Gambaran “Musik Masa Depan” a la Chrisye dan Yockie Suryoprayogo dalam “Percik Pesona”

Cover album Chrisye – “Percik Pesona”

Chrisye adalah salah satu “cinta pertama” saya dalam menyukai musik. Siapapun tidak akan mampu membendung kekaguman akan suara emas pemilik all-time hit “Cintaku” ini. Rasanya hampir semua lagu beliau mampu dinikmati dengan baik oleh para pendengar yang terdiri dari berbagai macam kalangan. Dari mulai generasi tua bahkan sampai ke yang muda sekalipun, lagu-lagu Chrisye masih banyak dinikmati sampai sekarang meskipun Chrisye sudah lama pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Rasanya tidak berlebihan kalau saya mengatakan Chrisye adalah “king of pop” nya Indonesia karena pengabdian penuhnya terhadap musik pop sejak belia hingga akhir hayatnya.

Berbicara Chrisye, secara personal tentu tidak akan lepas dari peran ayah saya. Ayah saya-lah yang pertama kali memperkenalkan saya terhadap Chrisye saat saya duduk di awal bangku sekolah dasar. Kalau tidak salah, ketika itu Chrisye masih ada di dunia. Saya ingat ketika ayah saya pertama kali memperkenalkan Chrisye lewat kaset kompilasi lagu-lagu hits beliau yang ketika itu sering diperdengarkan melalui tape mobil, sampai akhirnya saya pun secara tidak langsung ikut menyukai lagu-lagunya. All-time hits dari Chrisye dari awal karir sampai sebelum ajal menjemputnya seperti “Cintaku”, “Badai Pasti Berlalu”, “Juwita”, “Kala Cinta Menggoda”, dan sebagainya sudah lama saya kenal sejak duduk di bangku sekolah. Tetapi anehnya tidak ada satupun lagu-lagu dari salah satu album beliau berjudul “Percik Pesona” yang saya tahu dari dulu! Meskipun di kemudian hari malah saya menganggap “Percik Pesona” adalah album terfavorit dan terbaik dari Chrisye sepanjang karir dan hidupnya.

Bagi saya, album kedua Chrisye yang rilis dibawah bendera Musica Studios tahun 1979 ini adalah album Chrisye yang paling “gila” sekaligus artistik. Pengaruh besar Emerson Lake & Palmer, Genesis, dan Yes menjadi salah satu alasan kuat mengapa album ini dibuat. Saking megah dan artistiknya album ini, “Percik Pesona” gagal menembus pasaran. Tidak seperti tiga album sebelumnya yang berhasil mencetak hits dan menjadi tonggak dari revolusi musik pop di Indonesia. Konon katanya pula, ketika “Percik Pesona” dibuat Chrisye sempat kehilangan gairah dalam bermusik sehingga akibatnya Chrisye mengalami apa yang dinamakan “kutukan album kedua”. Pantas saja jika sedari awal saya mengetahui dan mendengarkan Chrisye tidak ada satupun lagu-lagu dari album “Percik Pesona” yang pernah saya dengar.

Percikan ambience yang lahir dari eksplorasi permainan synthesizer Yockie Suryoprayogo menjadi tolak ukur penting dari album ini yang tidak bisa dilewatkan di semua lagunya. Permainan synthesizer dari Yockie-lah yang membuat album ini terkesan artistik bahkan jauh melampaui masanya alias futuristik. Tidak hanya berupa melodi yang dimainkan dalam synthesizernya, tetapi juga modul yang “dioprak-oprek” pun kerap dilakukan di beberapa lagu sehingga nilai artistiknya menjadi lebih tinggi. Bahkan analog synthesizer menjadi alat yang mendominasi penuh dalam album “Percik Pesona” dibandingkan dengan alat musik lainnya seperti gitar ataupun piano. Kejeniusan Yockie Suryoprayogo dalam mengolah musik memang tidak perlu diragukan lagi. Hal inilah yang kemudian diterapkan Yockie saat menjadi music director dalam album “Percik Pesona”.

Selain Yockie, album yang berisikan sepuluh buah lagu ini juga didukung oleh musisi seperti Fariz RM, Jimmie Manopo, Keenan Nasution, serta Rafika Duri. Fariz RM yang kala itu baru saja memulai petualangan panjangnya di industri musik didapuk untuk menjadi music director dalam lagu gubahannya sendiri berjudul “Kehidupanku” yang juga berada dalam track paling awal dari album “Percik Pesona”. Dalam lagu ini, Fariz menggantikan sementara posisi Yockie sebagai music director yang saat itu tengah menggarap album Andi Meriem Mattalatta berjudul “Bahtera Asmara”. Ajaibnya, Fariz yang multi-instrumentalist ini memainkan semua alat musik dalam lagu “Kehidupanku”! Sama seperti lagu lainnya, lagu “Kehidupanku” lebih mengedepankan bunyi-bunyian synthesizer daripada alat musik lainnya. Dalam album ini, posisi drum diambil alih oleh Jimmie Manopo sementara Rafika Duri menjadi backing vocal dalam beberapa lagu. Kontribusi dari para legenda musik Indonesia ini membuat album “Percik Pesona” semakin mencapai puncak keemasannya.

Fariz RM, Chrisye, Rafika Duri dan Yockie Suryoprayogo di kantor Musica Studios saat proses rekaman “Percik Pesona”, 1979. (foto dok: Yockie Suryo Prayogo on Facebook)

Meskipun album ini gagal di pasaran pada eranya, tidak bisa dipungkiri kalau sekarang album ini menjadi buruan para kolektor musik. Setelah 40 tahun berlalu, bagi saya album “Percik Pesona” masih tetap relevan ditengah kecanggihan teknologi dan tidak salah juga bila ada yang menganggap lagu-lagu di album ini adalah lagu yang baru rilis di tahun 2019 karena permainan synthesizer yang terkesan futuristik tadi. Selain itu pula, fakta penting yang saya dapatkan melalui album ini adalah, lagu-lagu Chrisye pernah direkonstruksi oleh permainan berbagai macam synthesizer analog seperti MiniMoog, ARP Odyssey, Solina Strings, Mellotron juga Hohner Clavinet yang kerap ditemui dalam permainan lagu-lagu jazz (Indra Lesmana, contoh besarnya). Jika banyak orang akan menganggap album “Aku Cinta Dia” atau “Nona” sebagai album terbaik Chrisye karena menghasilkan beberapa hits besar yang sekarang kerap diputar di diskotik dan menjadi anthem wajib para millennials yang dimabuk asmara, maka saya akan memilih “Percik Pesona” sebagai album terbaik dari Chrisye, sang legenda meskipun tidak banyak yang tahu lagu-lagu di album ini.

Teks oleh: Abie Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s