Nuansa Pop, Progressive Rock, dan Sedikit Jazz a la Kharisma Alam

Cover piringan hitam Kharisma Alam – Sketsa Seni Musik (dok: Discogs.com)

Menjelang akhir era 70’an, gegap gempita album Guruh Gipsy, Badai Pasti Berlalu, dan Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) telah melahirkan satu term baru di industri musik bernama pop kreatif. Pop kreatif ini (pada era itu) sebenarnya menggabungkan musik pop dengan progressive rock diselipkan dengan bumbu-bumbu jazz bahkan disko. Salah satu grup yang lahir setelah era ketiga album yang menjadi tonggak lahirnya musik pop di Indonesia dan cukup menarik perasaan saya adalah Kharisma Alam. Kharisma Alam adalah band asal Malang yang dibentuk pada 1977 oleh Bambang Tondo (adik penyanyi Tanty Josepha) bersama Cholies Idham, Roy Bastian, dan Sarasno. Kharisma Alam juga ditemani tiga pengisi vokal wanita: Bebsye, Debbie, dan Patty.

Perpaduan antara musik pop dengan progressive rock dan jazz menjadi ciri khas dari band yang dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang ini. Sayangnya, Kharisma Alam hanya merilis satu album berjudul “Sketsa Seni Musik” yang rilis dibawah bendera Purnama Records pada 1978. Dibuka dengan “Nyanyian Angsa”, mereka menampilkan musik a la Badai Pasti Berlalu yang saat itu gaungnya masih sangat terasa di industri musik. Disusul oleh “Salam Buat Kota Malang” yang nampak ingin menyiratkan satu kebanggaan terhadap kampung halaman tercinta. Dalam nomor “Salam Buat Kota Malang”, Bambang Tondo sang pianis cukup berani menampilkan kebisaannya dalam mengoprak-oprek modul Synthesizer yang selama ini menjadi cikal bakal musik progresif. Dari delapan track yang mayoritas bagi saya tidak terlalu istimewa, ada satu track yang cukup menggelitik saya berjudul “Jiwa”. Buat saya, lagu yang termasuk track keempat dari delapan track ini menampilkan warna jazz bossanova yang terkesan mewah dan berbeda dari jazz bossanova yang ditampilkan kebanyakan penyanyi di era itu seperti Rien Djamain atau Margie Segers. Jazz bossanova yang mengisi keseluruhan dalam lagu “Jiwa” ini nampak terdengar seperti cikal bakal musik jungle dan drum & bass – sebuah term musik elektronik yang mencuat pertengahan 1990’an oleh sekumpulan DJ asal Eropa. Selang 40 tahun kemudian, lagu “Jiwa” dari Kharisma Alam mendapat pemutaran cukup high rotation di lantai dansa beberapa klub ternama ibukota. Lagu ini kerap dimainkan oleh beberapa DJ, salah satunya Diskoria Selekta. Sampai hari ini, saya kerap membayangkan ada seseorang yang me-remix lagu “Jiwa” ini dalam sentuhan drum & bass yang lebih nendang dan kekinian.

Dengan adanya lagu “Jiwa”, Kharisma Alam dapat membuktikan bahwa musisi era 70’an memiliki pandangan visioner terhadap industri musik di masa mendatang disamping Chrisye lewat album “Percik Pesona” yang sangat artistik itu. Sayangnya, setelah merilis “Sketsa Seni Musik”, Kharisma Alam sudah mulai tak lagi aktif bermusik manakala Bambang Tondo bersama keluarganya memutuskan hijrah ke Jakarta pada akhir 1979 dan lalu beliau aktif bergabung di beberapa grup legendaris. Salah satunya, Bambang Tondo pernah memperkuat formasi Koes Plus. Sekedar catatan, Bambang Tondo telah meninggal dunia pada bulan Juli 2019 lalu.

(Abie Ramadhan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s