Top5 Pemuda Sinarmas

Pemuda Sinarmas (foto dok. law-justice.co)

Pemuda Sinarmas adalah Ajis, pelopor cassette jockey (CJ) yang berasal dari Jakarta. CJ berbeda dengan DJ. Seorang CJ biasanya memiliki dan memainkan playlist dari sebuah kaset pita yang berisi lagu-lagu lawas. Berawal dari kesukaannya pada kaset pita dan rajin mengumpulkannya, akhirnya tercetus ide untuk menjadi seorang CJ. Alasan pertama adalah agar lagu-lagu lawas ini tetap diingat oleh orang banyak dan alasan kedua adalah agar kaset pita koleksinya tidak habis dimakan waktu (rusak). Berawal dari keisengannya memotong-motong lagu di kaset pita untuk menggabungkan dengan yang lain, hal itu yang lalu mengasah kemampuannya lama-kelamaan dalam membuat mixtape dari sebuah kaset.

Sejauh ini Ajis dikenal piawai dalam meramu lagu-lagu dari berbagai jenis genre menjadi satu mixtape. Berbekal hanya dengan sebuah tape deck, mixer, dan alat mixing sederhana terciptalah ramuan lagu Indonesia lawas menjadi suatu yang mengasyikkan untuk era sekarang. Beberapa waktu lalu kami menyempatkan untuk mengobrol, membahas seluk beluknya menjadi seorang CJ dan banyak lainnya. Beberapa waktu lalu, Alunannusantara meminta Ajis untuk memberikan top5 lagu Indonesia versinya sendiri. Berikut adalah rangkumannya:

  • Remy Sylado – Orexas

<a href=”http://<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/ZKiqEZx4TUc&#8221; frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen>http://

Selain dikenal sebagai novelis sekaligus pelopor sastra mbeling, Remy Sylado juga dikenal sebagai musisi folk rock. Disamping “Bromocorah dan Putrinya”, “Orexas” adalah masterpiece dari mantan pemimpin redaksi majalah Aktuil ini. Lewat “Orexas”, Remy Sylado menyuarakan sebuah protes dari seorang anak terhadap orangtua yang tidak diberi kebebasan. Petikan lirik “Hee mari kita panjatkan doa kita, semoga orang-orang tua kita cepat dilanda malapetaka biar mampus dengan segala kemunafikan mereka” seolah ditujukan kepada anak-anak yang ingin mempunyai kehidupan progresif ditengah orangtua yang konservatif. Ah, nampaknya Japi Tambayong sudah “memprediksi” masa depan anak-anak muda yang open minded karena media sosial.

  • JavaJazz – Bulan di Asia

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/I4502g03xHM&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Salah satu lagu instrumental paling asik dari Indra Lesmana (bersama kawan-kawannya di JavaJazz). Perpaduan jazz dengan musik etnik dan sedikit unsur Jepang adalah senjata utama dari lagu berdurasi 10 menit 34 detik ini. Apalagi, ditambah suara latar Sophia Latjuba (yang masih menjadi istri Indra Lesmana saat itu) menambah kesyahduan ditengah improvisasi jazz yang cukup rumit. Konon, lagu ini dibuat Indra Lesmana saat ayahnya Jack Lesmana baru saja berpulang. Sekedar info, lagu ini ada dua versi. Versi pertama rilis di debut album JavaJazz tahun 1994 dengan judul “Bulan di Asia”, dan versi kedua rilis di album kedua JavaJazz “Sabda Prana” dengan menambah satu kata menjadi “Bulan di Atas Asia”. Versi keduanya ini lebih smooth dan pendek dan masih bisa dimengerti awam yang tak begitu menaruh minat terhadap jazz.

  • Deddy Stanzah – Jari dan Jempol

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/PxPyms1W-k8&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Mungkin kalau ditanya lagu funk apa yang orang nggak banyak ngeh siapa penyanyi aslinya tapi banyak diputar dimana-mana dan (mungkin) juga banyak dinyanyikan, “Jari dan Jempol” dari Deddy Stanzah adalah salah satunya. Pernah suatu hari salah satu program hiburan televisi swasta menghadirkan lagu ini secara live sebagai gimmick untuk memulai acara dan selektor musik yang biasa main di nightclub pun kerap memainkan lagu ini untuk sekedar memanaskan suasana. Dari permainan gitar di bagian awal lagu saja kita sudah tahu kalau ini adalah bukan lagu main-main. Meskipun lagunya sangat funk dan terkesan “berkelas”, akan tetapi salut liriknya menggunakan bahasa yang “sangat Indonesia” dengan kosakata seperti “enyak, babeh” dan semacamnya.

  • Gombloh – Kugadaikan Cintaku

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/z4Ch8i7BGKM&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Salah satu all time hit yang diwariskan Gombloh sebelum ia berpulang adalah “Kugadaikan Cintaku” dengan part lirik paling familiar “Di radio / aku dengar / lagu kesayanganmu / kutelepon dirumahmu / sedang apa dirimu”. Kisah terciptanya lagu ini berawal dari salah satu karya milik Jimmy Clift berjudul “Wonderful World Beautiful People”, tokoh musik reggae yang populer di pertengahan 1960-an. Gombloh diperkenalkan lagu ini oleh Bob Djumara, sound manager Nirwana Records. Tak sampai satu jam, Gombloh sudah berhasil menciptakan lagu yang berangkat dari karya milik Jimmy Clift. Awalnya, Gombloh membuat lirik untuk lagunya dengan tema sosial. Namun Bob meminta Gombloh untuk mengubah liriknya dengan mengangkat tema cinta. Dalam hitungan menit, Gombloh sudah merampungkan lirik yang diinginkan Bob. Tak diduga, lagu yang diciptakan dengan tidak serius itu malah meledak di pasaran. Lagu “Kugadaikan Cintaku” sukses mengangkat nama Gombloh ke puncak kariernya. Pada 1986, album ini menjadi album terlaris. Sayangnya, tak lama setelah masterpiece-nya ini rilis, Gombloh meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru.

  • Adi Bing Slamet – Darah Muda

<a href="http://<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/UKDy6S_3V6c&quot; frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen>http://

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Adi Bing Slamet semasa remaja pernah merilis lagu funk berjudul “Darah Muda”. Sebenarnya ini bukan lagu asli, melainkan cover version dari lagu Lipps Inc. berjudul “Funkytown” (1979). Karena saat itu belum ada aturan atau undang-undang mengenai hak cipta, maka Adi Bing Slamet pun “menyulap” lagu ini menjadi lagu berbahasa Indonesia dengan judul “Darah Muda”. Lagu ini seolah mempunyai spirit yang serupa dengan “Orexas”, yaitu tentang kehidupan anak muda yang baru saja akil balig dan menginginkan kebebasan sekaligus kehidupan progresif terlepas dari bayang-bayang kehidupan orang tua mereka yang terkesan konservatif. Terlebih, lagu ini rilis pada saat Adi Bing Slamet memasuki masa peralihan dari penyanyi anak-anak menjadi penyanyi remaja yang akan beranjak dewasa.

Teks oleh: Abie Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s