Jackson Records, Sebuah Label Pop Kreatif Paling Bergengsi Era 80’an!

Fenomena yang kerap terjadi di setiap dekade pada industri musik Indonesia adalah dua kubu musik dalam ranah pop yang berbeda dengan segmentasi pasar yang berbeda pula. Segmentasi pasar inilah yang kemudian justru merajuk pada pembagian kelas: kelas tinggi dan kelas rendah. Dua kubu musik pop tersebut ialah pop kreatif yang tidak lain adalah musik pop yang menggabungkan unsur jazz, funk, soul/R&B, dan rock disertai dengan teknologi mutakhir untuk penggarapan produksi aransemen musiknya dan lirik yang cerdas, serta pop cengeng yang merupakan musik pop disertai dengan aransemen musik yang mendayu-dayu dan lirik yang mendayu-dayu pula. Pop kreatif memiliki segmentasi pasar berupa masyarakat kelas menengah keatas yang sebagian besar didominasi anak-anak muda “idealis” (bahkan sebagian ada juga yang bilang orang kaya karena eksklusif dan berkelas), sementara pop cengeng memiliki segmentasi berupa masyarakat kelas menengah ke bawah yang terdiri atas pembantu rumah tangga, supir, dan lain semacamnya.

Isu fenomena kubu-kubuan antara musik pop kreatif dan musik pop cengeng ini sebenarnya sangat jelas bergaung pada era 1970’an dan 1980’an. Berbicara era 80’an, pop cengeng didominasi oleh label seperti Lollypop Records dan JK Records yang sukses melahirkan legenda seperti Rinto Harahap, Pance Pondaag, Dian Piesesha, atau Chintami Atmanegara. Sementara pop kreatif didominasi oleh label seperti Musica Studios, Prosound, Union Artis, dan Jackson Records.

Salah satu label papan atas yang eksis di paruh era pertengahan 70’an hingga 80’an adalah Jackson Records. Jackson Records adalah label yang didirikan seorang bernama Jackson Arief pada pertengahan era 1970’an dan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan term musik pop kreatif ini. Penggabungan musik pop dengan jazz serta funk and soul merupakan ciri khas utama dari pembentukan sound yang digagas oleh Jackson Records. Legenda musik seperti Dian Pramana Poetra, Vina Panduwinata, Ikang Fawzi, Ebiet G Ade, Vonny Sumlang, Utha Likumahuwa, bahkan Indra Lesmana hingga Titi DJ adalah sekumpulan nama besar yang sukses mengawali karir serta besar berkat tangan dingin Jackson Arief.

Tidak diketahui secara pasti album apakah dan dari penyanyi siapakah yang menjadi rilisan awal dan akhir dari label yang bermarkas di daerah Pluit, Jakarta Utara ini. Tapi kalau kita coba telisik dari awal berdirinya Jackson Records sekitar 1977, ada dua album yang dirilis Jackson di tahun itu. Dua album itu adalah 1+2=3 dari Coconut’s Band serta Album Special dari Farid Harja bersama grupnya Bani Adam. Sedangkan rilisan terakhir dari Jackson Records kemungkinan adalah Aku Cinta, Aku Rindu dari Irianti Erningpraja pada 1987 karena setelah tahun itu Jackson Records sudah tidak pernah terdengar lagi kabar dan rilisannya hingga hari ini.

Meskipun terkenal karena nama besarnya dalam membentuk term pop kreatif yang memadukan akar musik pop dengan jazz, R&B, soul, dan funk, Jackson Records juga terhitung produktif dalam merilis album bertemakan pop folk hingga rock. Sebut saja Ebiet G. Ade, Titiek Hamzah, dan Ikang Fawzi. Khusus Ebiet G. Ade dan Ikang Fawzi, kita masih sering mendengar nama dan eksistensi mereka di panggung musik tanah air hingga hari ini.

Oleh karena andil besar Jackson Records dalam pemebentukan term pop kreatif di Indonesia, tentu terdapat beberapa album yang dirilis Jackson Records dan menjadi masterpiece. Berikut Alunan Nusantara telah merangkum lima album yang berhasil menjadi masterpiece Jackson Records semasa jayanya:

  1. Dian Pramana Poetra – Kau Seputih Melati (1986)

Dian Pramana Poetra bersama Yockie Suryoprayogo pernah melakukan kolaborasi hingga menghasilkan album (satu-satunya) dari mereka berjudul Kau Seputih Melati. Dirilis pada 1986, album ini menghasilkan hit single yang kemudian menjadi everlasting hit dari Dian Pramana Poetra berjudul sama. Memang album ini agak berbeda dari dua album Dian Pramana Poetra sebelumnya: Indonesian Jazz Vocal (1983) dan Intermezzo (1984). Jika di dua album sebelumnya Dian Pramana Poetra banyak bereksplorasi dalam berbagai jenis musik jazz (dengan akar musik pop tentunya), di album ketiganya ini Dian Pramana Poetra seolah menghilangkan musik jazz yang cukup membesarkan namanya dan lebih banyak bereksplorasi dalam musik pop. Entah mungkin karena peran Yockie Suryoprayogo yang tidak lain merupakan arsitektur musik pop Indonesia modern sehingga terciptalah Kau Seputih Melati. Suara Dian Pramana Poetra yang empuk menambah kesejukan dari lagu-lagu dalam album ini yang keseluruhannya diaransemen oleh Yockie Suryoprayogo. Meskipun begitu, sepuluh track dalam album Kau Seputih Melati menjadi highlight yang wajib disimak untuk sekedar self-healing dari penatnya kehidupan.

2. Vina Panduwinata – Citra Ceria (1984)

Tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi, saat ini Vina Panduwinata berhasil menjadi diva handal yang dimiliki tanah air. Sudah banyak classic hits yang dihasilkan Vina Panduwinata dan terbukti hingga hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang. Sebenarnya Vina Panduwinata sudah mengawali karir bermusiknya di Jerman pada 1978 dan telah menghasilkan satu EP dalam format 7” vinyl berisi dua lagu: Java dan Singles Bar. Setelah itu, ia pulang ke Indonesia dan memulai kerjasamanya dengan Jackson Records. Citra Ceria adalah album ketiganya di Jackson Records yang bekerjasama dengan Addie MS sebagai music director sekaligus keyboardist di album ini. Album Citra Ceria pun meledak di pasaran dan berhasil melahirkan dua hits besar seperti Didadaku Ada Kamu dan Dia yang sampai hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang.

3. Indra Lesmana – Nostalgia (1984)

Indra Lesmana mengawali karirnya sebagai musisi jazz saat merilis album perdananya bersama ayahnya Jack Lesmana berjudul Ayahku Sahabatku (1978). Setelah itu, Indra Lesmana mendapatkan beasiswa ke Australia untuk memperdalam ilmu musiknya dan menghasilkan album kedua berjudul Children of Fantasy (1981). Di Australia pula, Indra Lesmana membentuk band bernama Nebula dan berhasil merilis satu album berjudul No Standing (1984). Sepulang dari Australia, Indra Lesmana ditawari Jackson Arief untuk merilis album bercorak pop jazz dibawah naungan Jackson Records. Tidak hanya ditawari merilis album pop jazz saja, tetapi juga ditawari menyanyi! Maka jadilah album Nostalgia sebagai album “pertama” Indra Lesmana ber-genre pop sekaligus juga menjadi album vokal “pertama” Indra Lesmana setelah sebelumnya banyak merilis album instrumental jazz. Meskipun tidak tergolong menakjubkan, akan tetapi Indra Lesmana memiliki timbre vokal yang unik dan khas. Setelah merilis Nostalgia, Indra Lesmana malahan menjadi rutin merilis album solonya yang bercorak vocal pop dengan basic jazz yang dimiliki Indra Lesmana setiap tahunnya selama sepuluh tahun lebih.

4. Ebiet G. Ade – Camellia II (1979)

Lagu Berita Kepada Kawan milik Ebiet G. Ade, siapa yang tidak kenal? Rasanya lagu ini hampir selalu bergema di berbagai kesempatan, terutama saat salah satu daerah di Indonesia terkena bencana alam. Lagu yang sudah kadung menjadi all time hits ini terdapat dalam album Camellia II yang dirilis Jackson Records pada 1979. Kepiawaian Ebiet dalam mengolah lagu bertemakan balada dengan lirik yang puitis menjadi daya tarik yang menunjang kesuksesannya dalam industri musik. Terlebih lagi, kesuksesan yang diraih di awal karir Ebiet berhasil mengangkat Jackson Records menjadi label papan atas. Selain Berita Kepada Kawan, album ini juga sukses melahirkan hit besar seperti Nyanyian Ombak, Cita-Cita Kecil Si Anak Desa, dan babak kedua lagu Camellia yang diberi judul Camellia II sesuai dengan judul album ini.

5. Ikang Fawzi – Preman (1987)

Ikang Fawzi tentu diketahui banyak orang sebagai rocker legendaris yang nyentrik baik dari segi penampilan maupun ketika dia bernyanyi. Orang tentu tidak akan pernah lupa suara serak-serak basahnya yang menyerupai penyanyi legendaris Rod Stewart. Album Preman yang dirilis Jackson Records pada 1987 bisa jadi merupakan album Ikang Fawzi yang paling diingat banyak orang hingga hari ini, apa lagi kalau bukan karena sebuah lagu berjudul sama yang menjadi ikon Ikang Fawzi sepanjang karirnya. Lirik di bait awal yang mudah diingat (“papcikpapap preman preman … ooeweeoo”) menjadi daya tarik lagu Preman. Kesuksesan yang diraih Ikang Fawzi di album ini tidak lepas dari tangan dingin Ian Antono sebagai music director.

Berikut mixtape lagu pilihan dari Jackson Records

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s