Top 5 Fadli Aat (Diskoria)

Fadli Aat adalah seorang disc jockey asal Jakarta yang dikenal lewat Diskoria Selekta bersama partnernya, Merdi Simanjuntak. Tergabung dalam kolektif Suara Disko, Aat bersama kawan-kawannya membawa misi mulia untuk memperkenalkan lagu-lagu disko Indonesia kepada anak muda lewat lantai dansa. Disamping kegiatannya bersama Suara Disko, Aat juga sibuk menjadi owner serta mengelola sebuah lab fotografi hype di Kemang, Jakarta Selatan bernama Labrana.

  • Harry Roesli – LTO

Tidak bisa dipungkiri bahwa di awal karirnya paruh era 70’an, Harry Roesli datang membawa pengaruh musik avant-garde yang bermaksud “menentang” musik pop melayu yang cukup tren saat itu. Dua album pertamanya, “Philosophy Gang” dan “Titik Api” adalah masterpiece seniman asal Bandung yang sampai saat ini sulit dicari tandingannya. Album kelimanya berjudul “LTO” (1978) adalah album pertama Harry Roesli yang dirilis oleh major label Musica Studios setelah sebelumnya menempuh jalur indie. Dalam “LTO”, Harry Roesli menampilkan lagu yang tidak segila lagu-lagu di empat album terdahulunya. Entah karena pertimbangan major label atau apapun itu, album ini seolah mencoba untuk bermain aman dengan pasar meskipun masih ada sepercik pengaruh funk & soul seperti album terdahulunya. Salah satu yang paling menarik adalah aransemen lagu hits Harry Roesli berjudul “Malaria” yang dikemas dengan warna jazz dan sentuhan avant-garde yang cukup berat kala itu.

  • Ost. Badai Pasti Berlalu

Rasanya, kita semua para pecinta musik sangat setuju bahwa Original Soundtrack “Badai Pasti Berlalu” (1977) adalah masterpiece yang pernah ada dan dimiliki musik Indonesia. Tidak perlu komentar banyak tentang album ini selain aransemen hasil garapan Eros Djarot dibantu Yockie Suryoprayogo dan Chrisye yang sangat megah dan kemudian menjadi tonggak revolusi musik pop Indonesia untuk era selanjutnya. Tentu sampai hari ini, kaset dan piringan hitamnya masih menjadi buruan banyak kolektor dengan harga selangit.

  • Harie Dea – Santun Petaka

Akhir tahun 70’an, musik Indonesia kedatangan satu bintang baru yang membawa tren musik disko di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Fariz RM. Disamping merilis album “Sakura” yang fenomenal karena semua alat musiknya dimainkan Fariz sendirian, Fariz RM juga bertindak sebagai music director untuk beberapa penyanyi. Salah satunya adalah Harie Dea. Mungkin tidak banyak orang mengenal nama ini karena Harie Dea hanya merilis satu album berjudul “Santun Petaka” (1979). Dengan bantuan Fariz RM sebagai music director, tentu musik yang tersaji dalam album ini terkesan “sangat Fariz” dengan balutan soul, funk, dan disco serta diwarnai permainan synthesizer Fariz RM yang sangat khas nyerempet Chick Corea. Hasilnya, tentu menjadi sebuah album dengan idealisme tinggi sehingga membuat album satu-satunya Harie Dea ini tidak laku dan nama Harie Dea pun tidak banyak yang mengenal. Siapa sangka, 40 tahun kemudian banyak kolektor musik yang mencari kaset dan vinylnya yang lagi-lagi diberi harga selangit. Sekedar info, kaset Harie Dea “Santun Petaka” lebih langka dibanding piringan hitamnya.

  • Guruh Soekarno Putra – Untukmu Indonesiaku

Akhir era 70’an – awal 80’an, Guruh Soekarno Putra mengadakan sebuah pagelaran kesenian bertajuk “Untukmu Indonesiaku”. Tentu pagelaran ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia terhadap negaranya. Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam pagelaran ini kemudian dituangkan dalam bentuk album berjudul “Untukmu Indonesiaku” (1980) yang dirilis oleh Musica Studios. Banyak lagu dengan tema unik tentang Indonesia yang tersaji dalam album ini. Diantaranya seperti “Keranjingan Disko” yang menggambarkan gairah anak muda di Indonesia ketika memasuki lantai dansa, “Hello Jakarta” yang menggambarkan situasi sebagian orang Indonesia dari berbagai penjuru daerah yang ingin meraih mimpinya di Ibukota, sampai “Hai Pemuda” yang memotivasi anak muda Indonesia untuk terus semangat berkarya. Namun yang paling sentimental adalah tembang ballad “Melati Suci” yang dinyanyikan Tika Bisono sebagai tribute untuk ibunda Guruh, Fatmawati Soekarnoputri yang baru saja meninggal dunia saat lagu ini beredar.  

  • Swami – S/t

Semua orang setuju bahwa era orde baru adalah era terbaik bagi seorang Iwan Fals. Iwan Fals adalah seorang opinion leader yang mewakili masyarakat dalam menyuarakan hak-hak perlawanan terhadap rezim orde baru melalui lagu. Era keemasan Iwan Fals semakin mencapai puncaknya ketika di akhir era 80’an bergabung dengan grup Swami bersama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri. Lewat album pertamanya “Swami I” yang rilis pada 1989, grup ini menghasilkan all time hits seperti “Bento” dan “Bongkar”. Dan, ya, kedua lagu ini tentu masih kita dengar sampai sekarang terutama pada saat demo berlangsung.

Oiya buat kalian yang mau denger top 5 dari Aat (Diskoria), bisa mampir di mixtape kita ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s