Top 5: Oscar Lolang

Oscar Lolang adalah penyanyi lulusan Antropologi Universitas Padjajaran, Jatinangor, Jawa Barat. Di kampus inilah, ia memulai karir sebagai penyanyi beraliran folk. Sampai saat ini, Oscar telah merilis satu album penuh berjudul Drowning in a Shallow Water (2017) dan enam buah single diantaranya Melodies (2020), Bila (2019), Clouds of Jakarta (2017), The Way She Does Things (2017), Little Sunny Girl (2017), dan Eastern Man (2016).

Kali ini, anak dari sinematografer kawakan Roy Lolang ini memberikan daftar top 5 lagu Indonesia pilihannya kepada Alunannusantara yang telah kami rangkum sebagai berikut:

  1. The Gang of Harry Roesli – Malaria (Philosophy Gang, 1973)        

Hampir semua tahu bahwa selain jago membikin musik anti-mainstream yang memadukan unsur musik tradisional (gamelan dan angklung Sunda) dengan musik modern (progressive rock & funk), almarhum Harry Roesli adalah seniman yang sangat kritis dan tajam terhadap permasalahan-permasalahan politis. Sifat kritisnya itu kemudian ia tuangkan terhadap karya-karya lagu. Salah satu karyanya dalam mengkritik pemerintah yang terkenal adalah lagu berjudul Malaria. Di ambil dari debut albumnya Philosophy Gang (1973), lagu ini bercerita tentang potret kaum kelas menengah yang tidak berani melawan kekejaman pemerintah era Orde Baru karena ketakutan akan dibunuh secara misterius. Rakyat kelas menengah saat itu ibarat nyamuk malaria, sekali tebas ia akan langsung mati terkapar namun akan memberikan virus mematikan dalam arti sebenarnya. Terbukti rakyat kelas menengah itu berhasil memberikan virus mematikan terhadap pemerintah Orde Baru pada saat tragedi Mei 1998.

2. Guruh Gipsy – Chopin Larung (S/t, 1977)

Salah satu mahakarya musik paling edan yang pernah dimiliki Indonesia tentu saja datang dari sekumpulan anak muda di Jalan Pegangsaan, Jakarta yang punya semangat serta keberanian memainkan musik eksperimental yang memadukan unsur progressive rock dengan gamelan Bali. Mereka tergabung dalam nama Guruh Gipsy, sebuah proyek kolaborasi antara Guruh Sukarno Putra dengan Gipsy Band. Salah satu hit dari Guruh Gipsy berjudul Chopin Larung menceritakan keprihatinan akan tergerusnya budaya asli Indonesia dengan budaya asing. Dalam lagu ini, digambarkan pulau Bali yang kebudayaan aslinya semakin hari semakin digemari bahkan dikuasai pihak Asing. Ditambah dengan unsur magis dalam aransemen musiknya, membuat Chopin Larung menjadi salah satu harta karun paling istimewa dalam sejarah musik Indonesia.

3. Gordon Tobing – Lisoi (The Famous Indonesian Folk Songs, 1987)

Lisoi adalah sebuah lagu daerah dari Sumatera Utara bernuansa waltz 3/4 yang mengajak orang untuk minum-minum ini memang selalu keren dinyanyikan siapapun. Dari Gordon Tobing hingga Seringai, lagu ini bisa membuat mood siapapun menjadi segar kembali setelah mendengarnya.

4. Kantata Takwa – Kesaksian (S/t, 1990)

Puncak karir Iwan Fals sebagai seorang penyanyi yang lantang mengkritik pemerintah (sebelum ia mulai banyak menyanyikan lagu cinta) mungkin diraih saat ia bergabung membentuk band Swami lalu berlanjut membentuk Kantata Takwa di awal era 1990’an. Berbekal lirik yang magis dari WS Rendra, Kesaksian menceritakan tentang kesaksian seseorang terhadap jeritan banyak orang yang mengalami kehidupan serta perlakuan tak layak dari aparat pemerintah. Simak saja reffnya: Banyak orang hilang nafkahnya / Aku bernyanyi menjadi saksi / Banyak orang dirampas haknya / Aku bernyanyi menjadi saksi.

5. Suarasama – Fajar di Atas Awan (Fajar di Atas Awan, 1998)

Mungkin sebagian besar orang Indonesia tidak tahu nama Suarasama, tapi kalau ditelusuri siapa mereka dan karya-karya mereka, lantas kita akan berbangga diri sebagai bangsa Indonesia. Suarasama adalah proyek musik besutan pasangan suami-istri asal Sumatera Utara, Irwansyah Harahap dan Ritaony Hujaulu yang menggabungkan musik tradisional Melayu, Arab (qawwali dan gambus) dengan musik Eropa Timur. Siapa yang menyangka bahwa album mereka berjudul sama yang rilis pada 1998 ini dirilis oleh indie label legendaris asal Chicago, Amerika Serikat? Yap, album Fajar di Atas Awan dirilis oleh indie label legendaris asal Chicago, Amerika Serikat bernama Drag City yang pernah menjadi tempat bernaung band-band punk legendaris semisal Pavements, Silver Jaws, dan Sonic Youth! Tidak hanya itu, pada tahun 2008 album ini juga pernah di-review oleh media musik ternama di Amerika Serikat bernama Pitchfork secara langsung oleh kritikus musik ternama Neil Strauss. Dalam reviewnya, Neil Strauss memberikan rating senilai 7,2/10 untuk album ini dibandingkan album terbaru Coldplay saat itu yang hanya diberi rating senilai 6/10 oleh Neil Strauss sendiri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s