“Terima Kasih Indonesia”, Album Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka dari Musica Studios

Cover album Terima Kasih Indonesia produksi Musica Studios (source: Indolawas)

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus selalu dapat melahirkan semangat bagi siapapun dan dalam bidang apapun. Dalam hal musik, 17 Agustus dapat melahirkan semangat kemerdekaan berkarya bagi para musisi. Terbukti tak sedikit musisi Indonesia dari dulu hingga kini yang membuat lagu bertemakan kemerdekaan.

Jauh sebelum grup Cokelat merilis lagu Bendera yang nampaknya selalu menjadi anthem di berbagai kesempatan pada saat momentum Kemerdekaan Republik Indonesia, Musica Studios pernah membuat album kompilasi bertajuk Terima Kasih Indonesia. Album kompilasi yang rilis pada 1995 ini dibuat untuk memperingati setengah abad Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejumlah artis yang ada di bawah naungan Musica Studios, RIS Music, dan Hemagita Records mulai dari yang legendaris hingga yang saat itu tengah naik daun beramai-ramai mengisi album ‘keroyokan’ ini. Mereka antara lain adalah Chrisye, Harvey Malaihollo, Elfa’s Singers, Trio Libels, Rafika Duri, Novia Kolopaking, Inka Christie, Anang, Mayangsari, Betharia Sonata, Humania, Kahitna, Iwa K, Java Jive, Inne Sinthya, Lilis Karlina, dan masih banyak lagi. Semua artis yang tergabung dalam project ini menyanyikan lagu ciptaan almarhum Gombloh berjudul Merah Putih yang kental akan semangat nasionalisme. Plus aransemen yang digarap oleh Heirie Buchaeri membuat lagu ini terdengar begitu megah dan sukses bikin merinding.

Selain lagu ‘keroyokan’ Merah Putih, beberapa artis Musica yang tergabung dalam project ini diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan dalam membawakan lagu mereka sendiri dengan tetap mengusung tema kemerdekaan. Ada lagu Karatagan Pahlawan, sebuah lagu berasal dari daerah Jawa Barat ciptaan seniman Sunda Mang Koko yang dalam album ini dinyanyikan oleh Ronnie Sianturi dan Yanni dari Trio Libels. Java Jive yang saat itu vokalisnya masih Danny Supit sendirian turut menyumbangkan lagu mereka berjudul Darahku yang kental nuansa rock. Juga ada Betharia Sonata yang mengisi track terakhir dalam album ini dalam lagu pop balada yang mendayu-dayu berjudul Mawar dan Melati yang melambangkan filosofi bendera merah putih. Selain lagu Merah Putih, untuk urusan hit single, album ini menjagokan lagu Kita Bangun Negeri dari Kahitna tentang semangat untuk membangun Indonesia dengan berkarya, dan lagu Persembahan dari Humania tentang rasa syukur sekaligus renungan atas arti kemerdekaan yang hakiki.

Kini, album Terima Kasih Indonesia telah berumur 25 tahun. Nampaknya, keseluruhan lagu dalam album ini masih akan selalu mengandung unsur tema yang relevan terhadap kondisi Bumi Indonesia sampai kapanpun. Termasuk hari ini ketika Indonesia telah mencapai Hari Kemerdekaan yang ke-75 tahun. Bagaimana para artis yang tergabung dalam project ini mengajak dan merangkul generasi muda untuk tetap semangat membangun dan membela Indonesia melalui karya-karya yang positif tercermin secara jelas dalam album ini.   

Badai Pasti Berlalu yang Tak Mungkin Berlalu

Cover album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu (1977) (source: Wikipedia)

Semua orang boleh jadi setuju kalau Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album terkeren sepanjang masa. Bagaimana tidak, album yang menjadi tonggak revolusi musik pop Indonesia di era pertengahan tahun 1970’an ini memiliki daya magis yang dapat membuat setiap orang merinding ketika mendengarnya. Hingga hari ini, terhitung masih sulit ditemukan tandingannya.

Badai Pasti Berlalu – awalnya merupakan sebuah novel karya Teguh Karya yang terbit pada 1974. Mulanya, potongan demi potongan kisah di novel ini diterbitkan di harian Kompas pada 1972 sebelum akhirnya diterbitkan dalam satu cerita utuh dua tahun setelahnya. Hingga akhirnya, Badai Pasti Berlalu mencapai magnum opus ketika difilmkan hingga dibuat soundtrack lagunya pada 1977.

Original soundtrack Badai Pasti Berlalu lahir atas inisiasi Teguh Karya yang meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack dari salah satu film yang digarapnya. Eros yang saat itu baru pulang dari menempuh studi di Jerman menerima tantangan tersebut. Pada 1975, Eros Djarot bersama bandnya yang dibentuknya di Jerman saat itu, Barong’s Band, menggarap soundtrack dari salah satu film Teguh Karya berjudul Kawin Lari, yang dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

Ketika Eros Djarot pulang dari Jerman ke Indonesia, ia mempunyai keinginan yang mulia: meneruskan visi dan misinya bermusik dengan gaya Indonesia. Perlu dicatat, sebelum era Badai Pasti Berlalu muncul banyak band Indonesia sangat terpengaruh dengan musik Barat, contohnya seperti Koes Plus dan AKA yang mana mereka tak jarang membawakan lagu berbahasa Inggris. Dan anak-anak muda di era itu pun semuanya mengkonsumsi musik-musik barat yang didominasi progressive rock. Akibat dari pengaruh budaya tersebut, musik Indonesia pun terpinggirkan sehingga tidak ada satupun anak muda yang mengkonsumsi musik Indonesia. Musik Indonesia ketika itu hanya sebatas menjadi konsumsi para pembantu alias Asisten Rumah Tangga. Melihat hal ini, Eros Djarot pun jengah dan membentuk Barong’s Band yang sesuai dengan visinya: bermusik dengan gaya Indonesia.

Album Original Soundtrack Kawin Lari pun berhasil menuai sukses. Setahun setelahnya, Teguh Karya kembali meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack untuk film yang digarapnya berjudul Badai Pasti Berlalu. Eros pun segera mengumpulkan nama-nama yang kelak menjadi legenda musik Indonesia untuk membantunya dalam menggarap soundtrack film yang kelak menjadi magnum opus ini.

Nama pertama yang diajak Eros Djarot dalam penggarapan soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah Christian Rahadi alias Chrisye. Ketika itu, Chrisye baru saja memulai meniti karir bermusiknya. Selain baru saja menikmati karirnya dengan Guruh Gipsy, Chrisye baru saja dikenal karena mempopulerkan mega hit Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah yang termasuk ke dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1977. Sejak awal, Eros Djarot memang sudah jatuh cinta terhadap suara Chrisye. Pencarian pun berlanjut ke ranah keyboardist. Eros pun memilih Yockie Suryoprayogo yang saat itu sudah dikenal sebagai keyboardist supergrup God Bless. Permainan keyboard Yockie yang memang penuh dengan nuansa progressive rock diharapkan akan memberi warna keren dalam soundtrack Badai Pasti Berlalu, dan terbukti benar. Selain itu pula, Eros mengajak Fariz RM. Fariz RM yang ketika itu masih tercatat sebagai siswa SMA Negeri III Jakarta “diculik” Eros, Yockie, serta Chrisye untuk masuk sebagai drummer dalam proyek ini. Secara otomatis, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah awal karir dari musisi jenius pelopor musik city pop di Indonesia era setelahnya. Eros pun kemudian mengajak Keenan Nasution, Debby Nasution, dan Berlian Hutauruk dalam project ini. Suara Berlian yang terkenal dengan seriosa-nya ini awalnya ditolak oleh Teguh Karya karena “menyeramkan seperti kuntilanak”. Namun, Eros dan Yockie tak setuju dengan penolakan itu karena menurut mereka suara Berlian memiliki chemistry yang dapat membuat original soundtrack Badai Pasti Berlalu menjadi penuh warna. Akhirnya, Teguh Karya pun melunak dan setuju.

Eros Djarot dan kawan-kawan pun mulai mengumpulkan sejumlah tiga belas lagu untuk masuk sebagai soundtrack dari film Badai Pasti Berlalu. Lagu-lagu tersebut antara lain seperti Pelangi, Merpati Putih, Matahari, Serasa, Khayalku, Angin Malam, Merepih Alam, Semusim, Baju Pengantin, Cintaku, dan tentu saja Badai Pasti Berlalu. Serta dua buah lagu instrumental berjudul E & C & Y serta Merpati Putih yang kemudian dibikin versi instrumentalnya. Karena satu dan lain hal, original soundtrack Badai Pasti Berlalu versi asli yang dinyanyikan Chrisye dan Berlian Hutauruk gagal masuk ke dalam alur film. Sehingga lagu-lagu yang masuk ke dalam alur film adalah versi yang dinyanyikan Broery Pesolima yang digarap bersama De Meicy.

Cover album Ost. Badai Pasti Berlalu versi dalam film yang dinyanyikan Broery Pesulima (source: indolawas.blogspot.com

Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu digarap Eros Djarot dan kawan-kawan dengan penuh spirit  idealisme. Tak ada niat bagi mereka untuk membuat album ini supaya laku keras di pasaran dan nama mereka pun menjadi terkenal di kemudian hari. Bahkan, tak jarang mereka harus ‘nombok’ karena saking idealisnya. Karena hal ini pula, saat album selesai digarap, tidak ada produser yang bersedia untuk mengedarkannya karena dianggap terlalu tinggi untuk standar musik pop Indonesia ketika itu. Beruntung salah satu cukong bersedia untuk mengulurkan bantuan. Cukong tersebut bersedia menjual album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu di salah satu toko kaset di Glodok yang ketika itu didominasi musik pop cengeng dan dangdut. Tanpa disangka-sangka, album ini menuai sukses ketika lagu Merepih Alam banyak diputar di radio-radio ketika itu. Sebuah pencapaian luar biasa yang diterima Eros Djarot dkk. atas penggarapan album original soundtrack Badai Pasti Berlalu yang penuh dengan idealisme ini.

Kesuksesan atas album original soundtrack Badai Pasti Berlalu ini kemudian melahirkan permasalahan yang berujung pada hak cipta dan royalti. Pasalnya, album ini tidak didistribusikan secara luas sehingga versi awal dari kaset dan piringan hitam album ini tergolong rare dan menjadi perburuan besar-besaran para kolektor hingga saat ini. Beberapa dekade setelahnya, masalah ini berbuntut ke pengadilan yang kemudian menyeret nama Eros Djarot dan Berlian Hutauruk. Dalam penggarapan original soundtrack Badai Pasti Berlalu, masing-masing personel tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Ketika pekerjaan mereka selesai dan sudah menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Di kalangan musisi 1970-an, hal tersebut adalah praktik yang lazim.

Selang 22 tahun kemudian, tepatnya di tahun 1999, Chrisye bersama dengan Erwin Gutawa merilis kembali album Badai Pasti Berlalu. Mereka menggarap ulang keseluruhan lagu dalam album ini dengan aransemen baru yang lebih modern. Dari album inilah kemudian lahir hits besar Chrisye, Cintaku, dengan versi yang banyak dikenal orang sekarang ini. Sebagian orang banyak menyangka kalau lagu Cintaku versi tahun 1999 adalah versi sesungguhnya. Mereka tidak tahu kalau lagu Cintaku versi aslinya sudah ada tahun 1977 dengan aransemen yang lebih magis daripada yang banyak dikenal sekarang ini.

Cover album Badai Pasti Berlalu (2nd version) dari Chrisye bersama Erwin Gutawa (source: http://musica.id)

Walau bagaimanapun, terlepas dari segala pro kontra yang ada, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album yang masih tetap bisa dinikmati di segala zaman dan tidak terdengar kuno. Terbukti, sampai saat ini masih banyak orang yang menikmati album ini. Boleh saja judul albumnya Badai Pasti Berlalu, tapi daya magis yang terlahir dari lagu-lagu di album ini nampaknya tidak akan pernah berlalu. Boleh jadi, selamanya…

Djanger Bali: Album “Jazz Indonesia” Pertama di Indonesia

Cover album Djanger Bali karya Tony Scott and The Indonesian All-Stars (photo source: Wikipedia)

Segala sesuatu yang ada di dunia ini, memang berkiblat pada Amerika Serikat. Musik, film, fashion, hingga pertunjukkan seni di dunia ini semuanya berkiblat pada Amerika. Meskipun konten dari produk yang dihasilkan merepresentasikan budaya yang terdapat di negara setempat, tapi tetap muatan-muatan yang mendukung produksi konten tersebut berkiblat pada Amerika Serikat. Begitupun dengan musik, khususnya musik jazz. Musik jazz lahir dan berkembang di negara Amerika Serikat. Meskipun negara-negara lain banyak melabeli musik jazz sebagai representasi negaranya sendiri dengan membubuhkan term “jazz Indonesia”, “jazz Jepang”, dan lain-lain. Tetap saja orisinalitasnya mengacu pada Amerika Serikat sebagai akar dari perkembangan musik jazz.

Di Indonesia sendiri, apakah memang ada “jazz Indonesia” yang asli Indonesia? Berbicara tentang Indonesia yang kaya akan budaya tradisionalnya, tentu ada yang dimaksud mengenai jazz Indonesia secara harfiah. Kita bisa mendapatkannya lewat sebuah album monumental berjudul Djanger Bali.

Djanger Bali adalah album proyek musik jazz hasil garapan pemain klarinet jazz asal Amerika Serikat Tony Scott dengan sekumpulan musisi jazz Indonesia yang tergabung dalam kelompok The Indonesian All-Stars. Mereka adalah Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen. Mereka inilah yang di kemudian hari menjelma menjadi founding fathers sekaligus dedengkot jazz di Indonesia. Musik yang tersajikan dalam Djanger Bali ini adalah gabungan antara jazz dengan musik tradisional Indonesia.

The Indonesian All-Stars saat bermain di pergelaran Berlin Jazz Festival di Berlin, Jerman pada 27 dan 28 Oktober 1967 (photo source: http://sisihidupku.wordpress.com)

Sejarah terbentuknya The Indonesian All-Stars beserta album Djanger Bali memang unik. Awal mulanya, Suyoso Karyoso alias Mas Yos, pemilik label Irama Records sekaligus kakak ipar dari Jack Lesmana memiliki bisnis pesawat terbang yang terbilang hebat dengan petinggi-petinggi dunia (karena Mas Yos juga merupakan seorang TNI Angkatan Udara). Otomatis, ia pun banyak mendapat relasi dari para pesohor dunia. Salah satunya adalah Tony Scott. Suatu hari di pertengahan era 1960’an, Tony Scott sempat mengadakan pertemuan dengan Mas Yos di Jakarta kalau ia tengah mencari band untuk bisa tampil di Berlin Jazz Festival 1967 di Berlin, Jerman. Akhirnya, Mas Yos pun mengajak Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen untuk mengadakan acara jamuan makan malam bersama Tony Scott di rumahnya. Sesaat sebelum acara makan malam tersebut usai, Tony Scott sempat menyampaikan wejangan kepada para dedengkot jazz Indonesia ini kalau ingin bisa tampil di Berlin Jazz Festival, mereka harus membawa sesuatu yang berbeda. Mereka mengiyakan tantangan dari Tony Scott. Mereka dikarantina di rumah mas Yos selama kurang lebih satu tahun sampai akhirnya berhasil menghasilkan Djanger Bali, sebuah album eksperimental yang menggabungkan jazz dengan musik tradisional Indonesia. Kemudian tampillah mereka dengan membawa Djanger Bali di Berlin Jazz Festival pada 27 dan 28 Oktober 1967 dan berbagi panggung dengan legenda jazz dunia seperti John Coltrane, Miles Davis, dan Herbie Hancock.

Bahkan, sebagian lagu yang terdapat dalam album Djanger Bali ini adalah lagu tradisional Indonesia, yaitu Gambang Suling (lagu daerah Jawa Tengah), Lir Ilir (lagu daerah Jawa Tengah), dan Burung Kakak Tua (lagu daerah Maluku). Mereka menyulap lagu yang luar biasa ini menjadi lagu yang lebih luar biasa karena menyematkan notasi-notasi jazz. Lagu pembuka dalam album berjudul Djanger Bali hadir menampilkan notasi pentatonis dari permainan piano Bubi Chen dalam intronya. Dalam album ini juga terdapat dua komposisi swing yang terlepas dari embel-embel musik tradisional, yaitu Mahike from “Katz und Maus” dan Summertime.

</figure>

Sepanjang karirnya, The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album ini saja. Selanjutnya, mereka banyak bermain dalam sejumlah pagelaran jazz di Indonesia, salah satunya adalah konser Jazz Masa Lalu dan Kini di Taman Ismail Marzuki pada 1976 dan sempat pula direkam dalam album berjudul sama yang dirilis Hidayat Records. Selebihnya, tentu mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bermain, rekaman, dan memperkenalkan jazz di Indonesia ke generasi selanjutnya hingga akhir hayatnya. Meskipun The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album, namun pengaruh ke masa selanjutnya inilah yang paling penting. Djanger Bali adalah album yang menjadi tonggak sejarah perkembangan musik jazz di Indonesia dan sejarah perkembangan musik eksperimental Indonesia sebelum ada Harry Roesli dan Guruh Gipsy yang begitu dipuja para hipster masa kini.

Album Rekomen: HARRY SABAR – LENTERA

Sebuah situs bernama Planet Mellotron dikejutkan dengan adanya musisi asal Indonesia yang pernah menggunakan alat musik mellotron di satu album penuh! Pengelola situs yang mengulas lagu atau album yang memakai alat musik mellotron ini terkagum-kagum sekaligus terheran-heran. “Dari mana musisi ini dapat mengakses mellotron dan dari mana referensi yang musisi ini dapatkan sehingga dapat mengolah mellotron sebaik mungkin?” Kurang lebih begitu yang ditulis oleh pengelola situs tersebut.

Ya, Harry Sabar telah lama menjadi perbincangan pengamat musik di Indonesia maupun di dunia. Selain karyanya yang berjudul Licik yang telah membuat geger pengamat musik, album debut beliau yang berjudul Lentera pun tak luput dari komentar para penikmat serta pengamat musik. Dari segi aransemen musik, pendengar akan dibuat kagum dengan kemampuan Harry Sabar dkk. yang dapat mengolah alat musik mellotron sedemikian rupa sehingga cocok dimainkan untuk lagu Indonesia. Harry Sabar dkk. pun berhasil mengolah bermacam-macam bebunyian synthesizer dan alat musik lain dalam satu hasil yang rapih dan sempurna. Pemilihan akor lagu-lagunya pun dinilai tidak biasa untuk zaman itu. Sedangkan dari segi syair, pendengar akan dikejutkan dengan pemilihan kata serta tema lagu yang tidak biasa dan sulit dimengerti. Karena hal tersebut, banyak pendengar yang pada akhirnya menobatkan album ini sebagai salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa.

Penasaran bagaimana ulasan untuk album yang dahsyat ini? Simak selengkapnya di bawah ini.

SAMPUL ALBUM

Sampul album Lentera adalah salah satu sampul album di Indonesia yang memiliki fakta unik. Fakta uniknya adalah sampul album ini memiliki dua versi berbeda.

sampul album Lentera

Versi pertama sampul album Lentera mengusung aliran yang biasa dipakai oleh sampul grup musik progressive rock di luar sana, yaitu mengedepankan estetika dengan tampilan yang rumit. Sampul versi pertama ini diberi warna hijau serta adanya variasi font huruf yang rumit, artwork yang mencolok, nama-nama musisi yang terlibat, serta 3 potret wajah Harry Sabar yang menghadap ke arah yang berbeda. Tampilan seperti ini dianggap rumit di zamannya. Terutama pada penulisan nama Harry Sabar yang terdiri dari garis-garis yang saling menyambung. Ujung dari garis-garis tersebut membentuk simpul pita yang sedang diikat dengan burung merpati. Hmm… cukup rumit ya!

sampul album Lentera versi kedua

Sedangkan versi kedua sampul album Lentera merupakan siasat dari label rekaman yang menaungi Harry Sabar. Label menganggap sampul versi pertama cukup rumit sehingga tidak menarik minat pembeli. Alhasil, label menyiasati hal ini dengan mengubah tampilan sampul album ini menjadi lebih simpel. Tampilannya diubah menjadi warna hitam disertai gambar petromaks lilin dan tampilan font yang lebih simpel dan mudah terbaca.Dan ternyata, tampilan sampul versi kedua ini adalah tampilan yang serupa dengan album kompilasi dari artis mancanegara yang bernama Paul Mauriat. Hmm… ada-ada saja ya siasat dari label!

sampul album Paul Muriat

ULASAN LAGU

SIDE A

  1. LENTERA

Album Lentera dibuka dengan lagu yang dianggap sebagai all time hits-nya Harry Sabar, yaitu lagu yang berjudul Lentera. Lagu ini dibuka dengan permainan piano dan mellotron yang dimainkan oleh Marusya Nainggolan dan Debby Nasution dengan sangat megah dan berkelas. Alunan piano bercorak klasik dari Marusya Nainggolan terasa sangat tepat diiringi dengan suara mellotron dari Debby Nasution yang seolah seperti kelompok paduan suara yang membuka sebuah pertunjukan. Lagu pembuka ini cukup memberi gambaran bagi lagu-lagu berikutnya yang ada di album ini, khususnya dari segi syairnya yang puitis dan menggunakan diksi kata yang jarang dipakai dalam sebuah lagu, karakter vokal Harry Sabar yang tinggi, dan aransemen musiknya yang didominasi oleh bebunyian piano dan synthesizer.

2. KALA DAUN BERGUGURAN (this song dedicated to Debby Nasution)

Di lagu ke-2, Harry Sabar masih memberikan sajian lagu bertempo lambat. Kala Daun Berguguran memiliki tema lagu yang cukup unik. Lagu ini menceritakan tentang bagaimana perasaan Harry Sabar ketika ia ditinggalkan oleh sahabatnya yang sangat ia cintai. Lalu apa hubungannya dengan Debby Nasution yang ketika itu sedang dalam masa keemasannya? Ternyata lagu ini merupakan bentuk terima kasih serta kenang-kenangan dari Harry Sabar untuk Debby Nasution bila sewaktu-waktu ia pergi meninggalkan dunia ini. Menurutnya, lagu ini saat itu diciptakan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi serta karya-karya Debby Nasution bila nanti telah tiada.

3. KITARAN WARSA

Setelah dibuka dengan 2 lagu bertempo lambat, di lagu ke-3 ini Harry Sabar memberi pendengar sebuah lagu dengan nuansa yang ceria. Lagu ini menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ada di sekitar kehidupan manusia seperti kehidupan di pasar, proses manusia dalam mencari nafkah, dan kehidupan yang harus terus diarungi di tengah tantangan-tantangan yang melanda. Permainan piano Debby Nasution pada pembuka lagu sangat pas dengan isi lagu, karena seolah menggambarkan proses munculnya matahari sebagai tanda pembuka hari. Di akhir lagu, pendengar akan dikejutkan dengan tarikan vokal  Harry Sabar yang sangat tinggi sekali!

4. LAZUARDY

Lewat judulnya saja, pasti sudah tertebak kalau lagu ini merupakan lagu yang manis dan indah. Lazuardy dibuka dengan suara deburan ombak di pantai, disusul dengan suara alat musik harpsichord yang dimainkan oleh Addie MS. Secara keseluruhan lagu ini menggambarkan tentang keindahan serta keagungan alam. Lagu ini memiliki aransemen yang sangat pas dengan tema lagunya. Iringan synthesizer yang dimainkan oleh Addie MS bak orkestra yang mengiringi sebuah lagu dengan megah. Hal ini membuktikan kepiawaian Harry Sabar dan Addie MS dalam mengolah lagu sedemikian rupa sehingga menghasilkan aransemen musik yang sangat manis namun megah. Di era ’80-an awal, Lazuardy dijadikan judul untuk album kompilasi yang berisi lagu-lagu terbaik Harry Sabar dari tahun 1979 sampai 1981.

5. KEMARIN DAN HARI INI

Era akhir ’70-an memang surganya musik progressive rock di Indonesia. Setelah Yockie dengan Jurang Pemisah dan Keenan Nasution dengan Negriku Cintaku-nya, Harry Sabar yang juga musisi yang sering nongkrong di Pegangsaan ikut meramaikan suasana progressive rock di Indonesia. Hasilnya adalah satu lagu berjudul Kemarin dan Hari Ini. Harry Sabar dan Debby Nasution adalah aktor utama dibalik lagu yang sangat dahsyat ini. Lagu ini dibuka dengan petikan gitar akustik dari Kesawadjati yang sangat rumit. 2 menit pertama lagu ini bertempo lambat sehingga tak akan ada yang menyangka kalau ini adalah lagu beraliran progressive rock. Namun memasuki menit 3:33, aransemen musik tiba-tiba berubah! Debby Nasution menunjukan keahliannya dalam mengolah Hammond Organ dan synthesizer yang terinspirasi dari permainan Tony Banks. Gebukan drum dari Keenan Nasution yang rumit menambah kesempurnaan aransemen lagu ini. Ketika vokal Harry Sabar kembali masuk menjelang akhir lagu, betotan gitar bas dan iringan mellotron dari Debby serta lengkingan melodi gitar dari Gauri Nasution mengiringi lagu ini hingga selesai. Lagu ini ditutup dengan sempurna oleh seluruh pemain musik di lagu ini dengan rancak dan sempurna. Tidak berlebihan bahwa penulis menobatkan lagu ini sebagai lagu progressive rock terbaik di Indonesia.

SIDE B

6. TERBENCI TAPI…

Sisi B album ini dibuka dengan permainan synthesizer Debby Nasution yang suaranya dimodifikasi layaknya suara alat musik gesek sebelum akhirnya Debby kembali menunjukan kepiawaiannya dalam bermain piano dan mellotron di sepanjang lagu. Fakta unik dari lagu ini adalah syair dan personil yang terlibat di lagu ini tidak tercantum di sampul kasetnya. Alasannya karena lagu ini direkam setelah sampul kaset selesai dicetak oleh pihak percetakan. Jadilah Harry Sabar tidak sempat memasukkan informasi tentang lagu ini ke dalam sampul kaset.

7. KHALWAT JIWA

Di lagu selanjutnya, Harry Sabar berkolaborasi dengan Keenan Nasution dalam penulisan syair maupun aransemen musik. Dahsyatnya lagu ini adalah Keenan memainkan seluruh instrumen yang ada di lagu ini dengan seorang diri! Bebunyian synthesizer di dalam lagu ini sangat penuh, bervariasi, dan terus mengiringi sepanjang lagu. Walaupun lagu ini bertempo lambat, namun tetap memberikan ciri khas musik progressive rock lewat bebunyian synthesizer-nya.

8. SEKIRANYA’….

Lagu yang dibuka dengan petikan gitar akustik ini masih menggunakan formula yang sama dengan lagu sebelumnya, yaitu bertempo lambat namun tetap memberikan ciri khas musik progresif. Lagu Sekiranya’…. menggambarkan tentang lelaki yang sedang mendambakan wanita di dalam bayang-bayangnya. Bayang-bayang tersebut seolah-olah membuat lelaki itu berkata dalam hati “Hmm.. sekiranya kita dapat bertemu” yang pada akhirnya dijadikan judul lagu.

9. DI SEJUK MALAM

Bagi penulis, inilah lagu terbaik yang ada di album Lentera. Lagu ini diaransemen oleh Harry Sabar bersama Candra Darusman yang pada waktu itu terhitung sebagai musisi baru. Bila kita terbiasa mendengar Candra di Chaseiro atau album solonya, pasti kita akan menduga kalau lagu ini akan memiliki aliran yang tak jauh dari jazz atau easy listening pop ala Candra. Tapi nyatanya, dugaan itu salah besar. Lagu ini nyatanya beraliran funk dengan tempo yang cepat, akor mayor 7, dan tak lupa juga petikan gitar bas dari Matise yang sangat nge-funk melengkapi lagu yang underrated ini! Harry Sabar sendiri mengakui bahwa lagu ini merupakan bentuk eksplorasi dari Harry Sabar dan Candra Darusman yang ingin membuat lagu dengan bermacam gaya dan aliran yang beda dari lagu-lagu lain.

10. RESAH

Lagu penutup di album ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Harry Sabar dengan Noor Bersaudara yang beranggotakan Yanti Noor (Istri Chrisye), Nana Noor, dan Rini Noor. Lagu yang diciptakan oleh Harry Sabar, Addie MS, dan Odink Nasution ini menggambarkan keresahan seseorang ketika menanggung rasa rindu. Di sini, penulis akan sedikit mengutip syair yang dahsyat dari lagu ini:

“Semakin ku menjauh bujuk rasa

Semakin tawa seri berkesan di hati Dahsyatnya impi….”

Informasi Album:

  1. Judul     : Lentera
    • Artis       : Harry Sabar
    • Tahun   : 1979
    • Label     : D/D Record
    • Aliran    : Progressive Rock, Progressive Pop, Indonesiana Pop
  • Pencipta lagu: Harry Sabar, kecuali Khalwat Jiwa oleh Keenan Nasution & Harry Sabar; Resah oleh Harry Sabar, Addie MS, Odink Nasution
  • Aransemen Musik: Harry Sabar, bersama:
  • Candra Darusman, pada lagu Di Sejuk Malam
  • Addie MS, pada lagu Lazuardy, Resah
  • Keenan Nasution, pada lagu Khalwat Jiwa
  • Debby Nasution, pada lagu Lentera, Kala Daun Berguguran, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari ini, Terbenci Tapi…, Sekiranya’…
  • Marusya Nainggolan, pada lagu Lentera
  • Pengisi vokal: Harry Sabar, Noor Bersaudara (Vokal latar pada lagu Resah)
  • Pengisi piano/kibor/synthesizer : Candra Darusman, Addie MS, Keenan Nasution, Debby Nasution, Marusya Nainggolan
  • Pengisi bas: Addie MS, Keenan Nasution, Debby Nasution, Odink Nasution, Gauri Nasution, Matise
  • Pengisi gitar: Odink Nasution, Gauri Nasution, Jerry Sudiyanto, Kesawadjati, Matise
  • Pengisi drum: Harry Sabar, Keenan Nasution, Edy

Simak beberapa lagu dari album ini, selamat menikmati!

In Memoriam Bagoes AA: Jenius yang Terlupakan

Bagoes AA (sumber: liputan6.com)

Minggu sore, 28 Juni 2020, saya dikejutkan oleh status Facebook dari salah satu mantan jurnalis musik senior Dion Momongan yang berbunyi “Selamat jalan temen baik, Bagoes AAryanto II … ( info dr bro Raidy Noor )”. Musisi senior pemilik nama lengkap Bagoes A. Aryanto ini meninggal dunia pada Minggu, 28 Juni 2020 sekitar pukul 16:00 di RS Suyoto, Jakarta Selatan setelah cukup lama mengidap penyakit ginjal dan komplikasi. Ini cukup mengejutkan saya manakala saya masih sempat berbincang singkat dengan Almarhum kurang lebih sekitar satu tahun lalu soal peralatan keyboard (tentunya karena Almarhum merupakan keyboardist legendaris).

Nama Bagoes A Aryanto alias Bagoes AA mungkin terasa kurang familiar di kalangan pendengar musik jaman sekarang mengingat beliau lebih banyak berkarya di belakang layar sebagai produser dan arranger dan seolah hampir “terlupakan” begitu saja. Namun bagi penggemar musik era lampau (khususnya era 80’an) pastilah tidak asing dengan nama Bagoes AA. Saya pribadi mulai mengenal Bagoes AA lewat album kedua almarhum Dian Pramana Poetra berjudul Intermezzo (1984), yang mana di album itu, Bagoes AA bertindak sebagai music director sekaligus keyboardist.

Sejak tahun 1980’an hingga saat ini, Bagoes AA lebih banyak berkarya sebagai produser, music director, dan arranger. Karir bermusiknya dimulai di tahun 1979 saat lagu ciptaannya berjudul Mahajana berhasil masuk dalam kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1979 dan dinyanyikan oleh Louise Hutauruk. Lagu ini berhasil mendapat peringkat juara keempat dan penghargaan sebagai lirik terbaik. Tentu saja lagu ini pun berhasil mengemuka dan menjadi hits. Selanjutnya, Bagoes AA banyak bertindak sebagai komposer dan music director untuk beberapa penyanyi kenamaan seperti Vina Panduwinata, Dian Pramana Poetra, Fariz RM, Iwan Fals, January Christy, Ruth Sahanaya, dan masih banyak lagi. Karya-karya Bagoes AA yang sempat menjadi hits sepanjang karirnya antara lain Kubawa Kau Serta (Dian Pramana Poetra), Duniaku Tersenyum (Vina Panduwinata), Tersinggung (Ruth Sahanaya), Jangan Tutup Dirimu (Iwan Fals), dan masih banyak lagi.

Album solo pertama Bagoes AA “Ada yang Lain” (Union Artis, 1986) (source: kasetlalu.com)

Pada tahun 1986, Bagoes AA merilis album solo perdananya berjudul Ada yang Lain dibawah label Union Artis. Lagu ini berhasil menghasilkan hits seperti Ada yang Lain, Om Pimpa, Paseban Café yang dinyanyikan Dian Pramana Poetra, dan Intim yang dinyanyikan Fariz RM. Disusul dengan album kedua berjudul Anak Mami yang rilis pada 1990 masih dibawah label Union Artis dan menghasilkan hits berjudul Diary. Nama Bagoes AA sendiri mulai terangkat ketika membentuk grup vokal Kelompok Tiga Suara (K3S) bersama Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun. Grup inipun sukses melahirkan album 171/2 Tahun Keatas (1985), Bohong (1987), dan O … Ya? (1987).  Meskipun tergolong singkat, tapi K3S sukses melejitkan banyak hits yang sampai saat ini masih didengar dan dinyanyikan orang. Pada tahun 1983, Bagoes AA juga sempat membentuk Jakarta Rhythm Section. Sebuah proyek band yang digagas Fariz RM bersama Harry Sabar, Hafil Perdanakusuma, Iwan Majid, dan Bagoes AA sendiri.

Selamat jalan, Bagoes AA!

Jackson Records, Sebuah Label Pop Kreatif Paling Bergengsi Era 80’an!

Fenomena yang kerap terjadi di setiap dekade pada industri musik Indonesia adalah dua kubu musik dalam ranah pop yang berbeda dengan segmentasi pasar yang berbeda pula. Segmentasi pasar inilah yang kemudian justru merajuk pada pembagian kelas: kelas tinggi dan kelas rendah. Dua kubu musik pop tersebut ialah pop kreatif yang tidak lain adalah musik pop yang menggabungkan unsur jazz, funk, soul/R&B, dan rock disertai dengan teknologi mutakhir untuk penggarapan produksi aransemen musiknya dan lirik yang cerdas, serta pop cengeng yang merupakan musik pop disertai dengan aransemen musik yang mendayu-dayu dan lirik yang mendayu-dayu pula. Pop kreatif memiliki segmentasi pasar berupa masyarakat kelas menengah keatas yang sebagian besar didominasi anak-anak muda “idealis” (bahkan sebagian ada juga yang bilang orang kaya karena eksklusif dan berkelas), sementara pop cengeng memiliki segmentasi berupa masyarakat kelas menengah ke bawah yang terdiri atas pembantu rumah tangga, supir, dan lain semacamnya.

Isu fenomena kubu-kubuan antara musik pop kreatif dan musik pop cengeng ini sebenarnya sangat jelas bergaung pada era 1970’an dan 1980’an. Berbicara era 80’an, pop cengeng didominasi oleh label seperti Lollypop Records dan JK Records yang sukses melahirkan legenda seperti Rinto Harahap, Pance Pondaag, Dian Piesesha, atau Chintami Atmanegara. Sementara pop kreatif didominasi oleh label seperti Musica Studios, Prosound, Union Artis, dan Jackson Records.

Salah satu label papan atas yang eksis di paruh era pertengahan 70’an hingga 80’an adalah Jackson Records. Jackson Records adalah label yang didirikan seorang bernama Jackson Arief pada pertengahan era 1970’an dan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan term musik pop kreatif ini. Penggabungan musik pop dengan jazz serta funk and soul merupakan ciri khas utama dari pembentukan sound yang digagas oleh Jackson Records. Legenda musik seperti Dian Pramana Poetra, Vina Panduwinata, Ikang Fawzi, Ebiet G Ade, Vonny Sumlang, Utha Likumahuwa, bahkan Indra Lesmana hingga Titi DJ adalah sekumpulan nama besar yang sukses mengawali karir serta besar berkat tangan dingin Jackson Arief.

Tidak diketahui secara pasti album apakah dan dari penyanyi siapakah yang menjadi rilisan awal dan akhir dari label yang bermarkas di daerah Pluit, Jakarta Utara ini. Tapi kalau kita coba telisik dari awal berdirinya Jackson Records sekitar 1977, ada dua album yang dirilis Jackson di tahun itu. Dua album itu adalah 1+2=3 dari Coconut’s Band serta Album Special dari Farid Harja bersama grupnya Bani Adam. Sedangkan rilisan terakhir dari Jackson Records kemungkinan adalah Aku Cinta, Aku Rindu dari Irianti Erningpraja pada 1987 karena setelah tahun itu Jackson Records sudah tidak pernah terdengar lagi kabar dan rilisannya hingga hari ini.

Meskipun terkenal karena nama besarnya dalam membentuk term pop kreatif yang memadukan akar musik pop dengan jazz, R&B, soul, dan funk, Jackson Records juga terhitung produktif dalam merilis album bertemakan pop folk hingga rock. Sebut saja Ebiet G. Ade, Titiek Hamzah, dan Ikang Fawzi. Khusus Ebiet G. Ade dan Ikang Fawzi, kita masih sering mendengar nama dan eksistensi mereka di panggung musik tanah air hingga hari ini.

Oleh karena andil besar Jackson Records dalam pemebentukan term pop kreatif di Indonesia, tentu terdapat beberapa album yang dirilis Jackson Records dan menjadi masterpiece. Berikut Alunan Nusantara telah merangkum lima album yang berhasil menjadi masterpiece Jackson Records semasa jayanya:

  1. Dian Pramana Poetra – Kau Seputih Melati (1986)

Dian Pramana Poetra bersama Yockie Suryoprayogo pernah melakukan kolaborasi hingga menghasilkan album (satu-satunya) dari mereka berjudul Kau Seputih Melati. Dirilis pada 1986, album ini menghasilkan hit single yang kemudian menjadi everlasting hit dari Dian Pramana Poetra berjudul sama. Memang album ini agak berbeda dari dua album Dian Pramana Poetra sebelumnya: Indonesian Jazz Vocal (1983) dan Intermezzo (1984). Jika di dua album sebelumnya Dian Pramana Poetra banyak bereksplorasi dalam berbagai jenis musik jazz (dengan akar musik pop tentunya), di album ketiganya ini Dian Pramana Poetra seolah menghilangkan musik jazz yang cukup membesarkan namanya dan lebih banyak bereksplorasi dalam musik pop. Entah mungkin karena peran Yockie Suryoprayogo yang tidak lain merupakan arsitektur musik pop Indonesia modern sehingga terciptalah Kau Seputih Melati. Suara Dian Pramana Poetra yang empuk menambah kesejukan dari lagu-lagu dalam album ini yang keseluruhannya diaransemen oleh Yockie Suryoprayogo. Meskipun begitu, sepuluh track dalam album Kau Seputih Melati menjadi highlight yang wajib disimak untuk sekedar self-healing dari penatnya kehidupan.

2. Vina Panduwinata – Citra Ceria (1984)

Tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi, saat ini Vina Panduwinata berhasil menjadi diva handal yang dimiliki tanah air. Sudah banyak classic hits yang dihasilkan Vina Panduwinata dan terbukti hingga hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang. Sebenarnya Vina Panduwinata sudah mengawali karir bermusiknya di Jerman pada 1978 dan telah menghasilkan satu EP dalam format 7” vinyl berisi dua lagu: Java dan Singles Bar. Setelah itu, ia pulang ke Indonesia dan memulai kerjasamanya dengan Jackson Records. Citra Ceria adalah album ketiganya di Jackson Records yang bekerjasama dengan Addie MS sebagai music director sekaligus keyboardist di album ini. Album Citra Ceria pun meledak di pasaran dan berhasil melahirkan dua hits besar seperti Didadaku Ada Kamu dan Dia yang sampai hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang.

3. Indra Lesmana – Nostalgia (1984)

Indra Lesmana mengawali karirnya sebagai musisi jazz saat merilis album perdananya bersama ayahnya Jack Lesmana berjudul Ayahku Sahabatku (1978). Setelah itu, Indra Lesmana mendapatkan beasiswa ke Australia untuk memperdalam ilmu musiknya dan menghasilkan album kedua berjudul Children of Fantasy (1981). Di Australia pula, Indra Lesmana membentuk band bernama Nebula dan berhasil merilis satu album berjudul No Standing (1984). Sepulang dari Australia, Indra Lesmana ditawari Jackson Arief untuk merilis album bercorak pop jazz dibawah naungan Jackson Records. Tidak hanya ditawari merilis album pop jazz saja, tetapi juga ditawari menyanyi! Maka jadilah album Nostalgia sebagai album “pertama” Indra Lesmana ber-genre pop sekaligus juga menjadi album vokal “pertama” Indra Lesmana setelah sebelumnya banyak merilis album instrumental jazz. Meskipun tidak tergolong menakjubkan, akan tetapi Indra Lesmana memiliki timbre vokal yang unik dan khas. Setelah merilis Nostalgia, Indra Lesmana malahan menjadi rutin merilis album solonya yang bercorak vocal pop dengan basic jazz yang dimiliki Indra Lesmana setiap tahunnya selama sepuluh tahun lebih.

4. Ebiet G. Ade – Camellia II (1979)

Lagu Berita Kepada Kawan milik Ebiet G. Ade, siapa yang tidak kenal? Rasanya lagu ini hampir selalu bergema di berbagai kesempatan, terutama saat salah satu daerah di Indonesia terkena bencana alam. Lagu yang sudah kadung menjadi all time hits ini terdapat dalam album Camellia II yang dirilis Jackson Records pada 1979. Kepiawaian Ebiet dalam mengolah lagu bertemakan balada dengan lirik yang puitis menjadi daya tarik yang menunjang kesuksesannya dalam industri musik. Terlebih lagi, kesuksesan yang diraih di awal karir Ebiet berhasil mengangkat Jackson Records menjadi label papan atas. Selain Berita Kepada Kawan, album ini juga sukses melahirkan hit besar seperti Nyanyian Ombak, Cita-Cita Kecil Si Anak Desa, dan babak kedua lagu Camellia yang diberi judul Camellia II sesuai dengan judul album ini.

5. Ikang Fawzi – Preman (1987)

Ikang Fawzi tentu diketahui banyak orang sebagai rocker legendaris yang nyentrik baik dari segi penampilan maupun ketika dia bernyanyi. Orang tentu tidak akan pernah lupa suara serak-serak basahnya yang menyerupai penyanyi legendaris Rod Stewart. Album Preman yang dirilis Jackson Records pada 1987 bisa jadi merupakan album Ikang Fawzi yang paling diingat banyak orang hingga hari ini, apa lagi kalau bukan karena sebuah lagu berjudul sama yang menjadi ikon Ikang Fawzi sepanjang karirnya. Lirik di bait awal yang mudah diingat (“papcikpapap preman preman … ooeweeoo”) menjadi daya tarik lagu Preman. Kesuksesan yang diraih Ikang Fawzi di album ini tidak lepas dari tangan dingin Ian Antono sebagai music director.

Berikut mixtape lagu pilihan dari Jackson Records

Chrisye yang Menyiasati Zaman

Chrisye saat membaca Aktuil, majalah musik hits paruh era ’70-an (sumber: Majalah Aktuil)

CHRISYE Yang Menyiasati Zaman

Semua pasti setuju bila Chrisye merupakan penyanyi terbaik yang ada di Indonesia. Sudah lebih dari 20 album yang telah ia buat. Hampir semuanya menjadi hits dan terkenang hingga detik ini. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Itu karena lagu-lagu Chrisye menyiasati zaman..

Chrisye bersama Gipsy

Awal Karir

Pada awal karirnya bersama grup musik Gipsy (sebelumnya bernama Sabda Nada), Chrisye memainkan lagu-lagu beraliran rok progresif barat. Gipsy pada waktu itu masih menjadi grup musik kecil yang biasa manggung dari pesta ke pesta, dari festival ke festival. Namanya belum dikenal khalayak luas. Barulah pada tahun 1976, Gipsy membuat sebuah album fenomenal yang tak lekang oleh waktu. Bekerjasama dengan Guruh Sukarno Putra yang sangat senang dengan nuansa musik Bali, Gipsy yang memiliki corak musik rok progresif akhirnya memadukan musik yang dimainkannya dengan musik dari Gamelan Bali pimpinan Guruh Sukarno Putra. Guruh Gipsy, yang di dalamnya ada perpaduan musik rok dan etnik ini dianggap sebagai album rok progresif terbaik di Indonesia. Guruh berhasil memasukan warna baru dalam grup musik yang hanya merilis satu album ini. Permainan Chrisye sebagai pemain gitar bas dan vokalis di beberapa lagu tak boleh dilewatkan!

Era Akhir ’70-an

Pasca Gipsy, Chrisye tergabung dalam tiga proyek musik besar. Pertama, ajang Lomba Cipta Lagu Remaja tahun 1977, yang berhasil melejitkan namanya lewat lagu Lilin-Lilin Kecil ciptaan James F. Sundah. Perlu dicatat, sejak lagu inilah kerja sama Chrisye dengan penata musik Yockie Suryo Prayogo dimulai. Selanjutnya, adalah album Jurang Pemisah di mana ia dengan sangat unik berhasil membawakan musik rok yang diaransemen oleh Yockie Suryo Prayogo, dipadukan oleh vokal Chrisye yang begitu halus. Lalu pada akhir 1977, ada sebuah proyek musik yang diklaim sebagai proyek musik terbaik, terfenomenal, dan paling berpengaruh yang pernah ada di dunia musik Indonesia, yaitu lahirnya album Badai Pasti Berlalu. Album yang lahir dari kawan-kawannya yang berasal dari kawasan Pegangsaan, Jakarta, ini dianggap sebagai album yang berhasil merubah warna musik pop di Indonesia. Album ini pun dianggap sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

Pada era ini, Chrisye tuntas menjadi seorang rocker sejati. Sejak Guruh Gipsy yang membawa musik rok progresif menjadi lebih unik, album Sabda Alam (1978) yang merupakan album solo pertama Chrisye memberi kesegaran bagi dunia musik Indonesia, di mana musik pop yang manis diselingi dengan elemen-elemen dari musik rok progresif. Selanjutnya pada tahun 1979, album Percik Pesona, yang kini dianggap sebagai album terbaik Chrisye oleh beberapa kalangan anak muda, masih mengadopsi unsur yang sama, musik pop diiringi elemen musik rok progresif. Hanya saja, ada bumbu funk dan sedikit jazz pada album yang musiknya ditata oleh Chrisye, Yockie Suryo Prayogo, dan Fariz RM (pada 1 lagu) ini. Memasuki tahun 1980, ketika Chrisye merasa sudah saatnya menjadi penyanyi pop, dirilislah album Puspa Indah Taman Hati, yang merupakan soundtrack untuk film dengan judul yang sama. Meskipun masih dengan unsur rok progresif yang menyelingi beberapa lagu, namun materi pada album ini sudah lebih easy listening dibanding album-album sebelumnya. Lalu pada tahun 1981, di mana hubungan Chrisye dengan Yockie yang sudah ia bangun sejak tahun 1977 mulai renggang, mereka merilis album dengan tajuk Pantulan Cita. Sayang, albumnya tidak laku di pasaran. Musiknya beraliran rok progresif yang cukup sulit untuk diterima oleh khalayak pendengar.

Untuk sesi konser, Chrisye memiliki formasi grup musik pengiring yang sangat kuat. Formasi ini terdiri dari Chrisye pada gitar bas dan vokal, Yockie dan Roni Harahap pada kibor, Odink Nasution pada gitar elektrik, serta Fariz RM dan Keenan Nasution pada drum.  Grup musik inilah yang menemani Chrisye selama tur album. Mengusung aliran rok progresif, yang mana pada akhir ‘70-an aliran musik ini sedang digandrungi oleh anak-anak muda di Indonesia, Badai Band membawakannya dengan ciri khas sendiri. Lagu-lagu yang dibawakan merupakan lagu-lagu ciptaan sendiri dan berbahasa Indonesia, seperti lagu-lagu solo dari Chrisye. Badai Band mampu menyihir pendengar musik Indonesia dengan musik & lirik lagunya yang rumit dan tidak biasa. Lirik puitis dengan suara dari instrumen keyboard yang dimainkan oleh Yockie Suryo Prayogo dan Roni Harahap memberi ciri khas baru bagi musik pop di Indonesia.

Era 1983-1984

Sampul Album Metropolitan

Memasuki awal ‘80-an ketika trenmusik punk ala The Police masuk ke Indonesia, Chrisye bersama Erros Djarot dan Yockie Suryo Prayogo menyiasatinya dengan merilis album dengan nuansa musik yang menyerupai The Police, seperti yang mereka lakukan dalam trilogi album Resesi (1983), Metropolitan (1984), dan Nona (1984). Album ini mengusung aliran musik utama pop. Namun, ada aliran musik lain yang bisa ditemukan di tiga album ini, beberapa di antaranya ada yang bernuansa ska, new wave, bahkan sampai reggae pun ada. Untuk topik lagu, album-album ini selain membahas seputar cinta, juga banyak membahas seputar keadaan sosial. Lagu-lagu seperti Lagi-Lagi, Polusi Udara, Berita Ironi, dan Sarjana Kaki Lima adalah beberapa diantaranya. Isu dari obat-obatan terlarang, pendidikan, sampai isu ekonomi diangkat di tiga album ini.

Era Bersama Addie MS (akhir tahun 1984)

Memasuki pertengahan ‘80-an, Chrisye seolah mengakhiri era “progresif”-nya. Melalui lika-liku dan konflik dengan Yockie Suryo Prayogo, Chrisye memutuskan untuk “berpisah” dengan Yockie pada akhir tahun 1984. Setelah berpisah. Chrisye langsung merekrut penata musik baru yang saat itu sedang naik daun, yaitu Addie MS. Dari tangan Addie MS, lahirlah album Sendiri (1984) dengan nuansa musik pop yang melankolis namun tidak mendayu-dayu.

Era 1985-1986

Sampul Album Hip-Hip Hura

Kerjasamanya dengan Addie MS berlanjut hingga ke beberapa album berikutnya. Pada tahun 1985 sampai 1986, album Aku Cinta Dia (1985), Hip-Hip Hura (1985), dan Nona Lisa berhasil menjadi album yang sangat laris. Album tersebut memiliki corak musik yang sangat beda dengan album-album sebelumnya. Orang banyak menyebutnya pop kreatif dengan nuansa lagu yang lebih easy listening dan riang yang ciri khas album ini. Addie MS dan Adjie Sutama adalah penata musik di balik tiga album tersebut. Walaupun album ini sangat laris di pasaran, namun bagi pencinta musik Chrisye yang mengikuti karirnya sejak awal akan menganggap album ini dianggap biasa saja karena musiknya yang mengikuti selera pasar dan tidak idealis lagi seperti pada era-era sebelumnya.

Era 1988-1993

Pada akhir ‘80-an, selepas dari Addie MS dan Adjie Sutama, Chrisye masih melanjutkan karir bermusiknya dengan menggandeng penata musik lain. Penata musik yang sedang hype pada tahun itu adalah Younky Suwarno. Salah satu ciri khas Younky Soewarno adalah pemakaian alat musik digital di dalam musik ciptaannya. Sehingga membawa warna baru bagi pendengar musik di Indonesia. Chrisye sebagai penyanyi yang sudah top tak mau melewatkan kesempatan bekerjasama dengan penata musik yang sedang naik daun ini. Di tangannya, lahir 4 rilisan, yaitu Jumpa Pertama (1988), Pergilah Kasih (1989), Cintamu Tlah Berlalu (Mini album-1990), dan Sendiri Lagi (1993). Dari kerjasama inilah pada akhirnya melahirkan banyak lagu-lagu populer Chrisye, seperti Pergilah Kasih, Sendiri Lagi, Kisah Cintaku, Maafkanlah, dan masih banyak lagi. Musik yang diusung sudah tidak terlalu bertempo cepat lagi, memang lagi-lagi mengikuti selera pasar, namun hasilnya sangat diminati oleh masyarakat Indonesia.

Era 1996-2002                      

Seiring berjalannya waktu, seiring pula usia Chrisye bertambah, musik yang diusung Chrisye mengalami penurunan tempo menjadi lebih slow. Pada era ini, giliran Erwin Gutawa yang menjadi “komando” bagi musik dan lagu-lagu Chrisye. Dari kerjasama ini juga melahirkan banyak lagu yang pada akhirnya dikenal sampai saat ini, seperti Andai Aku Bisa, Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Damai Bersamamu, Kala Cinta Menggoda, dan masih banyak lagi. Album Akustichrisye (1996), Untukku (1997), Badai Pasti Berlalu Remake (1999), dan Dekade (2002)lahir dari tangan Erwin Gutawa.

Walaupun seluruh album hasil kerjasama dengan Erwin Gutawa ini berhasil diminati oleh masyarakat, tetapi dari sisi musikal ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Ketika bersama Erwin, Chrisye banyak mendaur ulang lagu-lagu lamanya menjadi lagu dengan musik yang baru yang diaransemen oleh Erwin Gutawa. Termasuk album fenomenal Badai Pasti Berlalu yang turut diaransemen ulang. Opini pribadi penulis, versi asli dari album tersebut sudah sangat bagus dan tidak perlu diotak-atik lagi. Hasilnya, masyarakat malah lebih mengetahui aransemen yang baru dibanding aransemen yang asli. Memang sangat disayangkan.

Album Terakhir

Di tahun 2004, Chrisye merilis album terakhirnya. Album ini sangat menyiasati zaman. Isinya berisi berbagai macam musisi baru dengan aliran musik yang berbeda. Setiap lagu pun diaransemen oleh masing-masing musisi tersebut. Ahmad Dhani, Tohpati, Naif, Peterpan, Project Pop, Ungu, Eross Chandra, dan Element adalah nama-nama yang sangat beruntung bisa bekerjasama di album tersebut. Hasilnya sangat memuaskan. Lagu-lagunya hampir semua menjadi hits. Panah Asmara, Jika Surga dan Neraka, dan Menunggumu adalah lagu-lagu yang sering diputar.

Penutup

Berkarir sejak muda hingga usia tua merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Konsistensinya dalam bermusik patut diacungi jempol. Chrisye yang berhasil melewati berbagai dekade dengan namanya yang tetap tenar adalah bukan sesuatu yang gampang ditiru oleh musisi lain. Beliau mampu melebur ke berbagai zaman, dant tentunya, musik yang diusungnya menyiasati zaman. Sehingga dapat diterima di berbagai kalangan yang hidup di berbagai dekade. Bahkan detik ini, percaya atau tidak, nama Chrisye sedang dikagumi lagi, tidak hanya karya-karyanya yang di era 90-an, tetapi sampai lagu-lagunya di era 70-an sedang sangat dikagum-kagumi lagi oleh anak-anak muda zaman kini. Hormat!

Chrisye sedang bernyanyi menggunakan pakaian batik (sumber: Buku “Chrisye: Sebuah Memoar Musikal” karangan Alberthiene Endah, 2007)

Rekomendasi

Dibawah ini, penulis beri rekomendasi 3 (tiga) lagu yang jarang didengar tapi bisa dibilang yang terbaik dari Chrisye dari masing-masing zamannya:

  • Era akhir ’70-an                     : Cita Secinta, Dirimu & Diriku, Pantulan Cita
  • Era 1983-1984                       : Anak Manusia, Romeo & Julia ‘83, Sayang
  • Bersama Addie MS (1984)  : Aku dan Dia, Malu, Hatimu Hatiku
  • Era 1985-1986                       : Masa Remaja, Pemuda, Huru-Hara
  • Era 1988-1993                       : Jumpa Pertama, Nostalgia Cinta, Seperti Dulu
  • Era 1996-2002                       : Negeriku, Kembalilah, Sahabat

Musik Saya Adalah Saya: Bukti Kejeniusan Yockie Suryoprayogo di Masa Muda

Pertengahan era 1970’an adalah era di mana pop progresif lahir sebagai tonggak revolusi perkembangan musik pop di Indonesia. Salah satu pencetus dari pop progresif di Indonesia adalah Yockie Suryoprayogo. Arsitektur musik pop Indonesia yang telah lebih dulu sukses berkarir dengan supergrup Godbless awal era 1970’an sebelum akhirnya melahirkan mahakarya Badai Pasti Berlalu dan album-album milik Chrisye di era setelahnya. Yockie Suryoprayogo – selain sukses menjadi pelopor pop progresif di Indonesia juga sukses mempelopori lagu-lagu berbahasa Indonesia yang kaya akan makna sastrawi setelah sebelumnya musik Indonesia banyak dihiasi oleh lirik-lirik berbahasa asing (Inggris).

Akhir era 1970’an, tepatnya pada 1979, Yockie Suryoprayogo merilis album berjudul Musik Saya Adalah Saya di bawah label Musica Studios. Kita bisa menebak kalau dari judulnya saja, Musik Saya Adalah Saya adalah bentuk kejeniusan, idealisme, dan totalitas seorang Yockie dalam membuat musik pop yang indah dan megah. Ajaibnya, eksperimen Yockie dalam memproduksi sekaligus mengolah nada-nada dalam album ini dilakukan di usia yang masih relatif sangat muda, 25 tahun!

Tidak mudah memang membuat karya eksperimental berdurasi panjang lebih dari sepuluh menit dengan membagi part berbeda untuk setiap aransemen terlebih di usia yang relatif sangat muda. Tetapi Yockie bisa melakukannya dengan penuh totalitas tanpa batas! Sederet amunisi peralatan piano dan synthesizer yang biasa digunakan Yockie seperti Minimoog, Hammond, dan Farfisa turut menghiasi album ini. Dalam Musik Saya Adalah Saya, Yockie berkolaborasi dengan sederet penyanyi seperti Chrisye, Rafika Duri, Fariz RM, Keenan Nasution, Harvey Malaihollo, Berlian Hutauruk, Achmad Albar, Andi Meriem Mattalatta, Bram, bahkan hingga Sys NS dan Kasino Warkop pun turut mengisi album ini!

Sebuah tembang eksperimental berjudul Theme Song: Musikku Adalah Aku menjadi daya tarik paling utama sekaligus menggambarkan isi dari keseluruhan album. Musikku Adalah Aku menceritakan tentang kegigihan seseorang dalam mempertahankan idealismenya dalam bermusik, serta potret miris seorang musisi yang sudah susah-susah menciptakan sebuah lagu namun hanya dibayar oleh sebungkus rokok. Lagu ini dibuka oleh pembacaan sajak oleh Sys NS lalu disusul oleh vokal sekumpulan penyanyi seperti Chrisye, Rafika Duri, Fariz RM, Harvey, Andi Meriem, Berlian Hutauruk, Bram, serta Yockie sendiri. Satu catatan penting, Musikku Adalah Aku adalah lagu yang merupakan perpaduan antara musik klasik yang menampilkan orkestra dengan musik progressive rock dari bebunyian synthesizer yang dihasilkan Yockie sendiri.

Yockie Suryoprayogo (bermain Rhodes piano) latihan bersama Idris Sardi untuk Musik Saya Adalah Saya, 1979 (foto dok. Denny Sakrie)

Tidak berhenti sampai di situ, album ini kemudian menampilkan Kasino “Warkop” menyanyikan theme song Cinderella yang isinya merupakan sindiran terhadap orang-orang yang kurang mengerti seni hingga para elit politik yang menjadi koruptor. Cukup unik memang pelawak semacam Kasino “Warkop” bisa berkolaborasi dengan musisi sekelas Yockie Suryoprayogo. Memang cara Kasino menyampaikan liriknya tidak bisa terpisahkan dari sifat jenakanya, namun mesti dipahami bahwa pesan yang terkandung dalam lirik gubahan Yockie di lagu Cinderella tidaklah main-main. Di album ini, kita juga bisa menyimak extended version (versi panjang) salah satu hit Chrisye ciptaan Yockie berjudul Angin Malam yang sebelumnya telah lebih dulu rilis sebagai salah satu soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977). Di versi panjang lagu Angin Malam, Yockie mengajak personil Badai Band yang terdiri dari Yockie Suryoprayogo (keyboard/synth), Chrisye (bass/vokal), Roni Harahap (piano), Fariz RM (drum), Keenan Nasution (drum), dan Odink Nasution (guitar) untuk kembali mengaransmen ulang lagu ini dengan tambahan berupa ketukan drum dan raungan gitar yang lebih menghentak.

Selain Angin Malam, ada juga lagu Cakrawala Senja karya Fariz RM yang dinyanyikan Keenan Nasution yang di album ini diaransemen ulang Yockie dengan tidak banyak memberikan pengubahan dari versi asli yang dirilis di album solo Keenan berjudul Di Batas Angan-Angan (1978) yang diaransemen Addie MS dengan sentuhan orkestrasinya. Juga ada lagu Mesin Kota milik Chrisye dalam album debut Yockie & Chrisye berjudul Jurang Pemisah (1977) yang di album ini dinyanyikan Achmad Albar, dan Duka Sang Bahaduri yang pertama dinyanyikan Chrisye di album Sabda Alam (1978). Karena album Musik Saya Adalah Saya bersifat seolah-olah seperti pementasan opera musikal, maka album ini pun diakhiri dengan lagu Akhir Sebuah Opera karya Fariz RM bersama Vokal Grup SMA III Jakarta yang pertama rilis dalam debut perdana Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1977, kemudian di album ini dinyanyikan oleh semua penyanyi yang terlibat dan diaransemen Badai Band.

Yockie Suryoprayogo mementaskan Musik Saya Adalah Saya di Balai Sidang Senayan, Jakarta 1979 (foto dok. Denny Sakrie)

Musik Saya Adalah Saya adalah sejarah penting yang pernah ditorehkan seorang Yockie Suryoprayogo di usianya yang baru menginjak 25 tahun terhadap industri musik Indonesia. Semua karya dalam album ini dapat terdengar secara nyata dibuat sedemikian rupa dengan idealisme Yockie Suryoprayogo yang tidak main-main. Hingga hari ini, 40 tahun berlalu, keseluruhan lagu dalam Musik Saya Adalah Saya masih tetap menakjubkan dan cukup bikin merinding apabila didengarkan. Hingga kini, belum ada album Indonesia yang bisa menyamai Musik Saya Adalah Saya, terlebih dari sisi idealisme. Bagi Anda penggemar progressive rock, boleh saja lagu ini mengingatkan Anda terhadap Journey to the Center of the Earth – sebuah mahakarya dari supergrup Yes asal United Kingdom dengan Rick Wakeman sebagai leader-nya.

Top 5: Saleh Husein

Saleh Husein alias Ale adalah gitaris asal Jakarta yang tergabung dalam dua band independen sekaligus: The Adams serta White Shoes & The Couples Company. Meskipun sama-sama tumbuh besar dan berkembang di Institut Kesenian Jakarta dan menjadi pioneer dari skena musik independen di Indonesia, kedua band Ale ini berbanding terbalik dari segi musik. The Adams lebih condong ke britpop dan rock, sedangkan White Shoes & The Couples Company berkiblat ke retro pop yang mengusung tema musik 60 dan 70’an. Karena kehidupan bermusiknya yang amat lekat dengan musik era nostalgia, berikut Alunan Nusantara telah merangkum top 5 lagu Indonesia pilihan Saleh Husein:

  • Orkes Kelana Ria – Ratapan Anak Tiri (Ya Mahmud/Irama Records, 1963)

Memasuki era 1960’an, sebagai akibat dari pelarangan akan konsumsi musik barat, “kecintaan” akan “musik produk lokal” ditandai dengan masuknya musik pop melayu lewat sekumpulan kelompok musik berbentuk orkes. Salah satu orkes yang cukup populer dan menarik perhatian di era itu adalah Orkes Kelana Ria. Salah satu lagu Orkes Kelana Ria berjudul “Ratapan Anak Tiri” menceritakan tentang seorang anak yang ditinggal Ibu kandungnya untuk selamanya, lalu sang ayah menikah lagi dan sang anak diasuh oleh Ibu tirinya yang punya kelakuan jahat (hey! ini terdengar familiar di sinetron televisi era masa kini!). Namun, alih-alih membawa aransemen musik sendu, lagu “Ratapan Anak Tiri” ini malah punya groove yang cukup asik dan membuat badan kita seolah-olah ingin bergerak mengikuti irama musik.

  • Orkes Sinar Kemala & A. Kadir – Penganten Baru (Self Titled/Lokananta, 1950’s)

Sebuah lagu tentang harapan yang dipanjatkan terhadap sepasang pria dan wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan. Dibalut dengan musik melayu yang sederhana namun tetap tidak terdengar ‘basi’ sampai sekarang. Jenius!

  • Orkes Sinar Kemala & A. Kadir – Suara Jiwaku (Kisah Dunia/Lokananta, 1950’s)

Mungkin sekilas ketika mendengarkannya, Anda mungkin akan mengira ini adalah Rhoma Irama. Dari segi cengkok, melodi, sampai irama lagu memang identik dengan Soneta Group, tapi ini adalah sebuah lagu dari Orkes Sinar Kemala bersama A. Kadir yang rilis jauh sebelum Rhoma Irama memulai karir panjangnya. Tapi mungkin kita boleh beranggapan bahwa akar musik Rhoma Irama berawal dari sini, atau bisa jadi terinspirasi dari lagu ini.

  • Elly Kasim – Bunga Serodja (Elly Kasim dengan Gajanja Jang Tersendiri/Irama, 1966)

Mungkin ini adalah salah satu lagu pop melayu era 60’an yang sampai saat ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang. Bahkan sebagian generasi muda masih ada yang mengetahui lagu ini. Salut bagi orang-orang yang masih peduli lagu seperti ini!

  • Munif dan Orkesnja – Naghm El Uns (Nada dan Do’a/Diamond, 1960’s)

Siapa yang punya ekspektasi kalau musik Arab dengan lirik bahasa Arab dipadukan dengan musik disko dan funk? Mungkin tidak pernah. Tapi lagu “Naghm El Uns” dari Munif dan Orkesnja berkata demikian. Lagu ini memang out of the box. Lagu ini seolah menggabungkan unsur “dunia” lewat balutan aransemen musik disko dan funk dan “akhirat” lewat melodi serta liriknya. Bayangkan seandainya ada musisi zaman sekarang yang menggunakan trik seperti ini di lagunya, akan bagaimana jadinya, ya?

Chrisye – Nona

Cover album Chrisye “Nona”

Informasi Album:

Judul   : Nona

Artis    : Chrisye, Erros Djarot, Yockie Suryo Prayogo, Hetty Koes Endang

Tahun  : 1984

Label   : PT. Musica Studio’s

Aransemen Musik : Yockie

Pengisi vokal : Chrisye, Hetty Koes Endang, Yockie (vokal latar)

Pengisi keyboard : Yockie

Pengisi bass : Chrisye

Pengisi gitar : Ian Antono (God Bless)

Pengisi trombone : Pram

Pengisi drum : Uce Hudioro

Album ini merupakan proyek trio Chrisye, Yockie Suryo Prayogo, dan Erros Djarot yang terakhir semenjak album Resesi (1983), dan Metropolitan (1984). Album ini lahir karena trio tersebut masih yakin akan musik yang mereka tawarkan bagi pendengar musik Indonesia. Namun, kehendak berkata lain. Album ini tidak begitu populer di pasaran. Hanya dua lagu saja, yaitu Berita Ironi  dan Sayang yang cukup populer. Yang lainnya sempat diputar di berbagai radio namun tak begitu populer.

Kita lupakan sejenak masalah komersial dari album ini, mari kita lihat sisi musikalnya. Album ini menawarkan warna musik serta tema lagu yang beragam. Pop-progresif tetap menjadi kunci utama. Namun ada pula yang lain seperti jazz-pop, semi-ska dengan sentuhan melayu, pop yang mellow, bahkan new wave yang sangat kental! Tema lagunya pun beragam, mulai dari percintaan, alam, hingga masalah sosial. Penasaran seperti apa? Simak ulasannya dibawah ini.

Side A

1. Berita Ironi

Album ini dibuka dengan lagu Berita Ironi yang cukup populer di kalangan masyarakat. Lagu ini bercerita tentang permasalahan sosial yang terjadi pada waktu itu. Lagu ini memiliki corak agak ska. Ini ditunjukan dengan permainan gitar dari Ian Antono (God Bless) yang irit tetapi sangat melengkapi. Uniknya, pada bagian reff, lagu ini berubah menjadi agak melayu. Sebuah lagu yang cukup unik.

2. Sayang

Lagu kedua adalah lagu yang sangat romantis. Mungkin salah satu yang paling romantis yang pernah ada di Indonesia. Lagu Sayang yang dinyanyikan duet dengan Hetty Koes Endang ini memang sangat cocok didengarkan dengan dua sejoli yang sedang memadu kasih. Diiringi dengan musik yang jazzy bertempo lambat, lagu ini seharusnya menjadi everlasting hits dan sangat potensial untuk menjadi lagu terbaik dari Chrisye.

3. Nona

Lagu terbaik yang ada di album ini! Di lagu ini, trio ini menunjukan kemampuan bermusik mereka yang modern dan mengikuti tren populer pada saat itu, yaitu new wave. Dibuka dengan permainan synthesizer Yockie yang sangat new wave, dan sepanjang lagu diiringi dengan synth bass yang sangat khas dari musik new wave. Untuk pembaca yang suka dengan The Upstairs atau Goodnight Electric, lagu ini bisa menjadi referensi baru bagi pembaca yang menggemari musik new wave,

4. Selamat Datang Anakku

Sesuai dengan judulnya, lagu ini menceritakan tentang rasa bahagia ketika sang buah hati lahir. Lagu ini dibuka dengan intro yang cukup panjang dengan permainan piano Yockie yang sangat manis.

5. Gadis Manja

Lagi-lagi trio ini menunjukan kreatifitasnya. Lagu ini adalah sebuah lagu konsep. Menceritakan tentang seorang anak muda yang melamar seorang gadis. Namun, hubungan tersebut tak direstui oleh sang ayah si gadis. Konsep cerita tersebut tergambar sangat baik lewat lagu ini. Chrisye (anak muda), Hetty Koes Endang (gadis), dan Yockie (ayah si gadis) memainkan perannya dengan baik. Ketika lagu dinyanyikan oleh Chrisye, tempo dan suasana lagunya riang, menunjukan keoptimisan si pemuda tersebut. Ketika masuk ke bagian Hetty, tempo lagu melambat disertai vokalHetty yang kuat, menunjukan ketegangan dari hubungan mereka. Dilanjutkan dengan bagian Yockie sebagai ayah dengan suaranya yang berat menunjukan sosok ayah yang galak. Kemudian dilanjutkan dengan vokal Chrisye dengan nada yang agak lesu, menunjukan kekecewaan si pemuda terhadap reaksi ayah si gadis. Lagu kemudian dilanjutkan dengan selingan permainan keyboard Yockie, lalu lagu kembali lagi ke konsep sebelumnya. Hmm… sebuah lagu dengan konsep yang menarik, bukan?

Side B

6. Hilangnya Sebuah Pribadi

Sisi B album ini dibuka dengan lagu yang menunjukan tanda tanya besar atas hilangnya mental pejuang anak-anak muda. Digambarkan dalam lagu ini bahwa anak-anak muda pada zaman itu tidak menunjukan kalau dia adalah pemuda yang baik. Diibaratkan bahwa pemuda ini sudah kehilangan mental dan jati dirinya.

7. Lagu Untukmu

Di lagu ini, Chrisye kembali berduet dengan Hetty Koes Endang. Menceritakan tentang hubungan persahabatan yang telah terjalin lama, namun harus kandas di tengah jalan karena takdir yang berubah. Bisa dibilang lagu ini juga merupakan sebuah lagu perpisahan.

8. Sarjana Kaki Lima

Lagu ini sebenarnya sangat potensial untuk menjadi hits karena memiliki konsep yang bagus. Lagu ini menceritakan tentang susahnya pemuda dalam mendapatkan kerja setelah mendapat gelar sarjana. Alhasil, si pemuda itu lebih memilih membuka usaha kaki lima daripada harus melamar kerja. Lagu ini diiringi dengan musik dan lirik yang memberi semangat kepada pendengarnya.

9. Salam Hangat

Untuk para aktivis pecinta lingkungan, lagu ini cocok untuk kalian! Lagu ini menceritakan tentang rasa hormat dan terima kasih kepada kalian yang telah menjaga alam ini dengan baik. Karena seiring berjalannya waktu, alam kita ini semakin rusak. Maka dari itu, ajakan dalam lagu ini adalah harus adanya langkah dalam menjaga lingkungan yang terus menerus dan jangan sampai berhenti.

10. Biarkan ‘ku Sejenak

Lagu terakhir dalam album ini. Atau bisa disebut juga sebagai lagu terakhir Chrisye bersama Yockie. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang lelah dengan pekerjaan sehari-harinya, sehingga ia membutuhkan waktu untuk istirahat dan bermesra-mesraan dengan kekasihnya.