Jazz Masa Lalu dan Kini: Album Live Perdana di Indonesia!

Cover album “Jazz Masa Lalu dan Kini” (1976)

Jika saya diberi kesempatan untuk menggunakan mesin waktu ataupun ditakdirkan untuk tumbuh dewasa di paruh era 70’an, saya tentunya akan menonton banyak pergelaran musik di Jakarta! Salah satunya adalah konser bertajuk “Jazz Masa Lalu dan Kini” yang dicetus Jack Lesmana dan kawan-kawan dan digelar di Taman Ismail Marzuki pada 30 dan 31 Mei 1976. Sebagai penggemar jazz, tentu konser ini adalah konser yang tidak boleh terlewatkan karena disinilah sejarah besar musik jazz di Indonesia terbentuk. Satu catatan penting yang terdapat dalam album ini adalah: “Jazz Masa Lalu dan Kini” adalah rekaman live pertama di Indonesia yang dituangkan dalam format kaset. Tidak hanya secara khusus dalam sejarah musik jazz di Indonesia saja, tetapi juga dalam sejarah musik di Indonesia secara keseluruhan.

Album ini didukung oleh sekelompok dedengkot jazz Indonesia yang dijuluki “The Indonesian Jazz Riders”. Terdiri atas Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Abdullah Suweileh, Didi Tjia, Benny Likumahuwa, dan Abadi Soesman. Serta lantunan vokal dari Mona Sitompul dan Rien Djamain. “Jazz Masa Lalu dan Kini” menampilkan sajian musik jazz yang beragam mulai dari swing, bossanova, ballad, sampai modern jazz. Sesuai dengan namanya, “Jazz Masa Lalu dan Kini” menampilkan lagu-lagu jazz dari era klasik/lampau seperti A.C. Jobim dan Django Reinhart sampai yang “kekinian” di era itu seperti Stevie Wonder dan Diana Ross.

Satu lagi catatan penting yang lahir dari album ini adalah kemunculan seorang bakat besar yang dikemudian hari akan menjadi ikon jazz paling penting di Indonesia. Bakat besar tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah INDRA LESMANA! Saat itu, Indra Lesmana baru berusia 10 tahun. Untuk pertama kalinya, Indra Lesmana menunjukkan bakatnya bermain jazz ke hadapan publik. Dalam konser ini, Indra Lesmana memainkan lagu “All in Love is Fair” (Stevie Wonder) yang mengalun lewat permainan piano elektrik Fender Rhodes. Karena tubuhnya yang masih begitu mungil, saat itu Indra Lesmana memainkan piano dipangku Bubi Chen karena kakinya yang belum bisa mencapai pedal Fender Rhodes, piano elektrik yang legendaris itu. Alhasil, pertunjukkan pertama Indra Lesmana di hadapan publik ini mengundang apresiasi meriah dari para penonton yang terdengar jelas dalam rekaman kasetnya.

Puncak dari kaset album ini adalah nomor jamming yang dibuat Jack Lesmana dkk. berjudul “Silence for the Buffalo”. Durasi yang panjang hingga mencapai 17 menit ini sekilas memang akan terdengar membosankan bagi mereka yang tidak menyukai jazz karena lagunya terkesan panjang, akan tetapi akan terdengar mengasyikkan bagi mereka yang addict terhadap jazz. Terdengar beberapa kali sorak sorai penonton saat masing-masing players mengambil jatah untuk melakukan part solo. Yang paling bikin merinding adalah saat Bubi Chen memainkan potongan nada “Rayuan Pulau Kelapa” milik Ismail Marzuki melalui piano elektrik Fender Rhodes yang terdengar lembut seolah menjadi peregangan setelah sebelumnya para players melakukan permainan yang berapi-api selayaknya musisi jazz melakukan jamming.

Dalam berbagai kesempatan, Indra Lesmana pernah mengatakan bahwa almarhum ayahnya pernah membuat konser setiap tiga bulan sekali di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki. Pergelaran ini awalnya kurang mendapat sambutan karena yang menontonnya sedikit sekali (berjumlah 10 orang!), namun lama-kelamaan pergelaran ini ditonton sekitar 3000 orang sampai-sampai kapasitas TIM sudah tidak mampu lagi menampung jumlah penonton yang hadir. Barangkali, konser “Jazz Masa Lalu dan Kini” adalah salah satu diantara sekian banyak konser jazz yang digelar setiap tiga bulan sekali di TIM itu.

Saya sangat yakin ketujuh lagu yang masuk di album ini bukanlah rekaman keseluruhan konser. Masih banyak lagu lain yang dimainkan pada saat konser berlangsung tahun 1976 ini, hanya saja tidak masuk ke album karena keterbatasan kapasitas pita kaset. Ini kiranya yang membuat saya cukup menyesal mengapa tidak tumbuh dewasa di era 1970’an selain tidak bisa menyaksikan era keemasan dari perjalanan musikal Stevie Wonder. Walau bagaimanapun, “Jazz Masa Lalu dan Kini” adalah album jazz Indonesia terbaik sejauh ini di samping album legendaris “Djanger Bali” milik para pelaku jazz yang sama persis seperti di album ini. Maka, jika kalian ingin menelisik seperti apa sejarah peradaban modern jazz di Indonesia, album ini wajib kalian simak.

Tulisan oleh: Abie Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s