Menyapa Rara Ragadi beserta Karir Pendeknya

Cover album Rara Ragadi

Beberapa hari lalu, seorang warganet Twitter dengan akun @ulijandro mengunggah sebuah thread berisikan tentang pencarian karya ibunya yang hilang. Meskipun thread ini tidak se-viral thread “Chatime” atau “Nenek Pengabdi Setan” yang beberapa waktu lalu sempat heboh di Twitter, tetapi thread ini cukup menarik manakala Twitter adalah tempat dimana para pengguna dengan selera musik indie-sidestream berkembang cukup menggeliat. Terlebih saya cukup tercengang ketika mengetahui penjelasan dalam thread itu bahwa karya yang hilang milik ibu si pengguna Twitter itu adalah Rara Ragadi!

Rara Ragadi adalah band progressive/art-rock fusion yang dibentuk oleh sekelompok anak SMA Perguruan Cikini Jakarta pada tahun 1978. Kemunculan grup ini mengundang decak kagum banyak orang manakala mereka masih ABG tapi punya talenta bermusik yang luar biasa! Terlebih musik yang dimainkan adalah progressive rock yang ketika itu mungkin banyak dimainkan oleh sekelompok musisi berusia di atas 20 atau 30 tahun. Nama “Rara Ragadi” sendiri diangkat dari nama tokoh komik wayang seorang srikandi pembela kebenaran. Dalam album self-titled satu-satunya mereka yang dirilis Duba Record pada 1979, terdapat pula lagu berjudul sama yang bercerita tentang dendam kesumat seorang jagoan wanita yang patah hati karena ditinggal kekasihnya. Rara Ragadi sendiri beranggotakan Iwan “Luke” Arshad (vokal, keyboard), Riza Arshad (keyboard), Raidy Noor (bass, guitar), Cendy Luntungan (drum), dan Siska Hawadi (vokal). Nama terakhir tidak lain merupakan ibu dari pemilik akun Twitter @ulijandro tersebut.

Tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan soal Rara Ragadi ini karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah albumnya yang begitu langka. Memang di era 1970’an, musik progressive rock lagi kencang-kencangnya melanda anak muda Indonesia dengan hadirnya band-band seperti Genesis, Yes, Emerson Lake & Palmer, Deep Purple, dan lain-lain. Gaung progressive rock pun sampai ke telinga para musisi muda Indonesia saat itu dengan kemunculan Shark Move, The Gang of Harry Roesli, Guruh Gipsy, Abbhama, dan lain-lain. Boleh jadi karena kehadiran progressive rock di Indonesia saat itu termasuk kedalam ranah sidestream, album-album mereka hanya diedarkan dalam jumlah sedikit sehingga beberapa album mereka banyak yang masuk kategori langka sampai saat ini. Bahkan kalau boleh saya bilang, album Rara Ragadi lebih langka dari Guruh Gipsy sekalipun! Kalau Guruh Gipsy saya pernah melihat ada yang menjual kasetnya (meskipun iya, mahal), tapi saya belum pernah sekalipun melihat ada yang menjual kaset Rara Ragadi di media sosial meski album ini termasuk ke dalam 150 Album Indonesia Terbaik versi Majalah RollingStone Indonesia pada Desember 2007. Bersyukur di YouTube pun cuma ada 2 lagu saja. Ketika itu tersiar kabar bahwa tidak lama setelah album Rara Ragadi beredar di tahun 1979, kasetnya ditarik dari pasaran sehingga mungkin hanya segelintir orang saja yang punya kaset ini. Nggak tahu kalau sekarang.

Saya pertama kali tahu Rara Ragadi dari (alm.) musisi jazz Riza Arshad. Alm. Riza Arshad mengawali karirnya di industri musik dengan membentuk Rara Ragadi bersama almarhum kakaknya, Iwan Arshad sebelum dikenal sebagai veteran jazz Indonesia dan membentuk grup jazz kondang SimakDialog paruh era 1990’an. Cukup tertegun mendengar musik yang pertama direkam Alm. Riza Arshad dalam Rara Ragadi adalah progressive rock, bukan jazz seperti yang dikenal di kemudian hari sampai beliau wafat tahun 2017. Sayangnya, band ini hanya berumur pendek. Rara Ragadi bubar manakala Iwan Arshad sang vokalis meninggal dunia. Mungkin faktor ini juga yang membuat album satu-satunya mereka menjadi sangat langka.

Akun Twitter @ulijandro juga menjelaskan dalam thread-nya kalau sang ibu yang bernama Sisca Hawadi tidak mendapat restu dari orangtua juga suaminya untuk berkarir menjadi musisi. Akhirnya sang ibu pun bekerja sebagai ibu rumah tangga sampai sekarang. Konon katanya, dikarenakan sang ibu yang tidak mendapat lampu hijau untuk berkarir menjadi musisi, album Rara Ragadi pun ditarik dari pasaran sehingga sang ibu yang merupakan frontman dari band ini tidak pernah lagi melihat karyanya sampai sekarang. Disamping sang ibu yang tidak bisa melanjutkan karirnya menjadi musisi, Rara Ragadi digawangi oleh sekumpulan nama berbahaya dalam skena musik progresif di Indonesia seperti Raidy Noor, Cendy Luntungan, Iwan Arshad, dan tentunya Riza Arshad. Tersiar kabar pula bahwa saat ini, kaset Rara Ragadi dihargai setara dengan iPhone 7, alias sekitar 4 juta rupiah karena saking langkanya! Lupakan soal sang ibu yang gagal mewujudkan mimpinya menjadi musisi, Rara Ragadi bisa menjadi salah satu aset berharga yang dimiliki musik Indonesia saat ini ditengah-tengah anak muda yang masih saja berdebat soal genre serta skena.

Teks oleh: Abie Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s