Noor Bersaudara: Di Antara Jazz dan Pop

Oleh: Abie Ramadhan

Cover album Noor Bersaudara yang dirilis oleh Hidayat Records, 1977

Satu alasan pasti kenapa saya harus membeli bahkan mengoleksi rilisan fisik (piringan hitam, kaset, dan CD) adalah karena memang saya menggilai album itu setelah sebelumnya berulang kali mendengarkannya melalui platform digital. Alasan kedua, tentu karena visualisasi cover art yang ciamik membuat saya betah dan ketagihan memandang dan membaca graphic design dibalik cover dari album yang saya sukai. Alasan ketiga, adalah karena album itu tidak tersedia rekam jejak digitalnya di dunia maya sehingga – mau tidak mau – saya harus membeli rilisan fisiknya, terutama kaset atau piringan hitamnya. Karena kebanyakan kasus terkait alasan kedua ini berlaku pada album yang rilis di masa lalu saat era analog mendominasi penuh sektor audio-visual.

Alasan ketiga inilah yang terjadi saat saya membeli kaset self-titled Noor Bersaudara yang dirilis oleh label jazz top paruh era 70’an bernama Hidayat Records. Dalam beberapa platform digital seperti penelusuran Google bahkan Youtube sekalipun, kita tidak bisa menemukan satupun file digital lagu-lagu yang ada di album ini. Saya Pertama kali mendengar album ini di sebuah record store kesayangan saya di Bandung. Kebetulan saya sudah cukup akrab dengan pemilik sekaligus penjaga tokonya. Beliau menyodorkan kaset Noor Bersaudara tersebut kepada saya di atas mejanya. Karena penasaran, saya pun meminta beliau untuk menyetelnya. Dan ya, saya pun langsung benar-benar terbuai oleh lagu “Kesepian” dan “Surat Undangan” yang merupakan track pertama dan kedua dari side A di album ini. Setelah saya pulang ke rumah, saya pun langsung mengecek keberadaan link download album Noor Bersaudara ini dalam penelusuran mbah Google dan hasilnya nihil. Berhubung kaset Noor Bersaudara di record store kesayangan saya itu tidak dijual, saya baru berhasil mendapatkannya beberapa bulan kemudian secara online melalui salah seorang kolektor di Surabaya dengan harga diatas standar harga kaset pada umumnya.

Mungkin banyak orang mengetahui grup vokal yang terdiri dari Firzy, Harry, Iwan, Nana, Ida, Yanti, dan Dewi ini lewat jalur musik pop yang dibawakannya. Tetapi di awal-awal karir mereka, tepatnya di tahun 1977, Noor Bersaudara merilis album self-titled kedua full berirama jazz dibawah naungan label Syah Studio/Hidayat Records dengan bantuan para pahlawan jazz Indonesia seperti Jack Lesmana, Abadi Soesman, Benny Likumahuwa, Karim Suweileh, dan Perry Pattiselanno. Tidak lama setelah mereka meluncurkan album debut berjudul “Harapan nan Gersang” di tahun 1975, Noor Bersaudara “ditemukan” oleh Jack Lesmana ketika mereka mengisi sebuah acara musik di TVRI. Lalu, Jack Lesmana memintanya untuk mengisi acara musik yang diasuhnya di TVRI bernama “Nada dan Improvisasi”. Dari sinilah Noor Bersaudara kemudian dipertemukan oleh musisi jazz kenamaan seperti Benny Likumahuwa, Karim Suweileh, dan Perry Pattiselanno. Hasilnya, tentu adalah penggarapan album kedua Noor Bersaudara yang rilis dibawah bendera Hidayat Records.

Fun fact dalam album ini adalah, keseluruhan lagunya direkam secara live dalam acara “Nada dan Improvisasi” di TVRI yang saat itu sudah menggunakan format taping. Kecuali dua lagu “Kesepian” dan “Surat Undangan” yang benar-benar direkam di studio. Pembagian harmonisasi vokal yang dilantunkan Noor Bersaudara dalam album ini tentunya menjadi sebuah nilai lebih. Lagu milik A. Riyanto berjudul “Kesepian” yang diaransemen ulang dalam versi modern jazz, serta lagu Diah Iskandar berjudul “Surat Undangan” yang diaransemen ulang dalam format soul-jazz bernuansa ballad adalah best-cut dari album ini. Di album ini pula, Noor Bersaudara sempat menyanyikan beberapa lagu ciptaan Ismail Marzuki seperti “Ku Berjanji”, “Nasib Tambangan”, dan tentu saja all-time hits “Sabda Alam” yang diaransemen ulang penuh warna funk. Album ini menyisipkan beberapa nomor instrumental di mana Jack Lesmana dkk. berkesempatan untuk “pamer” skill mereka dalam memainkan jazz. Di album ini pula, Jack Lesmana memperkenankan putranya, Indra Lesmana yang saat itu berumur 11 tahun untuk memainkan Rhodes Electric Piano dalam lagu ciptaannya sendiri berjudul “Kabur” sebelum merilis album solo pertamanya setahun berikutnya.

Album ini nyatanya cukup menyita perhatian para penikmat musik, khususnya musik jazz di Indonesia pada era itu. Meskipun selanjutnya Noor Bersaudara lebih banyak berkonsentrasi di ranah musik pop, tetapi album ini merupakan sebuah sejarah yang sangat penting dalam perkembangan musik di Indonesia, khususnya musik jazz di Indonesia. Album ini kaya akan warna jazz yang variatif seperti swing, bossanova, ballad, hingga modern dan soul-jazz dengan tetap terdengar catchy di telinga siapapun yang mendengarnya. Apalagi ditambah dengan harmonisasi vokal a la Noor Bersaudara yang terkesan “jelimet” tapi tetap terdengar syahdu nan merdu. Berhubung album ini tidak ada rekam jejak digitalnya di dunia maya, satu-satunya cara untuk bisa mendengarkannya adalah dengan membeli kasetnya yang semakin hari semakin susah dan semakin mahal untuk didapat. Happy hunting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s