Chrisye yang Menyiasati Zaman

Chrisye saat membaca Aktuil, majalah musik hits paruh era 70’an (sumber: Majalah Aktuil)

CHRISYE Yang Menyiasati Zaman

Semua pasti setuju bila Chrisye merupakan penyanyi terbaik yang ada di Indonesia. Sudah lebih dari 20 album yang telah ia buat. Hampir semuanya menjadi hits dan terkenang hingga detik ini. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Itu karena lagu-lagu Chrisye menyiasati zaman.

Chrisye bersama Gipsy

Awal Karir

Di awal karirnya bersama grup musik Gipsy (sebelumnya bernama Sabda Nada), Chrisye memainkan lagu-lagu progressive rock barat. Gipsy pada waktu masih menjadi grup musik kecil. Namanya belum dikenal khalayak luas. Barulah di tahun 1976, Gipsy membuat sebuah album fenomenal yang tak lekang oleh waktu. Bekerjasama dengan Guruh Sukarno Putra yang sangat senang dengan nuansa musik Bali, Gipsy yang memiliki corak musik progressive rock akhirnya memadukan musiknya dengan musik dari Gamelan Bali pimpinan Guruh Sukarno Putra. Guruh Gipsy, yang di dalamnya ada perpaduan musik rock dan etnik ini dianggap sebagai album progressive rock terbaik di Indonesia. Guruh berhasil memasukan warna baru dalam band ini. Permainan Chrisye sebagai pemain bass dan vokalis di beberapa lagu tak boleh dilewatkan!

Era Akhir 70-an

Pasca Gipsy, Chrisye tergabung dalam tiga proyek musik besar. Pertama adalah Lomba Cipta Lagu Remaja tahun 1977 yang berhasil melejitkan namanya lewat lagu Lilin-Lilin Kecil. Selanjutnya adalah album Jurang Pemisah dimana ia dengan sangat unik berhasil membawakan musik rock yang diaransemen oleh Yockie Suryo Prayogo. Di akhir 1977 adalah proyek terbesar, terbaik, dan terfenomenal yang pernah ada di dunia musik Indonesia, yaitu lahirnya album Badai Pasti Berlalu. Album yang lahir dari kawan-kawannya yang berasal dari kawasan Pegangsaan, Jakarta ini dianggap sebagai album yang berhasil merubah warna musik pop di Indonesia. Album ini pun dianggap sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

Pasca tahun 1977 yang berhasil menaikkan nama Chrisye, Chrisye lantas dipinang oleh salah satu label rekaman besar di Jakarta. Setelah Chrisye dipinang oleh major label tersebut, kawan-kawannya yang  tergabung dalam grup musik atau proyek musik sebelumnya tidak bubar begitu saja. Mereka malah meleburkan diri, melanjutkan semangat mereka dengan membentuk Badai Band, sebuah grup musik yang terdiri dari kawan-kawannya seperti Yockie Suryo Prayogo, Roni Harahap, Odink dan Keenan Nasution, serta Fariz RM yang pada saat itu masih remaja. Grup musik ini mengususng aliran rock progresif, yang di akhir 70-an musik rock progresif sedang digandrungi oleh anak-anak muda. Badai Band mampu menyihir pendengar musik Indonesia dengan musik & lirik lagunya yang rumit dan tidak biasa. Lirik puitis dengan suara dari instrumen keyboard yang dominan memberi ciri khas baru bagi musik pop di Indonesia. Kali ini, nama Yockie Suryo Prayogo yang patut disorot. Beliaulah yang memberi warna musik progresif pada grup musik ini. Pemain keyboard serta penata musik ini seolah mengerti musik seperti apa yang cocok dibawakan oleh Chrisye. Hasilnya memang melahirkan sesuatu yang unik. Vokal lembut khas Chrisye berhasil dibalut dengan pas oleh musik progresif ala Yockie.

Era 1983-1984

Sampul Album Metrrropolitan

Memasuki awal 80-an ketika trend musik punk ala The Police masuk ke Indonesia, Chrisye bersama Erros Djarot dan Yockie Suryo Prayogo menyiasatinya dengan merilis album dengan nuansa musik yang menyerupai The Police. Seperti dalam trilogi album Resesi (1983), Metropolitan (1984), dan Nona (1984). Album ini mengusung aliran musik utama pop. Namun, ada aliran musik lain yang bisa ditemukan di tiga album ini, beberapa diantaranya ada yang bernuansa ska, new wave, bahkan sampai reggae pun ada. Untuk topik lagu, album-album ini selain membahas seputar cinta, juga banyak membahas seputar keadaan sosial. Lagu-lagu seperti Lagi-Lagi, Polusi Udara, Berita Ironi, dan Sarjana Kaki Lima adalah beberapa diantaranya. Isu dari obat-obatan terlarang, pendidikan, sampai isu ekonomi diangkat di tiga album ini.

Era Bersama Addie MS (akhir tahun 1984)

Memasuki pertengahan 80-an, Chrisye seolah mengakhiri era “progresif”-nya. Melalui lika-liku dan konflik dengan Yockie Suryo Prayogo, Chrisye memutuskan untuk “berpisah” dengan Yockie di tahun 1984. Setelah berpisah. Chrisye langsung merekrut penata musik baru yang saat itu sedang naik daun, yaitu Addie MS. Dari tangan Addie MS, lahirlah album Sendiri (1984) dengan nuansa musik pop yang melankolis namun tidak mendayu-dayu.

Era 1985-1986

Sampul Album Hip-Hip Hura

Kerjasamanya dengan Addie MS berlanjut hingga ke tiga album berikutnya. Di tahun 1985 sampai 1986, album Aku Cinta Dia (1985), Hip-Hip Hura (1985), dan Nona Lisa (1986)berhasil menjadi album yang sangat laris. Album tersebut memiliki corak musik yang sangat beda dengan album-album sebelumnya. Orang banyak menyebutnya pop kreatif, dengan nuansa lagu yang lebih easy listening dan terkesan riang adalah ciri khas album ini. Addie MS dan Adjie Sutama adalah penata musik dibalik tiga album tersebut. Walaupun album ini sangat laris di pasaran, bagi pecinta musik Chrisye album ini dianggap biasa saja karena musiknya yang mengikuti selera pasar dan tidak idealis lagi seperti di era-era sebelumnya.

Era 1988-1993

Di akhir 80-an, selepas dari Addie MS dan Adjie Sutama, Chrisye masih melanjutkan karir bermusiknya dengan menggandeng penata musik lain. Penata musik yang sedang hype di tahun itu adalah Younky Suwarno. Salah satu ciri khas Younky Soewarno adalah pemakaian alat musik digital di dalamnya, sehingga membawa warna baru bagi pendengar musik di Indonesia. Chrisye sebagai penyanyi yang sudah top tak mau melewatkan kesempatan bekerjasama dengan penata musik yang sedang naik daun ini. Di tangannya, lahir 4 rilisan, yaitu Jumpa Pertama (1988), Pergilah Kasih (1989), Cintamu Tlah Berlalu (Mini album-1990), dan Sendiri Lagi (1993). Dari kerjasama inilah pada akhirnya melahirkan banyak lagu-lagu populer Chrisye, seperti Pergilah Kasih, Sendiri Lagi, Kisah Cintaku, Maafkanlah, Nostalgia Cinta, dan masih banyak lagi. Musik yang diusung sudah tidak terlalu bertempo cepat lagi, memang lagi-lagi mengikuti selera pasar, namun hasilnya sangat diminati oleh masyarakat Indonesia.

Era 1996-2002                      

Seiring berjalannya waktu, seiring pula usia Chrisye bertambah, musik yang diusung Chrisye mengalami penurunan tempo menjadi lebih slow. Pada era ini, giliran Erwin Gutawa yang menjadi “komando” bagi musik dan lagu-lagu Chrisye. Dari kerjasama ini juga melahirkan banyak lagu yang pada akhirnya dikenal sampai saat ini. Album Akustichrisye (1996), Untukku (1997), Badai Pasti Berlalu Remake (1999), dan Dekade (2002)lahir dari tangan Erwin Gutawa.

Walaupun seluruh album hasil kerjasama dengan Erwin Gutawa ini berhasil diminati oleh masyarakat, tetapi dari sisi musikal ada beberapa hal yang patut disayangkan. Di era bersama Erwin, Chrisye banyak mendaur ulang lagu-lagu lamanya menjadi lagu dengan musik yang baru yang diaransemen oleh Erwin Gutawa. Ini tentu sangat disayangkan karena akan menghapus atau bahkan melupakan citra asli lagu tersebut. Tidak sedikit lagu-lagu aslinya yang sudah bagus, sejak ditata ulang oleh Erwin menjadi tidak sebagus lagu aslinya. Bahkan, album fenomenal Badai Pasti Berlalu turut “dirusak” aransemennya. Padahal, versi asli sudah sangat bagus dan tidak perlu diotak-atik lagi. Hasilnya, masyarakat malah lebih mengetahui aransemen yang baru dibanding aransemen yang asli. Memang sangat disayangkan.

Album Terakhir

Di tahun 2004, Chrisye merilis album terakhirnya. Album ini sangat menyiasati zaman. Isinya berisi berbagai macam musisi baru dengan aliran musik yang berbeda. Setiap lagu pun diaransemen oleh masing-masing musisi tersebut. Ahmad Dhani, Tohpati, Naif, Peterpan, Project Pop, Ungu, Eross Chandra, dan Element adalah nama-nama yang sangat beruntung bisa bekerjasama di album tersebut. Hasilnya sangat memuaskan. Lagu-lagunya hampir semua menjadi hits. Panah Asmara, Jika Surga dan Neraka, dan Menunggumu adalah lagu-lagu yang sering diputar.

Berkarir sejak muda hingga usia tua merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Konsistensinya dalam bermusik patut diacungi jempol. Chrisye yang berhasil melewati berbagai dekade dengan namanya yang tetap tenar adalah bukan sesuatu yang gampang ditiru oleh musisi lain. Beliau mampu melebur ke berbagai zaman, dant tentunya, musik yang diusungnya menyiasati zaman. Sehingga dapat diterima di berbagai kalangan yang hidup di berbagai dekade. Bahkan detik ini, percaya atau tidak, nama Chrisye sedang dikagumi lagi, tidak hanya karya-karyanya yang di era 90-an, tetapi sampai lagu-lagunya di era 70-an sedang sangat dikagum-kagumi lagi oleh anak-anak muda zaman kini. Hormat!

Chrisye sedang bernyanyi menggunakan pakaian batik (sumber: Buku “Chrisye: Sebuah Memoar Musikal” karangan Alberthiene Endah, 2007)

Rekomendasi

Dibawah ini, penulis beri rekomendasi 3 (tiga) lagu yang jarang didengar tapi bisa dibilang yang terbaik dari Chrisye dari masing-masing zamannya:

  1. Era akhir 70-an                        : Cita Secinta, Percik Pesona, Pantulan Cita
  2. Era 1983-1984                       : Romeo & Julia ‘83, Sarjana Kaki Lima, Anak Manusia
  3. Bersama Addie MS (1984)      : Windy, Dekadensi, Hatimu Hatiku
  4. Era 1985-1986                          : Masa Remaja, Pemuda, Huru-Hara
  5. Era 1988-1993                          : Jumpa Pertama, Nostalgia Cinta, Seperti Dulu
  6. Era 1996-2002                          : Negeriku, Kembalilah, Sahabat

1 thought on “Chrisye yang Menyiasati Zaman

  1. Era Yockie sih favorit gw kalo bahas Chrisye….walau berpadu sempurna secara konsep musikal namun secara komersial hanya Sabda Alam dan trilogy E-C-Y yang benar2 menembus pasaran di luar album tersebut, gagal secara komersial terutama album Pantulan Cita sehingga menjadi konflik batin bagi Chrisye sendiri mengenai kerjasama beliau dengan Yockie

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s