Harie Dea: Dulu dan Sekarang

Muncul sekejap lewat album maha megah Santun Petaka. Lalu hilang begitu saja tanpa jejak bak ditelan bumi. Inilah Harie Dea, yang kini lebih dikenal dengan nama Romo Harie. Akan diulas dengan segala keunikan serta kemisteriusan hidupnya. Lalu, bagaimana cerita dibalik album “Santun Petaka”? Serta bagaimana beliau setelah karirnya di album “Santun Petaka” sampai kini dikenal sebagai seorang “Romo”? Simak selengkapnya di artikel kami.

MASA KECIL SAMPAI MASA REMAJA

Hariyadi Usman, begitulah nama aslinya. Lahir di Sidoarjo pada 11 Agustus 1956. Beliau lahir dari keluarga yang murni seniman. Sang ayahanda, Achoed Usman, serta sang ibunda, Fetty Fatimah, merupakan musisi kondang di era 50-an sampai 60-an. Fetty Fatimah bahkan adalah salah satu penyanyi istana, dan merupakan penyanyi kesayangan Bung Karno. Salah satu karya terkenal yang melibatkan Fetty Fatimah adalah album “Papaja Mangga Pisang Djambu” yang dirilis pada kisaran tahun 1960-an.

Romo Harie tumbuh dalam ruang lingkup seni. Ayahnya yang bergelut di dunia penciptaan lagu serta ibunya yang merupakan seorang penyanyi tersohor membuat Romo Harie secara langsung bersentuhan dengan dunia seni. Di masa mudanya, ia sudah senang memainkan alat musik, bahkan sampai menggemari dunia tarik suara. Sampai pada akhirnya, orang tuanya membentuk sebuah grup bersaudara semacam Jackson 5 yang ada di Amerika sana. Band ini diberi nama The Bamboos. Sesuai dengan namanya, mereka memainkan alat musik bambu pada lagu-lagunya. The Bamboos sendiri sempat merilis album yang berisi lagu-lagu daerah.

Namun, rezeki musisi tidak selamanya mulus. Usman dan Fatimah meredup karirnya. Berbagai harta yang dimilikinya pun kebanyakan dijual demi menyambung hidup. Termasuk grup The Bamboos pun ikut bubar. Namun, anak-anaknya tidak meninggalkan dunia musik begitu saja. Personil wanita dari The Bamboos, yang merupakan adik-adik kandung dari Romo Harie membentuk sebuah grup baru, yaitu The Bamboo Girls. Sedangkan Romo Harie sendiri memilih untuk menjadi guru vokal dan menulis beberapa lagu.

LOMBA CIPTA LAGU REMAJA DAN SANTUN PETAKA

Di ibukota, nama Harie mulai dikenal. Ia merupakan “anak gaul” di kalangan teman-temannya. Dari sanalah nama “Dea” didapatkan. Romo Harie sendiri bercerita kalau nama “Dea” ia dapatkan dari teman-temannya. “Ya, jadi Harie Dea. Nama Dea didapatkan ketika nongkrong bareng teman-teman. Jadi bisa dibilang itu nama nongkrong saya”, ujar Romo Harie. Jadilah ia dikenal dengan nama Harie Dea. Begitu juga nama “Balagadona”. Nama tersebut ia dapatkan dari teman-temannya yang menilai bahwa Romo Harie memiliki penampilan dagu yang tidak rapih alias berantakan, atau jenggotan. Istilah “Balagadona” sendiri diambil dari Bahasa Sunda. “Bala” artinya berantakan. Sedangkan “Gado” artinya dagu. Jadi “Balagadona” adalah “Berantakan dagunya”.

Tracklist kaset album ’10 Pencipta Lagu Remaja’.

Sampai di tahun 1978, lewat kegemarannya dalam menulis lagu, Romo Harie memberanikan diri untuk turut serta dalam Lomba Cipta Lagu Remaja. Lagu ciptaan Romo Harie masuk ke dalam semi final Lomba Cipta Lagu Remaja tahun 1978. Artinya, lagu ciptaannya masuk ke dalam album “10 Pencipta Lagu Remaja” yang diiringi oleh Prambors Band. Karyanya yang berhasil menembus semi final tersebut berjudul “Cinta Diri” yang dinyanyikan oleh Utha Likumahuwa.

Ada yang unik bila kita memperhatikan kaset dari album “10 Pencipta Lagu Remaja” ini. Pada lagu yang diciptakan oleh Romo Harie, disana tertulis “Cinta Diri” diciptakan oleh Harry B. dan dinyayikan oleh Hutta M. Siapakah Harry B. dan siapakah Hutta M? Ternyata Harry B. disini maksudnya adalah Harry Baladagona, mengacu pada Harie Dea. Sedangkan Hutta M. yang dimaksud adalah Utha Likumahuwa. Mungkin terjadi kesalahan ketik saat pencetakan album ini.

Semenjak itu, nama Harry Baladagona semakin terdengar. Fenomena yang biasa terjadi pada saat itu adalah apabila ada pemuda yang sedang naik daun, pastilah mereka akan nongkrong dengan anak-anak Pegangsaan. Jalan Pegangsaan saat itu adalah sebuah tempat nongkrong anak-anak band, tepatnya di rumah Naustion bersaudara. Fenomena ini pun tidak luput dari pribadi seorang Romo Harie. Romo Harie pun ikut nongkrong dengan anak-anak Pegangsaan, seperti Chrisye, Yockie Suryo Prayogo, Keenan Nasution, Fariz RM, dan masih banyak lagi. Dari sanalah perkenalan Romo Harie kepada dunia industri musik.

Dari tempat nongkrong itu muncullah beberapa grup musik. Sebut saja ada Gipsy, Young Gipsy, sampai Badai Band. Namun, Harie tidak terlibat dengan grup musik manapun. Harie merasa berbeda konsep musiknya dengan anak-anak Pegangsaan yang lain. “Saya kurang masuk dengan musik Yockie sih, dia terlalu Genesis kali ya. Kalau saya kan lebih ke Chick Corea, Earth Wind & Fire, ya fusion jazz gitu lah” ucap Harie. Karena ada perbedaan dalam visi bermusik, Harie tidak pernah tampil bersama anak-anak Pegangsaan lainnya. Walau begitu, secara personal mereka tetap berteman. Hanya visi musik saja yang berbeda.

Karena perbedaan visi bermusik inilah, akhirnya Harie membuat album sendiri dengan corak musik yang ia sukai sendiri. Harie mengajak Fariz RM dan Hari Soebardja, pentolan grup musik Giant Step asal Bandung. Alasan mengajak Fariz dan Hari Soebardja adalah karena keterbatasan biaya. “Pada waktu itu kan Fariz second drummer dari Badai Band. Nama dia pun belum sepopuler Keenan Nasution. Jadi ya saya ajak dia aja deh buat ngisi album. Sedangkan Hari Soebardja memang kawan saya.” Harie yang saat itu berusia 23 tahun langsung menuju studio Gelora Seni, studio yang terkenal dengan kecanggihannya. Di tengah kesibukan semester akhir perkuliahannya, Romo Harie melaksanakan proses rekaman.

Romo Harie langsung mengomandoi proses penciptaan album ini. Alias, Harie lah yang menjadi sutradara musik pada album ini. Sedangkan Fariz dan Hari Soebardja adalah pemain musik yang langsung diarahi oleh Harie Dea. Harie diberi waktu 1 bulan untuk proses rekaman album ini. Di tengah-tengah proses rekaman tersebut, Romo Harie sempat meninggalkan studio untuk menuntaskan tugas akhir kuliahnya. Sedangkan urusan rekaman diambil alih oleh Fariz dan Boy, operator rekaman Gelora Seni. Selepas urusan pendidikan, ia kembali ke studio rekaman.

Album Harie Dea, Santun Petaka.

Album pun sudah jadi. Album ini diberi judul “Santun Petaka”. Sampul albumnya bergambar Romo Harie sedang memegang rokok raksasa sambil tertawa. Apa maksudnya? Maksud dari sampul album tersebut adalah arti dari “Santun Petaka” itu sendiri. “Santun Petaka” sendiri artinya hal baik yang membawa petaka. “Sama seperti rokok. Rokok memang mengenakkan, membuat tenang, membuat bahagia, digambarkan dengan Romo Harie yang sedang tertawa lepas. Namun dibalik itu, ada petaka yang besar. Seperti menyebabkan beberapa penyakit di dalam tubuh kita” Ujar Romo Harie. Itulah sebabnya mengapa digambarkannya dengan rokok raksasa. Kebahagiaannya besar, namun petakanya juga besar.

Album “Santun Petaka” yang dirilis di tahun 1979 ini sempat membuat industri musik Indonesia terkaget-kaget. Karena aliran musik yang ditawarkan Romo Harie dalam album ini saat itu tidak ada di Indonesia. Bisa dibilang, Romo Harie dalam “Santun Petaka” merupakan cikal bakal fusion jazz di Indonesi. Artinya, ini jauh sebelum “Hotel San Vicente”-nya Transs (1981) atau “Sakura”-nya Fariz RM (1980).

Selain musiknya yang megah, video klip yang dibuat untuk lagu-lagu dalam album ini pun berkonsep megah. Dalam album ini, total ada dua video klip yang dibuat. Yang pertama adalah untuk lagu “Asmara Perdana”, hits dari album “Santun Petaka”. Dalam video klip lagu tersebut, Romo Harie ditemani oleh Indah Soekotjo, model serta mantan istri Yockie Suryo Prayogo. Dalam video tersebut, mereka menaiki sebuah perahu di tengah sebuah danau. Sedangkan video klip kedua yang dibuat adalah “Senandung Dibatas Mimpi”. Menurut penuturan Romo Harie sendiri, video klip ini sangat megah. Sesuai dengan musiknya yang megah. Dalam video ini, Romo Harie tidak sendiri. Ia ditemani oleh penari latar yang menamai dirinya “Disko Pecah Belah”. “Disko Pecah Belah” sendiri berisi kumpulan model-model papan atas saat itu. Diantaranya adalah Indah Soekotjo, Ria Saha, dan dua anak Titiek Puspa, yaitu Petty Tunjungsari, dan Ella Puspasari.

Popularitas yang didapat sekejap oleh Romo Harie tersebut membuat namanya cukup dikenal di ibukota saat itu. Namanya pun tak lepas dari perhatian banyak wanita. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seorang wanita, anak seorang jenderal, bernama Raden Ayu Sri Sunarni. Ayahnya adalah Let. Jend. Purn. Sudjono Humardani, Inspektur Jenderal Pembangunan Republik Indonesia sekaligus penasihat spiritual presiden Suharto. Sedangkan kakaknya Ayu Sri adalah Tatiek. Tatiek kelak menjadi istri dari Fauzi Bowo, yang kemudian dikenal pernah menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Kelak wanita ini menjadi istri dari Romo Harie. Hal inilah yang membuat ia meninggalkan musik. Dan itulah alasannya mengapa album “Santun Petaka” hanya populer sekejap dan Romo Harie pun tidak melanjutkan karirnya di dunia musik.

PASCA SANTUN PETAKA, DUNIA POLITIK, DAN SPIRITUAL

Perkenalan dengan istrinya membuat Romo Harie mundur dari dunia musik. Apalagi Romo Harie masuk dalam ruang lingkup militer dan pemerintahan. Alhasil Romo Harie benar-benar melepaskan diri dari dunia musik. Itulah alasannya mengapa Romo Harie tidak sempat konser, bahkan album “Santun Petaka” tidak sempat promo.

Lepas dari dunia musik, Romo Harie melanjutkan melanjutkan karirnya di dunia bisnis dan politik. Mulanya, Romo Harie melanjutkan pendidikannya di Kader-Perbankan LPPI, Kemang, Jakarta Selatan.  Ini melanjutkan pendidikan Romo sebelumnya saat mahasiswa yaitu akuntansi. Bergerilya di dunia bisnis ternyata menguntungkan bagi Romo Harie. Saat itu, Ia aktif dalam beberapa organisasi. Diantaranya organisasi Kamar Dagang Industri (KADIN) dari tahun 1981 sampai sekarang dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dari tahun 1981 sampai 1996. Disamping itu, Romo Harie juga terlibat di Partai Politik penguasa saat itu.

Memasuki pertengahan 80-an, dirinya semakin terlibat di banyak sekali elemen. Di tahun 1985, Romo Harie menuntaskan pendidikan Penataran Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dan Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) di Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). Setelah itu, Romo Harie kembali terlibat di beberapa organisasi, diantaranya adalah:

Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI) dari tahun 1986 – 2000

Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI) dari tahun 1986 – 2000

Asosiasi Budi Daya Mutiara Indonesia (ASBUMI) dari tahun 1990 – 2000

Diluar pengalaman berorganisasi, Romo Harie menjabat sebagai direktur utama di sebuah perusahaan sejak tahun 1981 sampai tahun 2000. Dunia politik dan bisnis ini membuat Romo Harie sering plesiran ke mancanegara. Sering sekali Romo Harie plesiran dalam rangka kegiatan berdiplomasi dengan negara lain. ini karena Romo Harie sering ikut dengan keluarga mertuanya yang notabenenya dekat dengan keluarga presiden saat itu. Salah satu yang paling fenomenal adalah Romo Harie pernah bertemu dengan Perdana Menteri Jepang pada tahun 1991.

Harie Dea bersama Perdana Menteri Jepang

Memasuki akhir 80-an, Romo Harie mulai menekuni dunia spiritual Jawa. Ilmunya ia dapatkan dari sang mertua, Surdjono Humardani, yang merupakan penasihat spiritual presiden Suharto. Mulai dari tahun 1989, Romo Harie melaksanakan Kawah Candradimuka atau proses penempaan ilmu selama 10 tahun. Barulah di tahun 2000, Romo Harie secara resmi menyandang titel sebagai budayawan spiritual.

Di tahun 2000-an, ia mulai kembali terjun ke dunia politik. Kiprahnya di dunia politik sejak tahun 80-an ia lanjutkan di tahun 2000-an. Mengikuti jejak sang mertua, Romo Harie di tahun 2012 menjadi penasihat dari pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama. Tidak berselang lama, saat memasuki pemilihan presiden tahun 2014, Romo Harie menjadi penasihat bagi pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Dua momen ini sangatlah krusial, ditambah kontroversi antara Romo Harie dengan Fauzi Bowo, sang kakak ipar yang juga menjadi lawan dari Joko Widodo pada saat pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Tentu momen ini semakin menambah bumbu kontorversi seorang Romo Harie. Namanya pun saat itu santer dibicarakan.

Kini, Romo Harie melepas diri dari politik. Romo Harie lebih fokus kepada mengurus bisnis dan menjadi budayawan saja. Kini, Romo Harie menikmati masa tuanya dengan bersantai di rumah, sekadar nongkrong dengan teman-temannya. Disamping itu, ia juga masih memegang jabatan di beberapa organisasi seperti ORMAS Himpunan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Yayasan Kebudayaan Jawa BUDHI LUHUR. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah organisasi bernama Yayasan Kebudayaan Multi Etnik Gado-Gado Jakarta. Sebuah yayasan yang menampung anak-anak untuk menyalurkan bakat keseniannya.

Terungkap sudah kemisteriusan seorang Harie Dea. Yang muncul sekejap lewat album megah “Santun Petaka”, tapi tiba-tiba hilang begitu saja. Kini, Harie Dea kembali dicari-cari, semenjak namanya naik kembali lewat lagu “Senandung Dibatas Mimpi” yang kembali diperkenalkan dengan salah satu DJ terkenal dari Ibukota, Diskoria Selekta.

Paling tidak, tulisan ini sedikit menjawab rasa penasaran pemirsa terhadap kondisi serta keadaan seorang Romo Harie Dea saat ini.

Narasumber: Harie Dea

Penulis: Arbhirizky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s