DAMAIPUN TIBA (MUSICA STUDIO’S, 1982)

Pada tahun 1981, Yockie pernah merilis karya-karya bernuansa jazzy funk, seperti Lomba Cipta Lagu Remaja 1981 dan album duet Louise & Eben Hutauruk yang berjudul Lain Di Bibir  Lain Di Hati.

Selanjutnya pada tahun 1982, Yockie seolah menerapkan aliran musik tersebut di karya solonya. Hasilnya bisa kalian dengarkan di album Bila Damaipun Tiba yang nuansanya jazzy dan funky!

Album ini mengedepankan bebunyian gitar bas untuk mendapatkan hasil funky yang ciamik! Itulah mengapa pemain gitar bas The Rollies, Oetje F. Tekol, yang didapuk untuk mengisi gitar bas di album ini karena ciri khasnya dalam permainan gitar bas dalam teknik slap.

Lagu-lagu seperti Di Batas Senja, Garis Kenangan, Ayumu, Asap dan Sesak, Satuan Rasa, Laju Bahteraku, dan Gairah Hamba adalah lagu-lagu jagoan penulis untuk album ini. Di lagu-lagu tersebut juga kalian dapat menemukan warna musik yang sangat berbeda dari album-album solo Yockie sebelumnya. Sedangkan lagu-lagu manis di album ini adalah Yang Tulus Darimu dan Bila Damaipun Ada yang ia nyanyikan bersama Indah Soekotjo.

Bagi kalian penikmat musik funk, album ini wajib masuk ke dalam daftar putar kalian!

  • PUNK EKSKLUSIF (MUSICA STUDIO’S, 1983)

“Yock, bikin punk-punk-an, yuk!”

Begitu kurang lebih ajakan yang dilontarkan oleh Harry Sabar kepada Yockie. Saat itu, demam The Police sedang ramai sekali. Yockie bersama kawan-kawannya di Pegangsaan tidak ingin melewati tren musik ini begitu saja.

Akhirnya, lahirlah sebuah album bertajuk Punk Eksklusif yang dirilis pada tahun 1983. Penulis akan mengatakan bahwa inilah album punk generasi awal terbaik yang pernah ada di Indonesia. Berbagai aliran musik punk generasi awal seperti ska, reggae ala The Police tersaji manis di album ini.

Album ini didukung oleh beberapa musisi yahud saat itu, seperti Erros Djarot, Harry Sabar, Fariz RM, Yaya Moektio, dan Ian Antono dari grup God Bless yang memainkan gitar bernuansa ska dan reggae sangat apik.

Dibuka dengan lagu berjudul Punk Eksklusif yang terasa sekali warna musik ska-nya. Jangan lupa juga untuk dengarkan lirik lagunya yang diciptakan oleh Erros Djarot dan Harry Sabar yang sangat menyentil kehidupan anak muda saat itu.

Selanjutnya, nomor-nomor upbeat bernuansa ska dan reggae terus disajikan lewat lagu-lagu Sri Kustinah, Nostalgia SMP, Helikopter, James Bond CW 5, X. O., Judi dan Profesi, Mabuk Kepayang, dan La… Mi… Re… Do… yang menyajikan Erros Djarot dan Harry Sabar sebagai vokalis tamu.

Untuk para penggemar musik ala The Police atau penikmat ska dan reggae, album Punk Eksklusif ini tidak boleh terlewat! Belakangan, sebuah obrolan tentang album ini bisa kalian temukan di kanal YouTube Ngobryls yang dipandu oleh Jimi Multhazam dan Ricky Malau.

  • RESESI INSTRUMENTALIA (MUSICA STUDIO’S, 1983)

Pada tahun 1983, Chrisye kembali berkolaborasi bersama Yockie dan Erros Djarot untuk merilis album berjudul Resesi yang bercorak new wave rock/punk.

Konon pada saat perilisannya, album ini dirilis 2 versi. Versi pertama adalah versi biasa yang kita dengar pada umumnya. Versi lainnya yaitu album dengan aransemen musik yang sama namun tanpa vokal dari Chrisye alias versi instrumental.

Pada album Resesi versi instrumental, Yockie mengambil peranan penting dalam mengolah synthesizer-nya untuk menjadi iringan sepanjang lagu menggantikan vokal Chrisye.

  • SELAMAT JALAN KEKASIH (MUSICA STUDIO’S, 1984)

Album ini boleh penulis katakan sebagai album paling melankolis dari Yockie Suryo Prayogo. Album ini berisi 6 lagu sendu yang manis. Sisanya adalah lagu-lagu yang cukup upbeat seperti Perawan, Rindu Di Hatiku, Elang, dan satu nomor instrumental.

Sedangkan 6 lagu lainnya adalah lagu-lagu sendu seperti Seruni, Belenggu, Dilema, Sepanjang Jalan Hidupku, Angin Malam, dan tentunya hits yang berjudul Selamat Jalan Kekasih.

Fakta unik dari album ini adalah tak lama setelah rilisnya album ini dan lagu Selamat Jalan Kekasih sempat menjadi hits di berbagai radio, Chrisye yang saat itu masih bekerjasama dengan Yockie meminta lagu tersebut untuk dinyanyikan olehnya di album terbarunya. Hasilnya, lagu Selamat Jalan Kekasih dibawakan oleh Chrisye untuk album Metropolitan (1984) dan malah menjadi everlasting hits dari seorang Chrisye. Tidak banyak orang yang mengetahui kalau sebenarnya lagu tersebut lebih dahulu dinyanyikan oleh Yockie.

  • PERJALANAN (MUSICA STUDIO’S, 1985)

Setelah bersendu ria di album Selamat Jalan Kekasih, Yockie kembali menghadirkan nuansa musik rok progresif pada albumnya yang bertajuk Perjalanan.

Sampul albumnya didesain bak sebuah poster yang dilipat-lipat. Didominasi dengan warna merah pada bagian luar dan warna hitam pada sampul bagian dalam. Lalu ada juga karikatur wajah Yockie yang menyambung dengan artwork yang membentuk sebuah jalan sesuai dengan judul albumnya.

Untuk lagu-lagunya, Yockie menyuguhkan lagu-lagu yang variatif. Lagu-lagu seperti Harapan Di Kursi Goyang, Perjalanan Panjang, dan Cita-Cita adalah nomor rock yang Yockie suguhkan di album ini. Tak lupa juga ada peran Ian Antono dan Donny Fattah dari grup rock kenamaan, God Bless, dalam produksi album ini.

Di sisi lain, nomor-nomor manis tetap Yockie sajikan untuk berkompromi dengan selera pasar, seperti Senja Di Bumi Persada, Semalam, Dewiku, dan sebuah tembang manis yang hanya berdurasi 1 menit, yaitu Lola.

Sedangkan lagu-lagu lainnya merupakan lagu-lagu yang menggunakan sentuhan drum elektrik, yaitu lagu Situasi dan Nenek Tercinta.

  • PENANTIAN (MUSICA STUDIO’S, 1986)

Album ini merupakan album terakhir dari Yockie Suryo Prayogo bersama Musica Studio’s, sekaligus menjadi album non-instrumental terakhir di era 80-an setelah sebelumnya produktif dalam merilis album non-instrumental sejak tahun 1979.

Album ini dibuka oleh lagu Percayalah Kasih yang sangat manis dibawakan oleh Yockie bersama Iwan Fals dan Vina Panduwinata yang turut menyumbangkan suaranya di lagu ini. Selain mereka, ada juga Rafika Duri pada lagu Penantian dan Hetty Koes Endang pada lagu Adakah Kau Tahu yang didapuk sebagai vokalis tamu.

Secara konsep, album ini berisi lagu-lagu dengan bobot yang cukup seimbang antara lagu selera pasar dengan lagu yang anti-mainstream. Beberapa lagu anti-mainstream atau lagu-lagu yang “berat” untuk selera pasar yaitu Masa Depan, Hidup di Kota Metropolitan, Hantu, dan Ampun Tuhan yang materinya memang tidak easy listening seperti lagu-lagu lainnya yang ada di album ini.

  • THE SOUND OF INDONESIAN MUSIC (GOLDEN LION, 1986)

Sebelum bergabung kembali bersama God Bless pada tahun 1988 (album Semut Hitam), Yockie yang saat itu menganggur sempat membuat proyek album instrumental dengan teknologi musik digital yang saat itu sedang naik daun di Indonesia.

Album yang diberi judul The Sound Of Indonesian Music ini berisi lagu-lagu instrumental dari lagu-lagu yang pernah menjadi hits di tahun-tahun sebelumnya. Selain diisi oleh Yockie, ada juga pemusik bernama Arie Clayderman dari Irama Mas yang juga turut menyumbangkan permainannya. Album ini terdiri dari 10 lagu, dengan pembagian 3 lagu untuk Arie Clayderman dan 7 lagu untuk Yockie.

Ada satu hal unik dari album ini, yaitu Yockie mengaransemen ulang lagu E, C & Y yang pernah dirilis untuk album Badai Pasti Berlalu. Di album ini, lagu tersebut diubah judulnya menjadi E-Y (“C” yang artinya Chrisye, dihilangkan. Mungkin pasca konflik yang mereka alami pada tahun 1984). Untuk aransemen musiknya, E-Y  terasa lebih groovy dibanding versi Badai Pasti Berlalu yang bernuansa disko.

Berikut adalah daftar lagu dari album ini.

  1. Merpati Putih
  2. Di Dadaku
  3. Mengapa Kau Dusta*
  4. Selamat Jalan Kekasih
  5. Antara Benci dan Rindu*
  6. Antonio’s Song*
  7. Seputih Melati
  8. Bawalah Daku Pergi
  9. E – Y
  10. Aku Tahu

*Arie Clayderman

  • PERJALANAN WAKTU (BRAVO MUSIK, 2015)

Album studio terakhir dari Yockie yaitu Perjalanan Waktu yang ia rilis lewat format digital dan cakram padat (CD). Album ini berisi potongan-potongan lagu yang ia ciptakan dari tahun 2000 sampai 2015. Lagu-lagu yang pada awalnya dibuat untuk melepas rasa bosan ini sempat terpendam dan tidak tahu mau diapakan. Akhirnya, potongan-potongan lagu tersebut dicocok-cocokkan dan menjadi sebuah album yang berisi 13 lagu.

Secara musikal, album ini tetap bercorak progresif. Album ini sama sekali tidak menghilangkan ciri khas Yockie dalam permainan atau soundsound kibor yang ia mainkan.

PENUTUP

Memang tidak mudah membagi waktu untuk menciptakan musik bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Namun, Yockie berhasil mengatasinya dengan tetap merilis album solo di tengah-tengah proyek kerjasamanya bersama musisi lain. Uniknya, album solo ini dirilis hampir di setiap tahunnya dari tahun 1976 sampai tahun 1986.

Fakta unik lainnya adalah setiap album solo yang dirilis oleh Yockie memiliki aliran musik yang berbeda-beda. Karir solonya dibuka dengan album-album instrumental (1976-1978), lalu album dengan konsep musik rok-opera dan orkestra (1979), dilanjut dengan album bernuansa musik rok progresif (1981), album bercorak fusion jazz (1982), album beraliran punk rock, ska, dan reggae (1983), pop sendu (1984), 80’s rock (1985), kembali ke pop sendu dan eksperimen musik digital (1986), dan diakhiri dengan album bercorak musik rok progresif (2015). Hal ini membuktikan betapa idealisnya seorang Yockie dalam proyek album solonya.

Akhir kata, penulis persembahkan penggalan syair lagu Musikku Adalah Aku yang dirilis pada tahun 1979 dalam album Musik Saya Adalah Saya sebagai penutup tulisan kali ini.

“Akan ‘ku miliki hari-hari indah ini

‘Kan ‘ku cipta dari ragaku

Jangan sentuh kulit pasar musikku

Biarlah bunyi halus memacu.”          

– Yockie, 1979.

Nasution Bersaudara dan Pesona Musik Indonesia

Nasution Bersaudara dan Pesona Musik Indonesia

Dari Pegangsaan, mereka hadir untuk Indonesia. Mungkin itulah kalimat yang cukup tepat menggambarkan Nasution Bersaudara.

Nasution bersaudara merupakan sebutan bagi anak-anak dari Saidi Hasjim Nasution, keluarga menengah ke atas yang tinggal di jalan Pegangsaan. Dari hasil pernikahannya, ia berhasil memiliki 6 anak, 5 di antaranya adalah yang kelak menjadi pemain musik ternama. Kelima anak tersebut adalah Rada Krishnan Nasution (Keenan), Zulham Nasution (Joe Am), Bachmid Gaury Nasution (Gauri), Aumar Naudin Nasution (Odink), dan Debi Murti Nasution (Debby).

Gank Pegangsaan. Sekelompok musisi yang tumbuh dan berkembang di Jalan Pegangsaan Timur 12 A Jakarta ini dibentuk Debby Nasution di akhir era 1980’an untuk menyatukan kembali pemusik Pegangsaan yang terpencar karena kesibukan masing-masing

Era 1966-1974

Sejak kecil, Nasution Bersaudara sudah dekat dengan musik. Bermula dari Joe Am, Keenan, dan Gauri yang membentuk Sabda Nada pada tahun 1966 bersama tetangga-tetangganya di Pegangsaan. Sabda Nada kemudian mengganti namanya menjadi Gipsy. Formasi awal Gipsy saat itu adalah Keenan (drum, vokal), Gauri (gitar), Onan (organ), Tammy (alat tiup, vokal), dan Chrisye (gitar bas, vokal). Mereka memainkan repertoar-repertoar barat seperti Chicago, Blond, sampai Jimi Hendrix bahkan King Crimson. Lewat lagu-lagu yang dibawakannya, Gipsy saat itu dikenal sebagai grup musik yang eksklusif karena berhasil membawakan lagu-lagu yang jarang dibawakan oleh grup musik pada umumnya dengan baik.

Rumah Nasution bersaudara saat itu tidak pernah sepi pendatang. Suatu hari, di rumah mereka pernah singgah seorang seniman asal Bali, I Wayan Suparta Widjaja. Dari pertemuan inilah, muncul hasrat Keenan untuk menggabungkan musik rock barat dengan gamelan Bali yang bercorak progresif. Konon katanya pada awal 70-an, Gipsy dengan formasi ini sudah pernah membawakan konsep musik rock yang dipadukan dengan gamelan Bali. Jauh sebelum Guruh Gipsy terbentuk. Selain bersama I Wayan Suparta Widjaja, Gipsy juga pernah berkolaborasi bersama Mus Mualim pada saat awal-awal Taman Ismail Marzuki dibuka.

Memasuki awal 70-an, Gipsy diundang oleh Ibnu Soetowo, pemilik restoran Ramayana di Amerika Serikat, untuk manggung secara reguler di sana. Undangan tersebut disambut sangat baik oleh Gipsy. Selain untuk meraih jam terbang, mereka belajar lebih banyak tentang kehidupan musik di sana, serta untuk menambah referensi bermusik.

Gipsy Band di Amerika Serikat saat berada di Amerika Serikat ketika dikontrak manggung di restoran Ramayana (awal 1970’an)

Saat kontraknya habis dan kembali lagi ke Indonesia, Gipsy kembali aktif manggung. Salah satu yang fenomenal adalah Gipsy lagi-lagi memadukan musik rock dengan gamelan Bali yang dipimpin oleh Syaukat Suryabrata dkk. pada saat mereka tampil di Taman Ismail Marzuki.

Di sisi lain, Keenan turut membantu adik-adiknya, yaitu Odink dan Debby Nasution yang membentuk Young Gipsy. Sesuai dengan namanya, Young Gipsy merupakan Gipsy dengan personel-personel yang lebih muda.

Pada tahun 1973, di tahun yang sama saat Young Gipsy sedang aktif-aktifnya, Oding dan Debby malah diajak bergabung oleh grup musik kenamaan, God Bless. Masuknya Oding dan Debby untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Deddy Stanzah dan Soman Lubis. Tak lama, Keenan menyusul adik-adiknya masuk ke God Bless untuk menggantikan Fuad Hassan yang mengalami insiden kecelakaan maut. Jadilah pada tahun 1974, formasi God Bless berisi 3 orang dari Nasution Bersaudara. Dengan formasi ini, God Bless praktis membawakan repertoar-repertoar beraliran progressive rock seperti yang diusung oleh Nasution Bersaudara dalam grup Gipsy.

Godbless

Menjelang perilisan album perdana God Bless, formasi ini bubar karena adanya perbedaan visi terkait aliran musik yang diusung. Nasution Bersaudara memutuskan keluar dari God Bless, sedangkan God Bless terus melaju dengan formasi barunya (Ian Antono, Teddy Sujaya, dan Yockie Suryo Prayogo).

Tahun 1975-1976: Guruh Gipsy dan Barong’s Band

Pada tahun 1975, Keenan kembali bertemu dengan kawan lamanya, Guruh Sukarno Putra, yang baru saja pulang dari Belanda. Bersama Guruh, Keenan ingin mewujudkan ide yang pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu menggabungkan musik rock barat dengan gamelan Bali. Usul tersebut disambut dengan baik oleh Guruh yang juga menekuni kesenian Bali. Jadilah sebuah proyek musik Gipsy yang berkolaborasi Guruh, yaitu Guruh & Gipsy atau lebih dikenal dengan nama Guruh Gipsy dengan formasi utama Keenan (drum, vokal), Odink (gitar), Guruh (gamelan, konsep keseluruhan), Chrisye (vokal, gitar bas), Abadi  Soesman (kibor), dan Roni Harahap (kibor, dan penata musik).

Proyek musik yang sangat fenomenal ini direkam di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa, sebuah studio rekaman paling canggih di Indonesia saat itu yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Guruh Gipsy di rumah Guruh Soekarno Putra, Jakarta 1976

Proses rekaman album ini terbagi menjadi dua fase. Fase pertama dimulai pada bulan Juli 1975 sampai Februari 1976. Pada fase pertama, Chrisye tidak ikut rekaman karena sedang tampil secara reguler bersama grup musik The Pro’s di Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan seluruh lagu yang dibuat di fase ini tidak mengandung suara gitar bas. Fase ini melahirkan lagu Geger Gelgel, Barong Gundah, Chopin Larung, dan satu lagu yang belum ada judulnya. Semua lagu ini direkam tanpa instrumen gitar bas.

Sedangkan fase kedua dimulai dari bulan Mei hingga Juni 1976. Pada fase ini, Chrisye mulai bergabung. Fase ini melahirkan lagu-lagu Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka, dan Smaradhana. Selain lagu-lagu tersebut, karena bergabungnya kembali Chrisye pada fase ini, artinya lagu-lagu yang direkam di fase pertama mulai diisi oleh gitar bas dan vokal yang diisi oleh Chrisye.

Pada akhir tahun 1976, album Guruh Gipsy dengan format kaset pita dirilis secara independen. Album ini dianggap sebagai cetak biru bagi aliran progressive rock Indonesia karena memadukan unsur rock barat dengan gamelan Bali yang telah Nasution Bersaudara eksperimenkan pada awal 70-an.

Sedangkan Debby Nasution yang saat itu sedang sibuk dengan Young Gipsy diajak bergabung ke dalam grup musik bernama Barong’s Band. Barong’s Band merupakan grup musik yang didirikan oleh Erros Djarot. Bersama grup tersebut, Debby melahirkan dua album, yaitu album self-titled dan album soundtrack untuk film Kawin Lari. Soundtrack tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai Penata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia.

Di samping dua proyek tersebut, Keenan dan Debby turut membantu Erros Djarot dalam pembuatan scoring untuk film Perkawinan Dalam Semusim. Karya-karya Keenan dan Debby dalam film ini nantinya akan dirilis di album Badai Pasti Berlalu.

Tahun 1977: Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) dan Badai Pasti Berlalu

Pasca Guruh Gipsy, masing-masing personel dari grup tersebut mulai memiliki hasrat yang berlebih dalam bermusik. Keenan pada saat itu mulai dilirik oleh Donny Fattah, pemain gitar bas God Bless yang memiliki proyek duet bersama kakaknya, Rudi Gagola. Di proyek tersebut, Keenan terlibat sebagai pemain drum dan menyumbang suara untuk satu lagu.

Di tahun berikutnya, Keenan mencoba peruntungan dengan mengikuti Festival Lagu Populer. Karyanya yang berjudul Di Batas Angan-Angan berhasil masuk 9 besar.

Selang beberapa waktu, terjadilah sebuah gebrakan dalam industri musik pop Indonesia, yaitu lahirnya Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) edisi pertama yang diadakan oleh salah satu radio anak muda saat itu. Proyek ini merupakan ajang untuk mencari bakat dari pemuda-pemuda yang doyan membuat lagu dengan syair yang berbeda dengan lagu Indonsia pada umumnya saat itu. LCLR 1977 melibatkan iringan musik yang dimainkan oleh perpaduan dari Nasution Bersaudara (Keenan & Odink) dan God Bless (Donny Fattah & Yockie Suryo Prayogo).

Pasca gebrakan lewat LCLR 1977, Nasution Bersaudara kembali terlibat di dalam album yang dianggap sebagai revolusi bagi musik pop Indonesia, yaitu album Badai Pasti Berlalu. Album ini digarap oleh Erros Djarot, Yockie, Chrisye, Fariz RM, Berlian Hutauruk, serta bantuan dari dua orang Nasution bersaudara, yaitu Keenan dan Debby. Keenan dan Debby menyumbangkan karya serta permainan drum dan kibornya untuk lagu Khayalku, Semusim, dan Angin Malam yang sebelumnya mereka ciptakan untuk scoring film Perkawinan Dalam Semusim. Album ini dianggap berhasil menjadi revolusi bagi musik pop Indonesia.

Pasca Badai Pasti Berlalu, Nasution Bersaudara bersama teman-teman nongkrongnya di Pegangsaan menamai dirinya sebagai Gank Pegangsaan. Grup tersebut terdiri dari anak-anak yang sering nongkrong di Pegangsaan, seperti Nasution Bersaudara, Erros Djarot, Chrisye, Yockie, Fariz RM, Addie MS, dan masih banyak lagi nama lainnya. Popularitas mereka saat itu semakin tinggi.

Tahun 1978-1980: Pasca Badai Pasti Berlalu

Popularitas Gank Pegangsaan pasca Badai Pasti Berlalu semakin menanjak. Mereka menjadi idola baru bagi penikmat musik di Indonesia. Pada era tersebut, Nasution bersaudara mulai aktif dalam industri musik Indonesia.

Pada tahun 1978, Keenan merilis album solo perdananya. Album perdananya ini diberi judul Di Batas Angan-Angan. Album ini memuat lagu-lagu progressive pop yang keren dan cenderung berbeda dari lagu-lagu pop Indonesia pada umumnya saat itu. Lagu yang paling populer dari album tersebut adalah Nuansa Bening dan Jamrud Khatulistiwa. Selain itu, ada juga lagu “gila” dari album ini, yaitu Negeriku Cintaku yang berdurasi 9 menit! Lagu ini merupakan ciptaan dari Debby Nasution. Gauri Nasution juga ikut mengisi gitar di lagu beraliran progressive rock tersebut.

Pada tahun 1979 sampai 1980, Keenan merilis 2 album yang berjudul Tak Semudah Kata-Kata dan Akhir Kelana. Dua album tersebut masih mengusung aliran musik progressive pop seperti album Di Batas Angan-Angan. Namun sayang. Album tersebut tidak bisa menandingi kepopuleran album perdananya.

Selain menggarap album solo, Keenan juga ikut membantu musisi lain dalam proses pembuatan album, seperti Chrisye untuk album Sabda Alam dan Percik Pesona, lalu album perdana Yockie yang berjudul Musik Saya Adalah Saya, album perdana Fariz RM yang berjudul Selangkah Ke Seberang, dan album masterpiece dari Harry Sabar yang berjudul Lentera yang juga melibatkan Gauri, Odink, dan Debby.

Potret Odink & Debby Nasution saat bergabung dengan Prambors Band akhir era 1970’an. Odink memaikan gitar sedangkan Debby memainkan keyboard.

Sedangkan Odink Nasution saat itu tengah sibuk bersama Prambors Band, sebuah grup yang dibentuk oleh M. Noer Aroembinang. Prambors Band pada era 1978 sampai 1980 berhasil melahirkan 5 album. Album perdana Prambors Band yang berjudul Jakarta Jakarta berhasil melahirkan satu lagu yang menjadi everlasting hits, yaitu lagu Kemarau yang saat ini masih dikenang oleh orang tua-orang tua yang pernah hidup di era tersebut.Selain album tersebut, Odink juga turut menggarap album perdana dari penyanyi wanita bernama Louise Hutauruk yang berjudul Pintu Hati. Album beraliran pop orkestra ini ia garap bersama kawan-kawan dari Gank Pegangsaan  lainnya seperti Addie MS, Harry Sabar, Herman Gelly, dkk.

Odink Nasution

Debby Nasution yang namanya mulai tercium mulai dipercaya untuk menggarap album. Pada tahun 1978, ia menggarap album dari Finalis Festival Pop Song ke-6. Album ini menyertakan nama-nama beken saat itu, seperti Baskoro, Dhenok Wahyudi, Untung Yus, dan Maya Rumantir. Selain festival tersebut, Debby juga dipercaya untuk menjadi penata musik untuk LCLR 1979 bersama Addie MS, Odink Nasution, dan pemain musik lainnya. Album ini melahirkan hits yang berjudul Jelaga, Kharisma Indonesia, dan Mahajana.

Debby Nasution & Chrisye

Sedangkan proyek yang paling fenomenal dari Nasution Bersaudara di era ini adalah LCLR 1978 yang melibatkan Keenan dan Odink sebagai pemain drum dan gitar. Album ini masih memiliki konsep yang sama seperti LCLR 1977, yaitu mencari pemuda yang berbakat dalam menciptakan lagu. LCLR 1978 dianggap sebagai sebuah terobosan baru dalam penciptaan lirik dan lagu. Album ini melahirkan banyak sekali hits, di antaranya adalah Apatis, Sesaat, Kidung, dan masih banyak lagi.

Pada era ini, mereka aktif tampil di berbagai daerah dengan nama Badai Band. Nama tersebut dicetuskan oleh Sys NS yang diambil dari orang-orang yang terlibat di album Badai Pasti Berlalu. Walaupun begitu, anggota Badai Band terdiri dari anak-anak Gank Pegangsaan itu sendiri. Pada era keemasannya, Badai Band merupakan sebuah grup musik yang sangat dahsyat. Formasi utama Badai Band adalah Chrisye (vokal, gitar bas), Yockie (vokal, kibor), Roni Harahap (kibor), Odink Nasution (gitar), Keenan Nasution (vokal, drum), dan Fariz RM (vokal, drum). Sedangkan anak-anak Gank Pegangsaan lain yang turut membantu formasi utama Badai Band adalah Harry Sabar (vokal, drum), Addie MS (kibor), Debby Nasution (kibor), bahkan Vina Panduwinata yang didapuk sebagai backing vocal. Konsep grup tersebut bida dibilang yang paling dahsyat di Indonesia. Di dalamnya ada double drum set yang dimainkan oleh Keenan dan Fariz, serta kibor yang berjumlah lebih dari 5 buah yang dimainkan oleh Yockie dan Roni Harahap. Yang paling dahsyat adalah pada tahun 1979 dan tahun 1981. Ketika itu, Badai Band tampil diiringi oleh full-set orkestra pimpinan Idris Sardi.

Badai Band. Kelompok musik yang dibentuk pasca perilisan album magnum opus Badai Pasti Berlalu. Foto ini diambil di bandara pada saat melakukan tur ke Palembang (1978)

Periode akhir 70-an ini bisa dibilang era paling cemerlang bagi Nasution Bersaudara. Karena pada era tersebut, Nasution Bersaudara bersama kawan-kawan lainnya di Pegangsaan dianggap sebagai pemberi warna baru bagi musik Indonesia. Keenan, Debby, Odink, dan Gauri memberikan hentakan-hentakan dari suara alat musik yang mereka mainkan menjadi sebuah pesona dan warna baru bagi dunia musik Indonesia.

Tahun 1981 sampai akhir 80-an

Memasuki 1980-an, Nasution Bersaudara masih tetap bermusik di jalur pop progresif.

Keenan merilis 7 album solo pada periode ini. Album tersebut 6 di antaranya melibatkan sang adik, yaitu Odink. Warna musiknya pun beragam. Dari mulai pop progresif hingga rock pernah Keenan cicipi.

Keenan Nasution

Pada tahun 1983 dan 1985, Keenan merilis album yang berjudul 42nd Street, Dara-Dara, dan Dulu Lain Sekarang Lain. Ketiga album tersebut memiliki corak musik yang cukup unik. Album tersebut mengusung aliran new wave dan rock. Hal ini memberikan kesan yang berbeda bagi Keenan yang biasanya memainkan lagu-lagu pop. Sebelumnya pada tahun 1982, Keenan juga pernah berkolaborasi dengan sang istri, yaitu Ida Royani untuk membuat 2 buah album yang berjudul My Love dan Romansa.

Selain sibuk membantu sang kakak, Odink juga ikut menggarap album-album lain. Beberapa album lain yang melibatkan Odink yaitu album Lain Di Bibir Lain Di Hati dari Louise Hutauruk dan Eben Hutauruk yang beraliran funk, serta album terakhir Prambors Band yang berjudul Kemarau II. Di tengah kesibukannya menggarap album, Odink juga aktif dalam grup musikyang bernama Cockpit. Grup musik ini membawakan lagu-lagu Genesis dan Phil Collins dan masih eksis hingga saat ini.

Sedangkan Debby Nasution pada periode ini mulai menekuni dunia dakwah. Dirinya menjadi pemuka agama yang cukup tersohor pada saat itu. Namun, hal tersebut tidak membuat Debby meninggalkan musik begitu saja. Di samping berdakwah, Debby tetap bermusik bersama Gank Pegangsaan sebagai pemain kibor.

Era 90-an: Era baru Gank Pegangsaan

Awal 90-an dibuka dengan rilisnya album perdana dari Gank Pegangsaan. Album ini dirilis atas prakarsa Debby Nasution yang ingin sebuah Gank Pegangsaan yang telah eksis sejak tahun 70-an untuk merilis sebuah album. Walaupun album ini tidak melibatkan seluruh Gank Pegangsaan, tetapi album ini cukup mewakili dan memberi identitas bagi Gank Pegangsaan yang masih ada.

Album perdana Gank Pegangsaan berjudul Palestina I dirilis pada tahun 1991. Album ini menelurkan everlasting hits yang berjudul Dirimu. Keenan Nasution menjadi pemain drum dan penyanyi untuk album ini. Sedangkan Debby Nasution berperan sebagai penata musik, pencipta beberapa lagu, dan pemain kibor.

Peran Keenan di era baru Gank Pegangsaan ini cukup di album perdana saja. Di tahun berikutnya Keenan bergabung ke sebuah grup bernama Al Haj. Al Haj merupakan sebuah supergrup yang terdiri dari Benyamin Sueb (vokal), Keenan (drum), Odink (gitar), Edhe (gitar) Editya (gitar bas), dan Harry Sabar (kibor).

Odink yang telah aktif bersama Cockpit sejak awal 80-an masih bertahan dengan grup tersebut hingga periode ini. Di  samping Cockpit dan Al Haj, Odink bersama Keenan bergabung ke sebuah grup musik bernama Next Band. Grup ini berisi Keenan, Odink, Freddy Tamaela, Armand Maulana, Raidy Noor, Rani Trisutji, dan Andy Ayunir.

Sedangkan Gank Pegangsaan sejak album perdananya terus melaju diikuti dengan dirilisnya album Palestina II (1994) dan Kerusuhan (1997) yang dinakhodai oleh Debby Nasution.

Pada tahun 1997, Nasution Bersaudara sempat membentuk kembali Guruh Gipsy. Grup ini sempat tampil di televisi nasional membawakan repertoar-repertoar Guruh Gipsy yang tentu dengan iringan gamelannya. Tetapi setelah itu, namanya tidak terdengar lagi.

Periode 2000an hingga kini

Memasuki usia karir bermusik mereka yang sudah lebih dari 30 tahun, Nasution Bersaudara masih aktif bermusik. Debby masih menekuni profesinya di jalan dakwah, sedangkan Odink masih bersama grup Cockpit-nya.

Pada tahun 2007, Keenan merilis album berjudul Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat bersamaan dengan digelarnya konser Nuansa Bening pada 5 Mei 2007. Album ini digelar untuk mengenang karya-karya terbaik dari Keenan Nasution. Sedangkan pada tahun 2011, konser yang bertajuk Apa Yang Telah Kau Berikan Untuk Sesama Manusia yang merupakan konser tribute untuk 33 tahun karir bermusik Keenan Nasution dihelat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kedua konser tersebut tentunya melibatkan sang adik, yaitu Odink dan Debby.

Lalu pada tahun 2012, Keenan merilis album berjudul Akustik. Album tersebut berisi lagu-lagu lama dari Keenan yang dikemas ulang dengan format akustik. Sedangkan di tahun 2014, album perdana Keenan yang berjudul Di Batas Angan-Angan dirilis ulang dalam format piringan hitam dan CD.

Hingga kini, Keenan masih aktif bermusik. Biasanya Keenan terlibat di acara-acara tribute untuk lagu-lagu progressive rock Indonesia era Gank Pegangsaan dan LCLR.

Sedangkan Debby Nasution sempat aktif bermusik kembali. Debby ikut membantu Giant Step dalam album terbarunya yang berjudul Life’s Not The Same yang dirilis pada tahun 2016. Di album tersebut, Debby berperan sebagai pemain kibor. Lalu, Debby juga aktif di berbagai acara tribute untuk Gank Pegangsaan dan LCLR bersama Keenan dan anggota Gank Pegangsaan lainnya. Selain itu, Debby juga sempat merekam materi-materi lagu namun tidak sempat dirilis.

Pada tanggal 15 September 2018, kabar duka menyelimuti Nasution Bersaudara. Debby Nasution yang saat itu sedang mengisi ceramah tiba-tiba meninggal dunia. Belakangan diketahui penyebab wafatnya, yaitu serangan jantung. Pada tahun 2020, materi-materi lagu yang belum dirilis oleh Debby Nasution dirilis atas prakarsa M. Hasan Nasution dalam album yang bertajuk Menanti Hari.

Lalu pada 27 Februari 2020, kabar duka kembali menyelimuti Nasution Bersaudara. Sang gitaris, Odink Nasution, meninggal dunia akibat gagal ginjal. Sebelum akhir hayatnya, Odink masih aktif bersama grup musik Cockpit dan pegiat blues di Jakarta Blues Festival.

PENUTUP

Tidak berlebihan bila penulis menganggap Nasution Bersaudara merupakan pesona bagi musik Indonesia. Pemikiran-pemikiran serta ide bermusiknya yang visioner menjadi warna tersendiri bagi musik Indonesia. Tak jarang karya-karya dari mereka dicap sebagai karya yang futuristik, sehingga karya-karyanya kerap dianggap sebagai pemberi warna yang berbeda bagi musik Indonesia pada umumnya saat itu. Belum lagi permainan alat musik yang mereka kuasai sangat memberi pesona tersendiri bagi musik Indonesia.

Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia membuat daftar 150 Album Indonesia Terbaik. Dalam daftar tersebut, setidaknya ada 6 album yang melibatkan Nasution Bersaudara. Bahkan, peringkat 3 teratas dari daftar tersebut merupakan album-album yang melibatkan Nasution Bersaudara, yaitu Badai Pasti Berlalu, Guruh Gipsy, dan LCLR 1978.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa Nasution Bersaudara memang sebuah pesona bagi musik Indonesia.

DISKOGRAFI

  • Gauri Nasution

Gauri Nasution sempat terlibat di berbagai grup musik bersama Nasution Bersaudara, seperti Sabda Nada, dan Gipsy sebagai gitaris. Pada tahun 1975-1976, Gauri bergabung bersama Guruh Gipsy dan Barong’s Band. Bersama Barong’s, ia merilis 2 album, yaitu Kawin Lari dan self-titled.

Pada tahun 1978, Gauri sempat membantu Keenan Nasution pada album solonya yang berjudul Di Batas Angan-Angan sebagai gitaris pada lagu Negeriku Cintaku. Lalu di tahun berikutnya, Gauri ikut membantu Harry Sabar dalam album solonya yang berjudul Lentera. Di album tersebut, Gauri terlibat sebagai pemain gitar pada lagu Kitaran Warsa, Sekiranya’…., dan Kemarin dan Hari Ini.

Setelah tahun 1979, namanya tidak terlihat lagi di kancah musik nasional. Namun, karya-karyanya dapat ditemukan di berbagai sampul album yang ia buat untuk album musisi-musisi Indonesia saat itu, seperti Keenan Nasution, Chrisye, Harry Sabar, dan masih banyak lagi.

  • Odink Nasution

Odink Nasution dikenal sebagai gitaris yang sering terlibat di proyek musik musisi lain. Berikut adalah hasil riset yang penulis temukan terhadap keterlibatan Odink Nasution di dunia musik Indonesia.

  1. Guruh Gipsy, Kesepakatan dalam Kepekatan, 1976, sebagai pemain gitar;
  2. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977, sebagai pemain gitar;
  3. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1978, sebagai pemain gitar;
  4. Prambors Band – Jakarta Jakarta, 1978, sebagai pemain gitar;
  5. Prambors Band – Sebentuk Keresahan, 1979, sebagai pemain gitar;
  6. Prambors Band – 10 Pencipta Lagu Remaja, 1979, sebagai pemain gitar;
  7. Prambors Band – Seungkap Tanya, 1979, sebagai pemain gitar;
  8. Prambors Band – Sebuah Prasangka, 1979, sebagai pemain gitar;
  9. Yockie Suryo Prayogo – Musik Saya Adalah Saya, 1979, sebagai pemain gitar;
  10. Various Artists – Dasa Tembang Tercantik ’79 (Lomba Cipta Lagu Remaja/LCLR 1979), 1979, sebagai pemain gitar;
  11. Louise Hutauruk – Pintu Hati, 1979, sebagai penata musik, pemain gitar, dan pemain kibor pada lagu Alkisah Mega;
  12. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai pemain gitar;
  13. Keenan Nasution – Tak Semudah Kata-Kata, 1979, sebagai pemain gitar pada lagu Sang Juara;
  14. Keenan Nasution – Akhir Kelana, 1980, sebagai pemain gitar pada lagu Nyata;
  15. Andi Mapajalos – Bunga Kasih, awal 1980-an (tahun tidak diketahui pasti), sebagai pemain gitar;
  16. Keenan Nasution – Beri Kesempatan, 1981, sebagai pemain gitar;
  17. Louise Hutauruk & Eben Hutauruk – Lain Di Bibir Lain Di Hati, 1981, sebagai pemain gitar;
  18. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain gitar;
  19. Keenan Nasution – My Love, 1982, sebagai pemain gitar;
  20. Keenan Nasution – Romansa, 1982, sebagai pemain gitar;
  21. Keenan Nasution – 42nd Street, 1983, sebagai pemain gitar;
  22. Keenan Nasution – Dara-Dara, 1985, sebagai pemain gitar;
  23. Keenan Nasution – Dulu Lain Sekarang Lain, 1985, sebagai pemain gitar;
  24. Prambors Band – Kemarau II, 1986, sebagai pemain gitar;
  25. Keenan Nasution – Bunga Asmara, 1990, sebagai pemain gitar pada lagu Nuansa Bening, Bidak Kecil, Padamu Aku Mengetuk, dan Tommy;
  26. Al Haj – Biang Kerok, 1992, sebagai pemain gitar;
  27. Debby Nasution – Menanti Hari, 2020, sebagai pemain gitar pada lagu Jeritan Hati Kami.
  • Debby Nasution

Di bawah ini merupakan beberapa proyek musikal yang melibatkan Debby Nasution sebagai penyanyi, pemain alat musik, maupun penata musik. Daftar album ini mungkin belum mencakup seluruh keterlibatan aktivitas bermusik dari Debby Nasution. Namun, penulis berhasil merangkum beberapa diskografi yang melibatkan Debby Nasution berdasarkan riset yang penulis lakukan. Berikut diskografi dari Debby Nasution.

  1. Barong’s Band – Kawin Lari, 1976, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  2. Barong’s Band – self-titled, 1976, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  3. Erros Djarot dkk. – Badai Pasti Berlalu, 1977, sebagai pemain kibor dan penata musik pada lagu Khayalku, Angin Malam, dan Semusim; pencipta lagu Cintaku, Khayalku, dan Angin Malam; pencipta aransemen dasar lagu Pelangi;
  4. Keenan Nasution – Di Batas Angan-Angan, 1978, sebagai pemain kibor pada lagu Nuansa Bening, dan Negeriku Cintaku; pencipta lagu Negeriku Cintaku;
  5. 4 Komposer – Finalis Festival Pop Song ke-6, 1978, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  6. Various Artists – Dasa Tembang Tercantik ’79 (Lomba Cipta Lagu Remaja), 1979, sebagai penata musik dan pemain kibor pada lagu Jelaga, Himbauan Jiwa, Getar Asmara, Bahana Jelata, Cahaya Kencana, dan Mahajana;
  7. Prambors Band – Seungkap Tanya, 1979, sebagai pemain kibor;
  8. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai pemain kibor, gitar bas, dan penata musik pada lagu Lentera, Kala Daun Berguguran, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari ini, Terbenci Tapi…, dan Sekiranya’…;
  9. Utje Tjakradidjaja – Di Bawah Payung Hitam, 1980, sebagai penata musik;
  10. Keenan Nasution – Akhir Kelana, 1980, sebagai pemain piano elektrik pada lagu Mana Mungkin;
  11. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain kibor pada lagu Menuju Harapan;
  12. Junaedi Salat – Masa Pancaroba, 1983, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  13. Erros Djarot – Manusia Manusia, 1985, sebagai pemain kibor, gitar akustik, dan gitar bas;
  14. Doddy Soekasah – Laras Hati, 1985, sebagai pemain kibor;
  15. Gank Pegangsaan – Palestina I, 1991, sebagai penata musik dan pemain kibor; penyanyi pada lagu Setan Tertawa; pencipta lagu Palestina, Manusia Kera, dan Penantian;
  16. Gank Pegangsaan – Palestina II, 1994, sebagai penata musik, penyanyi, dan pemain kibor;
  17. Gank Pegangsaan – Kerusuhan, 1997, sebagai penata musik, penyanyi, dan pemain kibor;
  18. Giant Step – Life’s Not The Same, 2016, sebagai pemain kibor;
  19. Debby Nasution – Menanti Hari, 2020, sebagai penata musik, pencipta lagu, penyanyi, dan pemain kibor.
  • Keenan Nasution

Keenan Nasution merupakan sosok yang paling rajin merilis album solo di antara Nasution Bersaudara lainnya. Keenan telah merilis 13 album solo dan terlibat di lebih dari 10 album musisi lain selama berkarir di dunia musik. Berikut adalah daftarnya:

Album solo:

  1. Di Batas Angan-Angan (1978)
  2. Tak Semudah Kata-Kata (1979)
  3. Akhir Kelana (1980)
  4. Beri Kesempatan (1981)
  5. My Love bersama Ida Royani (1982)
  6. Romansa bersama Ida Royani (1982)
  7. 42nd Street (1983)
  8. Dara-Dara (1985)
  9. Dulu Lain Sekarang Lain (1985)
  10. Kupu-Kupu Cinta (1986)
  11. Bunga Asmara (1990)
  12. Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat (2007)
  13. Akustik (2012)
Keenan Nasution & Ida Royani

Album yang melibatkan Keenan:

  1. Guruh Gipsy – Kesepakatan dalam Kepekatan, 1976, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Indonesia Maharddhika dan Geger Gelgel;
  2. D&R – self-titled, 1976, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Cindy;
  3. Various Artists – 9 Lagu Terbaik Festival Lagu & Penyanyi Populer Tingkat Nasional V/’77, sebagai penyanyi dan pencipta lagu Di Batas Angan-Angan;
  4. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja 1977, sebagai penata musik, dan pemain drum; penyanyi pada lagu Kemelut dan Oh Bunga Anggrek;
  5. Erros Djarot, dkk. – Badai Pasti Berlalu, 1977, sebagai pemain drum pada lagu Khayalku, Angin Malam, dan Semusim;
  6. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja 1978, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Awan Putih dan Saat Harapan Tiba;
  7. Chrisye – Sabda Alam, 1978, sebagai pemain drum;
  8. Chrisye – Percik Pesona, 1979, sebagai pemain drum pada lagu Kehidupanku;
  9. Yockie Suryo Prayogo – Musik Saya Adalah Saya, 1979, sebagai pemain drum;
  10. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai penata musik, pencipta lagu, dan pemain kibor pada lagu Khalwat Jiwa; pemain drum pada lagu Lentera, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari Ini, dan Khalwat Jiwa;
  11. Fariz RM – Selangkah Ke Seberang, 1979, sebagai pemain drum pada lagu Kutuk Seribu Dewa;
  12. Mira Ismuthiar – Terluka, 1981, sebagai pemain drum;
  13. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain drum pada lagu Salam Negeriku;
  14. Harry Sabar – Kasih Sayang, 1985, sebagai pemain drum;
  15. Doddy Soekasah – Laras Hati, 1985, sebagai pemain drum;
  16. Gank Pegangsaan – Palestina I, 1991, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Dirimu, Jalan Sabang, dan Matahari;
  17. Al Haj – Biang Kerok, 1992, sebagai pemain drum;
  18. Doddy Soekasah – Serambi, 1999, sebagai penyanyi.

Musisi Futuristik Itu Bernama Delly Rollies

Di paruh era 1970’an hingga 1980’an, musik Indonesia kental akan sisi vintage. Mulai dari proses produksi hingga aransemen boleh dibilang masih terkenal ‘kuno’ karena secara teknologi pun tentu saja belum memadai. Tapi, di era itu, ada satu sosok musisi dengan pembawaan musik yang berbeda dan malah terkesan melampaui masanya. Sosok itu adalah orang yang selama ini dikenal sebagai keyboardist sekaligus vokalis The Rollies bernama lengkap Delly Joko Arifin yang dikenal dengan nama Delly Rollies.

Delly Rollies yang lahir pada 1949 ini mengawali sepak terjang dalam karir bermusiknya pada era 1960’an. Sebelum memulai karir panjang bersama The Rollies, terlebih dahulu Delly bergabung dengan grup musik Genta Istana. Barulah pada 1967, Delly bergabung dengan The Rollies sebagai keyboardist atas ajakan Deddy Stanzah yang berperan penting sebagai penggagas terbentuknya The Rollies. Gito, sang vokalis, adalah orang yang terakhir gabung dengan The Rollies. Di band sebelumnya, Gito sering membawakan repertoar dari Tom Jones, Engelbert Humpadink, dan sejenisnya. Namun saat bergabung dengan The Rollies, Delly meminta Gito untuk membawakan repertoar dari James Brown, sang godfather musik soul dan funk dunia. Itulah sebabnya The Rollies dikenal sebagai representasi James Brown di Indonesia.

Rollies

Meskipun di puncak kejayaannya The Rollies sempat ditempa masalah terkait narkoba dan sempat juga mengalami pergantian personil, hal ini tidak membuat keterlibatan Delly dalam The Rollies goyah. Bersama The Rollies, Delly merilis sejumlah album dari era Remaco, Purnama Records, Hidayat, hingga mendapat kontrak panjang bersama Musica Studios pada 1977 yang menjadi titik awal kesuksesan The Rollies. Sampai akhirnya pada paruh 1980’an, The Rollies berganti nama menjadi New Rollies. Di era New Rollies ini, Delly dan kawan-kawan mulai mencoba membawakan lagu dari komposer-komposer seperti A. Riyanto, Johannes Purba, dan Titiek Puspa yang selama ini dikenal sebagai komposer lagu-lagu pop cengeng. Akan tetapi, The Rollies berhasil mengintrepretasikannya dengan style mereka yang keren.

Disamping berkarir dengan The Rollies, pada akhir era 1970’an Delly juga melakukan solo karir. Justru di solo karir inilah Delly mulai terpancar auranya dan sebagian besar lagunya terdengar berbeda dari kebanyakan musik Indonesia di era itu, bahkan boleh dibilang melampaui masanya. Di era solo karirnya, Delly masih menggunakan genre musik yang sama dengan The Rollies: soul, funk, dan disko. Album solo pertama Delly berjudul The Prince of Rollies (1978) dirilis Musica Studios dan menampilkan beberapa komposer seperti Oetje F. Tekol, Erick Van Houten, Dodo Zakaria, dan Jimmie Manopo.

Selanjutnya, Delly melakukan kerjasama dengan label Flower Sound. Di label inilah kejeniusan Delly Rollies dalam meramu musik mulai terlihat. Album pertama Delly di label ini berjudul Pop Jazz (1982). Album ini menafsirkan ulang lagu-lagu pop milik Kiki Maria, Jimmie Manopo, Jacky, Chris Kayhatu, A. Riyanto dll. yang telah eksis sebelumnya dengan nafas soul dan jazz ala Delly sendiri. Masih di tahun yang sama, Delly merilis album berjudul Kau dengan bantuan Fariz RM sebagai music director. Album ini juga sempat dibantu oleh gank-nya Fariz RM di grup Symphony yaitu Ekki Soekarno, Jimmy Pais, dan Herman Gelly.

Cover album Delly Rollies – Mutiara Kata (1982)

Tidak lama setelahnya, Delly merilis album berjudul Jadi Juga atau Mutiara Kata yang digadang-gadang menjadi masterpiece Delly Rollies sepanjang karirnya. Di album ini terdapat lagu berjudul Licik yang vokalnya menggunakan teknologi efek vocoder! Sebuah terobosan baru yang belum pernah dilakukan oleh musisi Indonesia sebelumnya. Dalam lagu berdurasi 9 menit ini, vokal yang menggunakan efek vocoder itu diisi oleh Harry Sabar. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan efek vocoder oleh musisi Indonesia sudah ada jauh sebelum Indra Lesmana mulai melakukannya di era 2000-an. Bahkan juga jauh sebelum Daft Punk dan musisi breakthrough lainnya mulai melakukannya. Sayangnya banyak orang tidak tahu tentang fakta ini.

Delly Rollies (tengah) bersama Harry Sabar (kanan) dan Norman (kiri) pada saat menggarap album Cinta Remaja.

Bersama Flower Sound, Delly juga merilis beberapa album seperti Pop Jazz Dixie, Volume 2, Kubawa Dukaku, Break Dancing, dan Cinta Remaja. Di tahun 1985, Delly merilis album Janji di bawah Musica Studios dan di tahun 1990 merilis album Jangan Berakhir Disini bersama Meiske Pattiasina. Ketujuh album ini juga mengusung spirit yang sama. Memainkan musik soul, funk, jazz, dan disko dengan teknologi mutakhir seperti vocoder dan aransemen beat yang sudah menggunakan beatmachine.

Beberapa instrument keyboard andalan seperti Fender Rhodes Electric Piano dan Minimoog Synthesizer serta teknik sampling melalui beatmachine bermerek Roland TR-808 kerap digunakan Delly sepanjang karirnya, baik dalam karirnya bersama The Rollies maupun karir solonya. Delly Rollies adalah seorang musisi yang mampu mengintrepretasi setiap lagu yang dimainkannya menjadi terdengar lebih fresh dengan teknologi musik yang terbilang sangat mutakhir era itu. Bahkan lagu-lagu yang terdengar cengeng pun berhasil diintrepretasi Delly supaya terdengar lebih segar dan lebih baik dari versi sebelumnya. Meskipun karakter vokal Delly sendiri masih khas karakter vokal penyanyi Indonesia era 1970’an yang terdengar kuno, namun dengan bantuan aransemen musik yang fresh pada masanya, lagu yang dimainkan dan dinyanyikan Delly justru terdengar lebih baru. Karena lagu-lagu Delly digarap dengan teknologi musik yang sangat mutakhir untuk eranya, maka bisa dibilang lagu-lagu Delly Rollies terdengar cukup jauh melampaui masanya. Meskipun memasuki era 1990’an eksistensinya mulai memudar, Delly masih tetap aktif bermusik hingga meninggal dunia akibat serangan jantung pada 31 Oktober 2002.

mixtape lagu-lagu terpilih Delly Rollies

Top 5: Ilman Ibrahim

Ilman Ibrahim adalah musisi yang dikenal sebagai keyboardist Maliq & D’Essentials menggantikan posisi Ifa Fachir yang hengkang pada 2011 lalu. Sekitar tahun 2014, bersama dua rekannya sesama musisi, Lale (gitaris Maliq & D’Essentials) dan Nino (RAN) membentuk bendera Laleilmannino, trio komposer dan produser yang sukses membuat hits maker bagi para penyanyi papan atas Indonesia hingga hari ini. Kali ini, musisi yang juga menekuni olahraga golf ini bersedia untuk memberikan Top 5 lagu-lagu Indonesia pilihannya kepada Alunan Nusantara.

  1. Candra Darusman – Kau (Indahnya Sepi, 1981)

Candra Darusman adalah musisi dan komposer Indonesia yang pertama kali dikenal lewat grup Chaseiro sekitar pertengahan era 1970’an. Ditengah era mengembangkan Chaseiro, Candra Darusman sempat membuat album solo meskipun cuma dua buah saja: Indahnya Sepi (1981) dan Kekagumanku (1983) sebelum akhirnya membentuk Karimata. Lagu Kau yang hadir sebagai track pertama di album pertama Candra Darusman langsung berhasil memikat hati banyak orang ketika itu. Sampai akhirnya, lagu ini berhasil masuk menjadi salah satu lagu Indonesia sepanjang masa yang sampai hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang.

2. Candra Darusman – Our Moments of Paradise (Kekagumanku, 1983)

Album Kekagumanku dari Candra Darusman memuat salah satu lagu pop-jazz ringan underrated alias tak menjadi hits berjudul Our Moments of Paradise. Sekedar informasi, lagu ini ditulis oleh Indra Lesmana dan Mira Lesmana ketika mereka masih tinggal di Sydney, Australia. Sekaligus, lagu ini juga menjadi satu-satunya lagu yang ditulis komposer lain (selain Candra Darusman sendiri) di album Kekagumanku.

3. Chrisye feat. Vina Panduwinata – Kisah Insani (Sendiri, 1984)

Setelah Chrisye mengakhiri kerjasama panjangnya dengan Yockie Suryoprayogo karena perbedaan idealisme, Chrisye merilis album berjudul Sendiri di tahun 1984 dengan menggandeng Addie MS sebagai music director dan Vina Panduwinata sebagai penyanyi tamu. Single andalan dalam album ini adalah lagu berjudul Kisah Insani yang merupakan duet manis antara Chrisye dengan Vina Panduwinata. Sebuah lagu pop easy listening yang berhasil mencuri perhatian orang sekaligus lagu ini juga membuktikan bahwa Chrisye berhasil terlepas dari baying-bayang Yockie sebagai music director.

4. Fariz RM feat. Candra Darusman – Dunia Dibatas Senja (Panggung Perak, 1981)

Apa jadinya kalau dua maestro kebanggan Indonesia Fariz RM dan Candra Darusman berkolaborasi? Hasilnya, tentu saja akan menjadi sebuah masterpiece. Keduanya berhasil membuktikannya pada lagu Dunia Dibatas Senja, sebuah lagu bossanova ringan di album solo ketiga Fariz berjudul Panggung Perak (1981) ciptaan Candra Darusman yang awalnya dibawakan Chaseiro. Lagu inipun sukses menjadi hits dan berhasil menjadi ikon city-pop Indonesia. Tahun 2018, Fariz RM dan Candra Darusman membawakan kembali lagu ini dengan aransemen baru dari Barry Likumahuwa untuk project album Detik Waktu: Menyanyikan Karya Cipta Candra Darusman. Dan di tahun 2019, Dipha Barus mengambil salah satu elemen di lagu ini untuk dijadikan sampling di lagu miliknya berjudul Woosah yang dibawakannya bersama rapper Matter Mos.

5. Ahmad Band – Sudah (Ideologi, Sikap, Otak, 1998)

Publik tentu tidak bisa mengelak kalau Ahmad Dhani bisa sukses dan berhasil menjadi maestro papan atas Indonesia berkat Dewa 19. Menjelang akhir 1990’an, Dewa 19 mengalami sedikit benturan yang salah satunya dipicu karena Ari Lasso menggunakan narkoba. Ditengah benturan itu, Ahmad Dhani membentuk Ahmad Band sebagai proyek sampingan yang beranggotakan Ahmad Dhani (vocal/keyboard), Andra Ramadhan (guitar), Pay (guitar), Bongky (bass), Bimo (drum). Single andalan Ahmad Band di album satu-satunya mereka berjudul Ideologi, Sikap, Otak (1998) adalah lagu berjudul Sudah yang bernafaskan R&B. Mengingat saat itu, Ahmad Dhani sedang cukup menekuni musik R&B yang pertamakali digarapnya melalui album pertama Reza Artamevia berjudul Keajaiban (1997).

Top 5: Iga Massardi

Alunan Nusantara kembali menghadirkan konten TOP 5, yaitu konten yang berisi 5 lagu Indonesia terbaik dari musisi yang kami pilih. Kali ini, kami akan menghadirkan 5 lagu Indonesia terbaik versi Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris dari grup musik Barasuara. Penasaran apa saja lagu terbaik pilihan Bang Iga? Simak selengkapnya di bawah ini ya!

  1. AKA – Do What You Like

Indonesia seolah tak pernah kehabisan talenta terbaiknya dalam musik keras. Salah satu yang terbaik adalah grup musik Apotek Kali Asin alias AKA. Salah satu lagunya yang berjudul Do What You Like langsung menjadi lagu andalan pada masanya. Riff-riff gitar berat khas hard rock ditambah vokal keras ala Ucok merupakan paduan yang sangat gila bagi musik Indonesia di masa itu. Lagu ini pantas dinobatkan sebagai lagu terbaik dari AKA. Terbukti, lagu ini kelak ditempatkan pada peringkat ke-125 pada “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” yang dikurasi oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia. Walaupun lagu ini dirilis di awal tahun 70-an, tapi lagu ini boleh dibandingkan dengan lagu-lagu rock masa kini. Kerasnya boleh diadu!

2. God Bless – Kehidupan

Lagu ini terdapat di album Semut Hitam. Sebuah album yang menandai kembalinya God Bless ke dunia rekaman setelah sewindu tidak merilis album, waktu yang sangat lama bagi musisi atau grup musik pada saat itu untuk tidak merilis sebuah album. Kembalinya God Bless di tahun 1988 digebrak dengan lagu berjudul Kehidupan ciptaan Yockie Suryo Prayogo. Lagu ini secara garis besar menceritakan tentang arus kehidupan yang begitu ambisius dengan tensi yang sangat tinggi. Dengan kata lain, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang “sikut-sikutan” dan melibas segala cara untuk mencapai tujuannya tanpa memikirkan sesuatu yang ada di sekitarnya. Apakah sindiran terhadap orde pemerintahan saat itu

3. Koes Plus – Kelelawar

Lagu yang secara sederhana menceritakan tentang hewan kelelawar ini terdapat di album perdana Koes Plus yang berjudul Dheg Dheg Plas. Lagu yang diciptakan oleh Tonny Koeswoyo ini memiliki makna yang sangat sederhana sekali. Tak perlu muluk-muluk, lagu ini hanya menceritakan seekor kelelawar yang sayapnya hitam, hidup di malam hari, dan bergantungan (tidur) ketika pagi hari. Sederhana sekali, ya? Namun walaupun begitu, musik yang diusung cukup “berat”, karena mereka berusaha mengikuti trend yang sedang naik daun saat itu, yaitu aliran musik rock n roll. Pada tahun 2009, lagu ini menempati peringkat ke-83 pada 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

4. Flowers – (Tolong) Bu Dokter

Mungkin nama grup musik ini agak asing di telinga anak muda zaman sekarang. Namun bila dilihat pengaruhnya, grup musik ini adalah salah satu penggerak musik rock n roll di era 90-an bersama Slank dan geng Potlot lainnya. Album perdananya yang mengandalkan single berjudul (Tolong) Bu Dokter langsung menggebrak telinga anak muda saat itu. Lagu ini menceritakan tentang pergaulan anak-anak muda di Gang Potlot yang dekat dengan obat-obatan terlarang namun digambarkan dengan kata-kata kiasan. Contohnya adalah “Bu Dokter” sendiri yang maksudnya merupakan “BD” alias bandar. Jangan lupakan juga ada satu part unik yang terdapat di lagu ini, yaitu ada selingan psychedelic yang mengawang-awang di pertengahan lagu.

5. Netral – Pucat Pedih Serang

Pucat Pedih Serang merupakan single andalan dari grup musik Netral untuk album ketiganya yang bertajuk Album Minggu Ini. Semua pendengar Netral tentu setuju bahwa album ini merupakan album terbaik dari grup musik Netral. Khususnya untuk lagu Pucat Pedih Serang yang sering menjadi perbincangan karena liriknya yang ambigu. Banyak yang mengartikan kalau lagu ini menceritakan tentang proses seseorang menuju bunuh diri. Namun dilansir lewat video yang diunggah di channel YouTube NTRL Official TV, sang vokalis, Bagus, membantah lagu ini menceritakan tentang proses bunuh diri. Ia mengatakan bahwa lagu ini justru menceritakan sebaliknya, yaitu sebuah motivasi untuk seseorang agar tidak melakukan proses bunuh diri. Secara garis besar maksudnya adalah rasa pucat dan rasa sedih harus kita serang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Top 5: Merdi Simanjuntak (Diskoria Selekta)

Merdi Simanjuntak bermain drum di videoklip lagu terbaru Diskoria Selekta berjudul Serenata Jiwa Lara

Merdi Simanjuntak adalah seorang disc jockey (DJ) asal Jakarta yang dikenal luas melalui duo Diskoria Selekta bersama partner-nya, Fadli Aat. Dalam dunia per-discjokey-an ibukota, nama Merdi telah lama dikenal dengan berbagai proyek DJ-nya. Selain Diskoria Selekta, Merdi juga merupakan seorang DJ yang memainkan lagu-lagu R&B slowjams dibawah moniker Asiap Rocky dan tergabung dalam kolektif This Happy Feeling memainkan lagu-lagu Britpop. Kali ini, tim Alunan Nusantara telah merangkum lima lagu Indonesia pilihan Merdi Simanjuntak. Penasaran? Mari kita simak list di bawah ini.

  1. Margie Segers – Naluri (Jazz Samba, Musica Studios 1983)

Pertengahan era 1970’an, perkembangan jazz di Indonesia mulai memasuki ranah komersil dengan hadirnya Hidayat Records, sebuah label jazz asal Bandung milik Bill Firmansjah. Salah satu penyanyi yang diorbitkan di masa awal berdirinya Hidayat Records adalah Margie Segers dengan lagu all-time hit nya berjudul Semua Bisa Bilang. Nama Margie Segers semakin berkabar ketika ia mulai rekaman bersama Ireng Maulana di bawah label Musica Studios. Bersama Ireng Maulana, Margie Segers banyak memainkan lagu-lagu pop jazz yang memadukan unsur musik pop dengan irama smooth jazz, samba, dan bossanova. Salah satu lagu hasil kolaborasi antara Margie Segers dengan Ireng Maulana berjudul Naluri yang terdapat dalam album berjudul Jazz Samba (1983)

2. Rien Djamain – Improvisasi (Volume 2, Musica Studios 1978)

Senada dengan Margie Segers, Rien Djamain juga merupakan penyanyi wanita Indonesia yang turut membentuk musik jazz berada di ranah komersil. Rien Djamain juga memulai karir bernyanyinya di bawah naungan Hidayat Records pada pertengahan era 1970’an. Bahkan, rilisan pertama Hidayat Records adalah album dari Rien Djamain berjudul Api Asmara yang digarap bersama Jack Lesmana dkk. Setelah kontraknya Hidayat Records selesai, Rien Djamain melanjutkan karir bernyanyinya di bawah label Musica Studios. Otomatis, lagu-lagu yang sebelumnya penuh dengan unsur jazz mendadak berubah dengan kehadiran musik pop di dalamnya. Album kedua sekaligus pertama Rien Djamain di Musica Studios berjudul Volume 2 (1978) yang memuat salah satu lagu berjudul Improvisasi.

3. Hutauruk Sisters – Dimanakah Kini (Pop Indonesia Vol. 1, Musica Studios 1979)

Era 1970’an bisa dibilang era di mana format bajakan banyak beredar di industri musik Indonesia. Tidak hanya kaset barat yang dirilis dalam format tidak resmi oleh label Yess atau Monalisa, melainkan tidak sedikit pula musisi Indonesia yang “membajak” lagu barat dengan melodi yang sama persis. Hanya saja, dilakukan pengubahan dengan menggunakan lirik berbahasa Indonesia tentunya. Maklum, di era itu Indonesia belum menerapkan Undang-Undang mengenai Hak Cipta. Salah satu kasusnya bisa kita temukan dalam lagu Dimanakah Kini milik Hutauruk Sisters yang merupakan “adaptasi” dari salah satu hit Bee Gees berjudul Emotions.

4. Lydia Kandou – Denny (Sayang Dibuang Jangan, Musica Studios 1987)

Era 1980’an merupakan tonggak di mana term musik pop kreatif lahir dan mencapai kejayaannya. Pop kreatif ini lahir sebagai bentuk penggabungan musik pop dengan musik jazz, R&B, soul, funk, dan tentu saja disko. Salah satu lagu pop kreatif Indonesia underrated adalah lagu berjudul Denny milik Lydia Kandou. Di awal-awal karirnya, Lydia Kandou cukup banyak menyanyikan lagu-lagu berirama pop dan R&B.

5. Guruh Gipsy – Indonesia Maharddika (S/t, 1977)

Geliat musik progressive rock di Indonesia menemukan klimaksnya ketika Guruh Gipsy hadir di tahun 1977. Perpaduan musik progressive rock dengan musik tradisional Bali merupakan ciri khas Guruh Gipsy. Salah satu lagu monumental Guruh Gipsy adalah Indonesia Maharddika yang berdurasi sekitar 15 menit 40 detik. Lagu ini bisa dibilang unik karena menggabungkan inisial nama personil Guruh Gipsy yang terdiri atas Guruh Soekarno Putra, Chrisye (bass, vokal), Keenan Nasution (drum), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (synthesizer), dan Odink Nasution (gitar) dalam setiap bait liriknya. Hingga saat ini, belum ada lagi band Indonesia yang bisa menyaingi Guruh Gipsy.