Noor Bersaudara

Tidak banyak yang tahu tentang karir musik seorang Yanti Noor. Khalayak umum lebih mengenal beliau sebagai istri dari Alm. Chrisye, yang lebih dahulu meninggalkan kita pada tahun 2007. Di balik perannya sebagai seorang ibu dan istri bagi keluarganya, Yanti Noor nyatanya memiliki karir musik yang cukup cemerlang

Yanti memulai karir musiknya pada awal tahun 1960-an dengan membentuk band anak-anak bersama saudara-saudaranya. Dari sinilah nama Noor Bersaudara didapat, yaitu dari personilnya yang semuanya masih bersaudara. Noor Bersaudara kerap tampil di acara-acara musik yang diadakan oleh TVRI. Di luar penampilan di TVRI, Noor Bersaudara juga aktif mentas di berbagai ajang lomba. Selain itu, toko swalayan dan tempat hiburan selalu menjadi incaran Noor Bersaudara untuk unjuk gigi. Berkat penampilannya yang menarik perhatian, namanya mulai dikenal oleh publik.

Ketenarannya membuat Noor Bersaudara akhirnya dilirik oleh salah satu label kenamaan di ibu kota, yaitu Pramaqua. Tahun 1975 menjadi tahun perdana bagi Noor Bersaudara untuk merilis album. Mereka berada satu album dengan Prambors Group yang berada di sisi B album ini. Berkat ketenaran yang telah dicapai sebelumnya, penjualan album ini pun cukup laris di pasaran.  Album perdananya ini membuat Noor Bersaudara mendapat julukan sebagai “grup pertama di Indonesia dengan aransemen vokal progresif”. Julukan tersebut didapat dari ciri khas mereka saat melantunkan repertoar-repertoarnya.

Keunikannya ini rupanya menarik perhatian pelaku musik saat itu. Alhasil, Noor Bersaudara kembali merilis album pada tahun 1977 di bawah arahan penata musik jazz handal, Jack Lesmana. Jack dengan combo-nya, yaitu Karim Suweileh, Benny Likumahuwa, Perry Pattiselanno, dan sang anak, Indra Lesmana yang sangat kental dengan unsur jazz-nya berhasil memadukan musik jazz dengan aransemen vokal khas Noor Bersaudara yang harmonis dan rapih. Hasilnya menjadi sesuatu yang unik dan luar biasa. Kelak pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan album ini di urutan ke-88 dalam 150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa.

Pada tahun yang sama, Noor Bersaudara juga terlibat di Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 yang kelak album ini berperan dalam mengubah arus musik pop di Indonesia. Di album tersebut, Noor Bersaudara terlibat di 4 karya peserta LCLR, yaitu Tuhan (bersama Ferdy Fardian) karya Masri, serta 3 lagu karya Vocal Group SMA III, yaitu Angin (bersama Dhenok Wahyudi dan Chrisye), Di Malam Sang Sukma Datang (bersama Chrisye), dan Akhir Dari Sebuah Opera. Seluruh lagu tersebut di aransemen oleh Yockie Suryo Prayogo, Keenan Nasution, dan Donny Fattah.

Di samping karirnya bersama Noor Bersaudara, suara Yanti juga bisa kita dengar di album musisi lain. Keterlibatan suara Yanti bisa kita dengar pada album Selangkah Ke Seberang (1979) dari Fariz RM pada lagu “Mega Bhuana” (pemain gitar bas pada lagu ini adalah Chrisye, saat itu belum menikah), “Bisik Perindu”, dan “Fajar Yang Terpaksa”; album Lentera (1979) dari Harry Sabar pada lagu “Resah”; dan menjadi vokal pendukung pada album “Sapa Semesta” (1982) dari Raidy Noor yang juga merupakan saudara kandungnya.

Karir musik Yanti berhenti saat ia menikah dan memutuskan untuk lebih ingin mengurus rumah tangganya bersama sang suami, Chrisye, pada tahun 1982. Walaupun sebelumnya mereka pernah berada dalam sebuah lagu bersama-sama, namun Yanti memutuskan untuk tidak melanjutkan karir bermusiknya dan lebih ingin fokus kepada rumah tangganya.

Kehadiran Yanti sebagai istri cukup mempengaruhi Chrisye dalam gaya bermusiknya. Pasca menikah dengan Yanti, Chrisye cenderung merilis album dengan gaya musik yang lebih “nge-pop” dibanding album-album sebelumnya yang cenderung beraliran progresif. Beberapa lagu seperti “Malam Pertama”, “Hening”, dan “Anak Manusia” dari album Resesi yang dirilis di tahun 1983 adalah beberapa contohnya. Memasuki pertengahan 80-an, Chrisye muncul ke publik dengan gaya barunya yang lebih riang dan cerah dengan dirilisnya beberapa lagu bertempo riang seperti “Aku Cinta Dia”, “Hip-Hip Hura”, dan “Anak Sekolah”. Lagu-lagu tersebut dijajal oleh Chrisye karena sangat menjual di pasaran. Alasannya karena Chrisye saat itu butuh lagu yang menjual agar dapat memenuhi nafkah bagi keluarganya. Karena lagu-lagunya banyak sekali yang menjadi hits, nama Chrisye semakin melambung tinggi menjadi penyanyi papan atas tanah air.

Momen paling menarik Yanti dalam karir bermusik Chrisye adalah di tahun 1997 ketika Chrisye melakukan proses rekaman untuk album Kala Cinta Menggoda. Di dalam album tersebut ada sebuah lagu berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” karya Taufik Ismail. Ketika proses rekaman lagu tersebut, Chrisye beberapa kali tidak bisa menyanyikan syair yang ternyata syair tersebut merupakan interpretasi dari QS: Yaasin ayat 65. Chrisye kerapkali menangis ketika hendak take vocal lagu tersebut. Sampai satu waktu, Chrisye mengajak Yanti untuk pertama kali seumur hidupnya untuk menemaninya di studio ketika rekaman lagu ini sedang berlangsung. Yanti yang menyetujui permintaan sang suami akhirnya hadir diluar ruangan rekaman sembari menunggui sang suami yang sedang take vocal. Tak butuh waktu lama, Chrisye berhasil menyanyikan lagu ini dalam satu kali take vocal dengan mudah kala sang istri menemaninya di studio rekaman. Di dalam album ini juga Yanti menyumbang satu buah syair untuk lagu berjudul “Negeriku” yang ia tulis bersama Rina RD.

Saat ini, Yanti sudah tiada di dunia ini. Beliau sudah pergi ke dunia yang lain, bersama sang kekasih yang sudah mendahuluinya, Chrisye. Mari sejenak lantunkan doa bagi mereka agar senantiasa berada di tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s