Badai Pasti Berlalu yang Tak Mungkin Berlalu

Cover album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu (1977) (source: Wikipedia)

Semua orang boleh jadi setuju kalau Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album terkeren sepanjang masa. Bagaimana tidak, album yang menjadi tonggak revolusi musik pop Indonesia di era pertengahan tahun 1970’an ini memiliki daya magis yang dapat membuat setiap orang merinding ketika mendengarnya. Hingga hari ini, terhitung masih sulit ditemukan tandingannya.

Badai Pasti Berlalu – awalnya merupakan sebuah novel karya Teguh Karya yang terbit pada 1974. Mulanya, potongan demi potongan kisah di novel ini diterbitkan di harian Kompas pada 1972 sebelum akhirnya diterbitkan dalam satu cerita utuh dua tahun setelahnya. Hingga akhirnya, Badai Pasti Berlalu mencapai magnum opus ketika difilmkan hingga dibuat soundtrack lagunya pada 1977.

Original soundtrack Badai Pasti Berlalu lahir atas inisiasi Teguh Karya yang meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack dari salah satu film yang digarapnya. Eros yang saat itu baru pulang dari menempuh studi di Jerman menerima tantangan tersebut. Pada 1975, Eros Djarot bersama bandnya yang dibentuknya di Jerman saat itu, Barong’s Band, menggarap soundtrack dari salah satu film Teguh Karya berjudul Kawin Lari, yang dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

Ketika Eros Djarot pulang dari Jerman ke Indonesia, ia mempunyai keinginan yang mulia: meneruskan visi dan misinya bermusik dengan gaya Indonesia. Perlu dicatat, sebelum era Badai Pasti Berlalu muncul banyak band Indonesia sangat terpengaruh dengan musik Barat, contohnya seperti Koes Plus dan AKA yang mana mereka tak jarang membawakan lagu berbahasa Inggris. Dan anak-anak muda di era itu pun semuanya mengkonsumsi musik-musik barat yang didominasi progressive rock. Akibat dari pengaruh budaya tersebut, musik Indonesia pun terpinggirkan sehingga tidak ada satupun anak muda yang mengkonsumsi musik Indonesia. Musik Indonesia ketika itu hanya sebatas menjadi konsumsi para pembantu alias Asisten Rumah Tangga. Melihat hal ini, Eros Djarot pun jengah dan membentuk Barong’s Band yang sesuai dengan visinya: bermusik dengan gaya Indonesia.

Album Original Soundtrack Kawin Lari pun berhasil menuai sukses. Setahun setelahnya, Teguh Karya kembali meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack untuk film yang digarapnya berjudul Badai Pasti Berlalu. Eros pun segera mengumpulkan nama-nama yang kelak menjadi legenda musik Indonesia untuk membantunya dalam menggarap soundtrack film yang kelak menjadi magnum opus ini.

Nama pertama yang diajak Eros Djarot dalam penggarapan soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah Christian Rahadi alias Chrisye. Ketika itu, Chrisye baru saja memulai meniti karir bermusiknya. Selain baru saja menikmati karirnya dengan Guruh Gipsy, Chrisye baru saja dikenal karena mempopulerkan mega hit Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah yang termasuk ke dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1977. Sejak awal, Eros Djarot memang sudah jatuh cinta terhadap suara Chrisye. Pencarian pun berlanjut ke ranah keyboardist. Eros pun memilih Yockie Suryoprayogo yang saat itu sudah dikenal sebagai keyboardist supergrup God Bless. Permainan keyboard Yockie yang memang penuh dengan nuansa progressive rock diharapkan akan memberi warna keren dalam soundtrack Badai Pasti Berlalu, dan terbukti benar. Selain itu pula, Eros mengajak Fariz RM. Fariz RM yang ketika itu masih tercatat sebagai siswa SMA Negeri III Jakarta “diculik” Eros, Yockie, serta Chrisye untuk masuk sebagai drummer dalam proyek ini. Secara otomatis, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah awal karir dari musisi jenius pelopor musik city pop di Indonesia era setelahnya. Eros pun kemudian mengajak Keenan Nasution, Debby Nasution, dan Berlian Hutauruk dalam project ini. Suara Berlian yang terkenal dengan seriosa-nya ini awalnya ditolak oleh Teguh Karya karena “menyeramkan seperti kuntilanak”. Namun, Eros dan Yockie tak setuju dengan penolakan itu karena menurut mereka suara Berlian memiliki chemistry yang dapat membuat original soundtrack Badai Pasti Berlalu menjadi penuh warna. Akhirnya, Teguh Karya pun melunak dan setuju.

Eros Djarot dan kawan-kawan pun mulai mengumpulkan sejumlah tiga belas lagu untuk masuk sebagai soundtrack dari film Badai Pasti Berlalu. Lagu-lagu tersebut antara lain seperti Pelangi, Merpati Putih, Matahari, Serasa, Khayalku, Angin Malam, Merepih Alam, Semusim, Baju Pengantin, Cintaku, dan tentu saja Badai Pasti Berlalu. Serta dua buah lagu instrumental berjudul E & C & Y serta Merpati Putih yang kemudian dibikin versi instrumentalnya. Karena satu dan lain hal, original soundtrack Badai Pasti Berlalu versi asli yang dinyanyikan Chrisye dan Berlian Hutauruk gagal masuk ke dalam alur film. Sehingga lagu-lagu yang masuk ke dalam alur film adalah versi yang dinyanyikan Broery Pesolima yang digarap bersama De Meicy.

Cover album Ost. Badai Pasti Berlalu versi dalam film yang dinyanyikan Broery Pesulima (source: indolawas.blogspot.com

Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu digarap Eros Djarot dan kawan-kawan dengan penuh spirit  idealisme. Tak ada niat bagi mereka untuk membuat album ini supaya laku keras di pasaran dan nama mereka pun menjadi terkenal di kemudian hari. Bahkan, tak jarang mereka harus ‘nombok’ karena saking idealisnya. Karena hal ini pula, saat album selesai digarap, tidak ada produser yang bersedia untuk mengedarkannya karena dianggap terlalu tinggi untuk standar musik pop Indonesia ketika itu. Beruntung salah satu cukong bersedia untuk mengulurkan bantuan. Cukong tersebut bersedia menjual album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu di salah satu toko kaset di Glodok yang ketika itu didominasi musik pop cengeng dan dangdut. Tanpa disangka-sangka, album ini menuai sukses ketika lagu Merepih Alam banyak diputar di radio-radio ketika itu. Sebuah pencapaian luar biasa yang diterima Eros Djarot dkk. atas penggarapan album original soundtrack Badai Pasti Berlalu yang penuh dengan idealisme ini.

Kesuksesan atas album original soundtrack Badai Pasti Berlalu ini kemudian melahirkan permasalahan yang berujung pada hak cipta dan royalti. Pasalnya, album ini tidak didistribusikan secara luas sehingga versi awal dari kaset dan piringan hitam album ini tergolong rare dan menjadi perburuan besar-besaran para kolektor hingga saat ini. Beberapa dekade setelahnya, masalah ini berbuntut ke pengadilan yang kemudian menyeret nama Eros Djarot dan Berlian Hutauruk. Dalam penggarapan original soundtrack Badai Pasti Berlalu, masing-masing personel tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Ketika pekerjaan mereka selesai dan sudah menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Di kalangan musisi 1970-an, hal tersebut adalah praktik yang lazim.

Selang 22 tahun kemudian, tepatnya di tahun 1999, Chrisye bersama dengan Erwin Gutawa merilis kembali album Badai Pasti Berlalu. Mereka menggarap ulang keseluruhan lagu dalam album ini dengan aransemen baru yang lebih modern. Dari album inilah kemudian lahir hits besar Chrisye, Cintaku, dengan versi yang banyak dikenal orang sekarang ini. Sebagian orang banyak menyangka kalau lagu Cintaku versi tahun 1999 adalah versi sesungguhnya. Mereka tidak tahu kalau lagu Cintaku versi aslinya sudah ada tahun 1977 dengan aransemen yang lebih magis daripada yang banyak dikenal sekarang ini.

Cover album Badai Pasti Berlalu (2nd version) dari Chrisye bersama Erwin Gutawa (source: http://musica.id)

Walau bagaimanapun, terlepas dari segala pro kontra yang ada, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album yang masih tetap bisa dinikmati di segala zaman dan tidak terdengar kuno. Terbukti, sampai saat ini masih banyak orang yang menikmati album ini. Boleh saja judul albumnya Badai Pasti Berlalu, tapi daya magis yang terlahir dari lagu-lagu di album ini nampaknya tidak akan pernah berlalu. Boleh jadi, selamanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s