Guruh Gipsy: Sebuah Candu

Kalau berbicara Guruh Gipsy, Cuma ada tiga kata yang terlintas di pikiran saya: Edan, Hip, dan Candu. Berbicara musik, sudah pasti sisi ‘edan’ dari Guruh Soekarnoputra cs. tidak perlu diragukan lagi karena sampai saat ini menurut saya belum ada lagi yang bisa menyaingi mereka. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, sudah empat dekade berlalu, Guruh Gipsy beserta mahakarya berupa album satu-satunya yang diberi motto “Kesepakatan dalam Kepekatan” ini masih tetap tergolong anti-mainstream jika dilihat dari sisi konten produksinya. Saya sepakat kalau ada orang yang bilang Guruh Gipsy berguna untuk meningkatkan harkat, derajat, dan martabat seorang anak muda supaya terlihat ‘hipster’ diantara teman-temannya yang kebanyakan mengkonsumsi musik-musik mainstream yang mentok di Billboard Top 40 atau nyerempet-nyerempet dikit ke musik-musik indie a la Payung Teduh dan kawan-kawannya. Hal ini pernah diakui pengamat musik (alm.) Denny Sakrie pada saat ia menjadi moderator diskusi “Putar Kembali: Badai Pasti Berlalu dan Guruh Gipsy” di Jakarta sekitar 2013 lalu.

Dan candu, bagi saya Guruh Gipsy seolah mempunyai mantra yang bisa memanjakan telinga para pendengarnya. Seperti narkoba, ia akan selalu memanjakan para penggunanya untuk tenang, dan tentu saja: nge-fly boss! Meski tidak tergolong ke ranah musik psychedelic yang memang tercipta untuk membikin pendengarnya nge-fly, album Guruh Gipsy punya kekuatan untuk saya selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi. Ketagihan, itulah kosakata yang tepat menggambarkan diri saya pribadi ketika mendengarkan karya Guruh Gipsy. Meskipun pada eranya karya-karya mereka tergolong rumit dan ribet dari sisi produksinya karena lagu mereka yang panjang-panjang (bahkan sampai lebih dari 10 menit), selalu ada sesuatu yang membuat saya ingin selalu mendengar nomor-nomor cantik seperti “Indonesia Maharddika”, “Barong Gundah”, atau “Janger 1897 Saka”.

Mungkin yang menjadi pertanyaan besar setiap orang yang mendengarkan Guruh Gipsy (termasuk saya sendiri) adalah bagaimana mereka bisa membuat dan merekam lagu dengan durasi yang panjang-panjang seperti itu di era 1970’an yang mana teknologi rekaman masih sangat terbatas sama sekali? Peralatan rekaman masih full-analog dengan menggunakan mixer 8-16 track yang kalau ada bagian yang salah, harus diulangi lagi dari awal! Mungkin akan menjemukan, tapi disitulah nilai estetikanya. Sayapun juga penasaran apakah selama proses pembuatan album Guruh Gipsy yang konon memakan waktu lebih dari satu tahun itu sempat ‘didukung’ oleh pengaruh-pengaruh mistis yang membuat keseluruhan lagu-nya malah terdengar sangat ‘creepy’? Entahlah, hanya Tuhan dan para personil Guruh Gipsy lah yang tahu. Yang jelas, Guruh Gipsy adalah sebuah karya yang sarat akan nilai estetika. Nilai estetika itu tidak hanya terpancar dari lagu-lagu mereka, tetapi juga dari cover-art nya yang menampilkan kaligrafi Dasabayu yang terdiri atas 10 aksara Bali yang cocok dikaji dengan menggunakan teori semiotika.

Konon katanya, dulu kaset Guruh Gipsy ini dijual di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar permusikan seperti apotek dan salon! Bukan di toko kaset, karena saat itu siapa yang ingin dengar lagu-lagu yang durasinya panjang? Empat puluh tahun kemudian, sudah bukan rahasia lagi kalau kaset Guruh Gipsy saat ini dihargai gila-gilaan oleh para kolektor rilisan fisik karena saking langkanya. Bahkan sampai tembus diatas 500.000 rupiah! Sekedar info, kaset Guruh Gipsy ini adalah kaset Indonesia pertama yang dilengkapi dengan scrapbook berisi foto personil, lukisan, dan lirik lagu didalamnya. Dan kaset Guruh Gipsy dengan scrapbook ini bisa dihargai dua juta rupiah! Sekitar tahun 2006 label asal Jerman pernah merilis Guruh Gipsy dalam format piringan hitam yang memicu amarah dari Keenan Nasution selaku vokalis utama Guruh Gipsy sehingga piringan hitam Guruh Gipsy tidak dilanjutkan lagi pendistribusiannya. Dan tentu piringan hitam Guruh Gipsy saat ini tidak diberi harga main-main oleh para kolektor mengingat ‘kelangkaan’-nya. Sudah dipastikan seseorang akan ‘kaya mendadak’ jika mereka menjual kaset atau vinyl Guruh Gipsy yang semakin hari semakin susah didapatkan. Sampai saat ini, saya masih menunggu-nunggu personil Guruh Gipsy untuk mengadakan reunion concert meskipun sudah ditinggal Chrisye ke alam baka. Overall, to me Guruh Gipsy isn’t just a music that makes people who listen feels “hipster”, but it’s a crave like drugs!

Tulisan oleh: Abie Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s