40 Tahun Fariz RM Merilis “Sakura”

Sampul Album Sakura

Siapa yang menyangka kalau musik pop Indonesia yang pernah eksis empat dasawarsa silam akan kembali menjadi tren 40 tahun kemudian alias di masa sekarang? Dan yang membikin trennya sendiri justru adalah anak muda? Mungkin sebagian dari kita (termasuk saya sendiri) adalah yang tidak menyangka akan hal itu. Kalau kita telaah sekitar 10 tahun kebelakang, anak muda yang mendengarkan lagu-lagu jaman dulu boleh jadi akan dianggap kuno atau kampungan, sekarang justru kebalikannya. Anak muda yang mencoba mendengarkan lagu-lagu jaman dulu boleh jadi akan dianggap keren dan berkelas, dan pastinya: hipster.

Berbicara soal salah satu album lokal legendaris yang cukup mengubah hidup saya, ada satu album fenomenal di era 80’an yang berhasil membuat terpana banyak orang dan masih relevan di era sekarang, yaitu album Sakura milik Fariz RM. Bulan Februari ini, album yang rilis pada 1980 silam ini tepat memasuki usia 40 tahun. Album solo kedua Fariz RM ini saat ini seolah menjadi lambang dari musik disko yang kini kembali ngetren oleh sajian disc jockey papan atas ibukota semacam Diskoria Selekta dan digandrungi para anak muda penikmat gigs.

Album Sakura milik Fariz RM rilis pada Februari 1980. 4 tahun silam. (source: kasetlalu.com)

Banyak orang seolah keliru dalam menganggap Sakura adalah album debut Fariz RM. Tetapi kalau diukur dalam rentetan sejarah, Sakura adalah album sophomore Fariz RM. Sebelumnya, pada 1979 Fariz RM telah merekam materi untuk album perdananya berjudul Selangkah Keseberang melalui label Pramaqua. Namun karena musik yang ditawarkan ketika itu masih terbilang fresh, ada ketakutan bahwa album ini nggak bakalan laku. Akhirnya sang produser pun terpaksa “menggantungkan” nasib kelanjutan album ini. Fariz RM pun kemudian mendapat tawaran dari Akurama Records (label yang merilis album Sakura) untuk membuat album sesuai hasrat dan idealisnya. Kemudian jadilah album Sakura yang setengahnya merupakan sebagian lagu dalam album Selangkah Keseberang yang di-remake dengan aransemen baru yang lebih fresh. Melihat album Sakura meledak dan menjadi fenomena, maka Pramaqua pun memutuskan untuk merilis album Selangkah Keseberang tidak lama setelah Sakura rilis.

Satu poin penting yang terdapat dalam album Sakura adalah kepiawaian seorang Fariz RM dalam memainkan keseluruhan alat musik yang terdiri dari piano, synthesizer, gitar, bass, dan drum hanya dengan seorang diri! Fariz RM melakukan konsep “one man band” dalam Sakura jauh sebelum teknologi MIDI mulai diperkenalkan akhir era 80’an. Lebih gilanya lagi, jika kebanyakan musisi terlebih dahulu merekam komposisi musik kemudian vokal, Fariz RM malah sebaliknya: merekam vokal terlebih dahulu menggunakan bantuan metronom lalu merekam komposisi musik! Lantas, mengapa Fariz RM begitu nekat memainkan semua alat musik dalam album ini sendirian? “Saya tak memiliki banyak budget untuk membiayai produksi album ini. Karena kebetulan saya bisa memainkan beberapa alat musik. Akhirnya saya memilih cara seperti ini.” Ungkap Fariz seperti yang dikutip dari blog pribadi almarhum Denny Sakrie (http://dennysakrie63.wordpress.com). Meskipun begitu, Fariz RM resmi menjadi musisi Indonesia pertama yang menggunakan konsep “one man band” disamping musisi dunia semacam Stevie Wonder dan Mike Oldfield yang telah lebih dulu melakukannya.

Keegoisan dan kenekatan seorang Fariz RM dalam memainkan semua alat musik sendirian di album yang awalnya dibuat untuk project film Sakura dalam Pelukan (1979) ini berbuah manis. Album ini meledak dan berhasil melahirkan everlasting hits Fariz RM di sepanjang karirnya berjudul sama. Pengaruh musik soul R&B dan funk sangat terasa dalam keseluruhan lagu dalam album berjumlah 9 track ini. Melodi dan rhythm lagu Sakura yang menjadi track pembuka sebenarnya sangat kental dengan unsur musik pop Jepang yang belakangan gencar dijadikan original soundtrack anime Jepang. Sekejap kita bisa membayangkan keindahan bunga sakura yang bermekaran melalui lagu ini. Berlanjut pada lagu Selangkah Keseberang yang enerjik dengan bebunyian synthesizer hasil kendali Fariz RM (dan ya, puluhan tahun kemudian lagu ini menjadi maskot dari disko Indonesia). Pengaruh musik soul and funk a la Earth Wind & Fire, Bee Gees, ataupun George Duke bisa disimak dalam lagu Suasana yang Ada ataupun Cermin Noda. Meskipun penuh dengan unsur musik soul and funk yang cukup menggebu, ada satu track berjudul Semusim yang hanya menggunakan denting piano elektrik dan synthesizer yang sangat halus. Nampaknya lagu ini terinspirasi dari dua buah lagu Stevie Wonder berjudul You and I dan Too Shy to Say dengan konsep sama yang juga rilis tak jauh dalam era yang sama.

Selain musik yang enerjik, keseluruhan lagu dalam Sakura juga memiliki padanan lirik berbahasa Indonesia yang tak lazim digunakan di era itu. Wacana yang terkandung dalam setiap liriknya memang terkesan “nyastra” dan mengandung pesan yang tersirat. Dalam penulisan lirik, Fariz RM berkolaborasi dengan almarhum Jimmy Paais yang kemudian keduanya membentuk band bernama Symphony seiring perjalanan karir Fariz RM di era 80’an.

Meskipun saat ini kaset dan piringan hitam album Sakura semakin susah didapatkan dan semakin diberi harga tak masuk akal, album Sakura milik Fariz RM adalah contoh nyata dari karya yang dibuat secara visioner untuk konsumsi jangka panjang. Terbukti dengan modernisasi yang dilakukan Fariz RM dalam menggarap Sakura, rasanya album ini akan selalu relevan di segala zaman tanpa memperhatikan tren apa yang sedang berkembang di industri musik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s