Top 5 – Dimas Ario

Top 5 merupakan rangkuman 5 lagu pilihan/ favorit dari ribuan bahkan jutaan lagu yang pernah didengar oleh seseorang yang telah kami pilih. 5 lagu yang kami sajikan hanya berisikan lagu-lagu Indonesia dari lintas genre bahkan lintas zaman! Penasaran kan lagu Indonesia favorit dari orang-orang yang telah kita pilih?


Nah, untuk episode ke -2 ini kita bakal disajikan top 5 dari Dimas Ario. Dimas Ario ialah seorang kurator musik yang berpengalaman bekerja untuk beberapa layanan musik streaming lokal maupun internasional dan juga kurator untuk musik yang diputar di berbagai tempat publik komersial seperti hotel dan restoran. Sejak 2016 Dimas juga aktif sebagai manager dari band Efek Rumah Kaca (ERK) sekaligus bersama keluarga besar ERK turut mengelola Kios Ojo Keos, sebuah toko buku berdikari dan ruang bersama untuk komunitas yang berdiri di bulan Mei 2018.

Koleksi pribadi Dimas Ario

Membuat daftar album terbaik akan selalu menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, bahkan sering terjadi ada beberapa pilihan yang terpaksa dikeluarkan dari daftar pada menit-menit terakhir.

Begitu juga saat diminta oleh teman-teman Alunan Nusantara untuk memilih 5 album Indonesia terbaik, saya langsung meminta waktu yang cukup panjang untuk membuat daftarnya. Terlebih karena pilihannya dibatasi hanya sampai 5 membuat saya begitu tersiksa. Bagaimana mungkin saya bisa meringkus begitu banyak album Indonesia favorit dari masa-masa ke dalam jumlah yang sangat terbatas?

Akhirnya untuk menanggulangi kesulitan tersebut, saya memutuskan untuk membatasi periode rilis dari album yang saya pilih. Kali ini saya akan memilih 5 album terbaik dari paruh kedua tahun 70an. Bagi saya paruh kedua tahun 70an di Indonesia adalah dimulainya masa-masa yang paling progresif dimana banyak album-album yang dirilis selama periode tersebut memiliki warna yang berani melawan pasar yang juga di kemudian hari menjadi cetak biru bagi generasi selanjutnya.

Tanpa berpanjang-panjang lagi, berikut ini adalah lima album terbaik bagi saya dari paruh kedua tahun 70an yang disusun berdasarkan tahun rilis yang paling awal.

  1. Contrapunk – Putri Mohon Diri (Pramaqua, 1976)

Sebuah album eklektik yang memadukan musik Pop dengan unsur Progresif Rock yang dengan cueknya juga menyusupkan beberapa unsur klasik dan tradisional Sunda di beberapa lagunya. Album Putri Mohon Diri semakin unik karena menghadirkan dua penyanyi tamu bersuara khas, Titiek Puspa dan Grace Simon yang keduanya berhasil bernyanyi di luar zona nyamannya.

Grup musik Contrapunk ini dibentuk oleh penyanyi dan penulis lagu Adji Bandi yang menulis lagu, lirik dan mengerjakan aransemen seluruh lagu pada album ini, sekaligus juga bermain beberapa instrumen musik mulai dari Biola, Piano hingga Kecapi. Mendengarkan album Putri Mohon Diri adalah petualangan musikal yang sangat mengasyikkan, karena alurnya yang tidak mudah ditebak.

Sayangnya, Putri Mohon Diri menjadi satu-satu album yang pernah dirilis oleh Contrapunk karena selepas album ini, Adji Bandi lebih berkonsentrasi sebagai penulis lagu dan juga kemudian merintis karir solonya.

2. Monticelli Club – Musik Akustik (Hidayat, 1977)

Seperti kebanyakan sejarah musik di Indonesia, info yang saya peroleh mengenai Monticelli Group sangat minim. Sejauh ini saya hanya mengetahui bahwa Monticelli Group berasal dari Bandung dan dipimpin oleh gitaris dan komposer, Dinni Soewarma. Monticelli mungkin lebih tepat disebut sebagai kolektif dengan anggota banyak yang terdiri antara lain, Harry Roesli, One Dee Grup, kelompok vokal Stairway, bassist dari Shark Move, dan Yanto Diablo. Dalam album ini, masing-masing anggota membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Karena itu, album Musik Akustik ini mungkin juga bisa dikategorikan sebagai album kompilasi.

Album Musik Akustik menampilkan 18 lagu Folk yang dipenuhi harmonisasi suara yang indah dengan rentang tema lirik yang luas, mulai dari tukang koran di Cicaheum, berobat ke dokter hingga kisah dari seorang perawan tua. Dengan tema-tema lagu yang variatif serta pemilihan notasi serta struktur lagu yang jauh dari klise membuat album Musik Akustik ini seharusnya dapat menjadi kitab suci yang patut didengar secara khusyuk untuk lalu diamalkan oleh para musisi Folk era sekarang agar terhindar dari stereotipe “Folk Senja” yang semakin membosankan.

3. Kharisma Alam – Sketsa Seni Musik (Purnama, 1978)

Grup musik Kharisma Alam dibentuk oleh penulis lagu dan komposer, Bambang Tondo bersama tiga teman kampusnya di Fakultas Hukum Brawijaya, Malang. Pada pengerjaan debut album Sketsa Seni Musik, grup ini juga diperkuat oleh tiga vokalis latar wanita yang bernyanyi dengan berani sekaligus menambah ketebalan warna pada departemen vokal pada album ini, mengimbangi suara Bambang Tondo yang memiliki timbre tipis dan terkadang terdengar malu-malu.

Mengenai judul album Sketsa Seni Musik, Bambang Tondo memiliki penjelasannya, yang saya kutip dari blog Budi Warsito, “…penggarapan musik dan lirik mereka sebenarnya masih merupakan sketsa saja, seperti oret-oretan dalam lukisan yang belum selesai, musik yang hanya memberanikan diri dengan sketsa seni musik saja, belum sebuah vokal grup yang sempurna…”

Namun, alih-alih terdengar mentah dan apa adanya selayaknya lukisan yang belum selesai, album Sketsa Seni Musik malah terdengar sangat menyegarkan melalui peleburan Pop, Disko dan Bossanova yang terdengar progresif pada zamannya. Penggunaan Synthesizer yang dominan serta bebunyian ‘luar angkasa’ yang menggelitik menjadikan album Sketsa Seni Musik menjadi salah satu produk terbaik dari menggeliatnya semangat Pop Kreatif pada periode paruh kedua tahun 70an.

4. Ekhsa Bhama – Harapan (Tala & Co Record, 1978)

Grup musik Ekhsa Bhama dibentuk oleh Christ Kaihatu dan Tommy Wahyuddin.S pasca lagu ciptaan mereka “Khayal” yang dinyanyikan Purnama Sultan berhasil meraih juara pertama pada Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) tahun 1978 yang diinisiasi oleh radio Prambors. Pada debut album Ekhsa Bhama yang bertajuk Harapan, lagu “Khayal” (yang bagiannya chorusnya menjiplak lagu “Let Them Work It Out” dari Sergio Mendes) ini direkam ulang karena menurut Christ, ia tidak puas dengan aransemen yang dibuat oleh Yockie Suryoprayogo yang bertindak sebagai penata musik pada album LCLR tersebut.

Album Harapan yang merupakan satu-satu album yang dirilis oleh Ekhsa Bhama, menyuguhkan deretan musik Pop dengan nafas Jazz ringan yang groovy. Suara tenor dari Greggy M.Manupassa yang saling bergantian dengan suara Sopran dari Purnama Sultan menjadi paduan yang menawan dalam membawakan lagu-lagu Ekhsa Bhama yang memiliki melodi Pop yang kuat disertai aransemen yang elegan dan rancak.

Setiap mendengarkan album Harapan ini saya selalu berharap suatu saat nanti lagu-lagu Ekhsa Bhama ini dapat kembali ‘diremajakan’ oleh grup atau musisi saat ini atau diremix oleh para kolektif pemandu dansa lagu-lagu Indonesia yang kian tahun semakin meriah.

5. Koes Plus 79 – Berjumpa Lagi (Purnama, 1979)

Sebelum mendengarkan album Berjumpa Lagi, saya cukup sulit jika ditanya album Koes Plus mana yang menjadi favorit. Karena sejujurnya saya hanya penggemar kasual dari Koes Plus. Namun album Berjumpa Lagi berhasil mengubah pandangan saya terhadap Koes Plus dan dengan mudahnya langsung bertengger menjadi karya Koes Plus terfavorit bagi saya pribadi.

Alasan utamanya, mungkin karena aransemen lagu pada album Berjumpa Lagi tidak pernah saya temui pada album-album Koes Plus sebelumnya. Pada album ini, Koes Plus menjelma seperti sebuah band baru. Ironisnya aransemen lagu pada album ini dikerjakan oleh pihak di luar Koes Plus, yakni penata musik Yanuar Ishak.

Konon pada proses pengerjaan album Berjumpa Lagi, Koes Plus ingin mengikuti tren musik Pop yang sophisticated seperti album Badai Pasti Berlalu. Pada akhirnya, Yanuar Ishak berhasil mengemas lagu-lagu brilian yang ditulis oleh Tonny Koeswoyo dengan sentuhan seksi gesek serta seksi tiup yang terdengar mahal serta paduan bebunyian keyboard dan synthesizer.

Walaupun kualitas musik Koes Plus naik kelas pada album ini, sayangnya tidak diikuti oleh kesuksesan komersial.

Nah itu dia top 5 episode ke-3 dari Alunan Nusantara, penasaran top 5 siapa lagi yang bakal kita ulas dan bagikan? Tunggu di Top 5 Selanjutnya! Sampai bersua kembali yaa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s