Top 5: RIAN EKKY PRADIPTA

Alunan Nusantara kembali menghadirkan 5 lagu pilihan dari musisi yang kami pilih. Kali ini, pilihan kami jatuh kepada vokalis dari salah satu grup musik kenamaan di Indonesia, yaitu Rian Ekky Pradipta dari grup musik d’Masiv.

Rian dikenal lewat koleksi piringan hitamnya yang sangat banyak, di antaranya album-album dari musisi Indonesia. Nah, dari sekian banyak lagu-lagu Indonesia yang sudah Rian koleksi dan dengarkan, kira-kira apa, ya, 5 lagu favoritnya? Langsung aja meluncur ke bawah!

  • Utha Likumahuwa – Esok ‘kan Masih Ada
Album Utha Likumahuwa – Bersatu Dalam Damai

Esok ‘kan Masih Ada merupakan lagu dari Utha Likumahuwa yang dirilis di awal-awal dirinya berkarir sebagai penyanyi solo. Lagu ini dimuat di dalam album Bersatu Dalam Damai yang dirilis pada tahun 1983 di bawah label Jackson Records. Lagu ini diciptakan oleh Dodo Zakaria dengan iringan musik dari beberapa musisi top saat itu, yaitu Yopie Item (penata musik, gitar, gitar bas), Rully Johan (kibor), Hengky M. (drum), Benny Likumahuwa (terompet) dan Addie MS cs. di bagian string. Lagu beraliran jazz ini sangat cocok dibawakan dengan karakter vokal dari Utha yang sangat khas. Bila ada daftar lagu jazz terbaik di Indonesia, lagu ini sangat pantas untuk masuk di dalam daftar tersebut.

  • Keenan Nasution – Jamrud Khatulistiwa
Sampul Album Keenan Nasution – Dibatas Angan-Angan

“Aku bahagia…” merupakan kalimat khas pembuka dari lagu yang bernuansa riang ini. Jamrud Khatulistiwa merupakan karya cipta dari Guruh Sukarno Putra untuk Keenan Nasution yang dimuat di album perdananya Keenan yang berjudul Di Batas Angan-Angan. Album ini dirilis pada Januari tahun 1978 di bawah label Duba Records. Untuk sesi musik, lagu ini melibatkan Keenan sebagai vokalis, pemain kibor, dan drum. Dibantu oleh Roni Harahap dan Mauly pada kibor, Junaedi Salat pada gitar bas, dan Narry pada perkusi.

  • Chrisye – Sabda Alam
Sampul Album Chrisye – Sabda Alam

Lagu ini berasal dari album solo pertama Chrisye yang berjudul sama. Album ini dirilis pada Januari 1978 di bawah label Musica Studio’s, beberapa minggu setelah album Di Batas Angan-Angan dari Keenan Nasution dirilis. Lagu yang diciptakan oleh Chrisye ini syairnya ditulis Junaedi Salat serta melibatkan Chrisye pada gitar akustik dan gitar bas, Yockie Suryo Prayogo dan Roni Harahap pada kibor, dan Keenan Nasution pada drum. Bagi anda yang tidak sadar, lagu ini sebenarnya memiliki nuansa yang gelap dan gloomy. Hal tersebut bisa didengar dari permainan synthesizer yang dimainkan oleh Roni Harahap di intro dan bridge lagu yang bernuansa sangat dark. Keenan Nasution dalam sebuah wawancara pernah mengakui bahwa pada saat pertama kali mendengar lagu ini, ia tiba-tiba merinding begitu saja.

  • Dewa 19 – Aku Di Sini Untukmu

Aku Di Sini Untukmu merupakan lagu dari album Pandawa Lima yang dirilis pada tahun 1997 di bawah label Aquarius Musikindo. Lagu inimerupakan single hits dari album Pandawa Lima di samping lagu Kirana, dan Kamulah Satu-Satunya. Lagu ini diciptakan oleh Ahmad Dhani, Andra Ramadhan, dan Aksan Sjuman. Formasi Dewa 19 di album ini bisa dibilang merupakan formasi terbaik dari mereka. Ada Ahmad Dhani (kibor), Ari Lasso (vokal), Andra Ramadhan (gitar), Erwin Prasetya (gitar bas), dan Aksan Sjuman (drum). Buktinya, dengar saja secara teliti lagu Aku Di Sini Untukmu. Ketukan drum yang pas dari Aksan, betotan gitar bas Erwin yang memanjakan telinga, alunan gitar dari Andra, serta sayatan kibor dari Ahmad Dhani, ditambah tiupan terompet dari Petter Holl menambah padu lagu yang dinyanyikan oleh Ari Lasso ini.

  • Vina Panduwinata – Citra Biru

Vina Panduwinata merilis album pertamanya di tangan label rekaman (Jackson Records) dan penata musik yang tepat! Pada tahun 1980, ketika musik mendayu-dayu kembali marak, Vina yang saat itu tergolong penyanyi pendatang baru mengejutkan publik lewat karyanya yang berjudul Citra Biru. Lewat lagu ini, Vina memberi citra lain bagi penyanyi wanita. Vina berhasil membawakan musik elite nan berkelas, tidak seperti penyanyi wanita pada umumnya saat itu yang cenderung membawakan lagu-lagu “ringan” alias easy listening. Dari lagu dan album ini lah, Vina menjadi pembeda dari penyanyi-penyanyi wanita yang lain. Citra Biru diciptakan oleh James F. Sundah, diiringi oleh musik yang ditata oleh Billy J. Budiarjo, Dodo Zakaria, Rudy Gagola, Chris Manusama, James F. Sundah,  Darwin, dan Jose.

Berikut preview 5 lagu Indonesia pilihan Rian Ekky Pradipta, selamat mendengarkan!

YOCKIE SURYO PRAYOGO DAN ALBUM SOLONYA

Yockie Suryo Prayogo

Yockie Suryo Prayogo adalah musisi yang dikenal berkat perannya yang berhasil membuat cetak biru bagi musik “Pop Indonesia” bersama kawan-kawannya di bilangan Pegangsaan. Beberapa album yang dianggap menjadi pelopor musik “Pop Indonesia” antara lain Lomba Cipta Lagu Remaja 1977, Lomba Cipta Lagu Remaja 1978, Sabda Alam (Chrisye), dan Badai Pasti Berlalu (Erros Djarot) yang semua album tersebut mengikutsertakan sosok Yockie sebagai pemain kibor dan penata musik.

Selain dianggap sebagai pelopor bagi musik “Pop Indonesia”, Yockie juga dianggap sebagai pencetus “Rock Indonesia”. Anggapan tersebut lahir setelah Yockie bersama God Bless merilis album ketiganya yang berjudul Semut Hitam. Album Semut Hitam yang dirilis pada tahun 1988 berhasil membius seluruh lapisan masyarakat lewat lagu-lagunya yang dekat dan relate dengan keadaan masyarakat di Indonesia. Sebut saja lagu-lagu seperti Kehidupan, Semut Hitam, atau Badut-Badut Jakarta yang topiknya sangat mudah diterima oleh pendengar musik di Indonesia. Hal tersebutlah yang membuat album ini layak dinobatkan sebagai album pelopor musik “Rock Indonesia”.

Di samping kerjasamanya bersama Chrisye atau God Bless, Yockie juga rajin menelurkan album-album solo. Musiknya lebih anti-mainstream dibanding karya-karyanya bersama Chrisye atau God Bless. Lagu-lagunya tak begitu dikenal di khalayak luas. Namun musikalitasnya tidak perlu diragukan lagi karena album solo ini merupakan bentuk idealismenya yang tidak tertuang di album-album kolaborasinya bersama musisi yang ia tangani.

Berikut merupakan ulasan tentang album solo yang pernah dirilis oleh Yockie selama berkarir di dunia musik Indonesia.

  1. MUSIK SANTAI vol. I (PRAMAQUA, 1976)

Pasca era God Bless, Yockie mulai menjajal ranah musik pop lewat album Musik Santai yang terdiri dari tiga edisi. Album ini berisi lagu-lagu versi instrumental dari lagu-lagu yang sedang naik daun saat itu.

Album Musik Santai edisi pertama berisi nomor-nomor instrumental yang sedang naik daun pada awal tahun 70-an. Album ini mempersembahkan versi instrumental dari lagu-lagu lokal seperti Widuri (ciptaan Adriyadie), Doa (Yohannes Purba), Lembah Biru (A. Riyanto), Mungkinkah (M. Sani), Terbuka (Yahya), Jodohku, dan Selamat Berpisah. Sedangkan lagu-lagu luar negeri yang diinstrumentalkan di album ini adalah Don’t Tell Me Stories, Crying In The Chapel, When I Need You, Wind Flowers, dan Yes You Do.

  • MUSIK SANTAI vol. II (PRAMAQUA, 1977)

Memasuki tahun 1977, Yockie yang saat itu telah merekam album Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 kembali ke studio untuk merekam album Musik Santai II. Kali ini, ia mengajak Chrisye sebagai vokal latar di beberapa lagu instrumentalnya.

Musik Santai edisi kali ini menempatkan lagu-lagu lokal pada porsi yang lebih banyak. Dari 12 lagu, 8 di antaranya adalah lagu-lagu Indonesia. Lagu-lagu tersebut antara lain Melati (Minggus Tahitoe), Tante Sun (Bimbo), Dalam Kelembutan Pagi (Baskoro LCLR), Sendiri (Titiek Puspa), Tertipu Lagi (Ian Antono), John (Adriyadie), Cinta Putih (Titiek Puspa), dan Kupu-Kupu Malam (Titiek Puspa). Sedangkan lagu-lagu luar negeri yang ia rekam kali ini yaitu Leonny, There’s Nothing Less For Me To Say, When You’re Beautiful, dan Women Song.

  • MUSIK SANTAI vol. III (PRAMAQUA, 1978)

Musik Santai III adalah album Musik Santai edisi terakhir dan bisa dibilang yang terbaik di antara album Musik Santai sebelumnya. Album yang dirilis pada tahun 1978 ini berisi lagu-lagu instrumental dari era Badai Pasti Berlalu dan Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 yang saat itu sedang naik daun.

Seperti album Musik Santai edisi sebelumnya, porsi lagu lokal lebih banyak daripada lagu luar negeri. Lagu-lagu lokal yang dibawakan oleh Yockie pada album ini antara lain Kidung (Chris Manusama), Hanya Untukmu (A. Riyanto), Serasa (Erros Djarot, Chrisye), Yang Esa dan Kuasa (Baskoro LCLR), Angin Malam (Erros Djarot, Debby Nasution), Semusim (Erros Djarot, Debby Nasution), Merepih Alam (Erros Djarot, Chrisye), dan Merpati Putih (Erros Djarot).

Sedangkan lagu luar negeri yang Yockie bawakan di album ini hanya 2 lagu saja, yaitu You Are My Everything dan When I’ll Find You. Lalu ada pula satu nomor instrumental yang diberi judul Interlude.

  • MUSIK SAYA ADALAH SAYA (MUSICA STUDIO’S, 1979)

Inilah magnum opus dari  seorang Yockie Suryo Prayogo. Album ini memiliki konsep musik rok yang dipadukan dengan opera dan orkestra yang dipimpin oleh Idris Sardi. Pertunjukan yang diberi judul Musik Saya Adalah Saya ini digelar pada tahun 1979. Hasil dari pertunjukan tersebut selanjutnya direkam untuk dirilis ke dalam format kaset pita dan piringan hitam promo radio.

Album ini didukung oleh banyak sekali musisi kenamaan, di antaranya Chrisye, Fariz RM, Addie MS, Harvey Malaiholo, Rafika Duri, Achmad Albar, bahkan sampai Kasino Warkop DKI pun turut berperan di dalam pertunjukan ini.

Sisi A album ini berisi babak-babak dalam opera Musik Saya Adalah Saya. Diawali dari lagu Balada Lagu Tercinta yang dinyanyikan oleh Bram Manusama, Harvey Malaihollo, Rafika Duri dan Andi Meriem Mattalatta.

Selanjutnya adalah bagian inti dari album ini, yaitu sebuah lagu berjudul Musikku Adalah Aku yang berdurasi 15 menit. Lagu ini menyajikan musik rok-opera diiringi orkestra di bawah pimpinan Idris Sardi. Tak lupa juga pembacaan narasi oleh Sys Ns yang dibawakan sangat baik sekali di setiap perpindahan babaknya. Sesuai dengan judul lagunya, lagu ini menunjukkan bagaimana keresahan seorang Yockie terhadap lingkungan industri musik di Indonesia. Ada yang murah, murahan, dan diperas oleh korporat musik. Pada intinya, Yockie tetap teguh pada musik-musik yang ia ciptakan dan tidak mau tunduk pada keinginan korporat musik.

Sisi A ditutup dengan lagu berjudul Cinderella yang dibawakan sangat apik oleh Kasino Warkop DKI. Secara lirik, lagu ini sangat jelas sekali berisi satir terhadap fenomena sosial yang sedang marak pada saat itu.

Sisi B album ini berisi lagu-lagu yang dibawakan pada pertunjukan ini. Dibuka oleh tembang Angin Malam yang diaransemen ulang menjadi 7 menit!

Dilanjut dengan lagu-lagu Mesin Kota yang dibawakan oleh Achmad Albar, Cakrawala Senja yang dibawakan oleh Keenan Nasution disertai iringan piano dari Addie MS, dilanjut dengan Duka Sang Bahaduri, serta ditutup dengan lagu berjudul Akhir Sebuah Opera.

Seluruh lagu pada sisi B ini dibawakan oleh Badai Band yang terdiri dari Chrisye (gitar bas, vokal), Yockie, Roni Harahap, dan Addie MS (kibor), Odink Nasution (gitar), Keenan Nasution (drum, vokal), dan Fariz RM (drum). Serta iringan orkestra yang dipimpin oleh Idris Sardi.

Bagi ekosistem musik Indonesia, album ini merupakan hal yang baru. Mungkin konsep seperti ini terinspirasi dari Journey To The Centre Of The Earth-nya Rick Wakeman yang dirilis pada tahun 1974. Bagi penulis, Yockie berhasil mengadopsi konsep tersebut sehingga menjadi sesuatu yang dapat diterima di ekosistem musik Indonesia.

  • SABDA ALAM INSTRUMENTALIA (MUSICA STUDIO’S, 1980)

Setelah sukses beratnya album Sabda Alam yang melejitkan nama Chrisye dan Gank Pegangsaan pada tahun 1978, album ini dirilis ulang dalam format album instrumental. Yockie yang didapuk sebagai penata musik untuk album tersebut merilis album instrumental ini di bawah namanya.

Album Sabda Alam versi instrumental tidak memiliki perbedaan yang begitu signifikan dalam segi aransemen musiknya. Bedanya hanya terletak pada vokal Chrisye yang digantikan dengan bebunyian synthesizer yang dimainkan oleh Yockie.

  • TERBANGLAH LEPAS (MUSICA STUDIO’S, 1981)

Terbaik! Satu kata yang dapat menggambarkan album ini! Album ke-2 Yockie yang berjudul Terbanglah Lepas mungkin merupakan tumpahan ide dari sang maestro yang tidak tersalurkan sebelumnya.

Suara synthesizer yang sangat penuh, komposisi aransemen musiknya yang rapih, serta lirik lagu yang ditulis oleh Harry Sabar seolah menjadi trisula utama album ini.

Lagu-lagu seperti Sekitar Kota, Terbanglah Lepas, Kharisma, Oh… Apa Dikata, Tiada Kini Ada Esok, dan Petaka Nostradamus adalah nomor-nomor jagoan yang layak kalian dengar! Untuk ukuran tahun 1981, lagu-lagu yang telah disebutkan di atas mungkin kurang mendapatkan tempat karena aliran musiknya yang anti-mainstream. Antara fusion jazz, musik rok progresif, serta musik pop manis dileburkan menjadi satu seolah menghadirkan warna musik yang baru di Indonesia.

Selain lagu-lagu di atas, Yockie juga menyuguhkan nomor-nomor manis yang syahdu seperti Impian Semusim, Raga, dan Gemuruh yang dinyanyikan duet bersama Indah Soekotjo.

  • BILA DAMAIPUN TIBA (MUSICA STUDIO’S, 1982)

Pada tahun 1981, Yockie pernah merilis karya-karya bernuansa jazzy funk, seperti Lomba Cipta Lagu Remaja 1981 dan album duet Louise & Eben Hutauruk yang berjudul Lain Di Bibir  Lain Di Hati.

Selanjutnya pada tahun 1982, Yockie seolah menerapkan aliran musik tersebut di karya solonya. Hasilnya bisa kalian dengarkan di album Bila Damaipun Tiba yang nuansanya jazzy dan funky!

Album ini mengedepankan bebunyian gitar bas untuk mendapatkan hasil funky yang ciamik! Itulah mengapa pemain gitar bas The Rollies, Oetje F. Tekol, yang didapuk untuk mengisi gitar bas di album ini karena ciri khasnya dalam permainan gitar bas dalam teknik slap.

Lagu-lagu seperti Di Batas Senja, Garis Kenangan, Ayumu, Asap dan Sesak, Satuan Rasa, Laju Bahteraku, dan Gairah Hamba adalah lagu-lagu jagoan penulis untuk album ini. Di lagu-lagu tersebut juga kalian dapat menemukan warna musik yang sangat berbeda dari album-album solo Yockie sebelumnya. Sedangkan lagu-lagu manis di album ini adalah Yang Tulus Darimu dan Bila Damaipun Ada yang ia nyanyikan bersama Indah Soekotjo.

Bagi kalian penikmat musik funk, album ini wajib masuk ke dalam daftar putar kalian!

  • PUNK EKSKLUSIF (MUSICA STUDIO’S, 1983)

“Yock, bikin punk-punk-an, yuk!”

Begitu kurang lebih ajakan yang dilontarkan oleh Harry Sabar kepada Yockie. Saat itu, demam The Police sedang ramai sekali. Yockie bersama kawan-kawannya di Pegangsaan tidak ingin melewati tren musik ini begitu saja.

Akhirnya, lahirlah sebuah album bertajuk Punk Eksklusif yang dirilis pada tahun 1983. Penulis akan mengatakan bahwa inilah album punk generasi awal terbaik yang pernah ada di Indonesia. Berbagai aliran musik punk generasi awal seperti ska, reggae ala The Police tersaji manis di album ini.

Album ini didukung oleh beberapa musisi yahud saat itu, seperti Erros Djarot, Harry Sabar, Fariz RM, Yaya Moektio, dan Ian Antono dari grup God Bless yang memainkan gitar bernuansa ska dan reggae sangat apik.

Dibuka dengan lagu berjudul Punk Eksklusif yang terasa sekali warna musik ska-nya. Jangan lupa juga untuk dengarkan lirik lagunya yang diciptakan oleh Erros Djarot dan Harry Sabar yang sangat menyentil kehidupan anak muda saat itu.

Selanjutnya, nomor-nomor upbeat bernuansa ska dan reggae terus disajikan lewat lagu-lagu Sri Kustinah, Nostalgia SMP, Helikopter, James Bond CW 5, X. O., Judi dan Profesi, Mabuk Kepayang, dan La… Mi… Re… Do… yang menyajikan Erros Djarot dan Harry Sabar sebagai vokalis tamu.

Untuk para penggemar musik ala The Police atau penikmat ska dan reggae, album Punk Eksklusif ini tidak boleh terlewat! Belakangan, sebuah obrolan tentang album ini bisa kalian temukan di kanal YouTube Ngobryls yang dipandu oleh Jimi Multhazam dan Ricky Malau.

  • RESESI INSTRUMENTALIA (MUSICA STUDIO’S, 1983)

Pada tahun 1983, Chrisye kembali berkolaborasi bersama Yockie dan Erros Djarot untuk merilis album berjudul Resesi yang bercorak new wave rock/punk.

Konon pada saat perilisannya, album ini dirilis 2 versi. Versi pertama adalah versi biasa yang kita dengar pada umumnya. Versi lainnya yaitu album dengan aransemen musik yang sama namun tanpa vokal dari Chrisye alias versi instrumental.

Pada album Resesi versi instrumental, Yockie mengambil peranan penting dalam mengolah synthesizer-nya untuk menjadi iringan sepanjang lagu menggantikan vokal Chrisye.

  • SELAMAT JALAN KEKASIH (MUSICA STUDIO’S, 1984)

Album ini boleh penulis katakan sebagai album paling melankolis dari Yockie Suryo Prayogo. Album ini berisi 6 lagu sendu yang manis. Sisanya adalah lagu-lagu yang cukup upbeat seperti Perawan, Rindu Di Hatiku, Elang, dan satu nomor instrumental.

Sedangkan 6 lagu lainnya adalah lagu-lagu sendu seperti Seruni, Belenggu, Dilema, Sepanjang Jalan Hidupku, Angin Malam, dan tentunya hits yang berjudul Selamat Jalan Kekasih.

Fakta unik dari album ini adalah tak lama setelah rilisnya album ini dan lagu Selamat Jalan Kekasih sempat menjadi hits di berbagai radio, Chrisye yang saat itu masih bekerjasama dengan Yockie meminta lagu tersebut untuk dinyanyikan olehnya di album terbarunya. Hasilnya, lagu Selamat Jalan Kekasih dibawakan oleh Chrisye untuk album Metropolitan (1984) dan malah menjadi everlasting hits dari seorang Chrisye. Tidak banyak orang yang mengetahui kalau sebenarnya lagu tersebut lebih dahulu dinyanyikan oleh Yockie.

  • PERJALANAN (MUSICA STUDIO’S, 1985)

Setelah bersendu ria di album Selamat Jalan Kekasih, Yockie kembali menghadirkan nuansa musik rok progresif pada albumnya yang bertajuk Perjalanan.

Sampul albumnya didesain bak sebuah poster yang dilipat-lipat. Didominasi dengan warna merah pada bagian luar dan warna hitam pada sampul bagian dalam. Lalu ada juga karikatur wajah Yockie yang menyambung dengan artwork yang membentuk sebuah jalan sesuai dengan judul albumnya.

Untuk lagu-lagunya, Yockie menyuguhkan lagu-lagu yang variatif. Lagu-lagu seperti Harapan Di Kursi Goyang, Perjalanan Panjang, dan Cita-Cita adalah nomor rock yang Yockie suguhkan di album ini. Tak lupa juga ada peran Ian Antono dan Donny Fattah dari grup rock kenamaan, God Bless, dalam produksi album ini.

Di sisi lain, nomor-nomor manis tetap Yockie sajikan untuk berkompromi dengan selera pasar, seperti Senja Di Bumi Persada, Semalam, Dewiku, dan sebuah tembang manis yang hanya berdurasi 1 menit, yaitu Lola.

Sedangkan lagu-lagu lainnya merupakan lagu-lagu yang menggunakan sentuhan drum elektrik, yaitu lagu Situasi dan Nenek Tercinta.

  • PENANTIAN (MUSICA STUDIO’S, 1986)

Album ini merupakan album terakhir dari Yockie Suryo Prayogo bersama Musica Studio’s, sekaligus menjadi album non-instrumental terakhir di era 80-an setelah sebelumnya produktif dalam merilis album non-instrumental sejak tahun 1979.

Album ini dibuka oleh lagu Percayalah Kasih yang sangat manis dibawakan oleh Yockie bersama Iwan Fals dan Vina Panduwinata yang turut menyumbangkan suaranya di lagu ini. Selain mereka, ada juga Rafika Duri pada lagu Penantian dan Hetty Koes Endang pada lagu Adakah Kau Tahu yang didapuk sebagai vokalis tamu.

Secara konsep, album ini berisi lagu-lagu dengan bobot yang cukup seimbang antara lagu selera pasar dengan lagu yang anti-mainstream. Beberapa lagu anti-mainstream atau lagu-lagu yang “berat” untuk selera pasar yaitu Masa Depan, Hidup di Kota Metropolitan, Hantu, dan Ampun Tuhan yang materinya memang tidak easy listening seperti lagu-lagu lainnya yang ada di album ini.

  • THE SOUND OF INDONESIAN MUSIC (GOLDEN LION, 1986)

Sebelum bergabung kembali bersama God Bless pada tahun 1988 (album Semut Hitam), Yockie yang saat itu menganggur sempat membuat proyek album instrumental dengan teknologi musik digital yang saat itu sedang naik daun di Indonesia.

Album yang diberi judul The Sound Of Indonesian Music ini berisi lagu-lagu instrumental dari lagu-lagu yang pernah menjadi hits di tahun-tahun sebelumnya. Selain diisi oleh Yockie, ada juga pemusik bernama Arie Clayderman dari Irama Mas yang juga turut menyumbangkan permainannya. Album ini terdiri dari 10 lagu, dengan pembagian 3 lagu untuk Arie Clayderman dan 7 lagu untuk Yockie.

Ada satu hal unik dari album ini, yaitu Yockie mengaransemen ulang lagu E, C & Y yang pernah dirilis untuk album Badai Pasti Berlalu. Di album ini, lagu tersebut diubah judulnya menjadi E-Y (“C” yang artinya Chrisye, dihilangkan. Mungkin pasca konflik yang mereka alami pada tahun 1984). Untuk aransemen musiknya, E-Y  terasa lebih groovy dibanding versi Badai Pasti Berlalu yang bernuansa disko.

Berikut adalah daftar lagu dari album ini.

  1. Merpati Putih
  2. Di Dadaku
  3. Mengapa Kau Dusta*
  4. Selamat Jalan Kekasih
  5. Antara Benci dan Rindu*
  6. Antonio’s Song*
  7. Seputih Melati
  8. Bawalah Daku Pergi
  9. E – Y
  10. Aku Tahu

*Arie Clayderman

  • PERJALANAN WAKTU (BRAVO MUSIK, 2015)

Album studio terakhir dari Yockie yaitu Perjalanan Waktu yang ia rilis lewat format digital dan cakram padat (CD). Album ini berisi potongan-potongan lagu yang ia ciptakan dari tahun 2000 sampai 2015. Lagu-lagu yang pada awalnya dibuat untuk melepas rasa bosan ini sempat terpendam dan tidak tahu mau diapakan. Akhirnya, potongan-potongan lagu tersebut dicocok-cocokkan dan menjadi sebuah album yang berisi 13 lagu.

Secara musikal, album ini tetap bercorak progresif. Album ini sama sekali tidak menghilangkan ciri khas Yockie dalam permainan atau soundsound kibor yang ia mainkan.

PENUTUP

Memang tidak mudah membagi waktu untuk menciptakan musik bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Namun, Yockie berhasil mengatasinya dengan tetap merilis album solo di tengah-tengah proyek kerjasamanya bersama musisi lain. Uniknya, album solo ini dirilis hampir di setiap tahunnya dari tahun 1976 sampai tahun 1986.

Fakta unik lainnya adalah setiap album solo yang dirilis oleh Yockie memiliki aliran musik yang berbeda-beda. Karir solonya dibuka dengan album-album instrumental (1976-1978), lalu album dengan konsep musik rok-opera dan orkestra (1979), dilanjut dengan album bernuansa musik rok progresif (1981), album bercorak fusion jazz (1982), album beraliran punk rock, ska, dan reggae (1983), pop sendu (1984), 80’s rock (1985), kembali ke pop sendu dan eksperimen musik digital (1986), dan diakhiri dengan album bercorak musik rok progresif (2015). Hal ini membuktikan betapa idealisnya seorang Yockie dalam proyek album solonya.

Akhir kata, penulis persembahkan penggalan syair lagu Musikku Adalah Aku yang dirilis pada tahun 1979 dalam album Musik Saya Adalah Saya sebagai penutup tulisan kali ini.

“Akan ‘ku miliki hari-hari indah ini

‘Kan ‘ku cipta dari ragaku

Jangan sentuh kulit pasar musikku

Biarlah bunyi halus memacu.”          

– Yockie, 1979.

Nasution Bersaudara dan Pesona Musik Indonesia

Nasution Bersaudara dan Pesona Musik Indonesia

Dari Pegangsaan, mereka hadir untuk Indonesia. Mungkin itulah kalimat yang cukup tepat menggambarkan Nasution Bersaudara.

Nasution bersaudara merupakan sebutan bagi anak-anak dari Saidi Hasjim Nasution, keluarga menengah ke atas yang tinggal di jalan Pegangsaan. Dari hasil pernikahannya, ia berhasil memiliki 6 anak, 5 di antaranya adalah yang kelak menjadi pemain musik ternama. Kelima anak tersebut adalah Rada Krishnan Nasution (Keenan), Zulham Nasution (Joe Am), Bachmid Gaury Nasution (Gauri), Aumar Naudin Nasution (Odink), dan Debi Murti Nasution (Debby).

Gank Pegangsaan. Sekelompok musisi yang tumbuh dan berkembang di Jalan Pegangsaan Timur 12 A Jakarta ini dibentuk Debby Nasution di akhir era 1980’an untuk menyatukan kembali pemusik Pegangsaan yang terpencar karena kesibukan masing-masing

Era 1966-1974

Sejak kecil, Nasution Bersaudara sudah dekat dengan musik. Bermula dari Joe Am, Keenan, dan Gauri yang membentuk Sabda Nada pada tahun 1966 bersama tetangga-tetangganya di Pegangsaan. Sabda Nada kemudian mengganti namanya menjadi Gipsy. Formasi awal Gipsy saat itu adalah Keenan (drum, vokal), Gauri (gitar), Onan (organ), Tammy (alat tiup, vokal), dan Chrisye (gitar bas, vokal). Mereka memainkan repertoar-repertoar barat seperti Chicago, Blond, sampai Jimi Hendrix bahkan King Crimson. Lewat lagu-lagu yang dibawakannya, Gipsy saat itu dikenal sebagai grup musik yang eksklusif karena berhasil membawakan lagu-lagu yang jarang dibawakan oleh grup musik pada umumnya dengan baik.

Rumah Nasution bersaudara saat itu tidak pernah sepi pendatang. Suatu hari, di rumah mereka pernah singgah seorang seniman asal Bali, I Wayan Suparta Widjaja. Dari pertemuan inilah, muncul hasrat Keenan untuk menggabungkan musik rock barat dengan gamelan Bali yang bercorak progresif. Konon katanya pada awal 70-an, Gipsy dengan formasi ini sudah pernah membawakan konsep musik rock yang dipadukan dengan gamelan Bali. Jauh sebelum Guruh Gipsy terbentuk. Selain bersama I Wayan Suparta Widjaja, Gipsy juga pernah berkolaborasi bersama Mus Mualim pada saat awal-awal Taman Ismail Marzuki dibuka.

Memasuki awal 70-an, Gipsy diundang oleh Ibnu Soetowo, pemilik restoran Ramayana di Amerika Serikat, untuk manggung secara reguler di sana. Undangan tersebut disambut sangat baik oleh Gipsy. Selain untuk meraih jam terbang, mereka belajar lebih banyak tentang kehidupan musik di sana, serta untuk menambah referensi bermusik.

Gipsy Band di Amerika Serikat saat berada di Amerika Serikat ketika dikontrak manggung di restoran Ramayana (awal 1970’an)

Saat kontraknya habis dan kembali lagi ke Indonesia, Gipsy kembali aktif manggung. Salah satu yang fenomenal adalah Gipsy lagi-lagi memadukan musik rock dengan gamelan Bali yang dipimpin oleh Syaukat Suryabrata dkk. pada saat mereka tampil di Taman Ismail Marzuki.

Di sisi lain, Keenan turut membantu adik-adiknya, yaitu Odink dan Debby Nasution yang membentuk Young Gipsy. Sesuai dengan namanya, Young Gipsy merupakan Gipsy dengan personel-personel yang lebih muda.

Pada tahun 1973, di tahun yang sama saat Young Gipsy sedang aktif-aktifnya, Oding dan Debby malah diajak bergabung oleh grup musik kenamaan, God Bless. Masuknya Oding dan Debby untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Deddy Stanzah dan Soman Lubis. Tak lama, Keenan menyusul adik-adiknya masuk ke God Bless untuk menggantikan Fuad Hassan yang mengalami insiden kecelakaan maut. Jadilah pada tahun 1974, formasi God Bless berisi 3 orang dari Nasution Bersaudara. Dengan formasi ini, God Bless praktis membawakan repertoar-repertoar beraliran progressive rock seperti yang diusung oleh Nasution Bersaudara dalam grup Gipsy.

Godbless

Menjelang perilisan album perdana God Bless, formasi ini bubar karena adanya perbedaan visi terkait aliran musik yang diusung. Nasution Bersaudara memutuskan keluar dari God Bless, sedangkan God Bless terus melaju dengan formasi barunya (Ian Antono, Teddy Sujaya, dan Yockie Suryo Prayogo).

Tahun 1975-1976: Guruh Gipsy dan Barong’s Band

Pada tahun 1975, Keenan kembali bertemu dengan kawan lamanya, Guruh Sukarno Putra, yang baru saja pulang dari Belanda. Bersama Guruh, Keenan ingin mewujudkan ide yang pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu menggabungkan musik rock barat dengan gamelan Bali. Usul tersebut disambut dengan baik oleh Guruh yang juga menekuni kesenian Bali. Jadilah sebuah proyek musik Gipsy yang berkolaborasi Guruh, yaitu Guruh & Gipsy atau lebih dikenal dengan nama Guruh Gipsy dengan formasi utama Keenan (drum, vokal), Odink (gitar), Guruh (gamelan, konsep keseluruhan), Chrisye (vokal, gitar bas), Abadi  Soesman (kibor), dan Roni Harahap (kibor, dan penata musik).

Proyek musik yang sangat fenomenal ini direkam di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa, sebuah studio rekaman paling canggih di Indonesia saat itu yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Guruh Gipsy di rumah Guruh Soekarno Putra, Jakarta 1976

Proses rekaman album ini terbagi menjadi dua fase. Fase pertama dimulai pada bulan Juli 1975 sampai Februari 1976. Pada fase pertama, Chrisye tidak ikut rekaman karena sedang tampil secara reguler bersama grup musik The Pro’s di Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan seluruh lagu yang dibuat di fase ini tidak mengandung suara gitar bas. Fase ini melahirkan lagu Geger Gelgel, Barong Gundah, Chopin Larung, dan satu lagu yang belum ada judulnya. Semua lagu ini direkam tanpa instrumen gitar bas.

Sedangkan fase kedua dimulai dari bulan Mei hingga Juni 1976. Pada fase ini, Chrisye mulai bergabung. Fase ini melahirkan lagu-lagu Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka, dan Smaradhana. Selain lagu-lagu tersebut, karena bergabungnya kembali Chrisye pada fase ini, artinya lagu-lagu yang direkam di fase pertama mulai diisi oleh gitar bas dan vokal yang diisi oleh Chrisye.

Pada akhir tahun 1976, album Guruh Gipsy dengan format kaset pita dirilis secara independen. Album ini dianggap sebagai cetak biru bagi aliran progressive rock Indonesia karena memadukan unsur rock barat dengan gamelan Bali yang telah Nasution Bersaudara eksperimenkan pada awal 70-an.

Sedangkan Debby Nasution yang saat itu sedang sibuk dengan Young Gipsy diajak bergabung ke dalam grup musik bernama Barong’s Band. Barong’s Band merupakan grup musik yang didirikan oleh Erros Djarot. Bersama grup tersebut, Debby melahirkan dua album, yaitu album self-titled dan album soundtrack untuk film Kawin Lari. Soundtrack tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai Penata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia.

Di samping dua proyek tersebut, Keenan dan Debby turut membantu Erros Djarot dalam pembuatan scoring untuk film Perkawinan Dalam Semusim. Karya-karya Keenan dan Debby dalam film ini nantinya akan dirilis di album Badai Pasti Berlalu.

Tahun 1977: Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) dan Badai Pasti Berlalu

Pasca Guruh Gipsy, masing-masing personel dari grup tersebut mulai memiliki hasrat yang berlebih dalam bermusik. Keenan pada saat itu mulai dilirik oleh Donny Fattah, pemain gitar bas God Bless yang memiliki proyek duet bersama kakaknya, Rudi Gagola. Di proyek tersebut, Keenan terlibat sebagai pemain drum dan menyumbang suara untuk satu lagu.

Di tahun berikutnya, Keenan mencoba peruntungan dengan mengikuti Festival Lagu Populer. Karyanya yang berjudul Di Batas Angan-Angan berhasil masuk 9 besar.

Selang beberapa waktu, terjadilah sebuah gebrakan dalam industri musik pop Indonesia, yaitu lahirnya Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) edisi pertama yang diadakan oleh salah satu radio anak muda saat itu. Proyek ini merupakan ajang untuk mencari bakat dari pemuda-pemuda yang doyan membuat lagu dengan syair yang berbeda dengan lagu Indonsia pada umumnya saat itu. LCLR 1977 melibatkan iringan musik yang dimainkan oleh perpaduan dari Nasution Bersaudara (Keenan & Odink) dan God Bless (Donny Fattah & Yockie Suryo Prayogo).

Pasca gebrakan lewat LCLR 1977, Nasution Bersaudara kembali terlibat di dalam album yang dianggap sebagai revolusi bagi musik pop Indonesia, yaitu album Badai Pasti Berlalu. Album ini digarap oleh Erros Djarot, Yockie, Chrisye, Fariz RM, Berlian Hutauruk, serta bantuan dari dua orang Nasution bersaudara, yaitu Keenan dan Debby. Keenan dan Debby menyumbangkan karya serta permainan drum dan kibornya untuk lagu Khayalku, Semusim, dan Angin Malam yang sebelumnya mereka ciptakan untuk scoring film Perkawinan Dalam Semusim. Album ini dianggap berhasil menjadi revolusi bagi musik pop Indonesia.

Pasca Badai Pasti Berlalu, Nasution Bersaudara bersama teman-teman nongkrongnya di Pegangsaan menamai dirinya sebagai Gank Pegangsaan. Grup tersebut terdiri dari anak-anak yang sering nongkrong di Pegangsaan, seperti Nasution Bersaudara, Erros Djarot, Chrisye, Yockie, Fariz RM, Addie MS, dan masih banyak lagi nama lainnya. Popularitas mereka saat itu semakin tinggi.

Tahun 1978-1980: Pasca Badai Pasti Berlalu

Popularitas Gank Pegangsaan pasca Badai Pasti Berlalu semakin menanjak. Mereka menjadi idola baru bagi penikmat musik di Indonesia. Pada era tersebut, Nasution bersaudara mulai aktif dalam industri musik Indonesia.

Pada tahun 1978, Keenan merilis album solo perdananya. Album perdananya ini diberi judul Di Batas Angan-Angan. Album ini memuat lagu-lagu progressive pop yang keren dan cenderung berbeda dari lagu-lagu pop Indonesia pada umumnya saat itu. Lagu yang paling populer dari album tersebut adalah Nuansa Bening dan Jamrud Khatulistiwa. Selain itu, ada juga lagu “gila” dari album ini, yaitu Negeriku Cintaku yang berdurasi 9 menit! Lagu ini merupakan ciptaan dari Debby Nasution. Gauri Nasution juga ikut mengisi gitar di lagu beraliran progressive rock tersebut.

Pada tahun 1979 sampai 1980, Keenan merilis 2 album yang berjudul Tak Semudah Kata-Kata dan Akhir Kelana. Dua album tersebut masih mengusung aliran musik progressive pop seperti album Di Batas Angan-Angan. Namun sayang. Album tersebut tidak bisa menandingi kepopuleran album perdananya.

Selain menggarap album solo, Keenan juga ikut membantu musisi lain dalam proses pembuatan album, seperti Chrisye untuk album Sabda Alam dan Percik Pesona, lalu album perdana Yockie yang berjudul Musik Saya Adalah Saya, album perdana Fariz RM yang berjudul Selangkah Ke Seberang, dan album masterpiece dari Harry Sabar yang berjudul Lentera yang juga melibatkan Gauri, Odink, dan Debby.

Potret Odink & Debby Nasution saat bergabung dengan Prambors Band akhir era 1970’an. Odink memaikan gitar sedangkan Debby memainkan keyboard.

Sedangkan Odink Nasution saat itu tengah sibuk bersama Prambors Band, sebuah grup yang dibentuk oleh M. Noer Aroembinang. Prambors Band pada era 1978 sampai 1980 berhasil melahirkan 5 album. Album perdana Prambors Band yang berjudul Jakarta Jakarta berhasil melahirkan satu lagu yang menjadi everlasting hits, yaitu lagu Kemarau yang saat ini masih dikenang oleh orang tua-orang tua yang pernah hidup di era tersebut.Selain album tersebut, Odink juga turut menggarap album perdana dari penyanyi wanita bernama Louise Hutauruk yang berjudul Pintu Hati. Album beraliran pop orkestra ini ia garap bersama kawan-kawan dari Gank Pegangsaan  lainnya seperti Addie MS, Harry Sabar, Herman Gelly, dkk.

Odink Nasution

Debby Nasution yang namanya mulai tercium mulai dipercaya untuk menggarap album. Pada tahun 1978, ia menggarap album dari Finalis Festival Pop Song ke-6. Album ini menyertakan nama-nama beken saat itu, seperti Baskoro, Dhenok Wahyudi, Untung Yus, dan Maya Rumantir. Selain festival tersebut, Debby juga dipercaya untuk menjadi penata musik untuk LCLR 1979 bersama Addie MS, Odink Nasution, dan pemain musik lainnya. Album ini melahirkan hits yang berjudul Jelaga, Kharisma Indonesia, dan Mahajana.

Debby Nasution & Chrisye

Sedangkan proyek yang paling fenomenal dari Nasution Bersaudara di era ini adalah LCLR 1978 yang melibatkan Keenan dan Odink sebagai pemain drum dan gitar. Album ini masih memiliki konsep yang sama seperti LCLR 1977, yaitu mencari pemuda yang berbakat dalam menciptakan lagu. LCLR 1978 dianggap sebagai sebuah terobosan baru dalam penciptaan lirik dan lagu. Album ini melahirkan banyak sekali hits, di antaranya adalah Apatis, Sesaat, Kidung, dan masih banyak lagi.

Pada era ini, mereka aktif tampil di berbagai daerah dengan nama Badai Band. Nama tersebut dicetuskan oleh Sys NS yang diambil dari orang-orang yang terlibat di album Badai Pasti Berlalu. Walaupun begitu, anggota Badai Band terdiri dari anak-anak Gank Pegangsaan itu sendiri. Pada era keemasannya, Badai Band merupakan sebuah grup musik yang sangat dahsyat. Formasi utama Badai Band adalah Chrisye (vokal, gitar bas), Yockie (vokal, kibor), Roni Harahap (kibor), Odink Nasution (gitar), Keenan Nasution (vokal, drum), dan Fariz RM (vokal, drum). Sedangkan anak-anak Gank Pegangsaan lain yang turut membantu formasi utama Badai Band adalah Harry Sabar (vokal, drum), Addie MS (kibor), Debby Nasution (kibor), bahkan Vina Panduwinata yang didapuk sebagai backing vocal. Konsep grup tersebut bida dibilang yang paling dahsyat di Indonesia. Di dalamnya ada double drum set yang dimainkan oleh Keenan dan Fariz, serta kibor yang berjumlah lebih dari 5 buah yang dimainkan oleh Yockie dan Roni Harahap. Yang paling dahsyat adalah pada tahun 1979 dan tahun 1981. Ketika itu, Badai Band tampil diiringi oleh full-set orkestra pimpinan Idris Sardi.

Badai Band. Kelompok musik yang dibentuk pasca perilisan album magnum opus Badai Pasti Berlalu. Foto ini diambil di bandara pada saat melakukan tur ke Palembang (1978)

Periode akhir 70-an ini bisa dibilang era paling cemerlang bagi Nasution Bersaudara. Karena pada era tersebut, Nasution Bersaudara bersama kawan-kawan lainnya di Pegangsaan dianggap sebagai pemberi warna baru bagi musik Indonesia. Keenan, Debby, Odink, dan Gauri memberikan hentakan-hentakan dari suara alat musik yang mereka mainkan menjadi sebuah pesona dan warna baru bagi dunia musik Indonesia.

Tahun 1981 sampai akhir 80-an

Memasuki 1980-an, Nasution Bersaudara masih tetap bermusik di jalur pop progresif.

Keenan merilis 7 album solo pada periode ini. Album tersebut 6 di antaranya melibatkan sang adik, yaitu Odink. Warna musiknya pun beragam. Dari mulai pop progresif hingga rock pernah Keenan cicipi.

Keenan Nasution

Pada tahun 1983 dan 1985, Keenan merilis album yang berjudul 42nd Street, Dara-Dara, dan Dulu Lain Sekarang Lain. Ketiga album tersebut memiliki corak musik yang cukup unik. Album tersebut mengusung aliran new wave dan rock. Hal ini memberikan kesan yang berbeda bagi Keenan yang biasanya memainkan lagu-lagu pop. Sebelumnya pada tahun 1982, Keenan juga pernah berkolaborasi dengan sang istri, yaitu Ida Royani untuk membuat 2 buah album yang berjudul My Love dan Romansa.

Selain sibuk membantu sang kakak, Odink juga ikut menggarap album-album lain. Beberapa album lain yang melibatkan Odink yaitu album Lain Di Bibir Lain Di Hati dari Louise Hutauruk dan Eben Hutauruk yang beraliran funk, serta album terakhir Prambors Band yang berjudul Kemarau II. Di tengah kesibukannya menggarap album, Odink juga aktif dalam grup musikyang bernama Cockpit. Grup musik ini membawakan lagu-lagu Genesis dan Phil Collins dan masih eksis hingga saat ini.

Sedangkan Debby Nasution pada periode ini mulai menekuni dunia dakwah. Dirinya menjadi pemuka agama yang cukup tersohor pada saat itu. Namun, hal tersebut tidak membuat Debby meninggalkan musik begitu saja. Di samping berdakwah, Debby tetap bermusik bersama Gank Pegangsaan sebagai pemain kibor.

Era 90-an: Era baru Gank Pegangsaan

Awal 90-an dibuka dengan rilisnya album perdana dari Gank Pegangsaan. Album ini dirilis atas prakarsa Debby Nasution yang ingin sebuah Gank Pegangsaan yang telah eksis sejak tahun 70-an untuk merilis sebuah album. Walaupun album ini tidak melibatkan seluruh Gank Pegangsaan, tetapi album ini cukup mewakili dan memberi identitas bagi Gank Pegangsaan yang masih ada.

Album perdana Gank Pegangsaan berjudul Palestina I dirilis pada tahun 1991. Album ini menelurkan everlasting hits yang berjudul Dirimu. Keenan Nasution menjadi pemain drum dan penyanyi untuk album ini. Sedangkan Debby Nasution berperan sebagai penata musik, pencipta beberapa lagu, dan pemain kibor.

Peran Keenan di era baru Gank Pegangsaan ini cukup di album perdana saja. Di tahun berikutnya Keenan bergabung ke sebuah grup bernama Al Haj. Al Haj merupakan sebuah supergrup yang terdiri dari Benyamin Sueb (vokal), Keenan (drum), Odink (gitar), Edhe (gitar) Editya (gitar bas), dan Harry Sabar (kibor).

Odink yang telah aktif bersama Cockpit sejak awal 80-an masih bertahan dengan grup tersebut hingga periode ini. Di  samping Cockpit dan Al Haj, Odink bersama Keenan bergabung ke sebuah grup musik bernama Next Band. Grup ini berisi Keenan, Odink, Freddy Tamaela, Armand Maulana, Raidy Noor, Rani Trisutji, dan Andy Ayunir.

Sedangkan Gank Pegangsaan sejak album perdananya terus melaju diikuti dengan dirilisnya album Palestina II (1994) dan Kerusuhan (1997) yang dinakhodai oleh Debby Nasution.

Pada tahun 1997, Nasution Bersaudara sempat membentuk kembali Guruh Gipsy. Grup ini sempat tampil di televisi nasional membawakan repertoar-repertoar Guruh Gipsy yang tentu dengan iringan gamelannya. Tetapi setelah itu, namanya tidak terdengar lagi.

Periode 2000an hingga kini

Memasuki usia karir bermusik mereka yang sudah lebih dari 30 tahun, Nasution Bersaudara masih aktif bermusik. Debby masih menekuni profesinya di jalan dakwah, sedangkan Odink masih bersama grup Cockpit-nya.

Pada tahun 2007, Keenan merilis album berjudul Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat bersamaan dengan digelarnya konser Nuansa Bening pada 5 Mei 2007. Album ini digelar untuk mengenang karya-karya terbaik dari Keenan Nasution. Sedangkan pada tahun 2011, konser yang bertajuk Apa Yang Telah Kau Berikan Untuk Sesama Manusia yang merupakan konser tribute untuk 33 tahun karir bermusik Keenan Nasution dihelat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kedua konser tersebut tentunya melibatkan sang adik, yaitu Odink dan Debby.

Lalu pada tahun 2012, Keenan merilis album berjudul Akustik. Album tersebut berisi lagu-lagu lama dari Keenan yang dikemas ulang dengan format akustik. Sedangkan di tahun 2014, album perdana Keenan yang berjudul Di Batas Angan-Angan dirilis ulang dalam format piringan hitam dan CD.

Hingga kini, Keenan masih aktif bermusik. Biasanya Keenan terlibat di acara-acara tribute untuk lagu-lagu progressive rock Indonesia era Gank Pegangsaan dan LCLR.

Sedangkan Debby Nasution sempat aktif bermusik kembali. Debby ikut membantu Giant Step dalam album terbarunya yang berjudul Life’s Not The Same yang dirilis pada tahun 2016. Di album tersebut, Debby berperan sebagai pemain kibor. Lalu, Debby juga aktif di berbagai acara tribute untuk Gank Pegangsaan dan LCLR bersama Keenan dan anggota Gank Pegangsaan lainnya. Selain itu, Debby juga sempat merekam materi-materi lagu namun tidak sempat dirilis.

Pada tanggal 15 September 2018, kabar duka menyelimuti Nasution Bersaudara. Debby Nasution yang saat itu sedang mengisi ceramah tiba-tiba meninggal dunia. Belakangan diketahui penyebab wafatnya, yaitu serangan jantung. Pada tahun 2020, materi-materi lagu yang belum dirilis oleh Debby Nasution dirilis atas prakarsa M. Hasan Nasution dalam album yang bertajuk Menanti Hari.

Lalu pada 27 Februari 2020, kabar duka kembali menyelimuti Nasution Bersaudara. Sang gitaris, Odink Nasution, meninggal dunia akibat gagal ginjal. Sebelum akhir hayatnya, Odink masih aktif bersama grup musik Cockpit dan pegiat blues di Jakarta Blues Festival.

PENUTUP

Tidak berlebihan bila penulis menganggap Nasution Bersaudara merupakan pesona bagi musik Indonesia. Pemikiran-pemikiran serta ide bermusiknya yang visioner menjadi warna tersendiri bagi musik Indonesia. Tak jarang karya-karya dari mereka dicap sebagai karya yang futuristik, sehingga karya-karyanya kerap dianggap sebagai pemberi warna yang berbeda bagi musik Indonesia pada umumnya saat itu. Belum lagi permainan alat musik yang mereka kuasai sangat memberi pesona tersendiri bagi musik Indonesia.

Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia membuat daftar 150 Album Indonesia Terbaik. Dalam daftar tersebut, setidaknya ada 6 album yang melibatkan Nasution Bersaudara. Bahkan, peringkat 3 teratas dari daftar tersebut merupakan album-album yang melibatkan Nasution Bersaudara, yaitu Badai Pasti Berlalu, Guruh Gipsy, dan LCLR 1978.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa Nasution Bersaudara memang sebuah pesona bagi musik Indonesia.

DISKOGRAFI

  • Gauri Nasution

Gauri Nasution sempat terlibat di berbagai grup musik bersama Nasution Bersaudara, seperti Sabda Nada, dan Gipsy sebagai gitaris. Pada tahun 1975-1976, Gauri bergabung bersama Guruh Gipsy dan Barong’s Band. Bersama Barong’s, ia merilis 2 album, yaitu Kawin Lari dan self-titled.

Pada tahun 1978, Gauri sempat membantu Keenan Nasution pada album solonya yang berjudul Di Batas Angan-Angan sebagai gitaris pada lagu Negeriku Cintaku. Lalu di tahun berikutnya, Gauri ikut membantu Harry Sabar dalam album solonya yang berjudul Lentera. Di album tersebut, Gauri terlibat sebagai pemain gitar pada lagu Kitaran Warsa, Sekiranya’…., dan Kemarin dan Hari Ini.

Setelah tahun 1979, namanya tidak terlihat lagi di kancah musik nasional. Namun, karya-karyanya dapat ditemukan di berbagai sampul album yang ia buat untuk album musisi-musisi Indonesia saat itu, seperti Keenan Nasution, Chrisye, Harry Sabar, dan masih banyak lagi.

  • Odink Nasution

Odink Nasution dikenal sebagai gitaris yang sering terlibat di proyek musik musisi lain. Berikut adalah hasil riset yang penulis temukan terhadap keterlibatan Odink Nasution di dunia musik Indonesia.

  1. Guruh Gipsy, Kesepakatan dalam Kepekatan, 1976, sebagai pemain gitar;
  2. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977, sebagai pemain gitar;
  3. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1978, sebagai pemain gitar;
  4. Prambors Band – Jakarta Jakarta, 1978, sebagai pemain gitar;
  5. Prambors Band – Sebentuk Keresahan, 1979, sebagai pemain gitar;
  6. Prambors Band – 10 Pencipta Lagu Remaja, 1979, sebagai pemain gitar;
  7. Prambors Band – Seungkap Tanya, 1979, sebagai pemain gitar;
  8. Prambors Band – Sebuah Prasangka, 1979, sebagai pemain gitar;
  9. Yockie Suryo Prayogo – Musik Saya Adalah Saya, 1979, sebagai pemain gitar;
  10. Various Artists – Dasa Tembang Tercantik ’79 (Lomba Cipta Lagu Remaja/LCLR 1979), 1979, sebagai pemain gitar;
  11. Louise Hutauruk – Pintu Hati, 1979, sebagai penata musik, pemain gitar, dan pemain kibor pada lagu Alkisah Mega;
  12. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai pemain gitar;
  13. Keenan Nasution – Tak Semudah Kata-Kata, 1979, sebagai pemain gitar pada lagu Sang Juara;
  14. Keenan Nasution – Akhir Kelana, 1980, sebagai pemain gitar pada lagu Nyata;
  15. Andi Mapajalos – Bunga Kasih, awal 1980-an (tahun tidak diketahui pasti), sebagai pemain gitar;
  16. Keenan Nasution – Beri Kesempatan, 1981, sebagai pemain gitar;
  17. Louise Hutauruk & Eben Hutauruk – Lain Di Bibir Lain Di Hati, 1981, sebagai pemain gitar;
  18. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain gitar;
  19. Keenan Nasution – My Love, 1982, sebagai pemain gitar;
  20. Keenan Nasution – Romansa, 1982, sebagai pemain gitar;
  21. Keenan Nasution – 42nd Street, 1983, sebagai pemain gitar;
  22. Keenan Nasution – Dara-Dara, 1985, sebagai pemain gitar;
  23. Keenan Nasution – Dulu Lain Sekarang Lain, 1985, sebagai pemain gitar;
  24. Prambors Band – Kemarau II, 1986, sebagai pemain gitar;
  25. Keenan Nasution – Bunga Asmara, 1990, sebagai pemain gitar pada lagu Nuansa Bening, Bidak Kecil, Padamu Aku Mengetuk, dan Tommy;
  26. Al Haj – Biang Kerok, 1992, sebagai pemain gitar;
  27. Debby Nasution – Menanti Hari, 2020, sebagai pemain gitar pada lagu Jeritan Hati Kami.
  • Debby Nasution

Di bawah ini merupakan beberapa proyek musikal yang melibatkan Debby Nasution sebagai penyanyi, pemain alat musik, maupun penata musik. Daftar album ini mungkin belum mencakup seluruh keterlibatan aktivitas bermusik dari Debby Nasution. Namun, penulis berhasil merangkum beberapa diskografi yang melibatkan Debby Nasution berdasarkan riset yang penulis lakukan. Berikut diskografi dari Debby Nasution.

  1. Barong’s Band – Kawin Lari, 1976, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  2. Barong’s Band – self-titled, 1976, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  3. Erros Djarot dkk. – Badai Pasti Berlalu, 1977, sebagai pemain kibor dan penata musik pada lagu Khayalku, Angin Malam, dan Semusim; pencipta lagu Cintaku, Khayalku, dan Angin Malam; pencipta aransemen dasar lagu Pelangi;
  4. Keenan Nasution – Di Batas Angan-Angan, 1978, sebagai pemain kibor pada lagu Nuansa Bening, dan Negeriku Cintaku; pencipta lagu Negeriku Cintaku;
  5. 4 Komposer – Finalis Festival Pop Song ke-6, 1978, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  6. Various Artists – Dasa Tembang Tercantik ’79 (Lomba Cipta Lagu Remaja), 1979, sebagai penata musik dan pemain kibor pada lagu Jelaga, Himbauan Jiwa, Getar Asmara, Bahana Jelata, Cahaya Kencana, dan Mahajana;
  7. Prambors Band – Seungkap Tanya, 1979, sebagai pemain kibor;
  8. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai pemain kibor, gitar bas, dan penata musik pada lagu Lentera, Kala Daun Berguguran, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari ini, Terbenci Tapi…, dan Sekiranya’…;
  9. Utje Tjakradidjaja – Di Bawah Payung Hitam, 1980, sebagai penata musik;
  10. Keenan Nasution – Akhir Kelana, 1980, sebagai pemain piano elektrik pada lagu Mana Mungkin;
  11. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain kibor pada lagu Menuju Harapan;
  12. Junaedi Salat – Masa Pancaroba, 1983, sebagai penata musik dan pemain kibor;
  13. Erros Djarot – Manusia Manusia, 1985, sebagai pemain kibor, gitar akustik, dan gitar bas;
  14. Doddy Soekasah – Laras Hati, 1985, sebagai pemain kibor;
  15. Gank Pegangsaan – Palestina I, 1991, sebagai penata musik dan pemain kibor; penyanyi pada lagu Setan Tertawa; pencipta lagu Palestina, Manusia Kera, dan Penantian;
  16. Gank Pegangsaan – Palestina II, 1994, sebagai penata musik, penyanyi, dan pemain kibor;
  17. Gank Pegangsaan – Kerusuhan, 1997, sebagai penata musik, penyanyi, dan pemain kibor;
  18. Giant Step – Life’s Not The Same, 2016, sebagai pemain kibor;
  19. Debby Nasution – Menanti Hari, 2020, sebagai penata musik, pencipta lagu, penyanyi, dan pemain kibor.
  • Keenan Nasution

Keenan Nasution merupakan sosok yang paling rajin merilis album solo di antara Nasution Bersaudara lainnya. Keenan telah merilis 13 album solo dan terlibat di lebih dari 10 album musisi lain selama berkarir di dunia musik. Berikut adalah daftarnya:

Album solo:

  1. Di Batas Angan-Angan (1978)
  2. Tak Semudah Kata-Kata (1979)
  3. Akhir Kelana (1980)
  4. Beri Kesempatan (1981)
  5. My Love bersama Ida Royani (1982)
  6. Romansa bersama Ida Royani (1982)
  7. 42nd Street (1983)
  8. Dara-Dara (1985)
  9. Dulu Lain Sekarang Lain (1985)
  10. Kupu-Kupu Cinta (1986)
  11. Bunga Asmara (1990)
  12. Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat (2007)
  13. Akustik (2012)
Keenan Nasution & Ida Royani

Album yang melibatkan Keenan:

  1. Guruh Gipsy – Kesepakatan dalam Kepekatan, 1976, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Indonesia Maharddhika dan Geger Gelgel;
  2. D&R – self-titled, 1976, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Cindy;
  3. Various Artists – 9 Lagu Terbaik Festival Lagu & Penyanyi Populer Tingkat Nasional V/’77, sebagai penyanyi dan pencipta lagu Di Batas Angan-Angan;
  4. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja 1977, sebagai penata musik, dan pemain drum; penyanyi pada lagu Kemelut dan Oh Bunga Anggrek;
  5. Erros Djarot, dkk. – Badai Pasti Berlalu, 1977, sebagai pemain drum pada lagu Khayalku, Angin Malam, dan Semusim;
  6. Various Artists – 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja 1978, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Awan Putih dan Saat Harapan Tiba;
  7. Chrisye – Sabda Alam, 1978, sebagai pemain drum;
  8. Chrisye – Percik Pesona, 1979, sebagai pemain drum pada lagu Kehidupanku;
  9. Yockie Suryo Prayogo – Musik Saya Adalah Saya, 1979, sebagai pemain drum;
  10. Harry Sabar – Lentera, 1979, sebagai penata musik, pencipta lagu, dan pemain kibor pada lagu Khalwat Jiwa; pemain drum pada lagu Lentera, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari Ini, dan Khalwat Jiwa;
  11. Fariz RM – Selangkah Ke Seberang, 1979, sebagai pemain drum pada lagu Kutuk Seribu Dewa;
  12. Mira Ismuthiar – Terluka, 1981, sebagai pemain drum;
  13. Harry Sabar – Bayang Pesona, 1981, sebagai pemain drum pada lagu Salam Negeriku;
  14. Harry Sabar – Kasih Sayang, 1985, sebagai pemain drum;
  15. Doddy Soekasah – Laras Hati, 1985, sebagai pemain drum;
  16. Gank Pegangsaan – Palestina I, 1991, sebagai pemain drum; penyanyi pada lagu Dirimu, Jalan Sabang, dan Matahari;
  17. Al Haj – Biang Kerok, 1992, sebagai pemain drum;
  18. Doddy Soekasah – Serambi, 1999, sebagai penyanyi.

Musisi Futuristik Itu Bernama Delly Rollies

Di paruh era 1970’an hingga 1980’an, musik Indonesia kental akan sisi vintage. Mulai dari proses produksi hingga aransemen boleh dibilang masih terkenal ‘kuno’ karena secara teknologi pun tentu saja belum memadai. Tapi, di era itu, ada satu sosok musisi dengan pembawaan musik yang berbeda dan malah terkesan melampaui masanya. Sosok itu adalah orang yang selama ini dikenal sebagai keyboardist sekaligus vokalis The Rollies bernama lengkap Delly Joko Arifin yang dikenal dengan nama Delly Rollies.

Delly Rollies yang lahir pada 1949 ini mengawali sepak terjang dalam karir bermusiknya pada era 1960’an. Sebelum memulai karir panjang bersama The Rollies, terlebih dahulu Delly bergabung dengan grup musik Genta Istana. Barulah pada 1967, Delly bergabung dengan The Rollies sebagai keyboardist atas ajakan Deddy Stanzah yang berperan penting sebagai penggagas terbentuknya The Rollies. Gito, sang vokalis, adalah orang yang terakhir gabung dengan The Rollies. Di band sebelumnya, Gito sering membawakan repertoar dari Tom Jones, Engelbert Humpadink, dan sejenisnya. Namun saat bergabung dengan The Rollies, Delly meminta Gito untuk membawakan repertoar dari James Brown, sang godfather musik soul dan funk dunia. Itulah sebabnya The Rollies dikenal sebagai representasi James Brown di Indonesia.

Rollies

Meskipun di puncak kejayaannya The Rollies sempat ditempa masalah terkait narkoba dan sempat juga mengalami pergantian personil, hal ini tidak membuat keterlibatan Delly dalam The Rollies goyah. Bersama The Rollies, Delly merilis sejumlah album dari era Remaco, Purnama Records, Hidayat, hingga mendapat kontrak panjang bersama Musica Studios pada 1977 yang menjadi titik awal kesuksesan The Rollies. Sampai akhirnya pada paruh 1980’an, The Rollies berganti nama menjadi New Rollies. Di era New Rollies ini, Delly dan kawan-kawan mulai mencoba membawakan lagu dari komposer-komposer seperti A. Riyanto, Johannes Purba, dan Titiek Puspa yang selama ini dikenal sebagai komposer lagu-lagu pop cengeng. Akan tetapi, The Rollies berhasil mengintrepretasikannya dengan style mereka yang keren.

Disamping berkarir dengan The Rollies, pada akhir era 1970’an Delly juga melakukan solo karir. Justru di solo karir inilah Delly mulai terpancar auranya dan sebagian besar lagunya terdengar berbeda dari kebanyakan musik Indonesia di era itu, bahkan boleh dibilang melampaui masanya. Di era solo karirnya, Delly masih menggunakan genre musik yang sama dengan The Rollies: soul, funk, dan disko. Album solo pertama Delly berjudul The Prince of Rollies (1978) dirilis Musica Studios dan menampilkan beberapa komposer seperti Oetje F. Tekol, Erick Van Houten, Dodo Zakaria, dan Jimmie Manopo.

Selanjutnya, Delly melakukan kerjasama dengan label Flower Sound. Di label inilah kejeniusan Delly Rollies dalam meramu musik mulai terlihat. Album pertama Delly di label ini berjudul Pop Jazz (1982). Album ini menafsirkan ulang lagu-lagu pop milik Kiki Maria, Jimmie Manopo, Jacky, Chris Kayhatu, A. Riyanto dll. yang telah eksis sebelumnya dengan nafas soul dan jazz ala Delly sendiri. Masih di tahun yang sama, Delly merilis album berjudul Kau dengan bantuan Fariz RM sebagai music director. Album ini juga sempat dibantu oleh gank-nya Fariz RM di grup Symphony yaitu Ekki Soekarno, Jimmy Pais, dan Herman Gelly.

Cover album Delly Rollies – Mutiara Kata (1982)

Tidak lama setelahnya, Delly merilis album berjudul Jadi Juga atau Mutiara Kata yang digadang-gadang menjadi masterpiece Delly Rollies sepanjang karirnya. Di album ini terdapat lagu berjudul Licik yang vokalnya menggunakan teknologi efek vocoder! Sebuah terobosan baru yang belum pernah dilakukan oleh musisi Indonesia sebelumnya. Dalam lagu berdurasi 9 menit ini, vokal yang menggunakan efek vocoder itu diisi oleh Harry Sabar. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan efek vocoder oleh musisi Indonesia sudah ada jauh sebelum Indra Lesmana mulai melakukannya di era 2000-an. Bahkan juga jauh sebelum Daft Punk dan musisi breakthrough lainnya mulai melakukannya. Sayangnya banyak orang tidak tahu tentang fakta ini.

Delly Rollies (tengah) bersama Harry Sabar (kanan) dan Norman (kiri) pada saat menggarap album Cinta Remaja.

Bersama Flower Sound, Delly juga merilis beberapa album seperti Pop Jazz Dixie, Volume 2, Kubawa Dukaku, Break Dancing, dan Cinta Remaja. Di tahun 1985, Delly merilis album Janji di bawah Musica Studios dan di tahun 1990 merilis album Jangan Berakhir Disini bersama Meiske Pattiasina. Ketujuh album ini juga mengusung spirit yang sama. Memainkan musik soul, funk, jazz, dan disko dengan teknologi mutakhir seperti vocoder dan aransemen beat yang sudah menggunakan beatmachine.

Beberapa instrument keyboard andalan seperti Fender Rhodes Electric Piano dan Minimoog Synthesizer serta teknik sampling melalui beatmachine bermerek Roland TR-808 kerap digunakan Delly sepanjang karirnya, baik dalam karirnya bersama The Rollies maupun karir solonya. Delly Rollies adalah seorang musisi yang mampu mengintrepretasi setiap lagu yang dimainkannya menjadi terdengar lebih fresh dengan teknologi musik yang terbilang sangat mutakhir era itu. Bahkan lagu-lagu yang terdengar cengeng pun berhasil diintrepretasi Delly supaya terdengar lebih segar dan lebih baik dari versi sebelumnya. Meskipun karakter vokal Delly sendiri masih khas karakter vokal penyanyi Indonesia era 1970’an yang terdengar kuno, namun dengan bantuan aransemen musik yang fresh pada masanya, lagu yang dimainkan dan dinyanyikan Delly justru terdengar lebih baru. Karena lagu-lagu Delly digarap dengan teknologi musik yang sangat mutakhir untuk eranya, maka bisa dibilang lagu-lagu Delly Rollies terdengar cukup jauh melampaui masanya. Meskipun memasuki era 1990’an eksistensinya mulai memudar, Delly masih tetap aktif bermusik hingga meninggal dunia akibat serangan jantung pada 31 Oktober 2002.

mixtape lagu-lagu terpilih Delly Rollies

Top 5: Ilman Ibrahim

Ilman Ibrahim adalah musisi yang dikenal sebagai keyboardist Maliq & D’Essentials menggantikan posisi Ifa Fachir yang hengkang pada 2011 lalu. Sekitar tahun 2014, bersama dua rekannya sesama musisi, Lale (gitaris Maliq & D’Essentials) dan Nino (RAN) membentuk bendera Laleilmannino, trio komposer dan produser yang sukses membuat hits maker bagi para penyanyi papan atas Indonesia hingga hari ini. Kali ini, musisi yang juga menekuni olahraga golf ini bersedia untuk memberikan Top 5 lagu-lagu Indonesia pilihannya kepada Alunan Nusantara.

  1. Candra Darusman – Kau (Indahnya Sepi, 1981)

Candra Darusman adalah musisi dan komposer Indonesia yang pertama kali dikenal lewat grup Chaseiro sekitar pertengahan era 1970’an. Ditengah era mengembangkan Chaseiro, Candra Darusman sempat membuat album solo meskipun cuma dua buah saja: Indahnya Sepi (1981) dan Kekagumanku (1983) sebelum akhirnya membentuk Karimata. Lagu Kau yang hadir sebagai track pertama di album pertama Candra Darusman langsung berhasil memikat hati banyak orang ketika itu. Sampai akhirnya, lagu ini berhasil masuk menjadi salah satu lagu Indonesia sepanjang masa yang sampai hari ini masih banyak didengar dan dinyanyikan orang.

2. Candra Darusman – Our Moments of Paradise (Kekagumanku, 1983)

Album Kekagumanku dari Candra Darusman memuat salah satu lagu pop-jazz ringan underrated alias tak menjadi hits berjudul Our Moments of Paradise. Sekedar informasi, lagu ini ditulis oleh Indra Lesmana dan Mira Lesmana ketika mereka masih tinggal di Sydney, Australia. Sekaligus, lagu ini juga menjadi satu-satunya lagu yang ditulis komposer lain (selain Candra Darusman sendiri) di album Kekagumanku.

3. Chrisye feat. Vina Panduwinata – Kisah Insani (Sendiri, 1984)

Setelah Chrisye mengakhiri kerjasama panjangnya dengan Yockie Suryoprayogo karena perbedaan idealisme, Chrisye merilis album berjudul Sendiri di tahun 1984 dengan menggandeng Addie MS sebagai music director dan Vina Panduwinata sebagai penyanyi tamu. Single andalan dalam album ini adalah lagu berjudul Kisah Insani yang merupakan duet manis antara Chrisye dengan Vina Panduwinata. Sebuah lagu pop easy listening yang berhasil mencuri perhatian orang sekaligus lagu ini juga membuktikan bahwa Chrisye berhasil terlepas dari baying-bayang Yockie sebagai music director.

4. Fariz RM feat. Candra Darusman – Dunia Dibatas Senja (Panggung Perak, 1981)

Apa jadinya kalau dua maestro kebanggan Indonesia Fariz RM dan Candra Darusman berkolaborasi? Hasilnya, tentu saja akan menjadi sebuah masterpiece. Keduanya berhasil membuktikannya pada lagu Dunia Dibatas Senja, sebuah lagu bossanova ringan di album solo ketiga Fariz berjudul Panggung Perak (1981) ciptaan Candra Darusman yang awalnya dibawakan Chaseiro. Lagu inipun sukses menjadi hits dan berhasil menjadi ikon city-pop Indonesia. Tahun 2018, Fariz RM dan Candra Darusman membawakan kembali lagu ini dengan aransemen baru dari Barry Likumahuwa untuk project album Detik Waktu: Menyanyikan Karya Cipta Candra Darusman. Dan di tahun 2019, Dipha Barus mengambil salah satu elemen di lagu ini untuk dijadikan sampling di lagu miliknya berjudul Woosah yang dibawakannya bersama rapper Matter Mos.

5. Ahmad Band – Sudah (Ideologi, Sikap, Otak, 1998)

Publik tentu tidak bisa mengelak kalau Ahmad Dhani bisa sukses dan berhasil menjadi maestro papan atas Indonesia berkat Dewa 19. Menjelang akhir 1990’an, Dewa 19 mengalami sedikit benturan yang salah satunya dipicu karena Ari Lasso menggunakan narkoba. Ditengah benturan itu, Ahmad Dhani membentuk Ahmad Band sebagai proyek sampingan yang beranggotakan Ahmad Dhani (vocal/keyboard), Andra Ramadhan (guitar), Pay (guitar), Bongky (bass), Bimo (drum). Single andalan Ahmad Band di album satu-satunya mereka berjudul Ideologi, Sikap, Otak (1998) adalah lagu berjudul Sudah yang bernafaskan R&B. Mengingat saat itu, Ahmad Dhani sedang cukup menekuni musik R&B yang pertamakali digarapnya melalui album pertama Reza Artamevia berjudul Keajaiban (1997).

“Terima Kasih Indonesia”, Album Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka dari Musica Studios

Cover album Terima Kasih Indonesia produksi Musica Studios (source: Indolawas)

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus selalu dapat melahirkan semangat bagi siapapun dan dalam bidang apapun. Dalam hal musik, 17 Agustus dapat melahirkan semangat kemerdekaan berkarya bagi para musisi. Terbukti tak sedikit musisi Indonesia dari dulu hingga kini yang membuat lagu bertemakan kemerdekaan.

Jauh sebelum grup Cokelat merilis lagu Bendera yang nampaknya selalu menjadi anthem di berbagai kesempatan pada saat momentum Kemerdekaan Republik Indonesia, Musica Studios pernah membuat album kompilasi bertajuk Terima Kasih Indonesia. Album kompilasi yang rilis pada 1995 ini dibuat untuk memperingati setengah abad Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejumlah artis yang ada di bawah naungan Musica Studios, RIS Music, dan Hemagita Records mulai dari yang legendaris hingga yang saat itu tengah naik daun beramai-ramai mengisi album ‘keroyokan’ ini. Mereka antara lain adalah Chrisye, Harvey Malaihollo, Elfa’s Singers, Trio Libels, Rafika Duri, Novia Kolopaking, Inka Christie, Anang, Mayangsari, Betharia Sonata, Humania, Kahitna, Iwa K, Java Jive, Inne Sinthya, Lilis Karlina, dan masih banyak lagi. Semua artis yang tergabung dalam project ini menyanyikan lagu ciptaan almarhum Gombloh berjudul Merah Putih yang kental akan semangat nasionalisme. Plus aransemen yang digarap oleh Heirie Buchaeri membuat lagu ini terdengar begitu megah dan sukses bikin merinding.

Selain lagu ‘keroyokan’ Merah Putih, beberapa artis Musica yang tergabung dalam project ini diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan dalam membawakan lagu mereka sendiri dengan tetap mengusung tema kemerdekaan. Ada lagu Karatagan Pahlawan, sebuah lagu berasal dari daerah Jawa Barat ciptaan seniman Sunda Mang Koko yang dalam album ini dinyanyikan oleh Ronnie Sianturi dan Yanni dari Trio Libels. Java Jive yang saat itu vokalisnya masih Danny Supit sendirian turut menyumbangkan lagu mereka berjudul Darahku yang kental nuansa rock. Juga ada Betharia Sonata yang mengisi track terakhir dalam album ini dalam lagu pop balada yang mendayu-dayu berjudul Mawar dan Melati yang melambangkan filosofi bendera merah putih. Selain lagu Merah Putih, untuk urusan hit single, album ini menjagokan lagu Kita Bangun Negeri dari Kahitna tentang semangat untuk membangun Indonesia dengan berkarya, dan lagu Persembahan dari Humania tentang rasa syukur sekaligus renungan atas arti kemerdekaan yang hakiki.

Kini, album Terima Kasih Indonesia telah berumur 25 tahun. Nampaknya, keseluruhan lagu dalam album ini masih akan selalu mengandung unsur tema yang relevan terhadap kondisi Bumi Indonesia sampai kapanpun. Termasuk hari ini ketika Indonesia telah mencapai Hari Kemerdekaan yang ke-75 tahun. Bagaimana para artis yang tergabung dalam project ini mengajak dan merangkul generasi muda untuk tetap semangat membangun dan membela Indonesia melalui karya-karya yang positif tercermin secara jelas dalam album ini.   

Top 5: Iga Massardi

Alunan Nusantara kembali menghadirkan konten TOP 5, yaitu konten yang berisi 5 lagu Indonesia terbaik dari musisi yang kami pilih. Kali ini, kami akan menghadirkan 5 lagu Indonesia terbaik versi Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris dari grup musik Barasuara. Penasaran apa saja lagu terbaik pilihan Bang Iga? Simak selengkapnya di bawah ini ya!

  1. AKA – Do What You Like

Indonesia seolah tak pernah kehabisan talenta terbaiknya dalam musik keras. Salah satu yang terbaik adalah grup musik Apotek Kali Asin alias AKA. Salah satu lagunya yang berjudul Do What You Like langsung menjadi lagu andalan pada masanya. Riff-riff gitar berat khas hard rock ditambah vokal keras ala Ucok merupakan paduan yang sangat gila bagi musik Indonesia di masa itu. Lagu ini pantas dinobatkan sebagai lagu terbaik dari AKA. Terbukti, lagu ini kelak ditempatkan pada peringkat ke-125 pada “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” yang dikurasi oleh salah satu majalah musik ternama di Indonesia. Walaupun lagu ini dirilis di awal tahun 70-an, tapi lagu ini boleh dibandingkan dengan lagu-lagu rock masa kini. Kerasnya boleh diadu!

2. God Bless – Kehidupan

Lagu ini terdapat di album Semut Hitam. Sebuah album yang menandai kembalinya God Bless ke dunia rekaman setelah sewindu tidak merilis album, waktu yang sangat lama bagi musisi atau grup musik pada saat itu untuk tidak merilis sebuah album. Kembalinya God Bless di tahun 1988 digebrak dengan lagu berjudul Kehidupan ciptaan Yockie Suryo Prayogo. Lagu ini secara garis besar menceritakan tentang arus kehidupan yang begitu ambisius dengan tensi yang sangat tinggi. Dengan kata lain, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang “sikut-sikutan” dan melibas segala cara untuk mencapai tujuannya tanpa memikirkan sesuatu yang ada di sekitarnya. Apakah sindiran terhadap orde pemerintahan saat itu

3. Koes Plus – Kelelawar

Lagu yang secara sederhana menceritakan tentang hewan kelelawar ini terdapat di album perdana Koes Plus yang berjudul Dheg Dheg Plas. Lagu yang diciptakan oleh Tonny Koeswoyo ini memiliki makna yang sangat sederhana sekali. Tak perlu muluk-muluk, lagu ini hanya menceritakan seekor kelelawar yang sayapnya hitam, hidup di malam hari, dan bergantungan (tidur) ketika pagi hari. Sederhana sekali, ya? Namun walaupun begitu, musik yang diusung cukup “berat”, karena mereka berusaha mengikuti trend yang sedang naik daun saat itu, yaitu aliran musik rock n roll. Pada tahun 2009, lagu ini menempati peringkat ke-83 pada 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi salah satu majalah musik ternama di Indonesia.

4. Flowers – (Tolong) Bu Dokter

Mungkin nama grup musik ini agak asing di telinga anak muda zaman sekarang. Namun bila dilihat pengaruhnya, grup musik ini adalah salah satu penggerak musik rock n roll di era 90-an bersama Slank dan geng Potlot lainnya. Album perdananya yang mengandalkan single berjudul (Tolong) Bu Dokter langsung menggebrak telinga anak muda saat itu. Lagu ini menceritakan tentang pergaulan anak-anak muda di Gang Potlot yang dekat dengan obat-obatan terlarang namun digambarkan dengan kata-kata kiasan. Contohnya adalah “Bu Dokter” sendiri yang maksudnya merupakan “BD” alias bandar. Jangan lupakan juga ada satu part unik yang terdapat di lagu ini, yaitu ada selingan psychedelic yang mengawang-awang di pertengahan lagu.

5. Netral – Pucat Pedih Serang

Pucat Pedih Serang merupakan single andalan dari grup musik Netral untuk album ketiganya yang bertajuk Album Minggu Ini. Semua pendengar Netral tentu setuju bahwa album ini merupakan album terbaik dari grup musik Netral. Khususnya untuk lagu Pucat Pedih Serang yang sering menjadi perbincangan karena liriknya yang ambigu. Banyak yang mengartikan kalau lagu ini menceritakan tentang proses seseorang menuju bunuh diri. Namun dilansir lewat video yang diunggah di channel YouTube NTRL Official TV, sang vokalis, Bagus, membantah lagu ini menceritakan tentang proses bunuh diri. Ia mengatakan bahwa lagu ini justru menceritakan sebaliknya, yaitu sebuah motivasi untuk seseorang agar tidak melakukan proses bunuh diri. Secara garis besar maksudnya adalah rasa pucat dan rasa sedih harus kita serang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Badai Pasti Berlalu yang Tak Mungkin Berlalu

Cover album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu (1977) (source: Wikipedia)

Semua orang boleh jadi setuju kalau Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album terkeren sepanjang masa. Bagaimana tidak, album yang menjadi tonggak revolusi musik pop Indonesia di era pertengahan tahun 1970’an ini memiliki daya magis yang dapat membuat setiap orang merinding ketika mendengarnya. Hingga hari ini, terhitung masih sulit ditemukan tandingannya.

Badai Pasti Berlalu – awalnya merupakan sebuah novel karya Teguh Karya yang terbit pada 1974. Mulanya, potongan demi potongan kisah di novel ini diterbitkan di harian Kompas pada 1972 sebelum akhirnya diterbitkan dalam satu cerita utuh dua tahun setelahnya. Hingga akhirnya, Badai Pasti Berlalu mencapai magnum opus ketika difilmkan hingga dibuat soundtrack lagunya pada 1977.

Original soundtrack Badai Pasti Berlalu lahir atas inisiasi Teguh Karya yang meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack dari salah satu film yang digarapnya. Eros yang saat itu baru pulang dari menempuh studi di Jerman menerima tantangan tersebut. Pada 1975, Eros Djarot bersama bandnya yang dibentuknya di Jerman saat itu, Barong’s Band, menggarap soundtrack dari salah satu film Teguh Karya berjudul Kawin Lari, yang dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

Ketika Eros Djarot pulang dari Jerman ke Indonesia, ia mempunyai keinginan yang mulia: meneruskan visi dan misinya bermusik dengan gaya Indonesia. Perlu dicatat, sebelum era Badai Pasti Berlalu muncul banyak band Indonesia sangat terpengaruh dengan musik Barat, contohnya seperti Koes Plus dan AKA yang mana mereka tak jarang membawakan lagu berbahasa Inggris. Dan anak-anak muda di era itu pun semuanya mengkonsumsi musik-musik barat yang didominasi progressive rock. Akibat dari pengaruh budaya tersebut, musik Indonesia pun terpinggirkan sehingga tidak ada satupun anak muda yang mengkonsumsi musik Indonesia. Musik Indonesia ketika itu hanya sebatas menjadi konsumsi para pembantu alias Asisten Rumah Tangga. Melihat hal ini, Eros Djarot pun jengah dan membentuk Barong’s Band yang sesuai dengan visinya: bermusik dengan gaya Indonesia.

Album Original Soundtrack Kawin Lari pun berhasil menuai sukses. Setahun setelahnya, Teguh Karya kembali meminta Eros Djarot untuk menggarap soundtrack untuk film yang digarapnya berjudul Badai Pasti Berlalu. Eros pun segera mengumpulkan nama-nama yang kelak menjadi legenda musik Indonesia untuk membantunya dalam menggarap soundtrack film yang kelak menjadi magnum opus ini.

Nama pertama yang diajak Eros Djarot dalam penggarapan soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah Christian Rahadi alias Chrisye. Ketika itu, Chrisye baru saja memulai meniti karir bermusiknya. Selain baru saja menikmati karirnya dengan Guruh Gipsy, Chrisye baru saja dikenal karena mempopulerkan mega hit Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah yang termasuk ke dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1977. Sejak awal, Eros Djarot memang sudah jatuh cinta terhadap suara Chrisye. Pencarian pun berlanjut ke ranah keyboardist. Eros pun memilih Yockie Suryoprayogo yang saat itu sudah dikenal sebagai keyboardist supergrup God Bless. Permainan keyboard Yockie yang memang penuh dengan nuansa progressive rock diharapkan akan memberi warna keren dalam soundtrack Badai Pasti Berlalu, dan terbukti benar. Selain itu pula, Eros mengajak Fariz RM. Fariz RM yang ketika itu masih tercatat sebagai siswa SMA Negeri III Jakarta “diculik” Eros, Yockie, serta Chrisye untuk masuk sebagai drummer dalam proyek ini. Secara otomatis, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah awal karir dari musisi jenius pelopor musik city pop di Indonesia era setelahnya. Eros pun kemudian mengajak Keenan Nasution, Debby Nasution, dan Berlian Hutauruk dalam project ini. Suara Berlian yang terkenal dengan seriosa-nya ini awalnya ditolak oleh Teguh Karya karena “menyeramkan seperti kuntilanak”. Namun, Eros dan Yockie tak setuju dengan penolakan itu karena menurut mereka suara Berlian memiliki chemistry yang dapat membuat original soundtrack Badai Pasti Berlalu menjadi penuh warna. Akhirnya, Teguh Karya pun melunak dan setuju.

Eros Djarot dan kawan-kawan pun mulai mengumpulkan sejumlah tiga belas lagu untuk masuk sebagai soundtrack dari film Badai Pasti Berlalu. Lagu-lagu tersebut antara lain seperti Pelangi, Merpati Putih, Matahari, Serasa, Khayalku, Angin Malam, Merepih Alam, Semusim, Baju Pengantin, Cintaku, dan tentu saja Badai Pasti Berlalu. Serta dua buah lagu instrumental berjudul E & C & Y serta Merpati Putih yang kemudian dibikin versi instrumentalnya. Karena satu dan lain hal, original soundtrack Badai Pasti Berlalu versi asli yang dinyanyikan Chrisye dan Berlian Hutauruk gagal masuk ke dalam alur film. Sehingga lagu-lagu yang masuk ke dalam alur film adalah versi yang dinyanyikan Broery Pesolima yang digarap bersama De Meicy.

Cover album Ost. Badai Pasti Berlalu versi dalam film yang dinyanyikan Broery Pesulima (source: indolawas.blogspot.com

Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu digarap Eros Djarot dan kawan-kawan dengan penuh spirit  idealisme. Tak ada niat bagi mereka untuk membuat album ini supaya laku keras di pasaran dan nama mereka pun menjadi terkenal di kemudian hari. Bahkan, tak jarang mereka harus ‘nombok’ karena saking idealisnya. Karena hal ini pula, saat album selesai digarap, tidak ada produser yang bersedia untuk mengedarkannya karena dianggap terlalu tinggi untuk standar musik pop Indonesia ketika itu. Beruntung salah satu cukong bersedia untuk mengulurkan bantuan. Cukong tersebut bersedia menjual album Original Soundtrack Badai Pasti Berlalu di salah satu toko kaset di Glodok yang ketika itu didominasi musik pop cengeng dan dangdut. Tanpa disangka-sangka, album ini menuai sukses ketika lagu Merepih Alam banyak diputar di radio-radio ketika itu. Sebuah pencapaian luar biasa yang diterima Eros Djarot dkk. atas penggarapan album original soundtrack Badai Pasti Berlalu yang penuh dengan idealisme ini.

Kesuksesan atas album original soundtrack Badai Pasti Berlalu ini kemudian melahirkan permasalahan yang berujung pada hak cipta dan royalti. Pasalnya, album ini tidak didistribusikan secara luas sehingga versi awal dari kaset dan piringan hitam album ini tergolong rare dan menjadi perburuan besar-besaran para kolektor hingga saat ini. Beberapa dekade setelahnya, masalah ini berbuntut ke pengadilan yang kemudian menyeret nama Eros Djarot dan Berlian Hutauruk. Dalam penggarapan original soundtrack Badai Pasti Berlalu, masing-masing personel tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Ketika pekerjaan mereka selesai dan sudah menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Di kalangan musisi 1970-an, hal tersebut adalah praktik yang lazim.

Selang 22 tahun kemudian, tepatnya di tahun 1999, Chrisye bersama dengan Erwin Gutawa merilis kembali album Badai Pasti Berlalu. Mereka menggarap ulang keseluruhan lagu dalam album ini dengan aransemen baru yang lebih modern. Dari album inilah kemudian lahir hits besar Chrisye, Cintaku, dengan versi yang banyak dikenal orang sekarang ini. Sebagian orang banyak menyangka kalau lagu Cintaku versi tahun 1999 adalah versi sesungguhnya. Mereka tidak tahu kalau lagu Cintaku versi aslinya sudah ada tahun 1977 dengan aransemen yang lebih magis daripada yang banyak dikenal sekarang ini.

Cover album Badai Pasti Berlalu (2nd version) dari Chrisye bersama Erwin Gutawa (source: http://musica.id)

Walau bagaimanapun, terlepas dari segala pro kontra yang ada, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu adalah album yang masih tetap bisa dinikmati di segala zaman dan tidak terdengar kuno. Terbukti, sampai saat ini masih banyak orang yang menikmati album ini. Boleh saja judul albumnya Badai Pasti Berlalu, tapi daya magis yang terlahir dari lagu-lagu di album ini nampaknya tidak akan pernah berlalu. Boleh jadi, selamanya…

Djanger Bali: Album “Jazz Indonesia” Pertama di Indonesia

Cover album Djanger Bali karya Tony Scott and The Indonesian All-Stars (photo source: Wikipedia)

Segala sesuatu yang ada di dunia ini, memang berkiblat pada Amerika Serikat. Musik, film, fashion, hingga pertunjukkan seni di dunia ini semuanya berkiblat pada Amerika. Meskipun konten dari produk yang dihasilkan merepresentasikan budaya yang terdapat di negara setempat, tapi tetap muatan-muatan yang mendukung produksi konten tersebut berkiblat pada Amerika Serikat. Begitupun dengan musik, khususnya musik jazz. Musik jazz lahir dan berkembang di negara Amerika Serikat. Meskipun negara-negara lain banyak melabeli musik jazz sebagai representasi negaranya sendiri dengan membubuhkan term “jazz Indonesia”, “jazz Jepang”, dan lain-lain. Tetap saja orisinalitasnya mengacu pada Amerika Serikat sebagai akar dari perkembangan musik jazz.

Di Indonesia sendiri, apakah memang ada “jazz Indonesia” yang asli Indonesia? Berbicara tentang Indonesia yang kaya akan budaya tradisionalnya, tentu ada yang dimaksud mengenai jazz Indonesia secara harfiah. Kita bisa mendapatkannya lewat sebuah album monumental berjudul Djanger Bali.

Djanger Bali adalah album proyek musik jazz hasil garapan pemain klarinet jazz asal Amerika Serikat Tony Scott dengan sekumpulan musisi jazz Indonesia yang tergabung dalam kelompok The Indonesian All-Stars. Mereka adalah Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen. Mereka inilah yang di kemudian hari menjelma menjadi founding fathers sekaligus dedengkot jazz di Indonesia. Musik yang tersajikan dalam Djanger Bali ini adalah gabungan antara jazz dengan musik tradisional Indonesia.

The Indonesian All-Stars saat bermain di pergelaran Berlin Jazz Festival di Berlin, Jerman pada 27 dan 28 Oktober 1967 (photo source: http://sisihidupku.wordpress.com)

Sejarah terbentuknya The Indonesian All-Stars beserta album Djanger Bali memang unik. Awal mulanya, Suyoso Karyoso alias Mas Yos, pemilik label Irama Records sekaligus kakak ipar dari Jack Lesmana memiliki bisnis pesawat terbang yang terbilang hebat dengan petinggi-petinggi dunia (karena Mas Yos juga merupakan seorang TNI Angkatan Udara). Otomatis, ia pun banyak mendapat relasi dari para pesohor dunia. Salah satunya adalah Tony Scott. Suatu hari di pertengahan era 1960’an, Tony Scott sempat mengadakan pertemuan dengan Mas Yos di Jakarta kalau ia tengah mencari band untuk bisa tampil di Berlin Jazz Festival 1967 di Berlin, Jerman. Akhirnya, Mas Yos pun mengajak Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, Kiboud Maulana, dan Jopie Chen untuk mengadakan acara jamuan makan malam bersama Tony Scott di rumahnya. Sesaat sebelum acara makan malam tersebut usai, Tony Scott sempat menyampaikan wejangan kepada para dedengkot jazz Indonesia ini kalau ingin bisa tampil di Berlin Jazz Festival, mereka harus membawa sesuatu yang berbeda. Mereka mengiyakan tantangan dari Tony Scott. Mereka dikarantina di rumah mas Yos selama kurang lebih satu tahun sampai akhirnya berhasil menghasilkan Djanger Bali, sebuah album eksperimental yang menggabungkan jazz dengan musik tradisional Indonesia. Kemudian tampillah mereka dengan membawa Djanger Bali di Berlin Jazz Festival pada 27 dan 28 Oktober 1967 dan berbagi panggung dengan legenda jazz dunia seperti John Coltrane, Miles Davis, dan Herbie Hancock.

Bahkan, sebagian lagu yang terdapat dalam album Djanger Bali ini adalah lagu tradisional Indonesia, yaitu Gambang Suling (lagu daerah Jawa Tengah), Lir Ilir (lagu daerah Jawa Tengah), dan Burung Kakak Tua (lagu daerah Maluku). Mereka menyulap lagu yang luar biasa ini menjadi lagu yang lebih luar biasa karena menyematkan notasi-notasi jazz. Lagu pembuka dalam album berjudul Djanger Bali hadir menampilkan notasi pentatonis dari permainan piano Bubi Chen dalam intronya. Dalam album ini juga terdapat dua komposisi swing yang terlepas dari embel-embel musik tradisional, yaitu Mahike from “Katz und Maus” dan Summertime.

</figure>

Sepanjang karirnya, The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album ini saja. Selanjutnya, mereka banyak bermain dalam sejumlah pagelaran jazz di Indonesia, salah satunya adalah konser Jazz Masa Lalu dan Kini di Taman Ismail Marzuki pada 1976 dan sempat pula direkam dalam album berjudul sama yang dirilis Hidayat Records. Selebihnya, tentu mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bermain, rekaman, dan memperkenalkan jazz di Indonesia ke generasi selanjutnya hingga akhir hayatnya. Meskipun The Indonesian All-Stars hanya merilis satu album, namun pengaruh ke masa selanjutnya inilah yang paling penting. Djanger Bali adalah album yang menjadi tonggak sejarah perkembangan musik jazz di Indonesia dan sejarah perkembangan musik eksperimental Indonesia sebelum ada Harry Roesli dan Guruh Gipsy yang begitu dipuja para hipster masa kini.

Album Rekomen: HARRY SABAR – LENTERA

Sebuah situs bernama Planet Mellotron dikejutkan dengan adanya musisi asal Indonesia yang pernah menggunakan alat musik mellotron di satu album penuh! Pengelola situs yang mengulas lagu atau album yang memakai alat musik mellotron ini terkagum-kagum sekaligus terheran-heran. “Dari mana musisi ini dapat mengakses mellotron dan dari mana referensi yang musisi ini dapatkan sehingga dapat mengolah mellotron sebaik mungkin?” Kurang lebih begitu yang ditulis oleh pengelola situs tersebut.

Ya, Harry Sabar telah lama menjadi perbincangan pengamat musik di Indonesia maupun di dunia. Selain karyanya yang berjudul Licik yang telah membuat geger pengamat musik, album debut beliau yang berjudul Lentera pun tak luput dari komentar para penikmat serta pengamat musik. Dari segi aransemen musik, pendengar akan dibuat kagum dengan kemampuan Harry Sabar dkk. yang dapat mengolah alat musik mellotron sedemikian rupa sehingga cocok dimainkan untuk lagu Indonesia. Harry Sabar dkk. pun berhasil mengolah bermacam-macam bebunyian synthesizer dan alat musik lain dalam satu hasil yang rapih dan sempurna. Pemilihan akor lagu-lagunya pun dinilai tidak biasa untuk zaman itu. Sedangkan dari segi syair, pendengar akan dikejutkan dengan pemilihan kata serta tema lagu yang tidak biasa dan sulit dimengerti. Karena hal tersebut, banyak pendengar yang pada akhirnya menobatkan album ini sebagai salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa.

Penasaran bagaimana ulasan untuk album yang dahsyat ini? Simak selengkapnya di bawah ini.

SAMPUL ALBUM

Sampul album Lentera adalah salah satu sampul album di Indonesia yang memiliki fakta unik. Fakta uniknya adalah sampul album ini memiliki dua versi berbeda.

sampul album Lentera

Versi pertama sampul album Lentera mengusung aliran yang biasa dipakai oleh sampul grup musik progressive rock di luar sana, yaitu mengedepankan estetika dengan tampilan yang rumit. Sampul versi pertama ini diberi warna hijau serta adanya variasi font huruf yang rumit, artwork yang mencolok, nama-nama musisi yang terlibat, serta 3 potret wajah Harry Sabar yang menghadap ke arah yang berbeda. Tampilan seperti ini dianggap rumit di zamannya. Terutama pada penulisan nama Harry Sabar yang terdiri dari garis-garis yang saling menyambung. Ujung dari garis-garis tersebut membentuk simpul pita yang sedang diikat dengan burung merpati. Hmm… cukup rumit ya!

sampul album Lentera versi kedua

Sedangkan versi kedua sampul album Lentera merupakan siasat dari label rekaman yang menaungi Harry Sabar. Label menganggap sampul versi pertama cukup rumit sehingga tidak menarik minat pembeli. Alhasil, label menyiasati hal ini dengan mengubah tampilan sampul album ini menjadi lebih simpel. Tampilannya diubah menjadi warna hitam disertai gambar petromaks lilin dan tampilan font yang lebih simpel dan mudah terbaca.Dan ternyata, tampilan sampul versi kedua ini adalah tampilan yang serupa dengan album kompilasi dari artis mancanegara yang bernama Paul Mauriat. Hmm… ada-ada saja ya siasat dari label!

sampul album Paul Muriat

ULASAN LAGU

SIDE A

  1. LENTERA

Album Lentera dibuka dengan lagu yang dianggap sebagai all time hits-nya Harry Sabar, yaitu lagu yang berjudul Lentera. Lagu ini dibuka dengan permainan piano dan mellotron yang dimainkan oleh Marusya Nainggolan dan Debby Nasution dengan sangat megah dan berkelas. Alunan piano bercorak klasik dari Marusya Nainggolan terasa sangat tepat diiringi dengan suara mellotron dari Debby Nasution yang seolah seperti kelompok paduan suara yang membuka sebuah pertunjukan. Lagu pembuka ini cukup memberi gambaran bagi lagu-lagu berikutnya yang ada di album ini, khususnya dari segi syairnya yang puitis dan menggunakan diksi kata yang jarang dipakai dalam sebuah lagu, karakter vokal Harry Sabar yang tinggi, dan aransemen musiknya yang didominasi oleh bebunyian piano dan synthesizer.

2. KALA DAUN BERGUGURAN (this song dedicated to Debby Nasution)

Di lagu ke-2, Harry Sabar masih memberikan sajian lagu bertempo lambat. Kala Daun Berguguran memiliki tema lagu yang cukup unik. Lagu ini menceritakan tentang bagaimana perasaan Harry Sabar ketika ia ditinggalkan oleh sahabatnya yang sangat ia cintai. Lalu apa hubungannya dengan Debby Nasution yang ketika itu sedang dalam masa keemasannya? Ternyata lagu ini merupakan bentuk terima kasih serta kenang-kenangan dari Harry Sabar untuk Debby Nasution bila sewaktu-waktu ia pergi meninggalkan dunia ini. Menurutnya, lagu ini saat itu diciptakan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi serta karya-karya Debby Nasution bila nanti telah tiada.

3. KITARAN WARSA

Setelah dibuka dengan 2 lagu bertempo lambat, di lagu ke-3 ini Harry Sabar memberi pendengar sebuah lagu dengan nuansa yang ceria. Lagu ini menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ada di sekitar kehidupan manusia seperti kehidupan di pasar, proses manusia dalam mencari nafkah, dan kehidupan yang harus terus diarungi di tengah tantangan-tantangan yang melanda. Permainan piano Debby Nasution pada pembuka lagu sangat pas dengan isi lagu, karena seolah menggambarkan proses munculnya matahari sebagai tanda pembuka hari. Di akhir lagu, pendengar akan dikejutkan dengan tarikan vokal  Harry Sabar yang sangat tinggi sekali!

4. LAZUARDY

Lewat judulnya saja, pasti sudah tertebak kalau lagu ini merupakan lagu yang manis dan indah. Lazuardy dibuka dengan suara deburan ombak di pantai, disusul dengan suara alat musik harpsichord yang dimainkan oleh Addie MS. Secara keseluruhan lagu ini menggambarkan tentang keindahan serta keagungan alam. Lagu ini memiliki aransemen yang sangat pas dengan tema lagunya. Iringan synthesizer yang dimainkan oleh Addie MS bak orkestra yang mengiringi sebuah lagu dengan megah. Hal ini membuktikan kepiawaian Harry Sabar dan Addie MS dalam mengolah lagu sedemikian rupa sehingga menghasilkan aransemen musik yang sangat manis namun megah. Di era ’80-an awal, Lazuardy dijadikan judul untuk album kompilasi yang berisi lagu-lagu terbaik Harry Sabar dari tahun 1979 sampai 1981.

5. KEMARIN DAN HARI INI

Era akhir ’70-an memang surganya musik progressive rock di Indonesia. Setelah Yockie dengan Jurang Pemisah dan Keenan Nasution dengan Negriku Cintaku-nya, Harry Sabar yang juga musisi yang sering nongkrong di Pegangsaan ikut meramaikan suasana progressive rock di Indonesia. Hasilnya adalah satu lagu berjudul Kemarin dan Hari Ini. Harry Sabar dan Debby Nasution adalah aktor utama dibalik lagu yang sangat dahsyat ini. Lagu ini dibuka dengan petikan gitar akustik dari Kesawadjati yang sangat rumit. 2 menit pertama lagu ini bertempo lambat sehingga tak akan ada yang menyangka kalau ini adalah lagu beraliran progressive rock. Namun memasuki menit 3:33, aransemen musik tiba-tiba berubah! Debby Nasution menunjukan keahliannya dalam mengolah Hammond Organ dan synthesizer yang terinspirasi dari permainan Tony Banks. Gebukan drum dari Keenan Nasution yang rumit menambah kesempurnaan aransemen lagu ini. Ketika vokal Harry Sabar kembali masuk menjelang akhir lagu, betotan gitar bas dan iringan mellotron dari Debby serta lengkingan melodi gitar dari Gauri Nasution mengiringi lagu ini hingga selesai. Lagu ini ditutup dengan sempurna oleh seluruh pemain musik di lagu ini dengan rancak dan sempurna. Tidak berlebihan bahwa penulis menobatkan lagu ini sebagai lagu progressive rock terbaik di Indonesia.

SIDE B

6. TERBENCI TAPI…

Sisi B album ini dibuka dengan permainan synthesizer Debby Nasution yang suaranya dimodifikasi layaknya suara alat musik gesek sebelum akhirnya Debby kembali menunjukan kepiawaiannya dalam bermain piano dan mellotron di sepanjang lagu. Fakta unik dari lagu ini adalah syair dan personil yang terlibat di lagu ini tidak tercantum di sampul kasetnya. Alasannya karena lagu ini direkam setelah sampul kaset selesai dicetak oleh pihak percetakan. Jadilah Harry Sabar tidak sempat memasukkan informasi tentang lagu ini ke dalam sampul kaset.

7. KHALWAT JIWA

Di lagu selanjutnya, Harry Sabar berkolaborasi dengan Keenan Nasution dalam penulisan syair maupun aransemen musik. Dahsyatnya lagu ini adalah Keenan memainkan seluruh instrumen yang ada di lagu ini dengan seorang diri! Bebunyian synthesizer di dalam lagu ini sangat penuh, bervariasi, dan terus mengiringi sepanjang lagu. Walaupun lagu ini bertempo lambat, namun tetap memberikan ciri khas musik progressive rock lewat bebunyian synthesizer-nya.

8. SEKIRANYA’….

Lagu yang dibuka dengan petikan gitar akustik ini masih menggunakan formula yang sama dengan lagu sebelumnya, yaitu bertempo lambat namun tetap memberikan ciri khas musik progresif. Lagu Sekiranya’…. menggambarkan tentang lelaki yang sedang mendambakan wanita di dalam bayang-bayangnya. Bayang-bayang tersebut seolah-olah membuat lelaki itu berkata dalam hati “Hmm.. sekiranya kita dapat bertemu” yang pada akhirnya dijadikan judul lagu.

9. DI SEJUK MALAM

Bagi penulis, inilah lagu terbaik yang ada di album Lentera. Lagu ini diaransemen oleh Harry Sabar bersama Candra Darusman yang pada waktu itu terhitung sebagai musisi baru. Bila kita terbiasa mendengar Candra di Chaseiro atau album solonya, pasti kita akan menduga kalau lagu ini akan memiliki aliran yang tak jauh dari jazz atau easy listening pop ala Candra. Tapi nyatanya, dugaan itu salah besar. Lagu ini nyatanya beraliran funk dengan tempo yang cepat, akor mayor 7, dan tak lupa juga petikan gitar bas dari Matise yang sangat nge-funk melengkapi lagu yang underrated ini! Harry Sabar sendiri mengakui bahwa lagu ini merupakan bentuk eksplorasi dari Harry Sabar dan Candra Darusman yang ingin membuat lagu dengan bermacam gaya dan aliran yang beda dari lagu-lagu lain.

10. RESAH

Lagu penutup di album ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Harry Sabar dengan Noor Bersaudara yang beranggotakan Yanti Noor (Istri Chrisye), Nana Noor, dan Rini Noor. Lagu yang diciptakan oleh Harry Sabar, Addie MS, dan Odink Nasution ini menggambarkan keresahan seseorang ketika menanggung rasa rindu. Di sini, penulis akan sedikit mengutip syair yang dahsyat dari lagu ini:

“Semakin ku menjauh bujuk rasa

Semakin tawa seri berkesan di hati Dahsyatnya impi….”

Informasi Album:

  1. Judul     : Lentera
    • Artis       : Harry Sabar
    • Tahun   : 1979
    • Label     : D/D Record
    • Aliran    : Progressive Rock, Progressive Pop, Indonesiana Pop
  • Pencipta lagu: Harry Sabar, kecuali Khalwat Jiwa oleh Keenan Nasution & Harry Sabar; Resah oleh Harry Sabar, Addie MS, Odink Nasution
  • Aransemen Musik: Harry Sabar, bersama:
  • Candra Darusman, pada lagu Di Sejuk Malam
  • Addie MS, pada lagu Lazuardy, Resah
  • Keenan Nasution, pada lagu Khalwat Jiwa
  • Debby Nasution, pada lagu Lentera, Kala Daun Berguguran, Kitaran Warsa, Kemarin dan Hari ini, Terbenci Tapi…, Sekiranya’…
  • Marusya Nainggolan, pada lagu Lentera
  • Pengisi vokal: Harry Sabar, Noor Bersaudara (Vokal latar pada lagu Resah)
  • Pengisi piano/kibor/synthesizer : Candra Darusman, Addie MS, Keenan Nasution, Debby Nasution, Marusya Nainggolan
  • Pengisi bas: Addie MS, Keenan Nasution, Debby Nasution, Odink Nasution, Gauri Nasution, Matise
  • Pengisi gitar: Odink Nasution, Gauri Nasution, Jerry Sudiyanto, Kesawadjati, Matise
  • Pengisi drum: Harry Sabar, Keenan Nasution, Edy

Simak beberapa lagu dari album ini, selamat menikmati!