Djanger Bali: Album “Jazz Indonesia” Pertama di Indonesia

Cover album Djanger Bali karya Tony Scott and The Indonesian All-Stars (photo source: Wikipedia)

Segala sesuatu yang ada di dunia ini, memang berkiblat pada Amerika Serikat. Musik, film, fashion, hingga pertunjukkan seni di dunia ini semuanya berkiblat pada Amerika. Meskipun konten dari produk yang dihasilkan merepresentasikan budaya yang terdapat di negara setempat, tapi tetap muatan-muatan yang mendukung produksi konten tersebut berkiblat pada Amerika Serikat. Begitupun dengan musik, khususnya musik jazz. Musik jazz lahir dan berkembang di negara Amerika Serikat. Meskipun negara-negara lain banyak melabeli musik jazz sebagai representasi negaranya sendiri dengan membubuhkan term “jazz Indonesia”, “jazz Jepang”, dan lain-lain. Tetap saja orisinalitasnya mengacu pada Amerika Serikat sebagai akar dari perkembangan musik jazz.

Di Indonesia sendiri, apakah memang ada “jazz Indonesia” yang asli Indonesia? Berbicara tentang Indonesia yang kaya akan budaya tradisionalnya, tentu ada yang dimaksud mengenai jazz Indonesia secara harfiah. Kita bisa mendapatkannya lewat sebuah album monumental berjudul Djanger Bali.

Djanger Bali adalah album proyek musik jazz hasil garapan pemain klarinet jazz asal Amerika Serikat Tony Scott dengan sekumpulan musisi jazz Indonesia yang tergabung dalam kelompok The Indonesian All-Stars. Mereka adalah Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen. Mereka inilah yang di kemudian hari menjelma menjadi founding fathers sekaligus dedengkot jazz di Indonesia. Musik yang tersajikan dalam Djanger Bali ini adalah gabungan antara jazz dengan musik tradisional Indonesia.

The Indonesian All-Stars saat bermain di pergelaran Berlin Jazz Festival di Berlin, Jerman pada 27 dan 28 Oktober 1967 (photo source: http://sisihidupku.wordpress.com)

Sejarah terbentuknya The Indonesian All-Stars beserta album Djanger Bali memang unik. Awal mulanya, Suyoso Karyoso alias Mas Yos, pemilik label Irama Records sekaligus kakak ipar dari Jack Lesmana memiliki bisnis pesawat terbang yang terbilang hebat dengan petinggi-petinggi dunia (karena Mas Yos juga merupakan seorang TNI Angkatan Udara). Otomatis, ia pun banyak mendapat relasi dari para pesohor dunia. Salah satunya adalah Tony Scott. Suatu hari di pertengahan era 1960’an, Tony Scott sempat mengadakan pertemuan dengan Mas Yos di Jakarta kalau ia tengah mencari band untuk bisa tampil di Berlin Jazz Festival 1967 di Berlin, Jerman. Akhirnya, Mas Yos pun mengajak Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen untuk mengadakan acara jamuan makan malam bersama Tony Scott di rumahnya. Sesaat sebelum acara makan malam tersebut usai, Tony Scott sempat menyampaikan wejangan kepada para dedengkot jazz Indonesia ini kalau ingin bisa tampil di Berlin Jazz Festival, mereka harus membawa sesuatu yang berbeda. Mereka mengiyakan tantangan dari Tony Scott. Mereka dikarantina di rumah mas Yos selama kurang lebih satu tahun sampai akhirnya berhasil menghasilkan Djanger Bali, sebuah album eksperimental yang menggabungkan jazz dengan musik tradisional Indonesia. Kemudian tampillah mereka dengan membawa Djanger Bali di Berlin Jazz Festival pada 27 dan 28 Oktober 1967 dan berbagi panggung dengan legenda jazz dunia seperti John Coltrane, Miles Davis, dan Herbie Hancock.

Bahkan, sebagian lagu yang terdapat dalam album Djanger Bali ini adalah lagu tradisional Indonesia, yaitu Gambang Suling (lagu daerah Jawa Tengah), Lir Ilir (lagu daerah Jawa Tengah), dan Burung Kakak Tua (lagu daerah Maluku). Mereka menyulap lagu yang luar biasa ini menjadi lagu yang lebih luar biasa karena menyematkan notasi-notasi jazz. Lagu pembuka dalam album berjudul Djanger Bali hadir menampilkan notasi pentatonis dari permainan piano Bubi Chen dalam intronya. Dalam album ini juga terdapat dua komposisi swing yang terlepas dari embel-embel musik tradisional, yaitu Mahike from “Katz und Maus” dan Summertime.

</figure>

Sepanjang karirnya, The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album ini saja. Selanjutnya, mereka banyak bermain dalam sejumlah pagelaran jazz di Indonesia, salah satunya adalah konser Jazz Masa Lalu dan Kini di Taman Ismail Marzuki pada 1976 dan sempat pula direkam dalam album berjudul sama yang dirilis Hidayat Records. Selebihnya, tentu mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bermain, rekaman, dan memperkenalkan jazz di Indonesia ke generasi selanjutnya hingga akhir hayatnya. Meskipun The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album, namun pengaruh ke masa selanjutnya inilah yang paling penting. Djanger Bali adalah album yang menjadi tonggak sejarah perkembangan musik jazz di Indonesia dan sejarah perkembangan musik eksperimental Indonesia sebelum ada Harry Roesli dan Guruh Gipsy yang begitu dipuja para hipster masa kini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s